NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1: Debu Di Bawah Langit, Naga Di Dalam Jiwa

Angin musim semi yang hangat bertiup secara perlahan dari timur menuju ke pelosok barat kerajaan, membuat suasana di halaman asrama Sekte Pedang Giok semakin memanas layaknya tungku perapian menyala-nyala yang siap memanggang sesuatu di atasnya. Itu yang dirasakan saat ini oleh Qin Xiang, seorang dengan bakat sangat buruk di hadapan Xiao Jing murid sekte luar yang merupakan seorang kultivator Qi Fondasi tahap 2.

Qin Xiang mengepalkan tinjunya dan langsung menerjang ke arah Xiao Jing dengan segenap kekuatan yang dimiliki sebelum berakhir dihempaskan kembali dengan lebih kasar oleh Xiao Jing, lebih jauh dari tempat sebelumnya ia dipukuli. Suara benturan tubuhnya dengan tanah berbatu terdengar memilukan, menyebarkan debu-debu halus ke udara yang kini terasa semakin menyesakkan.

"Masih belum mau menyerah, Sampah?" Xiao Jing mencibir. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai sinis yang membuat wajahnya tampak semakin angkuh. Ia memainkan sebilah pedang kayu di tangannya, memukul-mukul telapak tangannya sendiri dengan ritme yang meremehkan.

Qin Xiang tidak menjawab. Giginya terkatup rapat hingga rahangnya terasa sakit. Ia tahu tubuhnya sudah mencapai batas. Namun, rasa malu yang membakar di dadanya jauh lebih panas daripada suhu udara hari ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia peras dari ototnya yang gemetar, Qin Xiang mengepalkan tinju. Ia tidak memiliki teknik pedang yang hebat, tidak memiliki langkah kaki yang lincah. Yang ia miliki hanyalah keputusasaan yang murni.

"Haaaah!"

Qin Xiang menerjang. Ia melompat maju dengan segenap kekuatan yang tersisa, mencoba melayangkan satu pukulan lurus ke arah dada Xiao Jing. Akan tetapi, di mata seorang kultivator tahap Qi Fondasi, gerakan itu tidak lebih dari serangan lamban seekor siput yang sedang sekarat.

"Menyedihkan," gumam Xiao Jing.

Tanpa berpindah tempat, Xiao Jing hanya memiringkan tubuh sedikit kesamping—sebuah gerakan minimalis yang menunjukkan betapa jauh perbedaan level mereka. Saat kepalan tangan Qin Xiang memukul angin, Xiao Jing melepaskan sebuah tendangan samping yang mengandung aliran Qi yang padat dan tajam.

Bugh!

Hantaman itu dengan telak mengenai tulang rusuk Qin Xiang. Suara retakan kecil terdengar di tengah kebisingan asrama. Tubuh Qin Xiang terangkat dari tanah, terhempas kembali ke belakang dengan jauh lebih kasar dari serangan sebelumnya. Ia berguling berkali-kali di atas tanah berbatu yang tajam, debu beterbangan menyelimuti sosoknya yang malang sementara rasa sakit yang menusuk mulai menjalar ke seluruh sistem sarafnya.

"Ahhhkk!"

Qin Xiang mengerang kesakitan, memuntahkan cairan kental kemerahan dari mulutnya yang segera meresap ke dalam tanah berdebu. Ia mencoba bangkit, namun lengannya terasa seperti jeli, tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Sembari mengumpat dalam hati, ia merutuki nasibnya yang tidak adil. Ia bukan sekadar kesal kepada Xiao Jing, melainkan benci kepada dirinya sendiri yang begitu lemah dan tidak berdaya. Karena di dunia yang memuja kekuatan ini, ia merasa layaknya seekor tikus yang tidak memiliki sedikit pun kesempatan untuk bertahan di hadapan seekor kucing—benar-benar tak berarti, sebuah noda hitam di tengah kemegahan sekte.

"Hahaha! Lihatlah ekspresi menyedihkan itu! Dia terlihat seperti anjing liar yang mencari tulang!"

Gelak tawa pecah, merobek sisa-sisa harga diri Qin Xiang. Xiao Jing melangkah maju, setiap hentakan kakinya terasa seperti serangan psikologis yang meremukkan mental Qin Xiang. "Dengan kekuatan sepayah itu, kau berani tidak mematuhi perintahku? Kau pikir siapa yang memberimu izin untuk tetap tinggal di sekte ini?"

"Haha, Bos benar-benar memberi pelajaran berharga kepada si pengecut Qin Xiang! Ini sudah yang ke berapa kali ya dia mencium tanah bulan ini?" Salah satu teman Xiao Jing, seorang pemuda berwajah tirus dengan mata licik, berkata dengan nada mengejek.

"Ah, kurasa ini yang ke sembilan puluh sembilan kali dalam sebulan ini?! Bukankah itu angka yang cantik untuk sebuah kegagalan?" Imbuh teman Xiao Jing yang lain, sambil tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.

Ketiganya merupakan 'trio pengacau' yang paling ditakuti oleh para murid magang di Sekte Pedang Giok. Mereka bagaikan penguasa kecil di wilayah asrama bawah, menindas siapa pun yang tidak memiliki latar belakang keluarga yang kuat. Bagaimana dengan para tetua? Bahkan jika mereka mengetahui keberadaan trio ini, mereka lebih memilih tutup mata. Dalam doktrin sekte yang keras, konflik antar murid dianggap sebagai proses seleksi alam yang diperlukan. Jika kau tidak cukup kuat untuk membela diri, maka kau memang layak menjadi batu pijakan bagi orang lain—itulah aturan tak tertulis yang berdarah di sana.

"Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada Qin Xiang?!"

Sebuah suara nyaring dan jernih tiba-tiba membelah kebisingan tawa itu. Dari kejauhan, tampak seorang gadis muda berjalan dengan tergesa-gesa. Parasnya cantik luar biasa, dengan kulit seputih porselen yang seolah memancarkan cahaya redup. Rambut hitam panjangnya bergelai liar di pundaknya saat tertiup angin, memberikan kesan elegan namun berbahaya. Tetapi saat ini, sepasang matanya yang biasanya lembut kini dipenuhi api amarah yang ditujukan langsung kepada ketiga perundung tersebut.

"Bos, itu Senior Hu Xia!" Seru salah satu teman Xiao Jing dengan suara yang seketika menciut ketakutan. Wajah mereka yang semula sombong kini berubah menjadi pucat pasi.

Hu Xia bukan hanya cantik; ia adalah murid jenius dari sekte dalam yang telah mencapai ranah Inti Formasi pada usia yang sangat muda. Xiao Jing mendengus, mencoba menyembunyikan rasa gemetar di lututnya di balik sebuah cibiran. "Tsk! Dasar sampah, bahkan untuk urusan sepele seperti ini pun kau harus berlindung di balik rok seorang perempuan!"

Ia melirik Qin Xiang dengan tatapan penuh kebencian terakhir, seolah menjanjikan penderitaan yang lebih besar di kemudian hari, lalu memberi kode kepada kedua temannya untuk segera pergi. "Awas saja kau, sampah! Keberuntunganmu tidak akan bertahan selamanya!"

Mereka bertiga segera melarikan diri, menghilang di balik lorong-lorong asrama seolah-olah baru saja melihat harimau yang turun dari gunung.

Setelah suasana menjadi sunyi, Hu Xia mendekat dengan langkah hati-hati. Ia berlutut di samping Qin Xiang yang masih terkapar mengenaskan. Sebuah tangan yang sangat lembut dan hangat menyentuh bahu Qin Xiang, membantunya untuk duduk dengan perlahan. Dengan penuh kesabaran, ia membersihkan debu dan kerikil yang menempel di pakaian usangnya menggunakan sapu tangan sutra.

"Qin Xiang..." lirihnya lembut. Suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. Qin Xiang bisa melihat sepasang mata gadis itu berkaca-kaca, dipenuhi rasa iba yang justru terasa seperti sembilu yang menyayat hati pemuda itu.

"..."

Qin Xiang hanya bisa terdiam. Ia tidak sanggup mengeluarkan satu kata pun karena rasa malu yang luar biasa mencekik tenggorokannya. Ia merasa begitu hina, begitu tak berguna karena harus terus-menerus diselamatkan oleh Hu Xia—gadis yang merupakan bintang di sekte ini, sementara ia hanyalah lumpur di bawah kakinya. Tanpa berani menatap mata Hu Xia, Qin Xiang memaksakan diri untuk berdiri. Ia hanya bisa pamit dengan sebuah anggukan kecil tanpa suara, lalu menyeret langkah kakinya yang berat meninggalkan Hu Xia yang berdiri mematung dengan tatapan sedih.

...

Langkah kaki yang gontai membawa Qin Xiang menuju gubuk tua miliknya yang berada jauh di pinggiran wilayah sekte, tersembunyi di balik semak-semak lebat. Gubuk itu sangat kecil, dengan atap yang bocor di beberapa sisi dan dinding kayu yang telah dimakan rayap. Di sanalah tempat Qin Xiang merenungi nasibnya, jauh dari keramaian dan hinaan orang-orang.

"Huft..."

Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur jerami yang keras dan berbau apek. Rasa sakit di tulang rusuknya mulai berdenyut secara ritmis, namun lubang di hatinya terasa jauh lebih lebar. Air matanya menetes sedikit demi sedikit tanpa suara, membasahi jerami kering di bawah kepalanya. Ia menangisi garis takdir yang begitu kejam, hingga akhirnya, kelelahan fisik dan batin yang luar biasa menyeretnya ke dalam tidur yang dalam.

Woshhh!

Tiba-tiba saja, dunianya berputar hebat. Qin Xiang mendapati dirinya berada di tengah-tengah sebuah medan perang yang sangat luas, sebuah hamparan tanah merah yang tak berujung. Bau karat darah yang sangat menyengat memenuhi udara, bercampur dengan bau belerang dari ledakan energi di kejauhan. Di atas langit yang berwarna merah tembaga, ada ratusan ribu kultivator yang bertarung dengan kekuatan yang melampaui logika. Mereka beterbangan dengan kecepatan cahaya, saling menghancurkan hingga menciptakan hujan darah emas yang bercahaya di tengah kegelapan.

Di bawah kakinya, sungai darah mengalir menderu, membawa jasad-jasad makhluk yang memancarkan aura luar biasa. Qin Xiang mengamati dalam diam. Anehnya, rasa takut yang biasanya ia rasakan di dunia nyata kini menghilang sepenuhnya. Sebaliknya, sebuah perasaan familiar yang sangat kuat, sebuah kebanggaan yang purba, mulai bergetar di dalam jiwanya.

"Kaisar Xiang!!! Terima kematianmu!!!"

Sebuah suara menggelegar yang sanggup meruntuhkan gunung terdengar dari cakrawala. Dalam sekejap mata, sosok raksasa berbaju zirah perak telah berada di depannya. Sosok itu mengayunkan sebuah kapak raksasa dengan teknik menebas yang seakan bisa membelah bumi menjadi dua dalam satu gerakan tunggal.

Ting...!

Apa yang terjadi? Batin Qin Xiang bingung.

Tanpa perintah dari pikirannya, tangannya bergerak sendiri dengan presisi yang sempurna. Ia mendapati dirinya sedang menggenggam sebilah pedang hitam legam yang permukaannya diselimuti rune-rune kuno yang bercahaya redup. Ia menangkis serangan kapak raksasa itu hanya dengan satu tangan! Percikan api dari benturan kedua senjata itu menciptakan gelombang kejut yang meratakan perbukitan di sekitar mereka.

Pertarungan dahsyat itu pecah. Selama tiga hari tiga malam yang terasa sangat nyata, ia bertarung di tengah hujan darah emas tanpa merasa lelah. Setiap tebasan pedangnya membelah ruang dan waktu, meruntuhkan barisan musuh yang tak terhitung jumlahnya. Hingga akhirnya, di bawah kepungan sosok-sosok yang auranya sanggup membekukan waktu, ia menarik napas dalam-dalam.

"Pedang Agung Menebas Langit: Fase Ketiga!"

Berderit!

Badan pedang hitam di tangannya seolah hidup dan meraung keras layaknya naga kuno yang terbangun dari tidurnya. Dari bilahnya keluar gelombang serangan berwarna hitam pekat yang meluas hingga ribuan meter, langsung menyapu lawan-lawannya hingga menjadi debu dalam sekejap.

"Selesai..."

Bukan Qin Xiang, tetapi tubuh agung itu yang berbicara sendiri. Suaranya berat, dalam, dan mengandung otoritas yang tak terbantahkan.

"Guru Kaisar!"

Seorang pemuda dengan tubuh penuh luka dan baju zirah yang hancur datang mendekat. Ia menelengkupkan tinjunya dengan hormat yang sangat dalam, matanya berbinar melihat kemenangan mereka. "Guru, kita sudah menang! Para saudara yang lain telah mengamankan wilayah timur! Pengorbanan mereka tidak sia-sia!"

"Baguslah..." Ia membalas dengan senyum tipis yang penuh wibawa. "Ayo kita pulang ke Puncak Surgawi."

Namun, di saat ia berbalik dengan punggung yang terbuka, sebuah hawa dingin yang mematikan tiba-tiba muncul. Qin Xiang, yang jiwanya terperangkap di dalam tubuh itu, berteriak dalam hati, mencoba memperingatkan sang Kaisar akan bahaya yang mendekat.

Tsuk!

Semuanya terlambat. Sebilah pedang yang menyala-nyala dengan api suci berwarna putih telah menembus punggungnya dari belakang, tepat di lokasi jantungnya. Bilah pedang itu keluar dari dadanya, bersimbah cairan emas murni yang bercahaya terang. Darah kaisar jatuh ke tanah, setiap tetesnya menumbuhkan bunga-bunga cahaya yang layu seketika.

Hening. Seluruh medan perang mendadak membeku dalam keheningan yang mati. Sang Kaisar Agung, sosok yang tak terkalahkan, telah dikhianati oleh murid yang paling ia cintai dan ia percayai sebagai penerusnya.

"Maafkan aku, Guru... tapi takhta ini sudah terlalu lama kau duduki," bisik sang murid dengan mata yang berkilat penuh ambisi gila.

Rasa sakit dari pengkhianatan itu merambat melalui jiwa Qin Xiang. Namun, tebasan itu justru melakukan sesuatu yang tak terduga; ia menghancurkan sebuah segel kuno yang selama ini mengunci ingatan sejati Qin Xiang di dalam kegelapan.

DHUAR!

Di dalam gubuk tua miliknya, Qin Xiang tersentak bangun. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin, dan napasnya memburu hebat seolah ia baru saja melarikan diri dari neraka. Ia meraba dadanya yang terasa panas, mencari bekas luka pedang yang ia rasakan dalam mimpi. Tidak ada luka, namun detak jantungnya kini terasa berbeda—lebih kuat, lebih bertenaga, seolah-olah sebuah mesin raksasa baru saja dinyalakan kembali di dalam tubuhnya.

Ia melihat tangannya yang gemetar. Ingatan ribuan tahun mengalir masuk ke dalam otaknya bagaikan air bah yang menghancurkan bendungan. Ia ingat setiap teknik pedang, setiap hukum alam, dan setiap wajah pengkhianat yang telah menjatuhkannya.

"Jadi... ini bukan sekadar mimpi," bisiknya. Suaranya kini tidak lagi lemah dan penuh ketakutan. Suara itu kini memiliki nada dingin yang sanggup membuat udara di sekitarnya membeku.

Ia bangkit dari kasur jeraminya. Gerakannya sangat tenang, namun debu-debu di lantai gubuk itu secara otomatis tersingkir oleh aura tak kasat mata yang mulai memancar dari pori-pori kulitnya. Ia menatap ke arah luar jendela, ke arah puncak-puncak gunung Sekte Pedang Giok yang disinari cahaya fajar.

"Aku bukan lagi Qin Xiang si sampah. Aku adalah Sang Kaisar Agung... dan aku kembali untuk menagih hutang darah!"

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!