NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 5 - BAYANGAN HUTAN

...Di dalam kegelapan hutan......

......sesuatu sudah lebih dulu melihatmu....

...⚙⚙⚙...

Kabut di sekitar mereka tidak lagi sekadar diam. Ia berdenyut pelan, mengikuti irama napas hutan yang terasa semakin sesak. Di balik selubung putih itu, sebuah bayangan meluncur keluar tanpa suara. Tubuhnya membungkuk rendah, dengan cakar panjang yang menyentuh permukaan tanah lembap.

Makhluk itu berhenti tepat di batas pandangan. Ia tidak langsung menerjang, melainkan hanya berdiri diam dengan sepasang mata kuning pucat yang menyala redup di balik kabut. Tak lama, satu pasang mata lagi muncul di sisi kanan, disusul sepasang lainnya di sebelah kiri.

Rogan mengangkat crossbow mekanisnya perlahan. Bunyi halus terdengar saat mekanisme pengunci menarik pegas senjata itu ke titik maksimal, sebuah presisi yang nyaris tanpa suara.

“...Nightclaw Stalker,” gumam Rogan, jemarinya mulai menempel pada pelatuk.

Bram tidak melepaskan pandangannya dari bayangan di depan. Ia menurunkan ujung tombaknya sedikit, mencari posisi kuda-kuda yang paling stabil namun siap untuk melesat kapan saja. “Jika satu sudah menunjukkan diri,” bisiknya dengan napas yang teratur, “kawanan lainnya pasti sudah berada di sekeliling kita.”

Liora tetap bergeming di tengah posisi mereka. Valkyra di tangannya masih dalam bentuk bilah ganda, namun ia sedikit menggeser sudut senjatanya, mengikuti pergerakan bayangan yang perlahan merapat.

“Aneh,” Rogan mengernyit, matanya terus menyapu kegelapan.

“Kenapa?” tanya Bram singkat.

“Makhluk seperti ini biasanya berburu jauh di pedalaman hutan. Terlalu berisiko bagi mereka untuk mendekati desa seberani ini,” jawab Rogan.

“Berarti ada sesuatu yang memaksa mereka keluar dari wilayahnya,” sahut Liora datar.

Hening kembali menyergap. Bram bergeser setengah langkah ke depan, suaranya rendah namun penuh penekanan.

“Dengar baik-baik,” ucap Bram tanpa menoleh. Matanya terkunci pada gerakan di depan. “Para pemburu tua sering memperingatkan, jika kau melihat satu Nightclaw di hutan, itu adalah tanda bahaya. Karena saat kau menatapnya, kawanan lainnya sudah mulai menutup jalur pelarianmu.”

^^^*gambar buatan AI^^^

Cakar tajam menggores kulit kayu di atas dahan, menimbulkan suara yang menusuk telinga. Kabut di belakang mereka bergetar. Lalu suara napas berat terdengar semakin dekat.

Liora merasakannya lebih dulu. Ia tidak lagi menatap satu titik, matanya bergerak lincah dari kiri ke kanan, lalu ke belakang. “Mereka terus bergerak,” bisiknya.

Rogan tidak bergeming, namun jemarinya mengencang. “Aku tahu.”

Bram sedikit menggeser kuda-kudanya, membuka sudut pandang agar tak ada celah di antara mereka. “Mereka sedang memutar.”

Bayangan di antara pepohonan berubah pola. Satu makhluk melangkah maju, lalu berhenti dengan kepala miring. Yang lain muncul di belakangnya, namun tetap menjaga jarak yang sangat spesifik, tidak terlalu dekat untuk diserang, tidak terlalu jauh untuk kehilangan momentum. Mereka sedang mengukur, menghitung, dan menunggu saat yang tepat.

Goresan halus kembali terdengar dari atas.

KRRRK...

Rogan mendongak sekilas. Dua pasang mata kuning menyala di dahan pohon tepat di atas mereka. Di belakang, satu lagi Nightclaw merayap turun dari batang pinus yang retak. Liora memutar Valkyra dengan gerakan pergelangan tangan yang efisien, memposisikan bilah tajamnya ke arah luar untuk menjaga ruang gerak.

“Mereka tidak terburu-buru,” ucap Liora pelan.

“Ya, karena mereka tahu kita sudah terjebak,” sahut Bram.

Lingkaran itu semakin rapat. Langkah-langkah kecil yang nyaris tak terdengar kini terasa nyata di atas tanah yang berderak. Bram menghela napas panjang, mencoba membuang ketegangan di bahunya. “Terlalu banyak.”

Satu Nightclaw maju dua langkah secara provokatif. Yang lain mengikuti dengan ritme yang sama, memaksa lingkaran itu mengecil. Mereka tidak lagi berburu seperti hewan liar, mereka sedang menggiring mangsa ke satu titik tengah yang mematikan.

“Ini bukan pola berburu biasa. Terlalu terorganisir,” gumam Rogan.

Liora menyipitkan mata, memperhatikan otot-otot monster di depannya yang mulai menegang. “Mereka tidak sekadar ingin makan.”

Tiba-tiba, dua Nightclaw melesat bersamaan dari arah yang berbeda, membelah kabut dengan kecepatan luar biasa. Cakar mereka berkilat di bawah cahaya redup. Kawanan lainnya langsung menyusul, menerjang dari dahan pohon dan balik semak-semak.

“JANGAN PECAH!” bentak Bram saat ia menyentakkan tombaknya ke depan.

KRAK...

Ranting patah di atas kepala. Bayangan Nightclaw Stalker meluncur jatuh dari kegelapan dahan pinus, disusul sepasang mata kuning lainnya yang menerjang menembus kabut.

“SEKARANG!” bentak Bram.

Dua Nightclaw menerjang lurus ke arahnya dengan cakar terhunus. Bram menghentakkan sepatu bot tambangnya, menancapkan kuda-kuda di tanah yang becek. Ia menarik poros tombaknya ke belakang, lalu melepaskan kuncian pegas mekanisnya.

Ujung baja tombak itu melesat lebih cepat dari gerakan manusia biasa berkat dorongan pegas internal. Mata tombak menghantam telak di tengah dada makhluk pertama, menghantarkan daya hantam yang melontarkan monster itu hingga punggungnya menghantam batang pohon dengan suara tulang retak.

Bram tidak berhenti untuk melihat hasilnya. Ia memutar tombaknya dalam satu gerakan melingkar. Mekanisme internalnya mengunci ulang dengan suara logam yang tajam. Makhluk kedua sudah berada di udara, siap mencabik. Bram menyapu senjata dari bawah. Cakar monster dan batang logam tombak beradu di udara.

CLANG...

Percikan api muncul saat logam bergesekan dengan kuku sekeras batu. Bram menahan beban makhluk itu, otot lengannya menegang saat ia memutar pergelangan tangan untuk mengalihkan arah serangan, membuka celah di pertahanan lawan.

Tusukan kedua menghujam dalam ke samping rusuk makhluk itu. Monster tersebut menggeram pendek sebelum terhempas ke tanah.

Di sisi lain, Rogan bergerak dalam ritme yang dingin dan teratur. Panah pertama dari crossbow mekanisnya dilepaskan. Makhluk di sisi kiri melompat dengan kelincahan mengerikan, namun Rogan sudah memprediksi jalur pendaratannya. Dengan satu tarikan tuas instan roda pengisi kembali mengunci anak panah baru.

Panah kedua menyusul kilat, menghantam kaki monster tepat saat ia menyentuh tanah. Makhluk itu tersandung dan berguling. Rogan maju satu langkah dengan tenang, melepaskan panah ketiga yang bersarang tepat di bahu target lainnya.

Gerakannya mengalir sempurna, tembak, tarik tuas, kunci, dan tembak lagi, tanpa memberi ruang bagi lawan untuk mendekat.

Namun, satu bayangan lain berhasil menembus dari arah kanan. Terlalu dekat. Rogan memutar badan crossbow-nya, menggunakan rangka logam senjata itu sebagai perisai darurat.

CLANG...

Benturan cakar monster pada badan senjata membuat lengan Rogan bergetar hebat. Ia mundur setengah langkah, belum sempat menyeimbangkan posisi ketika makhluk kedua muncul dari balik punggungnya.

Saat itulah Liora muncul di tengah mereka.

KLIK...

Valkyra di tangannya berubah wujud dengan sinkronisasi mekanis yang halus, dari bilah ganda menyatu menjadi tombak panjang dalam satu putaran. Liora menusuk dari samping, bukan untuk membunuh, melainkan memberikan tekanan mekanis yang memaksa makhluk itu terpental keluar dari jalur serangannya.

Liora menarik kembali senjatanya. Valkyra terbelah kembali menjadi dua bilah yang mematikan. Ia melesat maju, bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Saat Nightclaw di depannya mengayunkan cakar dari atas, Liora memutar tubuhnya dengan gerakan yang sangat rendah, serangan monster itu hanya menyambar udara di atas bahunya.

Ia membalas seketika. Satu tebasan memotong lengan monster tersebut. Tanpa memberi jeda, tebasan kedua menyayat leher makhluk itu, memaksanya mundur dalam raungan kesakitan.

Liora kembali menekan Valkyra. Senjatanya kembali berubah bentuk menjadi busur mekanis. Tanpa perlu menarik tali energi secara manual, sistem mekanis di dalamnya langsung mengunci tenaga.

TCHAK...

Panah dilepaskan dalam jarak nol, menembus sisi tubuh makhluk yang sedang berputar tersebut. Liora melangkah mundur dengan tenang. Senjatanya kembali mengunci ke mode bilah. Dengan satu putaran horizontal, makhluk itu akhirnya jatuh tak bergerak.

Sementara itu, Bram mulai dikepung oleh tiga monster sekaligus. Ia tidak mundur sejengkal pun. Bram menancapkan ujung tombaknya ke tanah, lalu menggunakan poros senjatanya untuk berputar. Ayunan melingkar itu menghantam kaki-kaki monster, memaksa dua dari mereka terjungkal mundur.

Makhluk ketiga melompat dari dahan pohon tepat di atas kepalanya. Bram menyentakkan tuas tombaknya dengan cepat. Pegas pendorong aktif sepenuhnya. Ia menusuk lurus ke arah langit. Momentum tambahan dari mekanisme pegas membuat mata tombak menembus lebih dalam dari tusukan biasa, memaku monster itu di udara sesaat sebelum jatuh menghantam tanah. Tanah berderak dan retak kecil di bawah beban benturan tersebut.

Di sela-sela debu yang beterbangan, Rogan segera menutup sisi kiri dengan rentetan tembakan.

TCHAK... TCHAK...

Dua panah dilepas cepat, memaksa bayangan-bayangan lain tetap terjepit di balik kabut hutan.

Makhluk-makhluk itu tidak lagi menerjang buta. Mereka bergerak dalam koordinasi yang mengerikan, menutup celah di antara pepohonan dan mengunci setiap sudut pelarian. Lingkaran maut itu perlahan mengecil, memaksa Bram, Rogan, dan Liora merapat hingga punggung mereka nyaris bersentuhan.

Bram menyadari pola itu lebih dulu. Rahangnya mengatup rapat, merasakan getaran pada poros tombaknya yang terus-menerus menahan gesekan cakar.

“...mereka tidak berniat membunuh kita dengan cepat,” desis Bram, matanya tidak lepas dari Nightclaw yang merayap rendah di depannya.

Rogan menyentakkan tuas crossbow-nya, keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Lalu apa yang mereka tunggu?”

“Mereka mau kita lelah,” jawab Bram berat.

Seketika, atmosfer di tengah hutan itu terasa berkali-kali lipat lebih menyesakkan. Setiap tarikan napas terasa panas, setiap gerakan otot terasa lebih lamban, dan waktu seolah memanjang dalam ketegangan yang menyiksa.

Liora terpaksa melangkah mundur lagi hingga tumitnya membentur akar pohon yang menonjol. Ia kehabisan ruang gerak.

“...ini terlalu banyak,” gumam Liora lirih.

Mata-mata kuning itu kini mengepung mereka dari segala arah, di balik semak, di atas dahan, dan di kegelapan kabut. Mereka hanya diam, mengawasi dengan lidah yang sesekali menjilat taring, menunggu saat di mana kewaspadaan para manusia ini runtuh karena kelelahan.

Bram mengangkat tombaknya sedikit lebih tinggi, Rogan menarik napas pendek untuk menstabilkan bidikan, dan Liora merendahkan kuda-kudanya hingga titik terendah.

Saat kawanan itu mulai menegang, siap untuk terjangan serempak yang akan mengakhiri segalanya...

RRRRAAAAAAAAAAARGH...

Sebuah raungan purba menghantam hutan itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan keberanian. Suara itu bukan sekadar teriakan, itu adalah gelombang tekanan yang membuat udara seolah memadat secara mendadak. Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat hingga kerikil-kerikil kecil meloncat. Kabut tebal yang menyelimuti area itu terbelah seketika, tersapu oleh kekuatan suara tersebut.

Seluruh kawanan Nightclaw membeku. Mata-mata kuning yang tadinya penuh nafsu membunuh kini menyusut kecil. Bukan karena amarah atau lapar, melainkan oleh horor murni yang mendalam. Tak ada satu pun dari makhluk itu yang berani melanjutkan serangan. Sebaliknya, mereka mulai mundur perlahan, dengan tubuh gemetar dan ekor yang merapat ke perut.

Hanya dalam hitungan detik, bayangan-bayangan gelap itu menghilang kembali ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan kesunyian yang jauh lebih mencekam dari sebelumnya.

Napas mereka bertiga terdengar sangat jelas di tengah hutan yang mendadak mati.

Rogan menelan ludah dengan susah payah, tangannya masih gemetar di pelatuk senjata. “...suara apa itu barusan?”

Bram tidak menjawab. Matanya terpaku pada kegelapan di pedalaman hutan, tempat asal suara yang sanggup mengusir kawanan predator itu tanpa perlu menampakkan diri.

Liora tidak menunggu perintah. Ia maju satu langkah, lalu satu lagi. “Kita kejar, Bram, Rogan,” ucap Liora tegas.

“Liora, jangan!” seru Rogan, namun Liora sudah bergerak lebih cepat.

Bram segera menyambar bahu Liora dan membentaknya, “BERHENTI!”

Liora terhenti, namun ia tidak menoleh. “Jangan kejar mereka,” lanjut Bram dengan suara yang lebih dalam dan penuh peringatan. “Di dalam sana bukan cuma kawanan itu yang menunggu.”

Liora mengepalkan tangannya pada gagang senjatanya, napasnya masih belum stabil. “Justru karena itu kita harus tahu apa yang ada di sana sebelum ia mencapai desa.”

Ia akhirnya menoleh, menatap Bram dengan mata hijau zamrudnya yang tajam. Rogan menggeleng cepat di samping mereka. “Masuk ke sana tanpa tahu apa yang sanggup membuat kawanan Nightclaw ketakutan? Itu bukan mencari jawaban, Liora. Itu bunuh diri.”

Liora menyipitkan mata, menatap ke arah utara di mana Brakenford berada. “Kalau kita kembali sekarang, kita hanya akan menunggu hal itu mengetuk gerbang desa.”

“Lebih baik begitu,” balas Rogan. “Setidaknya kita bisa memperingatkan paman Garrick dan yang lain, daripada kita bertiga hilang tanpa kabar di tengah hutan ini.”

Hening sejenak. Angin gunung kembali bergerak pelan, membawa aroma belerang yang samar dari arah puncak. Bram melangkah mendekati Liora, suaranya kini lebih tenang namun sarat akan otoritas seorang penjaga senior.

“Kita bukan lari, Liora.” Ia menatap mata gadis itu dengan serius. “Kita sedang membeli waktu agar semua orang di desa bisa bersiap.”

Liora tidak langsung menyahut. Tatapannya masih tertuju pada kegelapan hutan yang kini tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan apa pun. Perlahan, ia menghela napas panjang, membiarkan ketegangan di bahunya sedikit mengendur.

“...kita kembali,” ucapnya akhirnya.

Rogan mengangguk cepat dengan perasaan lega yang nyata. Bram memutar tombaknya, menonaktifkan mekanisme pegasnya, lalu menurunkan posisi siaganya. Mereka tidak bicara lagi, tak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

Ketiganya berbalik dan mulai melangkah cepat keluar dari bayangan hutan. Namun di belakang mereka, jauh di dalam kegelapan yang tidak tertembus cahaya bulan, sesuatu yang sangat besar masih menunggu saat yang tepat untuk turun ke lembah.

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
T28J: sudah rilis bab pemberitahuannya a'. How to Play Card-nya
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
ini mah benar terinspirasi dari lord of the ring, yang satu panah yang satu gada
alicea0v
"Aliceee!!!" teriak Xena histeris. "Ada penduduk sebelah mau matiii!!" wanita penyihir itu berlari memutar panik, disetiap langkahnya membuat debu mengepul ke udara.

Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.

"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.

"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)
alicea0v: 🤣🤣🤣🤣 aku ngakak sumpah..
total 2 replies
alicea0v
sabar-sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!