Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Karena tiba-tiba...
"Latihan dilanjutkan." Suara Profesor Rowan memecah suasana.
"Dan karena mana Freya terlalu tidak stabil…" tatapannya tajam ke arah Freya. "Kau akan menjalani latihan khusus setelah kelas selesai."
Freya langsung membeku, "...Hah?"
"Tambahan dua jam."
"HAH?"
Beberapa murid langsung menahan tawa.
Ares malah terang-terangan tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Wajahmu lucu sekali."
Freya langsung menunjuknya dramatis.
"Ini bukan saatnya ketawa."
Profesor Rowan mengabaikan keributan itu.
"Jika kau tidak bisa mengendalikan Crimson Valkyrie, maka artefakmu akan menjadi ancaman bagi orang lain."
Freya langsung ciut. "...Baik, Profesor."
"Bagus."
Dan seperti itulah… nasib tragis Freya resmi dimulai.
Satu jam kemudian. Sebagian besar murid akhirnya mulai kelelahan.
Suasana Aula Tempur tidak lagi seramai tadi pagi. Beberapa murid duduk di pinggir arena sambil minum atau mengobrol.
Sedangkan Freya… MASIH HIDUP DALAM NERAKA.
CLANG.
Pedangnya kembali terlepas dari tangan.
"Kau payah."
Freya langsung menatap Crimson Valkyrie dengan mata kosong. '*Kamu tuh supportive sedikit kek*.'
"Aku realistis."
'*Kamu cocok jadi dosen killer*.'
"Apa itu dosen?"
'*Tidak penting*.'
Di sisi lain arena, Aria sedang berlatih memanah. Dan tentu saja… dia terlihat sangat keren.
Aurora Hymn bersinar lembut setiap kali anak panah mana terbentuk di jemarinya.
WHISSH.
Panah emas melesat tepat ke tengah target.
Semua murid langsung kagum.
"Akurasinya hebat…"
"Mana sucinya juga stabil."
Freya langsung memegang dadanya sendiri. '*Female lead memang beda kelas*.'
Sementara itu, Zevian sedang sparing dengan beberapa murid divisi tempur elit.
Dan hasilnya? Mengerikan.
CLANG.
CLANG.
CLANG.
Tiga murid langsung kalah dalam waktu kurang dari satu menit. Soulblade hitamnya bergerak cepat dan bersih tanpa gerakan sia-sia.
Freya sampai merinding melihatnya.
'*Pantes jadi male lead overpower*…'
"Kau melamun lagi." Suara Crimson Valkyrie membuat Freya tersadar. "Lawanmu bukan mereka."
'*Memangnya siapa*?'
"Dirimu sendiri."
Freya terdiam beberapa detik. Dan anehnya… kalimat itu terasa jauh lebih dalam daripada yang seharusnya. Namun sebelum ia sempat memikirkannya...
BRUK.
Seseorang tiba-tiba duduk santai di sebelahnya. Ares. Lagi.
Freya bahkan tidak kaget lagi sekarang.
"...Kamu gak punya kelas sendiri ya?"
"Ada."
"Lalu kenapa di sini terus?"
Ares membuka botol minuman dingin lalu menyerahkannya pada Freya. "Karena seru."
Freya menatap botol itu beberapa detik sebelum menerimanya pelan. "...Makasih."
Ares tampak sedikit terkejut. "Wah."
"Apa?"
"Kau sekarang bisa bilang terima kasih."
Freya langsung ingin lempar botol. "Image Freya lama tuh separah apa sih di mata kalian?"
"Sangat parah."
"Jawabannya cepet banget."
Ares tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian, matanya perlahan turun ke Crimson Valkyrie di tangan Freya.
Tatapannya berubah sedikit lebih serius. "Artefakmu menyukaimu."
Freya langsung membeku. "...Hah?"
"Artefak punya ego." Ares bersandar santai ke kursinya. "Kalau dia tidak menerima pemiliknya, mana tadi pasti sudah makan balik tubuhmu."
Freya refleks menatap pedangnya. Crimson Valkyrie hanya diam. Namun api kecil di bilahnya bergetar pelan.
Ares menyipitkan mata sedikit. "Meski begitu…" gumamnya santai. "Caramu menggunakan pedang benar-benar buruk."
Freya langsung tersinggung. "WOI."
"Aku jujur."
"Semua orang hari ini jujur banget bikin sakit hati."
Ares malah tertawa lagi. Dan dari sisi arena lain… Zevian diam-diam melihat interaksi mereka.
Tatapannya turun ke arah Freya yang sekarang sedang cemberut sambil memegang botol minuman. Aneh. Sangat aneh.
Freya yang sekarang terlalu ekspresif. Terlalu hangat. Terlalu hidup. Berbeda jauh dari Freya yang dulu selalu terlihat dipenuhi amarah.
Dan semakin Zevian memperhatikannya, semakin sulit baginya mengalihkan pandangan.
Sore harinya. Sebagian besar murid akhirnya pulang. Langit di luar aula mulai berubah jingga keemasan. Namun Freya… Masih terjebak latihan tambahan.
"Aku rasanya mau mati…"
"Kau baru mengayun lima puluh kali."
'JUSTRU ITU.'
Crimson Valkyrie terdengar benar-benar kecewa sekarang. "Kondisi fisikmu mengenaskan."
'AKU BUKAN KSATRIA WOI.'
"Mulai sekarang kau harus jadi ksatria."
Freya hampir menangis.
Sementara itu Profesor Rowan berdiri di dekat arena sambil memperhatikan. "Lagi."
Freya langsung menatap langit-langit dengan putus asa. Lalu dengan tenaga sisa hidupnya…
SWOOSH.
Ia mengayunkan pedang lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya...
BRUK.
Freya jatuh terduduk di lantai arena sambil megap-megap.
"Aku… gak kuat…"
Untuk pertama kalinya, Crimson Valkyrie diam cukup lama. Lalu suara wanita itu terdengar lebih pelan. "...Lemah sekali."
'Kamu tuh kalau nyemangatin orang kenapa kayak musuh.'
Namun di balik semua keluhan itu… Freya sadar satu hal. Pedang itu tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Tidak mengejek untuk menjatuhkan. Tidak menolak dirinya. Sebaliknya… Crimson Valkyrie terus mencoba membuatnya lebih kuat. Dan entah kenapa… itu membuat dada Freya terasa hangat.
"Freya." Suara seseorang membuat Freya menoleh.
Aria. Gadis itu berdiri di pintu aula sambil membawa kotak kecil di tangannya.
"Kamu belum pulang?"
Aria berjalan mendekat lalu duduk pelan di sampingnya. "Aku menunggu."
Freya langsung tersentuh. "Ya ampun… kamu malaikat ya?"
"Hah?" Aria tertawa kecil lalu membuka kotak kecil yang dibawanya.
Di dalamnya ada beberapa kue manis sederhana. "Aku minta dapur akademi membuat ini."
Freya langsung menatapnya dengan mata berkaca-kaca. 'Female lead ini terlalu baik. Sumpah.'
"Kamu lapar kan?"
Freya benar-benar hampir menangis sekarang. "Aria… kalau suatu hari kamu bilang ayo kabur dari kerajaan, aku mungkin ikut."
"Hah?" Aria langsung panik.
Freya malah tertawa lelah.
Dan melihat Freya tertawa seperti itu… Aria ikut tersenyum kecil. Namun tidak jauh dari sana… Zevian berdiri diam di koridor aula tanpa mereka sadari.
Tatapannya jatuh pada Freya yang sedang tertawa kecil bersama Aria. Hangat. Itu satu-satunya kata yang muncul di pikirannya sekarang.
Dan anehnya… pemandangan itu terasa terlalu nyaman untuk diabaikan. Sedangkan di sisi lain koridor… Ares bersandar santai di dekat jendela sambil memperhatikan mereka dari jauh.
Senyum kecil muncul di bibirnya.
"Ini jadi semakin menarik."
Dan tanpa disadari siapa pun… Hubungan mereka perlahan mulai berubah. Bukan lagi sekadar tokoh utama dan villain dalam cerita lama. Melainkan sesuatu yang benar-benar baru.