NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dikurungan yang Sesungguhnya

Hari ke-1

Pintu baja menghantam kusen. Kunci memutar dua kali, mengunci dunia di luar.

Kamar mewah itu sah menjadi bui. Jendela setinggi raksasa kini kaca mati—tak bisa dibuka, hanya memantulkan laut yang mencibir dari jauh. Teras disegel. Gorden dipaksa rapat, menelan cahaya.

Pukul tujuh, celah pintu menganga. Nampan meluncur masuk. Roti tawar. Air bening. Itu saja. Tanpa wajah. Tanpa suara.

Pintu dibanting lagi.

Florence menjerit, menggebuk besi hingga kulit telapaknya memerah. “KELUARKAN AKU! LUCIFER!”

Yang menjawab hanya gema, lalu sunyi yang menggigit.

Hari ke-4

Florence berhenti menjerit. Suaranya habis, tercecer di dinding.

Rutinitasnya: terjaga, menatap langit-langit, menunggu nampan, menyuap agar tak padam, memuntahkan lagi karena mual, terlelap, dibantai mimpi, terjaga lagi.

Mawar di vas telah coklat. Rapuh. Mati. Tak ada yang mengganti. Anggap saja aku sudah membuang mawar layu. Kalimat Lucifer berdenging tiap kali matanya menyentuh bangkai bunga itu.

Ia mulai berbisik. Kepada salib kayu yang ia selundupkan dari kapel. Satu-satunya yang selamat bersamanya.

“Tuhan… jika Engkau mendengar… aku tak menuntut pulang. Aku hanya mohon… mohon dipadamkan saja. Agar tak perih.”

Hari ke-9

Rambutnya kusut, menggumpal. Matanya cekung, menenggelamkan cahaya. Tulangnya menonjol di balik gaun putih yang kotor, dan tak ada kain pengganti.

Ia mencakar dinding dengan kuku hingga berdarah. Menggaris hari. Satu torehan, satu siang di jahanam.

Di torehan kesembilan, ia berhenti. Untuk apa menghitung? Neraka tak mengenal penanggalan.

Yang tinggal di kepalanya hanya satu kata, berputar seperti doa terbalik: Lari. Lari. Lari.

Ia mencoba segalanya.

Membenturkan dahi ke pintu—hanya menyisakan benjol ungu.

Merobek seprai jadi tali—kamarnya tak punya tempat untuk menggantung leher, dan ia menolak mati sebelum lepas.

Berpura-pura pingsan saat nampan datang—penjaga hanya mengintip dari celah sempit, lalu menutup lagi. Mereka sudah dititah: Buka pintu \= kubur.

Hari ke-15

Florence tak mampu membedakan siang dan malam. Lampu menyala terus. Disengaja. Agar akalnya remuk.

Ia mulai berhalusinasi.

Mendengar Suster Maria memanggilnya untuk doa pagi.

Melihat siluet Mama Lucifer di sudut, membelai kepalanya.

Bercakap dengan foto lecek yang ia selamatkan dari kapel. Foto Lucifer kecil.

“Kamu juga dipasung ya, Lucifer kecil?” bisiknya ke kertas itu sambil tertawa pecah. “Kita sama. Bedanya… kamu dipasung Papamu. Aku dipasung kamu. Lucu ya…”

Tawanya berubah menjadi isak yang menyesakkan dada. Menangis sampai tulang rusuknya sakit.

Hari ke-21

Nampan hari ini berbeda. Ada kertas kecil di bawah gelas.

Jantung Florence nyaris copot. Dari dia?

Dibukanya dengan jemari gemetar. Tulisannya dingin, tegas, khas miliknya.

“Masih hidup?”

Itu saja. Dua kata. Tanpa nama. Tanpa tanda.

Namun cukup untuk meremukkan Florence lagi. Diremasnya kertas itu, dibuka lagi, dibaca lagi, diremas lagi. Histeris.

Diambilnya pena yang ia sembunyikan. Dibalasnya di balik kertas itu.

“Tidak. Aku sudah mati di hari kelima. Yang ada di sini tinggal bangkai yang disuruh makan agar tak busuk.”

Diselipkannya kertas itu di bawah piring kosong. Esok nampan diambil, kertasnya raib.

Balasannya datang dua hari kemudian. Nampan sama, kertas baru.

“Bangkai tak bisa menulis. Makan yang benar. Barang tak boleh ringkih.”

Florence tertawa. Tertawa sakit. Tertawa orang yang akalnya retak. Air mata, ingus, semua luruh bersama.

Barang. Barang. BARANG!

Diambilnya nampan, dihantamkan ke pintu sekuat raga. Pecah. Roti dan air berhamburan.

“AKU BUKAN BARANGMU!” pekiknya sampai tenggorokannya serak lagi.

Tak ada sahutan. Hanya suara kunci berputar dari luar. Dua kali. Ketakutan ia benar-benar bisa lepas.

Hari ke-30

Florence duduk di lantai, menggenggam salib kayunya. Bibirnya pecah. Matanya kosong, namun di dalamnya menyala api. Api milik orang yang tak punya apa-apa lagi kecuali niat.

Sebulan. Tiga puluh goresan di dinding. Tiga puluh kali ia nyaris menyerah.

Namun tiap hendak menyerah, ia ingat kalimat terakhir Mama Lucifer di buku itu: …cukup berani untuk mencari Tuhan di nerakamu.

Ia bukan berani. Ia putus asa.

Dan orang putus asa adalah yang paling berbahaya.

Ditatapnya jendela kaca mati. Tebal. Mungkin anti peluru. Tapi…

Diliriknya kursi besi di sudut ruangan. Berat.

Dipandangnya seprai yang sudah ia cabik. Bisa jadi jerat.

Di kepalanya tak ada lagi doa. Tak ada Lucifer kecil. Tak ada ‘andai dia pria biasa’.

Yang ada hanya satu: Lepas. Atau mati mencoba.

Neraka ini sudah merampas warasnya. Jangan sampai merampas nyawanya juga.

Di lantai lain, di ruang kerja yang gelap, monitor CCTV menyala. Menayangkan kamar Florence dua puluh empat jam.

Lucifer duduk di kursi, gelas wiski di tangan. Tak diminum. Hanya diputar.

Matanya tak lepas dari layar. Dari gadis yang kini ringkih, kusut, berbicara pada dinding, mencakar tembok.

Setiap Florence menangis, rahang Lucifer mengeras.

Setiap Florence membanting nampan, jemari Lucifer meremas gelas hingga nyaris retak.

Ini ganjaran. Dia kurang ajar. Dia mengoyak luka lama. Dia harus tahu rasanya dikubur hidup-hidup.

Lalu kenapa… kenapa tiap melihatnya seperti mayat berjalan, dadaku serasa diberondong Papa lagi?

Dimatikannya monitor. Paksa. Namun suara Florence berteriak “AKU BUKAN BARANGMU!” masih berdenging.

Mawar layu memang harus dibuang. Namun kenapa… kenapa melihat mawar ini layu rasanya seperti dikhianati Tuhan untuk kedua kalinya?

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!