Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster Cacing Es
“Tebar formasi!” teriak Prisma.
DUUUUMM!!
Palu raksasanya menghantam tanah es, menciptakan gelombang energi biru yang menghancurkan tangan-tangan membeku yang merangkak mendekat.
Namun tangan itu terus muncul. Semakin banyak. Semakin cepat. Suara retakan tulang dan es bercampur menjadi jeritan mengerikan di tengah badai salju.
Dandi melesat maju. Tombaknya berputar cepat membelah tangan-tangan monster yang mencoba mengepung Prisma.
CRASSSHH!!
Pecahan es dan darah hitam berhamburan. “Terlalu banyak!”
Andri sudah berdiri di atas kendaraan yang rusak sebagian.
DOR! DOR! DOR!!
Peluru-peluru modifikasinya meledak di tubuh cacing raksasa itu. Kali ini luka monster tidak langsung menutup. Karena bagian tubuh yang terkena peluru mulai membusuk menjadi hitam.
Andri menyipitkan mata. “…Berhasil.”
Namun belum sempat ia menembak lagi, monster itu membuka mulut raksasanya lebar-lebar. Dan seluruh wajah manusia di dalamnya ikut membuka mata bersamaan.
SCREEEEAAAKKK!!
Gelombang suara menghantam area sekitar.
Dandi langsung memegang kepalanya. “GH—!”
Prisma sampai terdorong mundur. Bahkan salju di sekitar mereka pecah hanya karena suara itu.
Namun Reina… tetap berdiri diam. Matanya perlahan berubah merah terang. Karena di balik jeritan itu ia mendengar sesuatu yang lain.
Suara manusia. Tangisan. Permohonan.
“Tolong…”
“Bunuh kami…”
Tubuh Reina menegang. Makhluk ini bukan sekadar monster. Ia terbentuk dari manusia-manusia yang dibekukan gerbang kedua. Jiwa mereka masih terjebak di dalam tubuh itu.
Reina menggenggam pedangnya perlahan. Dan untuk sesaat suara wanita dewi dalam dirinya kembali terdengar.
“Kasihan…”
“Mereka tidak bisa mati.”
Aura merah hitam mulai keluar dari tubuh Reina.
Prisma langsung menoleh. “Reina?”
Namun Reina melangkah maju. Salju di bawah kakinya mencair lalu membeku lagi menjadi hitam.
Monster cacing itu langsung meraung ketakutan. Untuk pertama kalinya makhluk itu mencoba mundur.
Mata Andri membesar kecil.“…Monster itu takut.”
Reina mengangkat salah satu pedangnya. Api merah gelap mulai membakar bilahnya. Namun wajah Reina justru terlihat sedih. “Aku akan membebaskan kalian.”
Monster itu tiba-tiba mengamuk dan menyerbu Reina. Mulut raksasanya terbuka lebar hendak menelan seluruh tubuhnya.
“REINAA!!” teriak Dandi.
Namun Reina hanya mengangkat tangannya pelan. Seluruh dunia seperti berhenti sesaat. Lalu—
CRAAAAASSSHHHH!!
Api merah hitam meledak membelah tubuh monster dari kepala sampai ekor. Gelombang energi besar menghancurkan badai salju di sekitarnya.
Langit malam terlihat kembali untuk beberapa detik. Tubuh monster itu perlahan runtuh menjadi abu hitam. Dan saat hancur suara-suara manusia tadi akhirnya menghilang.
Sunyi.
Damai.
Reina berdiri diam di tengah abu yang beterbangan. Namun saat Prisma hendak mendekatinya ia berhenti.
Karena di belakang Reina… bayangan raksasa samar mulai muncul sesaat. Sosok wanita bertanduk dengan mata merah menyala.
Bayangan jiwa dewi itu perlahan menatap mereka semua sebelum akhirnya menghilang bersama angin salju.
Tidak ada yang langsung bicara.
Abu hitam monster tadi masih beterbangan di udara seperti salju gelap. Suhu di sekitar perlahan naik kembali, namun suasana justru terasa lebih dingin.
Prisma menatap tempat bayangan wanita bertanduk itu muncul. Tangannya tanpa sadar mengepal.
Dandi terlihat pucat. “…Kalian juga melihatnya, kan?”
Andri tidak menjawab. Namun wajahnya menjadi semakin serius. Santo terus menatap Reina tanpa berkedip. Seolah mencoba memastikan sesuatu.
Sementara Reina sendiri berdiri diam membelakangi mereka. Pedangnya masih dipenuhi api merah hitam yang perlahan padam.
Dan untuk sesaat ia takut menoleh. Takut melihat tatapan mereka berubah. Akhirnya Reina bicara pelan. “…Aku tidak bisa mengendalikannya sepenuhnya.”
Angin salju berhembus kecil. Prisma langsung berjalan mendekat. Namun langkahnya jauh lebih hati-hati dibanding dulu.
Hal kecil itu cukup disadari Reina. Dan terasa menyakitkan. Prisma berhenti beberapa langkah di depannya. “Kau masih Reina.”
Reina perlahan menoleh. Tatapan merahnya terlihat lelah. “Bagaimana kalau suatu hari nanti aku bukan lagi diriku?”
Prisma terdiam. Karena ia tidak punya jawaban. Justru Santo yang menjawab. “Kalau hari itu datang…”
Semua menoleh kepadanya. Santo berdiri di tengah badai salju sambil memegang pedangnya. “…kami akan menarikmu kembali.”
Mata Reina sedikit membesar. Untuk pertama kalinya sejak kembali ketegangan di wajahnya sedikit melemah.
Namun suasana itu kembali pecah saat Lyra tiba-tiba melihat ke arah utara. Wajahnya langsung berubah pucat.“Tidak... Sepertinya kita...Terlambat…”
DUUUUUUMMMMM!!
Gemuruh besar mengguncang dunia. Seluruh tanah es retak. Dan di kejauhan mereka akhirnya melihatnya.
Kota Varekh.
Kota raksasa yang seluruhnya membeku. Gedung-gedung tinggi tertutup es hitam.
Patung-patung manusia membeku memenuhi jalanan. Dan di tengah kota berdiri gerbang kedua.
Jauh lebih besar daripada gerbang pertama. Gerbang itu berbentuk lingkaran es raksasa dengan rantai-rantai hitam melilit seluruh permukaannya.
Namun yang membuat semua membeku adalah salah satu rantainya… sudah putus.
CRAAAAKKK…
Suara retakan menggema dari seluruh kota. Kabut putih mulai keluar dari celah gerbang. Dan perlahan sesuatu bergerak di baliknya.
Dua mata biru raksasa terbuka dalam kegelapan. Mata yang sama seperti dalam penglihatan Reina.
Seluruh tubuh Reina langsung menegang. Karena suara berat itu kembali terdengar di kepalanya.
“PEWARIS DEWI…”
“AKHIRNYA KAU DATANG.”