Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Di rumahnya yang tenang, Sheila sedang menikmati waktu "me-time" setelah seharian berhadapan dengan ketegangan di kantor. Rambutnya dicepol asal-asalan, dan wajahnya tertutup rapat oleh masker lumpur berwarna abu-abu kehijauan yang mulai mengering, menyisakan hanya area mata dan bibir yang bebas dari olesan.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan permintaan Video Call dari kontak bernama "Bapak CEO Sengklek". Sheila tersenyum di balik maskernya yang kaku, lalu segera menggeser tombol hijau.
Wajah tampan Jeremy muncul di layar. Pria itu tampak sudah berada di kamarnya, mengenakan kaus oblong putih yang santai, kontras dengan setelan jas kaku yang ia pakai sore tadi. Ia sedang bersandar di kepala tempat tidur dengan ekspresi wajah yang langsung cerah begitu melihat layar ponselnya.
"Lagi apa sayangku? Kok mukanya jadi kayak patung semen gitu?" tanya Jeremy sambil tertawa renyah, matanya menyipit jenaka menatap tampilan Sheila yang tidak biasa.
"Lagi maskeran sayangku. Jangan diketawain! Ini biar kulit aku tetap kenyal meski tiap hari kena semprot Papa kamu," jawab Sheila dengan suara yang agak tertahan karena ia tidak bisa menggerakkan otot wajahnya terlalu banyak.
"Tetap cantik kok, meski jadi kayak karakter Shrek gitu," goda Jeremy lagi. Ia mendekatkan wajahnya ke kamera, seolah ingin mencium layar ponsel itu. "Aku kangen banget. Tadi di lift rasanya mau aku tarik kamu keluar terus kita lari saja. Papa benar-benar bikin suasana jadi kayak di pemakaman."
"Iya, tadi aku deg-degan banget, Jer. Tapi untung kamu pegang tangan aku," bisik Sheila tulus. "Gimana tadi urusan keluarga sama Papa? Beliau masih marah?"
Jeremy menghela napas, menyugar rambut hitamnya dengan jemarinya. "Papa cuma ceramah soal saham dan reputasi. Standar lah. Tapi pikiranku nggak di sana, pikiranku cuma mau tahu asisten kesayanganku ini sudah makan atau belum."
"Sudah, tadi aku pesan go-food. Kamu juga harus makan, jangan cuma minum kopi terus—"
Ucapan Sheila terhenti seketika. Di layar ponsel, ia melihat pintu kamar Jeremy di latar belakang terbuka dengan kasar. Seorang pria paruh baya dengan aura otoriter yang kuat melangkah masuk tanpa mengetuk pintu.
"Jeremy Nasution?!"
Suara itu menggelegar melalui speaker ponsel Sheila. Itu adalah suara Tuan Nasution.
Sheila langsung membeku. Jantungnya serasa mau copot. Ia melihat ekspresi Jeremy di layar berubah drastis dari santai menjadi sangat tegang. Jeremy mencoba menutupi layar ponselnya dengan bantal, namun suaranya masih terdengar jelas.
"Lagi apa kamu malam-malam begini?! Masih berhubungan dengan asisten itu?!" bentak Tuan Nasution. "Papa lihat lampu kamar kamu masih nyala dan kamu bicara sendiri. Sini, kasih Papa ponsel kamu!"
"Nggak, Pa! Ini urusan pribadi aku!" seru Jeremy membela diri.
Sheila yang masih memakai masker lumpur hanya bisa terdiam mematung, menahan napas sambil memegang ponselnya erat-erat. Ia bisa mendengar suara perdebatan hebat antara ayah dan anak itu. Rasa takut kembali menyergapnya; ia takut kehadirannya benar-benar menghancurkan hubungan Jeremy dengan keluarganya.
"Kalau Papa sampai tahu kamu masih main-main di belakang Papa, jangan harap wanita itu masih punya meja di kantor besok pagi!" ancam Tuan Nasution sebelum suara pintu yang dibanting keras terdengar.
Layar ponsel kembali menampilkan wajah Jeremy yang kini tampak sangat frustrasi. Ia mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu karena emosi.
"Shei... kamu masih di sana?" tanya Jeremy lirih, suaranya terdengar sangat lelah dan penuh rasa bersalah.
"Masih, Jer..." bisik Sheila, setetes air mata jatuh merusak masker di pipinya. "Mungkin... mungkin Papa kamu benar. Kita terlalu berisiko."
"Jangan ngomong gitu, Sheila. Dengar aku," Jeremy menatap kamera dengan sorot mata yang tajam dan penuh determinasi. "Biarkan Papa teriak sesukanya. Aku nggak akan menyerah. Besok kita ketemu di kantor seperti biasa. Jangan takut, oke? Aku yang akan pasang badan."
***
Pagi itu, suasana di kantor Nasution Property Group terasa lebih dingin dari biasanya, setidaknya bagi Jeremy. Sejak insiden video call yang digerebek papanya semalam, Sheila berubah menjadi bayangan. Pesan singkat berisi ucapan semangat yang biasanya dikirim Sheila berganti dengan status read yang membeku. Telepon Jeremy dialihkan ke kotak suara, dan setiap kali Jeremy mencoba mencegatnya di koridor, Sheila selalu punya seribu alasan untuk berbelok ke arah berlawanan—entah itu tiba-tiba ingin ke toilet atau mendadak sibuk bicara dengan OB.
Jeremy merasa seperti singa yang dikurung dalam kandang kaca. Ia bisa melihat mangsanya—maksudnya, kekasihnya—tapi tidak bisa menyentuhnya. Kesabarannya yang setipis tisu itu akhirnya robek tepat pukul sepuluh pagi.
Tanpa mempedulikan jadwal rapat koordinasi yang seharusnya ia pimpin, Jeremy keluar dari ruangannya dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Jubah wibawa sebagai CEO dingin yang biasanya ia pakai, kini luntur digantikan oleh aura pria yang sedang dilanda api cemburu dan rindu yang bercampur aduk.
Sheila sedang duduk di kursi kerjanya, menatap layar komputer dengan pandangan kosong meski tangannya pura-pura mengetik laporan bulanan. Ia bisa merasakan kehadiran seseorang yang sangat dominan mendekat ke arah kubikelnya. Wangi parfum maskulin yang sangat ia kenali mulai menyeruak, membuat jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan.
BRAK!
Jeremy meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Sheila, mengurung wanita itu di antara kursi dan meja. Ia tidak peduli dengan Nilam yang langsung tersedak kopinya di meja sebelah, atau Toni yang mendadak pura-pura sibuk membetulkan kabel di bawah meja karena takut kena amuk.
Sheila tersentak, ia mendongak dan langsung melotot tajam ke arah Jeremy. "Pak Jeremy! Apa-apaan sih? Ini kantor!" desis Sheila dengan volume suara yang ditekan, matanya memberikan sinyal bahaya yang sangat jelas.
Jeremy tidak bergeming. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Sheila, cukup dekat hingga Sheila bisa melihat urat halus di pelipis Jeremy yang berdenyut karena emosi.
"Kenapa pesan aku nggak dibalas? Kenapa telepon aku kamu reject terus? Dan kenapa setiap kali aku lewat, kamu pura-pura jadi hiasan dinding?!" tanya Jeremy dengan suara bariton yang berat dan penuh penekanan. Ia sama sekali tidak peduli bahwa saat ini puluhan pasang mata staf administrasi sedang menonton drama "Live" antara CEO dan asistennya.
"Saya sibuk, Pak. Banyak laporan yang harus diselesaikan," jawab Sheila berusaha formal, meski tangannya di bawah meja gemetar hebat. "Tolong kembali ke ruangan Bapak. Bapak menarik perhatian semua orang."
"Biarkan saja mereka lihat! Biar sekalian Papa tahu kalau anaknya memang sudah gila karena asistennya sendiri!" Jeremy mencondongkan tubuhnya lebih dalam, mengabaikan tatapan syok dari Nilam yang mulutnya sudah menganga lebar. "Kamu pikir dengan menghindar begini masalah selesai? Kamu pikir aku bakal biarkan kamu mutusin hubungan sepihak cuma karena Papa masuk kamar aku?"
"Jer, tolong... jangan bikin aku makin susah," bisik Sheila, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takut akan ancaman Tuan Nasution semalam kembali menghantuinya. Ia tidak mau Jeremy kehilangan segalanya hanya demi dia.
Jeremy melihat binar air mata itu, dan kemarahannya seketika luluh berganti dengan rasa perih di dada. Ia merendahkan suaranya, menjadi sangat lembut namun posesif. "Ikut aku sekarang. Ruangan aku, atau aku gendong kamu dari sini sampai ke lobi depan biar semua orang tahu siapa pemilik hati kamu sebenarnya."
Sheila melotot semakin tajam, mencoba memberikan perlawanan terakhir. "Kamu nggak akan berani."
"Coba saja," tantang Jeremy sambil mulai merendahkan tubuhnya, seolah benar-benar bersiap untuk mengangkat Sheila.
"Oke! Oke, aku ikut!" Sheila berdiri dengan kasar, menyambar pouch kecilnya dan berjalan mendahului Jeremy menuju ruangan CEO dengan langkah yang masih sedikit kaku—sisa pegal semalam yang kini ditambah beban mental luar biasa.
Jeremy mengikuti dari belakang dengan senyum kemenangan yang tipis, sempat memberikan tatapan tajam pada Toni yang tertangkap basah sedang memegang ponsel (mungkin mau merekam). Toni langsung melempar ponselnya ke tumpukan berkas seolah-olah benda itu baru saja menyetrumnya.
Begitu pintu ruangan CEO tertutup dan terkunci, Sheila berbalik dan langsung memukul dada Jeremy dengan tasnya.
"Kamu gila! Kamu sengaja ya mau bikin aku dipecat?!" semprot Sheila.
Jeremy menangkap kedua tangan Sheila, lalu menariknya masuk ke dalam pelukannya, memeluk wanita itu dengan sangat erat seolah-olah dunia akan berakhir besok. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Sheila, menghirup aroma yang sangat ia rindukan sejak semalam.
"Jangan kabur lagi, Shei. Tolong," bisik Jeremy parau. "Papa boleh ambil jabatan aku, Papa boleh blokir rekening aku, tapi aku nggak akan biarkan dia ambil kamu dari hidup aku. Kalau kamu menghindar lagi, aku beneran bakal nekat bawa kamu lari ke ujung dunia yang nggak ada sinyalnya sekalian."
Sheila terdiam, rasa marah yang tadi membuncah kini menguap, digantikan oleh rasa haru yang mendalam. Ia sadar, pria "sengklek" di depannya ini memang benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya demi dirinya. Ia membalas pelukan Jeremy, menyandarkan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantung Jeremy yang sama cepatnya dengan miliknya.