Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka 9 meridian utama meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 33 — Mata Biru Safir
"Ukh! Tadi itu apa?"
Qin Mu perlahan membuka kelopak matanya, namun pemandangan yang menyambutnya bukanlah langit-langit kayu kamarnya yang akrab.
Sejauh mata memandang, hanya ada kegelapan absolut pekat, dingin, dan tak berujung.
Tidak ada suara, tidak ada angin, bahkan detak jantungnya sendiri pun tidak terdengar.
"Di mana ini? Apakah aku masih di kediaman klan?" gumamnya, namun suaranya tidak menggema. Suara itu seolah terserap oleh kehampaan.
Qin Mu mencoba mengerahkan energi spiritualnya, tetapi ia merasakan sensasi aneh. Ia menunduk untuk melihat tangannya, dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Seketika itulah ia baru sadar...
"Sial! Apakah aku mati?! Apakah batu itu adalah jebakan maut?"
Tubuhnya bahkan bukan lagi daging dan tulang, melainkan gumpalan asap tipis berwarna abu-abu yang transparan dan melayang-layang.
Rasa panik mulai merayap. Qin Mu mengutuk kecerobohannya. Ia ingat ayahnya yang masih membeku dalam Meditasi Abadi, ia ingat senyum malu-malu Qin Lian di bawah rembulan, dan ia ingat janji yang ia buat untuk menjadi kuat.
"Senior Luo Yan... kau benar-benar menjebakku? Bagaimana aku bisa membahagiakan Ayah jika aku menjadi hantu di tempat antah berantah ini!" ia berteriak penuh amarah, namun sosok asapnya hanya bergetar lemah.
"Ahhhh! Kenapa aku terlalu mempercayainya?!"
Tepat saat keputusasaan mulai memuncak, sebuah titik cahaya muncul di tengah kegelapan.
Itu adalah cairan hitam yang menembus dahinya tadi, namun kini ia memancarkan pendar keemasan yang mistis dan agung. Cairan itu berdenyut, lalu perlahan mulai memanjang dan membentuk struktur yang sangat presisi.
Dalam hitungan detik, gumpalan itu berubah menjadi sebuah Mata Berwarna Biru Safir.
Mata itu tidak memiliki kelopak, pupilnya berbentuk vertikal layaknya mata naga, dan memancarkan aura yang tidak bisa dijelaskan. Mata itu menatap tajam ke arah sosok asap Qin Mu, seolah sedang menghakimi kelayakannya.
Sring!
Tanpa peringatan, mata biru itu melesat lebih cepat dari persepsi pikiran. Ia menghantam tepat ke arah posisi mata kiri pada sosok asap Qin Mu.
"Argghh!!!"
Rasa sakit yang meledak ini... Adalah rasa sakit yang mencabik jiwa!
Qin Mu merasa seolah-olah ada bara api yang dipaksakan masuk ke dalam otaknya, memanggang kesadarannya, dan membakar setiap inci memori yang ia miliki.
Ia ingin pingsan, ia ingin siksaan ini segera berakhir, namun di ruang kesadaran batin ini, pingsan adalah kemewahan yang tidak ia miliki. Ia dipaksa untuk tetap sadar dan merasakan setiap detik proses penyatuan tersebut.
Di tengah jeritan tanpa suara itu, sebuah suara wanita yang sangat menawan, lembut namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan, bergema di seluruh ruang gelap tersebut.
"Gunakan... mata... Pe... Tan... Ma... Pa... Ni.. De... Ba... Pu... Ku... Ma... Ka... Bu... Ka... Na... Da... Bi... Me... Mu... Sa... Ni..."
Suara itu terputus-putus, terdistorsi oleh gelombang energi yang mengamuk.
Qin Mu mencoba mendengarkan, mencoba memahami siapa pemilik suara yang terdengar seperti melodi surgawi itu, namun rasa sakit di mata kirinya kembali menghantam, memutus fokusnya.
"Siapa... siapa kau?!" batin Qin Mu meronta.
Mata biru itu kini telah menyatu sepenuhnya dengan jiwa asapnya.
Cahaya perak dan emas meledak dari titik penyatuan tersebut, menerangi kegelapan batin Qin Mu untuk sesaat sebelum semuanya ditarik kembali secara paksa ke dalam pusat kesadarannya.
BUAM!
Kesadaran Qin Mu terlempar keluar dari ruang gelap itu seolah ditendang oleh kekuatan raksasa.
***
"Ukhh..."
Qin Mu mengerang pelan, kelopak matanya terasa seberat batangan besi meteor. Rasa sakit yang tajam masih berdenyut di balik rongga mata kirinya, sisa-sisa dari siksaan di ruang gelap yang tak berujung itu. Saat ia mencoba memfokuskan pandangan, dunia di sekitarnya tampak bergoyang dan kabur.
Ia menghirup udara yang terasa familiar aroma kayu kualitas terbaik yang mahal dan wangi bunga melati yang menenangkan.
'Ini... bukan kamar sederhanaku,' batinnya dengan pikiran yang masih linglung.
Qin Mu mencoba mengedarkan pandangan. Ia berbaring di atas tempat tidur dengan sprei sutra yang halus. Rak buku dari kayu berukir dan tirai beludru yang menjuntai menegaskan bahwa ia berada di Paviliun Utama Keluarga Qin...
Ini adalah kamar lamanya, tempat yang ia tinggalkan 10 bulan yang lalu saat ia memutuskan untuk mengasingkan diri ke sudut terpencil klan karena rasa malu atas statusnya.
"Mu ge? Mu ge, kau bangun?!"
Sebuah suara serak dan penuh isak tangis memecah keheningan. Qin Mu menoleh perlahan dan melihat sosok Qin Lian yang duduk di samping tempat tidurnya. Gadis itu tampak sangat lesu; lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, dan wajahnya yang biasanya cerah kini tampak tirus dan pucat.
Di ujung tempat tidur, Tetua Kelima Qin Changin berdiri dengan napas yang tertahan. Tangannya yang memegang jubah tampak gemetar, dan matanya yang memerah menatap Qin Mu seolah-olah ia sedang melihat sebuah keajaiban yang mustahil.
"Mu er... demi dewa... kau benar-benar kembali," bisik Qin Changin, suaranya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kencang, melepaskan beban berat yang selama ini menghimpit dadanya.
Qin Mu mencoba duduk, namun seluruh sendinya terasa kaku.
"Tetua Chang... Lian er... mengapa kalian menatapku seperti itu? Aku hanya...."
Kalimat itu belum selesai, pintu kamar terbuka dengan kasar. Qin Zhetang masuk dengan langkah terburu-buru, membawa nampan berisi berbagai ramuan obat luar.
Begitu melihat Qin Mu terduduk dengan mata terbuka, nampan di tangannya hampir terjatuh.
"Kau akhirnya bangun?!" teriak Qin Zhetang, suaranya melengking hingga ke langit-langit. Ia mengabaikan tata krama dan langsung melompat ke sisi tempat tidur, memeriksa denyut nadi Qin Mu dengan kasar.
"Akhirnya kau bangun juga, Tuan Muda Mu! Kau tahu berapa lama kami menunggu?! Satu bulan dua puluh hari!"
Deg!
Qin Mu mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Satu bulan... dua puluh hari?" ulangnya dengan nada tidak percaya.
"Apakah... Tidak!"
Ucapan Qin Mu terhenti. Melihat keadaan sekarang. Sepertinya perkataan Qin Zhetang jelas tidak bercanda.