NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Mulai Berubah

Sore perlahan datang menggantikan siang yang tenang di rumah besar milik Zayn. Cahaya matahari mulai berubah keemasan, memantul lembut melalui jendela-jendela tinggi dan membuat suasana rumah terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu tidak hanya dipenuhi kesunyian, tetapi juga suara tawa kecil dan percakapan ringan yang perlahan menghidupkan setiap sudutnya.

Aurora membuka mata perlahan.

Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengumpulkan kesadaran.

Kepalanya terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.

Aurora mengerjap pelan lalu menoleh ke samping.

Sofa dekat jendela sudah kosong. Laptop Zayn juga tidak ada.

Aurora perlahan bangkit sambil memeluk boneka kucing putihnya kecil, “Tidur beneran…” gumamnya pelan.

Ia sendiri tidak sadar kapan tepatnya tertidur tadi.

Aurora duduk beberapa detik sebelum akhirnya turun dari ranjang perlahan.

Tubuhnya memang masih sedikit lemas, tapi setidaknya sekarang tidak sepusing sebelumnya.

Aurora membuka pintu kamar pelan lalu melangkah keluar.

Lorong lantai dua terlihat sepi.

Suara samar percakapan terdengar dari lantai bawah.

Aurora berjalan pelan mengikuti suara itu.

Begitu sampai di ruang makan, pemandangan di depannya langsung membuatnya berhenti.

Rakha duduk santai sambil makan camilan dari mangkuk besar.

Sedangkan Evan berdiri di dekat meja sambil mengomel kesal, “Itu punya gue!”

Rakha tetap santai memasukkan camilan ke mulutnya, “Sekarang punya gue.”

“Bos bilang itu buat tamu!”

“Ya gue tamu.”

Evan langsung memijat pelipis frustrasi.

Sementara itu di dapur terbuka, Nelly sedang menyusun beberapa gelas sambil menahan tawa melihat mereka.

Aurora tanpa sadar ikut tersenyum kecil.

Dan entah kenapa, suasana itu terasa sangat aneh.

Karena rumah sebesar ini ternyata bisa terasa ramai juga.

Nelly yang pertama sadar Aurora sudah bangun langsung melambaikan tangan kecil, “Eh, udah bangun?”

Semua langsung menoleh.

Rakha mengangkat alis, “Wah. Putri tidur akhirnya bangun.”

Aurora langsung mendengus kecil, “Aku bukan putri tidur.”

“Tidur tiga jam masih denial.”

Aurora langsung ingin membalas, tapi Nelly lebih dulu tertawa kecil.

“Pusingnya masih ada?” tanya Nelly ramah.

Aurora menggeleng pelan, “Udah mendingan.”

“Bagus deh.”

Aurora berjalan mendekat sambil melihat meja makan yang sedikit berantakan karena Rakha dan Evan tadi.

Tanpa sadar ia langsung mulai membereskan beberapa gelas kosong.

Nelly yang melihat itu langsung berkata, “Eh nggak usah, nanti ada pelayan.”

“Gapapa kok” balas Aurora santai.

Aurora membawa beberapa piring ke wastafel.

Lalu tanpa pikir panjang mulai mencuci piring satu per satu.

Air hangat mengalir pelan memenuhi wastafel.

Nelly langsung panik kecil, “Aurora, serius nggak usah…”

Aurora tertawa kecil, “Aku nggak enak cuma makan sama tidur doang di sini.”

Rakha yang melihat dari jauh langsung menyeringai kecil, “Wah rajin juga.”

Evan malah ikut mengangguk setuju, “Iya. Cocok jadi-”

Belum sempat ia melanjutkan, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.

Zayn muncul dari lorong sambil membuka sedikit kancing manset kemeja hitamnya.

Tatapannya langsung jatuh ke arah wastafel. Lalu ke Aurora.

Aurora yang masih memegang spons langsung menoleh pelan.

Dan entah kenapa suasana langsung terasa menegangkan.

Zayn berjalan mendekat beberapa langkah lalu berhenti tepat di dekat dapur, “Kamu lagi ngapain?”

Aurora berkedip kecil, “eee cuci piring?”

Nada suaranya bahkan terdengar seperti orang ketahuan berbuat salah.

Zayn menatap wastafel beberapa detik sebelum akhirnya berkata datar, “Dokter bilang istirahat.”

“Aku cuma berdiri.”

“Tetep.”

Aurora langsung mengerucutkan bibir kesal, “Bapak galak banget sih…”

Rakha yang sejak tadi memperhatikan langsung tertawa keras.

“Anjir. Bos mafia marah gara-gara cewek nyuci piring.”

Evan ikut menahan tawa.

Bahkan Nelly sampai menunduk kecil karena geli melihat ekspresi Aurora.

Zayn tetap tidak terpengaruh. Ia berjalan mendekat lalu mengambil spons dari tangan Aurora begitu saja.

Aurora langsung membelalakkan mata, “Pak!”

“Kamu istirahat.”

“Aku nggak sakit parah…”

“Kamu baru diculik kemarin.”

Aurora langsung diam.

Rakha menyeringai sambil bersandar santai di kursi, “Kalau dia udah mode protektif emang susah.”

“Diem” balas Zayn dingin.

Aurora mendengus kecil lalu akhirnya menyerah.

Namun baru beberapa langkah menjauh dari dapur, tubuhnya sedikit oleng karena masih belum sepenuhnya pulih, “Eh-”

Belum sempat Aurora kehilangan keseimbangan, sebuah tangan langsung menarik pinggangnya refleks.

Tubuh Aurora langsung tertahan.

Aurora membelalakkan mata.

Zayn berdiri sangat dekat di depannya sambil masih memegang pinggangnya agar tidak jatuh.

Suasana langsung hening total.

Aurora bisa merasakan jantungnya sendiri berdetak terlalu cepat.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik terlalu lama. Dan itu justru membuat Aurora semakin salah tingkah.

Zayn sendiri terlihat diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Makanya jangan banyak gerak.”

Nada suaranya lebih rendah dari biasanya.

Rakha langsung menutup wajahnya sendiri sambil tertawa tidak percaya, “Gue boleh liat beginian kah?”

Aurora langsung tersadar lalu buru-buru mundur beberapa langkah dengan wajah merah, “AKU MAU DUDUK AJA!” ucapnya cepat.

Nelly langsung menggigit bibir kecil menahan senyum.

Sedangkan Evan memilih pura-pura sibuk melihat ponsel supaya tidak ikut kena tatapan dingin Zayn.

Aurora akhirnya duduk di kursi dekat meja makan sambil memeluk boneka kucingnya lagi untuk menyembunyikan rasa malunya.

Dan anehnya sejak datang ke rumah itu, ini pertama kalinya Aurora benar-benar merasa nyaman.

Rumah dingin milik Zayn perlahan terasa hidup.

Dipenuhi suara tawa kecil, perdebatan receh, dan suasana hangat yang sebelumnya tidak pernah ada.

Sementara itu, dari lorong dekat ruang kerja, Lynda berdiri diam memperhatikan semuanya.

Tatapannya tertuju pada Aurora yang sedang berbicara pelan dengan Nelly. Lalu ke Rakha yang tertawa santai. Dan akhirnya ke Zayn.

Pria itu memang masih terlihat dingin seperti biasa. Tapi caranya memandang Aurora jelas berbeda.

Nelly yang baru selesai mengambil minuman akhirnya berjalan mendekat ke arah Lynda.

Wanita itu tersenyum kecil, “Rumah ini jadi lebih hidup ya sejak Aurora datang.”

Lynda terdiam beberapa detik. Tatapannya masih lurus ke depan, “Terlalu hidup justru berbahaya” jawabnya pelan.

Nelly sedikit mengernyit bingung.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Lynda sudah lebih dulu berjalan pergi dengan tenang.

Sore terus berjalan perlahan.

Dan tanpa disadari siapa pun, rumah besar itu mulai berubah sedikit demi sedikit.

Bukan karena perang, bukan karena kekuasaan, tapi karena kehadiran satu orang yang perlahan masuk terlalu dalam ke hidup mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!