NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Lantai marmer kediaman Mettond terasa sedingin es di bawah kaki Catherina yang masih lemas. Ia melangkah masuk dengan menggendong Liam yang baru saja mendapatkan suntikan cairan di rumah sakit. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan luka bekas operasinya terasa ngilu setiap kali ia mengambil langkah yang terlalu lebar.

Namun, ketenangan adalah barang langka di rumah ini.

"Bisakah kau lebih cepat? Kau terlalu lambat, Catherina. Jangan biarkan kolegaku menunggu hanya karena kau tidak bisa mengatur waktu!"

Suara Adrian menggelegar dari arah ruang tengah. Pria itu sudah rapi dengan setelan tuksedo pesanan khusus yang membuatnya tampak seperti pangeran dari majalah bisnis. Ia sedang memeriksa jam tangannya dengan raut wajah tidak sabar, seolah setiap detik yang terbuang adalah kerugian jutaan dolar.

Catherina berhenti sejenak, mengatur napasnya. "Aku baru saja kembali dari rumah sakit, Adrian. Liam dehidrasi. Aku butuh waktu untuk menidurkannya dan bersiap-siap. Aku... aku sedikit lelah."

Adrian melangkah mendekat, namun bukan untuk membelai pipi istrinya atau memeriksa keadaan anaknya. Ia berdiri di depan Catherina dengan aura yang mengintimidasi.

"Lelah?" Adrian mendengus sinis. "Kau terlalu banyak menghabiskan waktu bersama putramu itu sampai tidak pernah mengerti dengan keperluanku. Sedikit-sedikit putramu, sedikit-sedikit Liam menangis. Banyak sekali alasanmu untuk menghindari kewajibanmu sebagai istri di sampingku!"

Catherina merasakan dadanya sesak. Kata-kata "putramu" yang keluar dari mulut Adrian terasa seperti belati yang dihunus berkali-kali ke jantungnya. Sejak Liam lahir, sebutan itu menjadi senjata Adrian untuk menciptakan jarak yang lebar.

"Bagaimana mungkin Liam hadir jika dia hanya putraku, Adrian?" Suara Catherina bergetar, namun ada nada tegas yang jarang ia tunjukkan. "Dia putramu juga. Berhenti mengatakan 'anakmu' atau 'putramu' seolah kau tidak punya andil dalam kehadirannya di dunia ini. Dia darah dagingmu!"

Adrian tertawa kecil, sebuah tawa kering yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Ia mencondongkan wajahnya ke telinga Catherina, membisikkan kata-kata yang membuat dunia Catherina seolah runtuh seketika.

"Darah dagingku? Bagaimana mungkin kau sudah hamil Dua bulan di saat pernikahan kita baru berjalan satu bulan? Itu konyol, Catherina. Secara matematis, itu mustahil."

Tubuh Catherina membeku. Rahasia gelap yang ia simpan sendiri—kebingungan yang bahkan ia takutkan untuk ia cari tahu jawabannya—kini dihantamkan Adrian tepat di wajahnya.

Kenyataannya memang pahit. Sebulan setelah pernikahan mereka yang megah, Catherina jatuh pingsan. Saat diperiksa, dokter menyatakan ia sudah mengandung Sembilan minggu. Sejak detik itu, tatapan memuja Adrian berubah menjadi dingin dan penuh jijik. Adrian tidak pernah lagi menyentuhnya. Pria itu tidur di kamar terpisah dan hanya tampil mesra di depan kamera atau kolega bisnis.

"Kau tahu aku tidak pernah mengkhianatimu," bisik Catherina parau. "Aku milikmu sejak malam pertama kita, Adrian."

"Milikku?" Adrian menarik diri, menatap Catherina dengan pandangan merendahkan. "Jangan lupakan siapa yang memilikimu sebelum aku, Cathe. Everest Cavanaught tidak akan membiarkan 'miliknya' pergi tanpa meninggalkan jejak, bukan? Kau sendiri yang bilang padaku sebelum kita menikah bahwa kau tidak lagi murni. Jadi, jangan salahkan aku jika aku meragukan hitungan kalender kehamilanmu."

"Adrian, itu tidak mungkin! Aku dan Everest sudah putus setahun sebelum kita menikah!"

"Lalu jelaskan padaku kenapa Liam lahir dengan wajah yang sama sekali tidak mirip denganku?" Adrian membentak, membuat Liam yang tertidur kembali tersentak dan menangis kecil. "Cepat ganti bajumu. Pakai gaun hitam yang kubelikan. Tutupi wajah pucatmu itu dengan makeup tebal. Aku tidak mau orang-orang melihat istriku seperti pelayan yang kelelahan."

Adrian berlalu pergi, meninggalkan Catherina yang mematung di lorong.

Di dalam kamar, sambil merias wajahnya, tangan Catherina gemetar hebat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Cantik, namun seperti jiwa yang sudah mati.

Bagaimana mungkin ia hamil secepat itu?

Pertanyaan itu menghantui setiap malamnya. Sejak diagnosis kehamilan itu, Catherina tidak pernah lagi berani memeriksakan kandungannya secara mendalam. Ia takut. Ia takut jika ia bertanya terlalu banyak pada dokter, kebenaran yang tidak masuk akal akan terungkap. Ia takut Adrian akan menggunakan hasil medis untuk menceraikannya dan membuangnya ke jalanan bersama bayinya.

Ia teringat malam-malam terakhirnya dengan Everest di Los Angeles. Malam penuh amarah, air mata, dan gairah yang menyakitkan. Namun itu sudah lama sekali. Benar-benar lama. Secara medis, kehamilan tidak bisa bertahan selama itu tanpa terdeteksi.

Tapi perkataan Adrian saat Liam lahir terus terngiang-ngiang.

“Dia punya mata yang terlalu tajam untuk menjadi anakku, Cathe. Dia punya aura pemberontak yang sangat familiar.”

Catherina menorehkan lipstik merah menyala ke bibirnya, mencoba menutupi fakta bahwa hatinya sedang hancur berkeping-keping. Ia harus hadir di makan malam itu. Ia harus berpura-pura menjadi Ny. Mettond yang bahagia.

Ia keluar dari kamar, menemui pengasuh bayi yang sudah menunggu untuk menjaga Liam. Sebelum pergi, ia mencium kening Liam yang masih sedikit hangat.

"Kau anak Adrian, Sayang. Ibu akan membuktikannya. Ibu tidak pernah berbohong," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada sang bayi.

Di bawah, Adrian sudah menunggu di dalam mobil mewah mereka. Saat Catherina masuk, tidak ada pujian. Tidak ada genggaman tangan.

"Pasang senyummu," perintah Adrian tanpa menoleh. "Malam ini kolega dari Cavanaught Group akan hadir. Ini proyek besar. Jangan hancurkan semuanya dengan wajah melankolismu."

Jantung Catherina seolah berhenti berdetak mendengar nama itu. Cavanaught Group.

"Siapa... siapa yang akan datang dari pihak mereka?" tanya Catherina dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Adrian meliriknya sekilas, senyum tipis yang kejam tersungging di bibirnya. "Kepala operasional baru mereka. Seseorang yang baru kembali dari pelariannya di Eropa. Kau pasti mengenalnya dengan sangat baik, bukan?"

Catherina mencengkeram tas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dunia seolah berputar dengan sangat cepat. Everest kembali. Dan ia akan bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini—sebagai istri dari pria yang membencinya, dan ibu dari seorang anak yang memiliki wajah pria itu.

Malam yang seharusnya menjadi ajang bisnis biasa, kini berubah menjadi medan pertempuran masa lalu yang siap meledak kapan saja. Catherina memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang buram karena air mata yang ia tahan sekuat tenaga.

Pelariannya telah usai. Masa lalu yang ia kira sudah terkubur, kini bangkit kembali untuk menuntut jawaban atas setiap kebohongan dan keraguan yang ia simpan rapat-rapat.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear😍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!