Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN ARKAN
Pesan itu masih ada di layar ponselku.
Aku membacanya lagi.
Dan lagi.
Seolah kalau aku membaca cukup lama… isi pesannya akan berubah.
Tapi tidak.
Kalimat itu tetap sama.
“Jangan terlalu percaya Arkan.”
“Kamu belum tahu apa yang sebenarnya dia sembunyikan.”
“Alena?”
Suara Leon terdengar samar.
Aku baru sadar sejak tadi diam terlalu lama.
“Ada apa?”
Arkan melangkah mendekat.
Tatapannya langsung tertuju ke wajahku.
Mencari sesuatu.
Aku buru-buru mematikan layar ponsel.
Terlambat.
Dia sempat melihat perubahan ekspresiku.
“Kamu dapat pesan lagi?”
Aku mengangguk kecil.
“Apa isinya?”
Sunyi.
Aku menatap Arkan beberapa detik.
Lalu—
“Bukan apa-apa.”
Kebohongan buruk.
Dan kami semua tahu itu.
Arkan menyipitkan mata.
“Kamu bukan tipe orang yang langsung pucat cuma karena spam.”
Aku tertawa kecil.
Dipaksakan.
“Sekarang kamu perhatian banget.”
“Karena sekarang semuanya bisa jadi ancaman.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
Dan anehnya…
justru itu yang membuat isi pesan tadi semakin menggangguku.
Jangan terlalu percaya Arkan.
Sial.
Aku membenci fakta bahwa kalimat itu berhasil masuk ke kepalaku.
“Besok kita tetap jalan sesuai rencana,” kataku akhirnya.
Mengalihkan topik.
Leon mengangguk.
Tapi Arkan masih menatapku.
Seolah tahu aku menyembunyikan sesuatu.
Dan aku memang menyembunyikannya.
Malam semakin larut.
Leon akhirnya tidur di kamar tamu.
Arkan masih di ruang kerja.
Aku masuk kamar lebih dulu.
Tapi…
aku tidak benar-benar tidur.
Mataku menatap langit-langit.
Pikiranku berisik.
Terlalu berisik.
Selama ini aku selalu curiga pada semua orang.
Itu alasan aku bisa bertahan.
Tapi beberapa minggu terakhir…
tanpa sadar aku mulai menurunkan pertahanan di depan Arkan.
Dan itu salah.
Sangat salah.
Aku duduk pelan di tepi ranjang.
Mengambil ponsel lagi.
Membuka pesan itu.
Tanganku bergerak sendiri.
Membalas.
“Kalau memang ada yang dia sembunyikan, buktikan.”
Aku menatap layar beberapa detik.
Tidak ada balasan.
Bagus.
Mungkin memang cuma permainan psikologis.
Aku hampir mematikan ponsel saat tiba-tiba—
layar menyala.
Pesan masuk.
Cepat sekali.
“Lihat sendiri.”
“Besok. Jam 11 malam.”
“Datang sendirian.”
Di bawahnya—
sebuah alamat.
Dadaku langsung terasa dingin.
Karena aku tahu tempat itu.
Hotel Meridian.
Tempat yang besok akan kami datangi.
Sunyi.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Ini jebakan.
Jelas.
Tapi masalahnya…
aku tetap ingin tahu.
Keesokan paginya suasana terasa aneh.
Bukan karena ada yang berubah.
Tapi karena aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Cara Arkan menjawab pertanyaan.
Cara dia beberapa kali mengecek ponselnya diam-diam.
Cara dia terlihat lebih tegang dari biasanya.
Atau mungkin…
aku hanya terlalu curiga sekarang.
“Kamu melamun lagi.”
Suara Arkan memecah pikiranku.
Aku langsung mengangkat kepala.
Kami sedang di lift menuju basement.
“Capek.”
Jawabanku pendek.
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu—
“Kalau ada yang ganggu pikiranmu, bilang.”
Aku hampir tertawa.
Lucu.
Karena justru dia yang sedang mengganggu pikiranku.
“Kamu selalu seserius ini?”
“Dan kamu selalu menghindari jawaban?”
Aku menoleh ke arahnya.
Tatapan kami bertemu.
Terlalu dekat.
Lift berhenti.
Pintunya terbuka.
Dan anehnya…
aku sedikit lega.
Karena beberapa detik lagi—
aku mungkin akan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak keluar.
Hotel Meridian jauh lebih ramai dari biasanya.
Orang-orang berpakaian rapi memenuhi lobby.
Suasana mewah.
Elegan.
Dan penuh kepalsuan.
“Aku benci tempat seperti ini.”
Gumamku pelan.
Arkan melirik.
“Kenapa?”
“Semua orang tersenyum.”
Aku menatap sekitar.
“Padahal sebagian besar sedang menikam satu sama lain.”
Dia tertawa kecil.
“Itu definisi dunia kita.”
Kami masuk ke area restoran privat.
Tempat direksi itu dijadwalkan bertemu.
Leon langsung mengambil posisi di meja berbeda.
Memantau dari jauh.
Aku dan Arkan duduk di sudut ruangan.
Menunggu.
Beberapa menit berlalu.
Lalu—
target kami datang.
Pria itu masuk sambil melihat sekitar dengan gugup.
Tidak sendiri.
Ada seseorang bersamanya.
Dan saat orang itu melepas topi—
jantungku langsung berhenti sesaat.
Karena aku mengenalnya.
“Sial…”
Bisikku pelan.
Arkan langsung menoleh.
“Kamu kenal dia?”
Aku tidak langsung menjawab.
Tatapanku masih terkunci pada pria itu.
Karena dia—
adalah mantan pengacara keluargaku.
Orang yang menghilang setelah kematian orang tuaku.
“Kenapa dia ada di sini…”
Arkan langsung sadar ini serius.
“Kamu yakin itu dia?”
Aku mengangguk pelan.
Dan di saat itu—
pria itu tiba-tiba menoleh.
Mata kami bertemu.
Wajahnya langsung pucat.
Dia mengenaliku.
“Dia lihat kita,” kata Arkan cepat.
“Aku tahu.”
Pria itu langsung berdiri.
Cepat.
Terlalu cepat.
“Dia mau kabur.”
Aku langsung bangkit.
“Kejar dia.”
Arkan bergerak lebih dulu.
Suasana restoran langsung kacau.
Kursi bergeser.
Orang-orang menoleh.
Pria itu berlari keluar lewat pintu samping.
Aku mengejarnya.
Tanpa peduli siapa yang melihat.
“Berhenti!”
Tapi dia tidak berhenti.
Lorong hotel terasa panjang.
Langkah kaki menggema keras.
Dan tepat saat kami hampir menangkapnya—
seseorang tiba-tiba menarikku.
Keras.
Tubuhku langsung terbentur dinding.
Aku mendesis pelan.
Belum sempat bereaksi—
sebuah tangan menutup mulutku.
“Diam kalau kamu masih mau hidup.”
Suara itu rendah.
Asing.
Aku mencoba melawan.
Tapi pria itu terlalu kuat.
“Alena!”
Suara Arkan terdengar dari jauh.
Pria itu langsung menarikku masuk ke ruangan gelap.
Pintunya ditutup cepat.
Ruangan itu sunyi.
Gelap.
Aku bahkan tidak bisa melihat jelas wajahnya.
“Lepaskan aku.”
“Terlalu keras.”
Dia berbisik dekat telingaku.
“Ada yang sedang mendengarkan.”
Aku membeku sesaat.
“Apa?”
Dia perlahan melepas tangannya.
“Kalau kamu mau tahu kebenaran tentang Arkan…”
Jantungku langsung berdetak keras.
“…berhenti mencarinya di luar.”
Aku menatap samar wajahnya.
“Maksudmu apa?”
Dia tertawa kecil.
“Rahasia terbesar…”
Dia mendekat sedikit.
“…ada di orang yang sekarang berdiri paling dekat denganmu.”
Dadaku langsung terasa sesak.
“Siapa kamu?”
Pria itu tidak menjawab.
Dia hanya menyelipkan sesuatu ke tanganku.
Sebuah kunci kecil.
“Buka locker nomor 217.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
Dan sebelum aku sempat mendapat jawaban—
pintu ruangan tiba-tiba dibuka keras.
“ALENA!”
Arkan masuk.
Napasnya berat.
Tatapannya panik.
Tapi—
ruangan itu sudah kosong.
Pria tadi menghilang.
Aku berdiri diam.
Masih menggenggam kunci kecil di tanganku.
Dan untuk pertama kalinya—
aku benar-benar mulai takut pada apa yang akan kutemukan.