Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audit Jakarta dan Kejutan di Klinik
Mei di Surabaya mulai menunjukkan sisi "ganasnya". Suhu udara mencapai 36 derajat Celsius, membuat udara di luar terasa seperti uap panas yang menempel di kulit. Namun, bagi Kania, panasnya Surabaya tidak sebanding dengan panasnya dokumen audit yang baru saja dikirimkan oleh firma hukum juniornya di Jakarta.
Duduk di ruang kerjanya yang sejuk di Surabaya Barat, Kania mengamati angka-angka di layar laptopnya. Ada anomali. Dana operasional Yayasan Lestari yayasan pendidikan milik keluarganya—mengalami kebocoran sistematis dalam tiga bulan terakhir. Dan jejak digitalnya mengarah pada satu nama: asisten pribadi Malik yang selama ini dipercaya menjaga administrasi di Jakarta.
"Ternyata benar dugaan Devan," gumam Kania. "Tanpa pengawasan langsung, variabel pengkhianatan selalu meningkat."
Strategi Jarak Jauh
Kania tidak langsung meledak. Ia belajar dari Devan bahwa reaksi emosional hanya akan mengaburkan logika. Ia segera menyusun strategi "audit senyap". Ia memerintahkan tim hukumnya di Jakarta untuk membekukan akses rekening tertentu tanpa memberikan notifikasi kepada pihak manajemen yayasan.
"Kania, kamu terlalu tegang. Bahumu naik dua sentimeter dari posisi normal," suara Devan terdengar dari ambang pintu.
Kania menoleh. Devan baru saja pulang dari rumah sakit pendidikan, masih mengenakan kemeja putih yang rapi meski hari sudah sore.
"Ada kebocoran dana di yayasan, Dok. Jumlahnya signifikan. Aku harus segera ke Jakarta kalau begini terus," ujar Kania.
Devan mendekat, menutup laptop Kania dengan gerakan pelan namun tegas. "Secara medis, saya melarang penerbangan ke Jakarta di usia kehamilanmu yang sudah memasuki trimester ketiga. Risiko kontraksi dini akibat tekanan udara dan stres terlalu tinggi. Kamu bisa mengelola krisis ini dari Surabaya. Gunakan delegasi, bukan mobilisasi fisik."
"Tapi Dok, ini soal kepercayaan keluarga—"
"Dan bayi kita adalah prioritas keluarga yang paling nyata saat ini," potong Devan. "Duduk. Saya sudah menyiapkan teh kamomil dengan suhu tepat 60 derajat untuk menstabilkan detak jantungmu."
Kejutan di Klinik Rutin
Sesuai jadwal, sore itu adalah waktu pemeriksaan rutin kehamilan Kania. Mereka pergi ke klinik spesialis langganan di kawasan Darmo. Devan, seperti biasa, membawa buku catatannya sendiri sebuah jurnal khusus di mana ia mencatat setiap perkembangan lingkar perut, berat badan, hingga frekuensi tendangan bayi mereka.
Di ruang tunggu, Kania melihat banyak pasangan muda. Beberapa tampak cemas, beberapa tampak bahagia. Devan duduk di sampingnya, tidak bermain ponsel, melainkan terus memandangi Kania seolah istrinya adalah pasien paling VIP di dunia.
"Dokter Devan Dirgantara?" panggil suster.
Saat masuk ke ruang periksa, dr. Handoko obgyn senior di Surabaya yang juga rekan sejawat Devan menyambut mereka dengan tawa.
"Ah, pasangan dokter bedah dan mediator hebat. Gimana, Devan? Sudah berapa kali kamu mengaudit hasil USG saya di rumah?" goda dr. Handoko.
"Hanya memastikan parameter pertumbuhan janin sesuai dengan kurva standar, Dok," jawab Devan tanpa ekspresi, namun ada kilatan jenaka di matanya.
Kania berbaring untuk USG. Saat gel dingin menyentuh perutnya, ia merasakan tendangan kuat. Di layar monitor, siluet bayi mereka terlihat sangat jelas.
"Wah, aktif sekali ini," ujar dr. Handoko. "Tunggu sebentar... Devan, kamu lihat ini?"
Devan berdiri, mendekat ke arah monitor. Matanya menyipit di balik kacamata. "Ada peningkatan aktivitas di area ekstremitas bawah?"
"Bukan cuma itu," dr. Handoko menggerakkan transduser. "Lihat profil wajahnya. Dan... oh, sepertinya si kecil ini tidak sendirian menyembunyikan sesuatu. Kania, selamat. Saya menemukan detak jantung kedua yang selama ini tersembunyi di balik bayangan kakaknya."
Ruangan itu seketika menjadi sunyi. Kania terbelalak. "Maksud Dokter... kembar?"
Devan terdiam. Bagi seorang pria yang selalu memiliki rencana cadangan untuk segala hal, berita ini adalah satu-satunya variabel yang tidak masuk dalam kalkulasinya.
"Kembar?" Devan mengulang kata itu dengan nada datar, namun tangannya yang memegang buku catatan sedikit bergetar. "Secara statistik, riwayat keluarga kami tidak menunjukkan kecenderungan hiperovulasi spontan. Bagaimana bisa?"
dr. Handoko tertawa terbahak-bahak. "Itulah keajaiban medis, Devan. Terkadang alam tidak peduli dengan statistikmu. Ini monochorionic diamniotic. Satu plasenta, dua kantung. Makanya kemarin-kemarin detak jantungnya sering tumpang tindih."
Kania mulai menangis haru. "Dok... dua? Kita bakal punya dua bayi lagi?"
Devan perlahan duduk di kursi di samping tempat tidur Kania. Ia melepaskan kacamatanya, mengusap wajahnya, lalu tertawa kecil sebuah tawa yang sangat jarang, tawa yang penuh dengan kelegaan dan keheranan.
"Dua," bisik Devan. "Satu Arlo saja sudah membuat saya belajar manajemen waktu ekstra. Dua bayi berarti saya harus melakukan reboot total terhadap seluruh rencana renovasi rumah dan anggaran pendidikan."
"Dok, yang kamu pikirin langsung anggaran?" Kania tertawa di tengah tangisnya.
Devan menggenggam tangan Kania erat. "Saya memikirkan masa depan kita, Kania. Dan masa depan itu baru saja bertambah dua kali lipat lebih ramai."
Audit dan Bayi: Prioritas Baru
Keluar dari klinik, suasana hati Kania berubah total. Masalah audit di Jakarta yang tadi terasa seperti akhir dunia, kini terasa kecil dibanding kenyataan bahwa ada dua nyawa baru di perutnya.
Di dalam mobil, Devan tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap Kania dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kania, lupakan soal berangkat ke Jakarta. Saya akan menyewa firma audit internasional paling mahal untuk membereskan yayasan itu. Saya tidak peduli berapa biayanya. Kamu dan dua bayi ini tidak boleh terpapar stres satu persen pun mulai detik ini."
"Tapi Dok, itu boros—"
"Itu namanya alokasi sumber daya yang efisien, Kania. Uang bisa dicari, tapi ketenangan sistem internal kamu adalah aset yang tidak ternilai," Devan menghidupkan mobil. "Malam ini kita akan makan di tempat yang paling kamu suka. Dan jangan berani-berani membuka laptop sebelum saya memberikan izin medis."
Kania tersenyum lebar. Surabaya yang panas kini terasa seperti surga. Ia tahu, dengan Devan di sisinya, meski masalah audit menanti dan tantangan mengurus bayi kembar membayang, mereka akan selalu punya cara untuk melakukan sinkronisasi.
"Dok, janji ya? Jangan pingsan pas nanti ganti popok dua bayi sekaligus?" goda Kania.
"Saya adalah ahli bedah saraf, Kania. Ketelitian tangan saya sudah teruji. Mengganti popok hanyalah prosedur teknis tingkat rendah," jawab Devan dengan rasa percaya diri khasnya.
Mobil melaju menuju pusat kota Surabaya, membawa sebuah rahasia besar yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Perjalanan menuju bab 150 baru saja mendapatkan plot twist paling membahagiakan.