Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 My elite lover
Suasana hening dan penuh rasa ingin tahu itu masih menyelimuti seluruh ruangan. Semua mata tertuju pada Rena, menunggu bagaimana wanita itu akan menanggapi permintaan maaf Sasa yang dilakukan dengan cara mempermalukan diri sendiri di hadapan umum.
Rena menatap Sasa yang masih berlutut di hadapannya, menatap punggung wanita itu yang terlihat menggigil ketakutan dan rasa malu. Tidak ada seulas pun rasa marah atau dendam di wajah cantiknya, yang ada justru tatapan teduh dan senyum tipis yang terasa begitu tulus. Ia menghela napas pelan, lalu perlahan membuka suaranya dengan nada yang tenang, dan jelas.
"Sasa," ucap Rena lembut namun tegas. Ia menunduk sedikit menatap wanita yang dulu pernah menjadi sahabatnya itu. "Kamu tidak perlu meminta maaf seperti ini, tidak perlu merendahkan diri sejauh ini di hadapan semua orang. Percayalah ... semua yang terjadi di masa lalu sudah menjadi bagian dari takdir yang membawaku sampai di titik ini hari ini."
Rena tersenyum lebih lebar, matanya berbinar indah saat melirik sekilas ke arah Saga yang berdiri tegap di sampingnya, sebelum kembali menatap Sasa dan kemudian beralih menatap Rendy yang terpaku kaku di tempatnya.
"Justru ... aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua," ucap Rena dengan suara tegas yang membuat seluruh tamu yang hadir terdiam dan mendengarkan dengan saksama.
"Terima kasih Sasa, karena kamu telah datang dan mengambil Rendy dari sisiku. Dan terima kasih juga padamu, Rendy ... karena kamu dengan mudahnya memilih untuk membuatku pergi dari sisimu!"
Seketika Rendy merasa dadanya seperti ditusuk oleh benda tajam yang sangat pedih. Ia terbelalak, tak percaya kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Rena. Ia mengira Rena akan menangis, mengamuk menyalahkan dirinya dan Sasa, atau bahkan menyindirnya dengan kata-kata pedes. Tapi kenyataannya wanita yang dulu sempat menjadi miliknya itu justru mengucapkan terima kasih dengan cara yang begitu tulus dan tulusnya membuatnya merasa lebih tersiksa.
"Kalian tahu kenapa aku bisa berterima kasih seperti ini?" lanjut Rena, suaranya terdengar begitu bijak dan menenangkan, seolah ia sedang berbicara tentang sesuatu yang sudah lama ia renungkan dengan matang. Ia mengambil langkah kecil maju, tubuhnya tetap anggun seperti seorang ratu.
"Karena jika kalian tidak melakukan semua itu padaku dulu ... jika kalian tidak menyakiti, mengkhianati, dan membuangku, mungkin aku tidak akan pernah sadar bahwa tempatku bukan di sana, bukan di sisi orang yang tidak pernah benar-benar menghargaiku. Jika aku tetap bersama Rendy, atau jika Sasa tidak berusaha sekeras itu untuk memisahkan kita, mungkin aku tidak akan pernah bebas. Aku akan terus terperangkap dalam hubungan yang salah, dengan orang yang salah, dan hidup dalam kepura-puraan seumur hidupku."
Pada saat itu, tangannya secara naluriah mencari tangan Saga, dan segera saja jari jemari mereka saling bertautan erat, seolah setiap gerakan itu adalah bentuk dukungan dan penguatan satu sama lain. Kulit Saga yang hangat memberikan rasa tenang yang luar biasa bagi Rena, membuatnya semakin yakin dengan setiap kata yang akan ia ucapkan.
"Karena kalian melepaskan aku, karena kalian membuat aku hancur dan mungkin sakit waktu itu ... tapi akhirnya aku diberi kesempatan oleh sang pencipta untuk bertemu dengan orang yang benar-benar tepat. Orang yang tidak pernah menganggapku sebagai pilihan kedua, melainkan satu-satunya pilihannya selamanya. Orang yang mencintaiku dengan tulus, melindungiku dengan nyawanya, dan menerima segala lebih-kurangku tanpa syarat."
Rena menatap lurus ke arah Rendy dan Sasa, tatapannya penuh kedamaian namun juga kepastian yang tak bisa diragukan lagi. Tidak ada sedikit pun keraguan di matanya saat ia menyampaikan setiap kata itu.
"Dan aku bahagia ... sangat bahagia karena kini aku memilikinya. Jadi lupakanlah segala kesalahan masa lalu, Sasa. Anggaplah apa yang kamu lakukan dulu sebagai jasa yang tanpa kamu sadari telah membebaskanku dan mengantarkanku pada kebahagiaanku yang sesungguhnya. Hari ini adalah hari bahagiamu, nikmatilah hidup yang sudah kamu pilih. Dan biarkan aku menikmati kebahagiaanku sendiri bersama orang yang memang diciptakan untukku."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu dengan sikap yang begitu anggun dan berwibawa, Rena perlahan mengalihkan pandangannya dari mereka berdua. Ia tidak berniat menunggu jawaban atau tanggapan apa pun baginya, semua yang perlu dikatakan sudah ia sampaikan dengan jelas. Dengan gerakan yang sigap namun tetap lembut, ia menarik tangan Saga yang masih terjalin erat dengan tangannya, lalu memulai langkahnya untuk turun dari panggung dengan langkah yang ringan dan penuh percaya diri. Seolah pada saat itu, semua beban berat yang pernah ada di pundaknya telah benar-benar lenyap dan hilang.
Namun, sebelum mereka benar-benar melangkah turun sepenuhnya, Saga berhenti sejenak tepat di samping Rendy. Ia menoleh sedikit, menatap lurus ke manik mata Rendy yang terlihat merah menahan amarah dan penyesalan. Wajah Saga tenang, bahkan tersenyum tipis, senyum yang terlihat sopan namun menyimpan ribuan makna yang menusuk hati.
Suara Saga terdengar rendah, hanya bisa didengar oleh Rendy seorang diri, namun kata-katanya terasa begitu jelas dan bergetar di telinga Rendy.
"Terima kasih banyak, Rendy," bisik Saga dengan nada ramah yang terdengar menyakitkan.
"Terima kasih banyak, Rendy," bisik Saga dengan nada yang terdengar ramah namun membuat Rendy merasa seperti ditusuk dari dalam. "Terima kasih karena sudah melepaskannya dengan begitu mudahnya. Terima kasih karena tidak pernah cukup baik untuknya, dan terima kasih karena tidak mampu membuatnya bahagia seperti yang layak dia dapatkan. Berkat ketidakmampuan dan kebodohanmu ... aku akhirnya bisa mendapatkan permata seindah dan seberharga Rena untuk kembali menjadi milikku selamanya. Terima kasih sudah menjaganya sementara waktu sebelum aku datang mengambil alih apa yang memang menjadi hakku. Tenang saja ... aku akan menyayanginya dan mencintainya seribu kali lipat lebih besar dari apa yang pernah kamu bayangkan bisa kamu berikan padanya."
Setelah itu, Saga dengan lembut namun tegas menepuk bahu Rendy sebanyak dua kali, gerakan yang terlihat seperti memberikan ucapan selamat yang tulus, namun bagi Rendy, itu adalah bentuk penghinaan yang paling menyakitkan yang pernah ia terima dalam hidupnya.
"Terima kasih untuk semuanya," lanjut Saga mengakhiri, lalu ia kembali menarik tangan Rena dan melangkah pergi meninggalkan pelaminan itu, meninggalkan Rendy yang berdiri kaku, membatu, dengan wajah yang berubah merah padam menahan amarah yang meledak-ledak namun tak bisa ia lampiaskan.
Rendy menggenggam tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menonjol jelas. Dadanya terasa sesak, sakit, panas, dan kesal luar biasa. Kata-kata Saga terus bergema di benaknya, seperti pisau tajam yang berputar-putar dan menyayat setiap bagian perasaannya yang masih tersisa.
"Dasar brengsek! Brengsek!!" teriak batin Rendy histeris. "Dia mengambilnya, dia mengambil Rena dariku dengan cara yang paling menyakitkan! Dan dia mengucapkan terima kasih seolah aku yang mengantarkan hadiah terindah untuknya! Saga Pratama Dirgantara ... aku bersumpah, aku bersumpah akan membuatmu menyesal telah berani meremehkanku seperti ini! Rena milikku! Dia tetap milikku!"
Di kakinya, Sasa masih menangis tersedu-sedu di lantai, namun Rendy sama sekali tidak peduli. Ia bahkan tak berniat membantu istrinya berdiri. Matanya terus menatap punggung pasangan itu yang semakin menjauh, menghilang di balik pintu aula, membawa serta kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.
Pesta pernikahan yang megah itu masih berlangsung, musik masih mengalun, namun bagi Rendy dan Sasa, hari itu bukanlah hari perayaan cinta, melainkan hari di mana kehancuran dan penyesalan terbesar dalam hidup mereka baru saja dimulai.
Bersambung ...
😡😡😡😡😡😡