"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Bacamer
Saking emosinya, Dion sampai berdiri dari duduknya. Matanya menatap nyalang pada Sisil. Rahangnya mengeras, menunjukkan kalau pria itu benar-benar sedang dikuasai emosinya.
Perkataan Sisil sukses membangkitkan kembali amarahnya yang sudah mulai mereda.
Setali tiga uang, Sisil pun tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Gadis itu kecewa melihat sikap sang ayah.
Tadinya dia berpikir kalau Dion akan mendukung keputusannya. Terlebih lagi pria itu sudah lama mengenal Alvin dan menganggap seperti adiknya sendiri.
Wajah Sisil nampak cemberut, namun matanya juga berkaca-kaca. Baru kali ini dia melihat Dion begitu marah padanya. Dan satu orang penyebab semua ini adalah Anyelir. Sisil semakin tidak menyukai wanita itu dan semakin ingin memisahkannya dari Alvin.
“Mas … sudah. Sil … kamu ke kamarmu saja,” Kirana langsung mengambil alih situasi yang sudah tidak kondusif ini.
Sambil mengambil tasnya, Sisil segera meninggalkan ruang kerja pribadi ayahnya. Dia menunjukkan kekesalannya dengan menutup pintu dengan kencang hingga menimbulkan bunyi berdebam, BLAM!
“Anak itu,” geram Dion.
“Mas … sudah. Ayo duduk dulu.”
Kirana mengajak suaminya mendudukkan kembali dirinya di sofa. Wanita itu ikut duduk di samping suaminya kemudian memeluk sang suami dari samping.
“Mas harus sabar. Sisil masih muda, masih sering membuat keputusan gegabah dan masih labil juga.”
“Kenapa dia sulit diatur seperti ini?” dengus Dion masih belum bisa meredakan amarahnya.
“Sebenarnya Sisil sering menceritakan apa saja yang terjadi di Jakarta. Dan ya … anak Mas memang sudah jatuh cinta pada Alvin dan tergila-gila padanya.”
“Kamu bercanda, kan? Jadi maksud Sisil ingin menikahi Alvin itu benar?”
“Mas mungkin tidak memperhatikan. Tapi aku tahu, sebenarnya Sisil sudah cukup lama suka pada Alvin. Hanya saja dia belum menyadari perasaannya. Sejak mereka kenal dan akhirnya dekat, selain Mas, ada juga Alvin yang menjadi cinta keduanya.”
Kirana menjeda ucapannya sejenak. Dia ingin melihat reaksi suaminya dulu. Namun Dion hanya menunjukkan kediaman saja.
“Aku juga yakin kalau sebenarnya Alvin juga mencintai Sisil. Tapi baktinya pada Kakek dan Nenek yang membuatnya menerima Anyelir sebagai istrinya.
Mas sendiri tahu bagaimana pernikahan Alvin. Jadi kalau Alvin sekarang mau mengajukan cerai, bukan karena Sisil juga. Tapi sudah melalui pertimbangan matang.”
“Tapi aku tidak mau Sisil dicap sebagai pelakor. Bagaimanapun juga Alvin dan Anye belum bercerai.”
“Iya aku tahu, Mas. Langkah Mas memanggil Sisil pulang, itu sudah tepat.”
“Tapi kamu dengar sendiri kalau dia mau kembali ke Jakarta. Kamu tahu kalau Sisil itu keras kepala. Dia akan melakukan apa yang dianggapnya benar.”
“Mas tenang saja. Serahkan itu padaku. Aku juga akan meminta Alvin membujuk Sisil untuk bertahan di sini dulu. Tapi … Mas sendiri bagaimana? Apa Mas setuju kalau Sisil dengan Alvin? Apalagi jarak usia mereka cukup terpaut jauh.”
Kirana sengaja memancing Dion dengan pertanyaan ini. Jawaban Dion akan menentukan apa yang akan dilakukannya nanti.
Tapi yang jelas, dia akan mendukung keputusan Sisil. Karena dirinya juga dulu memutuskan menikah dengan pria yang usianya terpaut jauh. Dan orang itu adalah Dion.
“Aku kenal Alvin sejak lama. Dia anak yang baik, ulet dan bertanggung jawab. Tapi saat ini dia masih berstatus suami Anye. Aku hanya bisa bilang tidak menyetujui. Aku tidak mau anakku dicap sebagai pelakor. Tapi … kalau Alvin sudah bercerai, aku akan mempertimbangkannya.”
Segurat senyuman tercetak di wajah Kirana. Dia tahu kalau suaminya adalah orang yang bisa mempertimbangkan situasi dengan matang.
“Kalau kabar Sisil dicap sebagai pelakor, akan berbahaya juga bagi perusahaan.”
“Persetan dengan perusahaan. Aku hanya tidak mau mental Sisil hancur karena hujatan orang. Kamu tahu sendiri, sekali cap pelakor sudah melekat, akan sulit untuk dihilangkan.”
“Mas tenang saja, aku akan membujuk Sisil.”
Sebuah kecupan diberikan Kirana untuk mengakhiri ucapan. Tak ayal sudut bibir Dion yang sedari tertarik ke bawah, perlahan mulai melengkung naik ke atas.
Sungguh beruntung baginya memiliki istri yang sangat mengerti dirinya. Di saat kemarahan melanda, Kirana ibarat pemadam kebakaran yang bisa mengubah panas di hatinya menjadi adem.
“Oh ya, soal Alvin … apa Mas mau bantu dia bongkar perselingkuhan Anye? Apalagi kata Sisil, selingkuhannya itu teman kerjanya sendiri.”
“Nggak usah. Biar si Alvin cari tahu sendiri.”
“Kok gitu? Nggak mau bantu Alvin? Kasihan loh dia.”
“Dia itu laki-laki, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri,” Dion melirik istrinya yang mulai terlihat cemberut. “Kalau Alvin tidak bisa membongkar perselingkuhan Anye dan menceraikannya, bagaimana dia bisa menjadi suami Sisil nanti?” lanjut Dion seraya menyunggingkan senyuman.
“Aaahh … suamiku memang menggemaskan. Eeemmmppphhhh ….”
Kirana mencium pipi Dion cukup lama. Mendapat ciuman gemas dari sang istri, senyuman di wajah Dion berubah menjadi tawa lebar. Tangannya melingkari pinggang sang istri. Dia mengubah ciuman di pipi menjadi ciuman di bibir.
Usai menenangkan suami ditambah lip service, Kirana keluar dari ruang kerja suaminya. Sekarang gilirannya menenangkan sang anak yang pasti saat ini tengah gundah gulana.
Wanita itu bergegas menuju kamar anaknya yang ada di lantai dua. Nampak pintu kamar Sisil tertutup rapat. Dia pun terpaksa mengetuknya dulu.
TOK … TOK … TOK …
“Masuk!”
“Lagi apa, sayang?” tanya Kirana sambil melongokkan kepalanya.
“Mama ….”
Wajah Sisil nampak cemberut. Bibirnya sampai maju beberapa senti. Kirana tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi sang anak. Setelah menutup pintu kembali, wanita itu langsung bergabung di kasur.
“Kamu masih kesal sama Papa?”
“Iya. Papa jahat!”
“Papa melakukan itu karena sayang sama kamu. Papa ngga mau kamu dapat gelar pelakor.”
“Tapi aku bukan pelakor, Ma. Rumah tangga Om Alvin emang udah berantakan sebelum ada aku.”
“Iya, Mama tahu. Tapi orang lain mana tahu? Apalagi si Anye itu orangnya drama queen. Kamu lihat sendiri gimana marahnya Papa kamu. Itu gara-gara Anye kirim foto-foto yang memperlihatkan kalau kamu tuh pelakor.
Mama juga yakin banget kalau dia pura-pura nangis, seolah dia korban perselingkuhan kalian.”
Wajah Kirana nampak kesal ketika mengatakan itu. Pasti Anyelir sengaja bersikap seperti korban demi meraih simpati suaminya. Andai dia ada ketika wanita itu menghubungi suaminya, sudah pasti Kirana akan langsun menyemprotnya.
“Papa cuma khawatir kalau aku merusak nama baik perusahaan.”
“Nggak, sayang. Papamu seperti itu karena peduli padamu. Apa kamu nggak bisa melihat contoh yang terjadi? Di dunia artis saja banyak terjadi kasus pelakor seperti ini. Dan apa akibatnya? Gelar itu terus melekat padanya walau tahun-tahun sudah berlalu.”
Sisil langsung terdiam. Dia jadi ingat beberapa kasus perselingkuhan yang terjadi di dunia artis.
Dimulai dari kasus Mayang Sari, Mulan Jameela dan Nisa Sabyan yang mendapat cap pelakor karena merusak rumah tangga orang. Sampai sekarang pun gelar tersebut masih melekat di diri mereka.
“Jadi … kamu nurut aja dulu sama Papamu. Tetap di sini, jangan kasih celah Anye menyerangmu. Biarkan Alvin menyelesaikan masalah rumah tangganya dulu.”
“Tapi Mama mau bantuin kan?”
“Nggak.”
“Kok nggak?”
“Papa yang larang.”
“Hah? Papa jahat!” kembali Sisil dibuat kesal dengan keputusan Papanya.
“Papamu percaya kalau Alvin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Bukankah Alvin harus menunjukkan pada Papamu kalau dia layak mendapatkanmu?” jawab Kirana seraya menjawil hidung anak sambungnya. “Jadi … percaya pada Papamu, oke?”
Kepala Sisil mengangguk cepat. Penjelasan Kirana barusan membuat kemarahannya pada sang Papa mulai berkurang. Dia memeluk Mama sambungnya ini dengan perasaan senang. “Makasih, Ma. Aku sayang Mama,” ucap Sisil tulus.
***
Tak terasa, tiga hari lamanya Sisil sudah kembali ke Bandung. Sesuai janjinya, Alvin selalu melakukan panggilan video pada gadis manis yang akan disahkan olehnya jika statusnya sudah berganti menjadi duda.
Setidaknya lewat panggilan video bisa mengurangi kerinduan yang dirasakan pria itu. Dia berjanji akan segera menyelesaikan perceraiannya dengan Anyelir. Diam-diam, Alvin sendiri tengah mengumpulkan bukti kalau istrinya memang berselingkuh.
“Mas … ayo tidur di kamar lagi. Kenapa Mas nggak mau tidur seranjang lagi denganku?” ujar Anyelir yang muncul tiba-tiba mengganggu lamunan Alvin akan Sisil sambil memeluk pria itu dari belakang.
“Tidak apa,” jawab Alvin sambil melepaskan pelukan sang istri.
“Aku kangen kamu, Mas,” bisik Anyelir di telinga Alvin sambil menggigit pelan telinga pria itu. Anyelir tahu pasti kalau itu adalah salah satu titik sensitif Alvin.
“Hentikan, Anye! Aku sedang banyak pekerjaan.”
Alvin mendorong Anyelir sedikit menjauh. Dia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Memeriksa laporan keuangan AlMart cabang lain.
Dengan perasaan setengah gondok, Anyelir meninggalkan Alvin. Wanita itu segera menuju dapur. Di sana nampak Bi Dian sedang menyiapkan minuman.
“Itu minuman buat siapa, Bi?” tanya Anyelir.
“Buat Bapak.”
“Ya sudah, biar aku yang antar. Sana!”
Diusir oleh Anyelir, membuat Bi Dian tak punya pilihan kecuali menuruti perkataan wanita itu.
Sepeninggal Bi Dian, Anyelir mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dia memasukkan serbuk halus ke dalam minuman suaminya.
“Bi Dian!” panggilnya lagi.
“Iya, Bu,” dengan tergopoh Bi Dian menuju dapur.
“Sana … Bibi aja yang antar minumannya.”
Anyelir menarik kursi yang ada di dapur lalu menikmati minuman yang diambilnya dari kulkas.
Mau tidak mau, Bi Dian mengambil gelas berisi minuman dingin tersebut. Saat meninggalkan dapur, wanita itu melirik pada Anyelir. “Dasar labil,” lirih Bi Dian pelan.
Bi Dian meletakkan minuman dingin dan sepiring camilan di meja. “Ini minuman dan camilannya, Mas Alvin.”
“Makasih, Bi.”
Alvin menaruh dulu lembaran kertas di tangannya. Dia meraih gelas berisi iced lemon tea tersebut, kemudian menyesapnya pelan.
***
Serbuk apa tuh?
masih mo galak2 sm. Alvin km mertua julid🤣🤣🤣🤣
anakmu slingkuh dan sekarang hamil ank pria lain🤣🤣🤣
ternyata anak yg selalu dipuja2 ternyata gak lebih baik dari yg dikira 😂
mamam tuh kepercayaan dirimu itu, sebentar lagi siap2 kalian ditendang oleh Alvin 🤭