Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Pengakuan Ragil
Ragil terdiam beberapa detik. Wajahnya menegang, agak pucat, matanya menghindari tatapan ibunya yang kini berubah tajam. Dia tahu Ibunya sedang menuntut jawaban yang pasti.
“Iya, dia memang melahirkan di sana, Bu. Padahal sebenarnya melahirkan ke paraji juga bisa. Udah tahu suaminya sedang tidak kerja, malah ngotot pengen lahiran di rumah sakit. Bikin kesal aja tuh si Razna," jawabnya pelan, meski awalnya dia enggan untuk jujur.
“Astaghfirullah, Ragil!” suara sang ibu meninggi, penuh amarah yang tertahan. Seraya menoyor kepala anaknya dengan telunjuk. Dia tidak habis pikir dengan pola pikir anaknya yang dangkal.
“Istrimu ingin lahiran di rumah sakit karena ingin anak kalian selamat. Dia sedang berjuang melahirkan anakmu, sementara kamu di sini malah bicara soal menikah lagi, bahkan kamu tidak ada di sampingnya, kamu tuh mikirnya gimana sih? Sebuah pernikahan itu memang harus siap jadi orang tua, Ragil!” ucap Ibunya kesal, greget dengan sikap anaknya yang masa bodo pada istrinya.
Ragil mengusap wajahnya kasar. “Ragil sudah ke sana Bu. Ragil sampe pusing mikirin biaya yang harus dikeluarkan saat itu juga. Ragil merasa hidup Ragil berantakan. Razna nggak bisa bawa perubahan apa-apa dalam hidup Ragil. Bisanya menekan terus. Ragil capek Bu hidup gini terus..." keluhnya ingin dimengerti.
“Capek katamu?” potong ibunya cepat. Seraya menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk wajah Ragil.
“Kamu pikir Razna tidak capek? Dia sudah berusaha bekerja keras untuk membantumu dengan tulus. Dia yang mengurus rumah, dia juga yang mengandung anakmu selama sembilan bulan! Sekarang dia mempertaruhkan nyawanya di ruang bersalin, dan kamu hanya bisa mengeluh? Coba pikir pake ini!" ujar Ibunya, telunjuknya menekan pelipisnya.
"Itu memang sudah menjadi kewajiban dan tugas seorang istri untuk membantu suaminya," celetuk Ragil tidak mau kalah.
"Oh kamu benar tapi dia itu istrimu bukan pembantumu. Kamu harus bisa menjaga hatinya biar tidak rapuh. Kamu tahu? Dia rela meninggalkan kedua orang tuanya yang kaya raya hanya untuk hidup bersamamu. Lalu, kenapa kamu jadi seperti ini? Rumah tangga itu tidak diukur dari materi, tetapi sebagai seorang suami, kamu harus mampu menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah..." ujar Ibunya mengajari anaknya tentang tanggung jawab.
"Ah, Bu. Ragil juga tahu itu. Makanya Ragil berniat untuk menikah lagi karena calon istri Ragil itu seorang yang dermawan. Dia sudah membantu Ragil dengan melunasi biaya rumah sakit yang mahal itu. Kalau engga ada dia, si Razna ga bisa disesar saat itu,"
Ibu tampak kaget bukan main. "Kalau ujung-ujungnya dia minta dinikahi kamu, itu artinya dia pamrih. Kamu mikir tidak sih, bagaimana nasib anak dan istrimu?"
Ragil terdiam. Dia tidak peduli dengan nasib anak istrinya. Yang ia inginkan hari ini adalah perubahan hidupnya. Perubahan masa depannya.
"Engga Bu. Kalau aku sudah menikah dengan si Melinda otomatis jabatan di perusahaan papanya akan diberikan padaku. Tetap nanti anakku akan mendapat bagian juga. Yang penting aku bisa masuk aja dulu ke sana," katanya dengan percaya diri.
Di luar, jantung Razna berdegup kencang, mendengar pengakuan Ragil. Tangannya refleks memegang perutnya yang masih terasa nyeri. Air mata menggenang tanpa bisa ia tahan lagi. Perlahan menghapusnya dengan jari tangannya.
"Jadi… selama ini, yang ada di dalam pikiran Mas Ragil adalah uang," gumamnya dalam hati.
Langkahnya mundur perlahan. Hatinya terasa diremas. Ia datang dengan harapan yang pasti. Berharap suaminya akan menyambutnya dengan bahagia, mungkin akan ada senyuman yang menenangkan jiwanya bahkan perhatian. Tapi yang ia dengar justru sebaliknya.
Di dalam rumah, suara ibunya kembali terdengar, kali ini lebih tegas dan tidak main-main.
“Dengar Ibu baik-baik, Gil. Kalau kamu tetap nekat menikah lagi dalam kondisi seperti ini, Ibu tidak akan merestui. Kamu belum selesai dengan tanggung jawabmu sebagai suami. Bahkan untuk satu keluarga saja kamu belum becus. Apalagi kamu menikah lagi. Apa kamu pikir dengan menikah lagi, hidup kamu akan bahagia? Kalau pikiran kamu melulu tentang uang, maka tidak menutup kemungkinan hidupmu akan tetap seperti ini, paham!"
Ragil terdiam. Untuk pertama kalinya, tidak ada bantahan.
Di luar, Razna menghapus air matanya dengan pelan. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya berubah menjadi lebih tegar, lebih dingin. Dadanya berdenyut karena harus menahan rasa nyeri yang belum tersalurkan pada bayinya. Bajunya basah dari rembesan buah dadanya yang bengkak.
Ia menatap pintu rumah itu lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang besar dalam hidupnya.
Lalu, tanpa mengetuk pintu, Razna berbalik arah. Langkahnya pelan, namun pasti. Dia terlanjur kecewa dengan pengakuan suaminya. Mungkin memang sudah saatnya ia berhenti berharap.
Ibu mertuanya yang sejak tadi berdiri di dekat jendela tanpa sadar melirik ke luar. Samar-samar ia melihat sosok perempuan sedang berjalan menjauh dengan langkah gontai. Pundaknya tampak lemah, namun tetap tegak.
“Razna…?” gumamnya lirih.
Perasaan tidak enak tiba-tiba menyergap hati ibu paruh baya itu. Tanpa pikir panjang, ia bergegas keluar, meninggalkan Ragil yang masih terpaku di ruang tengah.
“Razna! Tunggu, Nak!” panggilnya. Ibu jalan tergopoh menyusul menantunya.
Langkah Razna terhenti. Ia tidak langsung menoleh. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia membalikkan badan. Wajahnya pucat, mata sembab, dan senyumnya begitu dipaksakan.
“Ibu…” suaranya nyaris tak terdengar. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Nafasnya terasa berat.
Ibu mendekat dengan napas sedikit terengah. Tangannya langsung meraih tangan Razna yang dingin.
“Kamu dari rumah sakit? Kenapa tidak masuk? Ibu kira kamu masih di sana. Bagaimana? Anakmu, cucu Ibu...?” tanya Ibu mertua secara bertubi.
Kalimat itu menggantung. Ibu mertua mengerutkan keningnya saat melihat menantunya yang kembali tanpa menggendong bayinya.
Razna menunduk. Tangannya meremas ujung bajunya, seolah mencari kekuatan untuk mengucapkan sesuatu yang begitu berat. Entah apa yang harus ia katakan.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...