NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Panggilan boarding akhirnya terdengar memenuhi ruang tunggu bandara, suara wanita dari pengeras suara yang terdengar sangat jelas.

Panggilan boarding akhirnya terdengar memenuhi ruang tunggu bandara. Suara wanita dari pengeras suara terdengar jelas, membuat beberapa penumpang mulai berdiri sambil membawa barang bawaan mereka masing-masing.

Feryal menarik napasnya pelan, "udah waktunya." gumamnya lirih. Bilal langsung berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya ke arah koper mereka. "Ayo."

Feryal mengangguk kecil sebelum ikut bangkit. Langkahnya terasa sedikit lebih berat di banding saat datang tadi, Semakin dekat perjalanan ini dimulai, semakin nyata pula semua kemungkinan yang akan ia hadapi nanti.

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keberangkatan. Sesekali bahu mereka bersentuhan kecil di tengah keramaian orang orang yang berlalu lalang.

Dan anehnya sudah sejauh ini didalam pesawat feryal tidak menjauh sama sekali. Di dalam pesawat mereka duduk berdampingan di dekat jendela.

Feryal memilih kursi sisi kaca sementara bilal duduk di sebelahnya. Setelah pramugari selesai memberi arahan keselamatan dan suasana perlahan menjadi lebih tenang.

Feryal menatap keluat jendela, langit pagi terlihat cerah. Pesawat mulai bergerak perlahan meninggalkan landasan tunggu.

Tangannya tanpa sadar mencengkram sandaran kursi sedikit kuat. Bilal yang menyadarinya melirik pelan.

"Takut terbang?

"Enggak."

"Terus." Feryal diam ssbentar sebelum akhirnya menjawab jujur. "Takut sama yang nunggu setelah mendarat.

Deg. Bilal terdiam beberapa detik mendengar itu, lalu perlahan tanpa banyak bicara, tangannya bergerak mendekat. Jemarinya menyentuh tangan feryal pelan.

Tidak memaksa hanya hadir, dan kali ini Feeyal membiarkannya, pesawat mulai lepas landas perlahan. Kota jakarta mengecil dari balik jendela, berubah menjadi kumpulan titik titik kecil yang perlahan tertutup awan.

Feryal memandanginya tanpa benar benar bisa fokus dengan pikirannya yang kelewat rumit dan penuh, apalagi tentang mamanya maupun tentang rumah di Bali dan begjtu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Apalagi tentang dirinya sendiri yang bahkan sampai sekarang belum benar benar selesai memahami apa yang ia cari selama ini.

"Kamu boleh punya rasa takut dan itu normal,' suara bilal terdengar pelan di sampingnya. Feryal menoleh sedikit.

"Tapi jangan jalan sendirian." Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat dadanya menghangat perlahan. Untuk pertama kalinya ia merasa Bilal tidak lagi mencoba mengarahkan hidupnya.

Dua jam kemudian, pesawat akhirnya mendarat di Bali. Begitu keluar dari bandara, udara hangat langsung menyambut mereka. Aroma laut samar samar bercampur dengan angin khas bali yang lembut.

Feryal berdiri beberapa detik sambil memandang sekitar. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dia datang ke sini. Begitu banyak yang berubah tapi banyak juga yang terasa masih sama.

"Mobilnya udah pesen?," tanyanya pada Bilal. Bilal mengangguk. "udah." Tak lama kemudian mereka masuk kedalam mobil travel yang sudah menunggu diluar bandara. Dan sepanjang perjalanan feryal lebih banyak diam.

Kedua netranya sibuk melihat jalanan luar, dan lura pura tenang. Padahal jantungnya terus berdetak semakin cepat seiring mobil mendekati kawasan ruman ibunya.

Bilal meliriknya beberapa kali, "nervous banget?.'

Feryal terkekeh kecil tanpa humor, "parah."

"Masih bisa napas kok."

"Tipis tipis." ahal itu justru membiat Bilal tersenyum tipis. "Kalau pingsan aku bingung jelasinnya nanti."

"Bilal." panggil Feryal dengan lembutnya

"Iya ada apa?." tanya bilal menoleh ke arah istrinya.

Deg. Feryal terdiam beberapa saat.

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!