Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
Dante menarik tangan Alicia, memaksa gadis itu menatap layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan pesan ancaman dari Surya Atmadja. "Ayahmu sedang mencarimu, bukan? Dia ingin membawamu pulang ke pelukan pria pilihannya itu? Katakan padaku, Alicia... apa kau lebih suka kembali ke Jakarta dan menjadi istri penurut, atau tetap di sini sebagai tanggung jawabku?"
Alicia menarik tangannya dengan kasar. "Aku lebih suka berada di mana saja asal tidak bersama pria gila sepertimu! Aku pergi sekarang!"
Dengan sisa-sisa harga dirinya, Alicia berbalik dan berlari menuju tumpukan pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia mencoba mengenakan gaun merahnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak peduli jika ia terlihat berantakan ia hanya perlu keluar dari tempat ini sebelum ia benar-benar kehilangan kewarasannya.
Alicia berhasil mengenakan gaunnya, namun saat ia bergegas menuju pintu keluar penthouse, pintu itu terbuka lebih dulu. Dua pria berjas hitam dengan wajah tanpa ekspresi salah satunya adalah Marcello berdiri tegak seperti pilar baja yang menghalangi jalan.
"Minggir!" bentak Alicia, mencoba mendorong bahu Marcello.
Marcello bahkan tidak bergeming. Ia hanya menatap Alicia dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa gadis ini adalah makhluk paling merepotkan yang pernah ia temui. "Signorina, Bos belum mengizinkan Anda pergi."
"Aku tidak butuh izin dari siapa pun! Aku Alicia Atmadja! Kalian tahu siapa ayahku?" Alicia berteriak, air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. "Dia bisa membeli setengah dari kota ini!"
"Ayahmu mungkin menguasai gedung-gedung tinggi di Jakarta, tapi di sini, di jalanan Milan... kata-kata Dante Vallo adalah hukum," suara Dante terdengar dari belakang Alicia. Pria itu kini sudah mengenakan kemeja hitam yang belum dikancingkan, memperlihatkan tato mawar hitamnya yang mengintimidasi.
Dante mendekat dan memberikan kode pada Marcello. "Marcello, siapkan mobil. Dan pastikan semua hotel di bawah kendali kita menolak tamu bernama Alicia Atmadja. Ayahnya mungkin punya uang, tapi aku punya mata di setiap sudut kota ini."
"Kau gila! Kau menculikku?" Alicia berbalik, menatap Dante dengan kebencian yang meluap.
"Aku melindungimu dari dirimu sendiri, Alicia," Dante menjawab tenang. "Kau kabur karena kau tidak suka diatur, bukan? Maka di sini, kau akan belajar bahwa ada jenis aturan yang tidak bisa kau lawan dengan sekadar mogok makan atau belanja barang mewah."
Dante berjalan melewati Alicia seolah gadis itu hanyalah gangguan kecil, namun saat ia sampai di pintu, ia berhenti dan menoleh. "Sarapan akan disajikan dalam sepuluh menit. Jika kau mencoba kabur lewat balkon, perlu kau tahu... ketinggian penthouse ini cukup untuk menghancurkan setiap tulang indah di tubuhmu sebelum kau sempat menyentuh aspal."
Pintu tertutup dan terkunci secara otomatis dengan bunyi klik yang mematikan. Alicia terduduk di lantai marmer yang dingin, menatap kakinya yang tanpa alas. Di dalam kepalanya, ia merutuki kebodohannya sendiri. Niatnya adalah menemukan pria tampan untuk membalas ayahnya, tapi ia justru menyerahkan dirinya pada seorang predator yang menganggap manusia seperti pion catur.
"Sial...!" rutuknya dalam hati sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Maksud hati ingin kabur dari kentang rebus hambar pilihan Ayah, eh... malah nyungsep ke pelukan steak wagyu beracun! Kenapa dari sekian banyak orang Tampan di Italia, aku malah memungut psikopat bersertifikat mafia?"
Alicia menghela napas panjang, menatap pintu yang terkunci rapat. Namun, bayangan Dante dengan kemeja hitam yang terbuka tadi mendadak melintas di kepalanya. Di tengah horor penculikan ini, otaknya yang tidak tahu diri malah sempat-sempatnya melakukan audit visual. Tapi ya sudahlah... pikirnya pasrah sambil mengusap wajah. Paling tidak, kalaupun aku harus mati muda di tangan mafia, Retina mataku sudah mendapatkan asupan vitamin super yang sangat berkualitas. Setidaknya pemandangan pagi ini lebih segar daripada melihat wajah Pria pilihan Ayah itu. Alicia mendengus, merasa otaknya benar-benar sudah mulai tidak sehat.
Sepuluh menit kemudian, seorang pelayan wanita berseragam rapi masuk melalui pintu samping dan menata meja makan dengan berbagai hidangan yang aromanya sangat menggoda namun bagi Alicia, itu tercium seperti racun.
Dante sudah duduk di kepala meja, sedang membaca tumpukan berkas yang Alicia duga adalah rencana penyerangan atau bisnis ilegal lainnya. Ia tampak sangat fokus, sangat profesional, seolah-olah ia tidak baru saja menghabiskan malam yang panas dengan seorang gadis asing.
Alicia berjalan mendekat, menyeret langkahnya, dan duduk di ujung meja yang paling jauh dari Dante.
"Aku ingin pulang," ucap Alicia datar.
Dante tidak mendongak dari berkasnya. "Makan sarapanmu."
"Aku tidak mau! Aku ingin pasporku kembali! Aku tahu kau yang mengambilnya dari tas tanganku!"
Dante akhirnya meletakkan berkasnya dan menatap Alicia. "Paspormu aman bersamaku. Dan kau tidak akan pulang ke Jakarta. Tidak sampai aku memastikan satu hal."
"Apa?"
Dante menyesap kopinya perlahan. "Apa semalam berhasil atau tidak. Jika kau membawa ahli warisku, maka Jakarta hanyalah masa lalu bagimu. Kau akan tinggal di sini, di bawah pengawasanku, sampai anak itu lahir."
Alicia tertawa sinis, meskipun hatinya bergetar. "Kau benar-benar psikopat. Bagaimana jika aku tidak hamil? Bagaimana jika itu hanya anganmu saja?"
"Maka kita akan mencobanya lagi sampai berhasil," jawab Dante tanpa keraguan sedikit pun.
Alicia melempar serbet kain ke atas meja. "Kau pikir aku ini pabrik bayi? Aku ini manusia! Aku punya mimpi, aku punya... aku punya jadwal perawatan kulit mingguan yang tidak bisa aku lewatkan!"
Dante menatap Alicia sejenak, lalu sedikit mengernyit. "Perawatan kulit? Itu yang kau khawatirkan saat kau terjebak dengan seorang mafia?"
"Ya! Apa Kau tahu berapa harga serum yang aku pakai? Apa Kau tahu betapa stresnya kulitku karena diculik seperti ini? Jika aku berjerawat, itu adalah kesalahanmu!" Alicia mulai mengomel, sebuah mekanisme pertahanan diri yang biasanya ia gunakan untuk membuat orang-orang di sekitarnya menyerah menghadapinya.
Dante terdiam. Ini adalah pertama kalinya seseorang mengomelinya soal serum wajah di tengah pembicaraan serius mengenai pewaris tahta. Ia merasa ada yang salah dengan otaknya karena merasa tingkah konyol gadis ini... Justru menghibur untuknya.
"Marcello!" Dante memanggil dengan suara keras.
Marcello muncul dalam hitungan detik. "Ya, Bos?"
"Cari tahu apa merek perawatan kulit yang dipakai gadis ini. Beli semuanya. Jika perlu, beli tokonya dan bawa ke sini. Pastikan dia tidak punya alasan untuk mengomel soal jerawat."
Marcello mengerjap, menatap bosnya seolah Dante baru saja tertular kegilaan Alicia. "Maksud Anda... produk kecantikan, Bos?"
"Lakukan saja!" gertak Dante.
Alicia tertegun. Ia bermaksud sarkastik, tapi pria ini malah menanggapi dengan cara yang sangat berlebihan. "Tunggu, aku tidak bilang aku mau tinggal! Aku hanya bilang aku stres!"
"Dan aku sedang mengurangi stresmu, Alicia," Dante berdiri, merapikan kemejanya. "Aku harus mengurus beberapa sampah di pelabuhan. Jangan mencoba melakukan hal bodoh. Semua CCTV di gedung ini terhubung ke ponselku. Jika kau bergerak satu inci keluar dari lantai ini, aku akan mengetahuinya."
Dante melangkah mendekati Alicia, membungkuk hingga wajah mereka sejajar, dan mendaratkan ciuman singkat namun posesif di kening Alicia. "Jadilah gadis baik, Cara Mia (sayangku). Atau aku harus menggunakan cara yang lebih gila... Untuk membatasimu."
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣