Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Siang itu, matahari bersinar cukup terik ketika Linda akhirnya tiba di rumah setelah selesai berbelanja. Ia menutup pintu mobil dengan pelan, menarik napas sejenak sebelum melangkah masuk. Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu sudah terbuka lebih dulu. Erlan berdiri di sana, dengan Kirana yang setengah bersembunyi di balik kakinya.
“Mama!” seru Kirana riang.
Linda langsung tersenyum lebar. “Iya, sayang. Mama pulang.”
Kirana segera berlari memeluknya. Pelukan kecil itu terasa hangat dan tulus, membuat lelah Linda seketika berkurang. Erlan ikut tersenyum, memperhatikan keduanya dengan sorot mata lembut.
“Capek?” tanya Erlan.
“Lumayan,” jawab Linda ringan. “Tapi hari ini aku akan masak yang enak untuk kita.”
Kirana langsung mengangkat wajahnya dengan mata berbinar. “Yang enak? Ada cemilan, Ma?”
Linda mengangkat alis, pura-pura berpikir. “Hmm… ada sih.”
“Mana?” Kirana langsung semangat.
“Tapi,” lanjut Linda sambil menunjuk pelan dahi putrinya, “tidak boleh dimakan sekarang.”
Wajah Kirana langsung berubah. “Kenapa?”
“Karena kalau kamu makan sekarang, nanti kamu tidak makan siang.”
Kirana mengerucutkan bibirnya, lalu perlahan menoleh ke arah Erlan, berharap mendapat pembelaan. Tatapannya seperti berkata: tolong aku, Ayah.
Namun Erlan hanya mengangkat kedua tangannya pasrah. “Ayah tidak berani melawan Mama kalau sudah soal makanan.”
Kirana mendesah kecil. “Ayah tidak membantu.”
Linda tertawa pelan. “Sudah, ayo bantu Mama bawa belanjaan.”
Erlan langsung menuju bagasi mobil dan mulai mengangkat kantong-kantong belanja. Sementara itu, Kirana yang penasaran dengan isi belanjaan mengintip dan menemukan sekantong besar berisi snack.
Matanya langsung berbinar. “Mama! Ini cemilan!”
“Iya, tapi ingat aturannya,” jawab Linda tenang.
Kirana mengangguk, lalu mencoba mengangkat kantong itu. Namun baru beberapa langkah, tubuh kecilnya sudah goyah.
“Berat…” gumamnya.
Ia berhenti, menatap kantong itu dengan wajah berpikir keras, lalu berkata, “Kirana cuma bisa bawa satu snack saja.”
Linda tersenyum tipis. “Tetap tidak boleh dimakan sekarang.”
Kirana menatapnya dengan wajah datar, seolah sedang mempertimbangkan hidupnya. “Berat sekali jadi anak Mama.”
Erlan yang melihat itu tidak bisa menahan senyum. Ia mendekat, berjongkok di samping Kirana.
“Serahkan ke Ayah,” katanya lembut.
Kirana mengangguk cepat dan langsung menyerahkan kantong itu. Erlan mengangkatnya tanpa kesulitan, sementara Kirana berjalan di sampingnya dengan langkah kecil, masih sesekali melirik ke arah snack tersebut.
Setelah semua belanjaan masuk ke dalam rumah, Linda langsung menuju dapur. Erlan membantunya menata bahan, sementara Kirana duduk di kursi dapur sambil mengayun-ayunkan kakinya.
“Ma,” panggil Kirana.
“Iya?”
“Tadi pagi Kirana lihat anak kucing di rumah tetangga.”
Linda melirik sekilas sambil memotong sayuran. “Oh ya? Lucu?”
“Lucu sekali! Kecil, warna putih, matanya biru!” Kirana mulai bercerita dengan penuh semangat.
Erlan ikut mendengarkan sambil menata piring. “Kamu mau punya kucing?”
Kirana langsung menoleh cepat. “Mau!”
Linda tersenyum kecil. “Nanti kita pelihara kucing sendiri.”
“Benarkah?” Kirana hampir melompat dari kursinya.
Erlan mengangguk. “Ayah sudah janji dengan teman Ayah yang punya pet shop.”
“Kapan kita ambil?” tanya Kirana tanpa sabar.
“Pelan-pelan,” kata Linda. “Kita siapkan dulu semuanya.”
Kirana mengangguk, meski jelas ia ingin semuanya terjadi hari ini juga.
Tak lama, makanan siap dihidangkan. Mereka bertiga duduk bersama di meja makan. Kirana makan sambil terus bercerita tentang anak kucing yang ia lihat, lengkap dengan gerakan tangan yang berlebihan.
Linda dan Erlan saling bertukar pandang, tersenyum melihat tingkahnya.
Setelah makan siang selesai, Kirana langsung menatap Linda penuh harap.
“Sekarang boleh makan cemilan?”
Linda menghela napas kecil, lalu mengangguk. “Boleh.”
Kirana langsung bersorak kecil dan mengambil snack dengan wajah puas.
Sementara itu, Erlan menatap Linda dengan ekspresi sedikit serius. “Aku sudah mengurus semuanya.”
Linda menoleh. “Apa?”
“Dengan bantuan Adi dan Rama,” lanjut Erlan pelan, “besok kita ke kantor agama.”
Linda terdiam beberapa detik. “Besok?”
Erlan mengangguk. “Kita menikah.”
Linda tampak benar-benar terkejut. “Aku pikir… kamu akan menyiapkannya beberapa bulan lagi.”
Erlan menghela napas pelan. “Kita tidak punya waktu sebanyak itu.”
Linda menatapnya dalam diam.
“Kita hanya butuh status,” lanjut Erlan. “Begitu resmi, semuanya akan lebih jelas. Kita tidak perlu bersembunyi lagi.”
“Lalu… pernikahan?” tanya Linda pelan.
Erlan menggeleng. “Tidak ada pesta.”
Linda tidak langsung menjawab.
“Keluargaku pasti akan mencoba merusaknya,” tambah Erlan. “Aku tidak mau mengambil risiko.”
Linda akhirnya tersenyum tipis. “Aku tidak masalah.”
Erlan menatapnya, seolah memastikan.
“Yang penting,” lanjut Linda, “aku jadi istrimu.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Erlan terdiam sejenak.
“Aku hanya berharap…” Linda melanjutkan, suaranya sedikit lebih pelan, “kita bisa menghadapi keluargamu.”
Erlan menghela napas panjang. “Itu yang sulit.”
Linda menatapnya tajam. “Seberapa sulit?”
“Ayahku tidak akan tinggal diam,” jawab Erlan. “Dia sudah mulai bergerak.”
“Dia ingin menghancurkanmu?” tanya Linda.
“Lebih dari itu,” kata Erlan tenang. “Dia ingin mengambil semua yang aku punya.”
Linda terdiam.
“Tapi semuanya sudah aku amankan,” lanjut Erlan. “Aset, properti, semuanya sudah atas namaku. Tidak ada yang bisa dia sentuh.”
Linda mengangguk pelan. “Aku tidak takut soal harta.”
Erlan menatapnya. “Lalu?”
Linda menoleh ke arah Kirana yang sedang asyik makan cemilan di ruang tengah.
“Aku takut soal Kirana.”
Erlan mengikuti arah pandangnya.
“Bagaimana kalau mereka mencoba mengambilnya?” suara Linda sedikit bergetar. “Dia kelemahan kita.”
Erlan terdiam sejenak, lalu berkata dengan tegas, “Tidak akan aku biarkan.”
Linda menatapnya, mencoba membaca kesungguhan di matanya.
“Aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya,” lanjut Erlan. “Apa pun.”
“Termasuk melawan keluargamu sendiri?” tanya Linda.
“Jika perlu,” jawab Erlan tanpa ragu.
Suasana menjadi hening sejenak.
“Aku juga masih punya satu cara,” tambah Erlan pelan.
Linda mengernyit. “Cara apa?”
“Sesuatu yang bisa memberi pukulan telak pada ayahku jika dia mulai bertindak terlalu jauh.”
Linda menatapnya lama, tapi tidak bertanya lebih lanjut.
Di ruang tengah, Kirana mulai terlihat mengantuk. Kepalanya beberapa kali terangguk.
Erlan bangkit dari duduknya. “Sepertinya ada yang sudah kelelahan.”
Ia berjalan mendekat dan mengangkat Kirana dengan hati-hati.
“Ayah…” gumam Kirana setengah sadar.
“Tidur saja,” bisik Erlan.
Ia membawa Kirana ke kamar, membaringkannya dengan pelan, lalu menyelimuti tubuh kecil itu. Kirana langsung tertidur dalam hitungan detik.
Erlan duduk di samping tempat tidur, menatap wajah putrinya yang tenang.
Beberapa saat kemudian, Linda berdiri di ambang pintu.
“Sudah tidur?” tanyanya pelan.
Erlan mengangguk.
Linda masuk perlahan dan berdiri di sampingnya.
Mereka berdua sama-sama menatap Kirana.
“Dia tidak tahu apa-apa,” kata Linda lirih.
“Dan jangan sampai tahu,” jawab Erlan.
Linda menarik napas panjang. “Kita benar-benar akan melakukannya besok.”
“Iya.”
“Tanpa persiapan.”
“Kita sudah cukup siap,” kata Erlan.
Linda tersenyum tipis. “Aku tidak pernah membayangkan menikah seperti ini.”
Erlan menoleh padanya. “Menyesal?”
Linda menggeleng. “Tidak.”
Ia menatap Kirana lagi, lalu kembali ke Erlan.
“Selama kita bersama,” lanjutnya, “aku tidak takut.”
Erlan menatapnya dalam diam, lalu menggenggam tangannya.
“Mulai besok,” katanya pelan, “semuanya berubah.”
Linda mengangguk. “Kita hadapi bersama.”
Di dalam kamar yang tenang itu, hanya suara napas Kirana yang terdengar lembut. Namun di balik ketenangan itu, masa depan yang penuh tantangan sudah menunggu di depan mereka.