Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadil Yang Seadil-adilnya
Sambutan hangat dari penduduk Wanua Tuntang menjadi bahagia tersendiri bagi Pangeran Mapanji Wijaya. Dia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja memenangkan pertempuran besar dan menyelamatkan negara.
Seekor kerbau di sembelih, menjadi tanda penghormatan tertinggi yang pernah ada di Wanua Tuntang. Mereka tidak pernah melakukannya semenjak Adipati Kembang Kuning dulu, Aji Pu Linggabuana, menyelamatkan penduduk Wanua Tuntang dari gangguan orang-orang Lwaram yang ingin menguasai Rawa Pening. Selain kerbau, berbagai jenis hewan lainnya seperti kambing dan ayam juga dimasak beserta penghasilan utama Wanua Tuntang yaitu ikan yang berasal dari Rawa Pening.
Malam itu Mpu Jambal, Rama Wanua Tuntang, mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang seluruh penduduk Wanua Tuntang dari seluruh pedukuhan yang ada, juga beberapa kepala desa sekitar. Selain tanda syukur atas keberhasilan mereka menumpas Serikat Bulan Darah, ini juga merupakan penghormatan besar untuk tamu agung sekaligus pahlawan yang menyelamatkan Wanua Tuntang dan sekitarnya.
Pelbagai jenis hidangan menjadi menu makanan mereka. Semua prajurit pengawal pribadi Pangeran Mapanji Wijaya yang kini tinggal 30 orang saja mendapat perlakuan istimewa dari masyarakat.
Usai pesta kemenangan itu, Resi Mpu Lodra bersama dengan Pandu dan Rukmaka berpamitan pada Pangeran Mapanji Wijaya dengan alasan ingin secepatnya pulang ke Kalingga.
Keesokan paginya, rombongan Pangeran Mapanji Wijaya meninggalkan Wanua Tuntang. Rama Mpu Jambal, Ki Jagabaya Panut dan seluruh penduduk Wanua Tuntang mengantar kepergian mereka hingga ke tapal batas wilayah.
Menyusuri jalan di timur Gunung Karungrungan, rombongan Pangeran Mapanji Wijaya bergerak ke arah utara menuju ke Kota Kembang Jenar. Rencananya dari sana mereka akan bergerak ke arah barat menuju ke arah Kota Kalingga. Jalur ini dipilih oleh Nararya Candrawulan karena relatif datar dan aman meskipun di beberapa tempat yang dilalui menyimpan bahaya tersendiri.
Matahari sudah tergelincir sedikit dari atas kepala saat rombongan Pangeran Mapanji sampai di tapal batas wilayah Kota Kembang Jenar, yang menjadi pusat pemerintahan Negeri Kembang Jenar, salah satu wilayah bagian Kerajaan Medang. Sebuah tugu besar dari batu bertuliskan huruf Jawa Kuno Ja menjadi tanda itu.
"Gusti Pangeran, kita sebaiknya beristirahat sebentar di sini atau di Istana Kembang Jenar saja?
Kalau kita ke Istana Kembang Jenar sekarang, orang-orang kita akan punya waktu yang cukup untuk beristirahat", ucap Tumenggung Rengga sambil menghormat pada Pangeran Mapanji Wijaya yang duduk di dalam kereta kuda.
Sang pangeran Medang itu melongok keluar dari jendela kereta kuda yang ia tumpangi. Dia memperhatikan setiap wajah orang yang mengikuti nya, terlihat lelah dan butuh istirahat yang cukup. Istana Kembang Jenar adalah tempat yang aman untuk itu semua.
"Baiklah, kita ke Istana Kembang Jenar saja Tumenggung.. ", perintah Pangeran Mapanji Wijaya.
" Sendiko dawuh Gusti Pangeran.. "
Selesai menjawab perintah dari junjungannya, Tumenggung Rengga segera memimpin pasukan pengawal ini menuju ke arah Istana Kembang Jenar yang ada di tengah-tengah Kota Kembang Jenar.
Seorang lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa dengan perawakan tubuh gagah, memiliki kumis tipis dan rambut yang digerai, serta mengenakan mahkota nampak sedang duduk di singgasana Kembang Jenar sambil membaca sebuah surat. Di kanan dan kiri nya dua dayang istana duduk dengan tenang sedangkan di depannya seorang lelaki paruh baya berperawakan gempal dengan kumis tebal tetapi sudah memutih karena uban duduk bersila dengan penuh hormat di hadapan lelaki berpakaian bangsawan ini.
Lelaki ini adalah Adipati Kembang Jenar, Dyah Garung atau juga dikenal sebagai Mpu Watukura. Dia baru menjabat sebagai Adipati Kembang Jenar menggantikan ayahnya yang meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Sifat Mpu Watukura dikenal sebagai pejabat yang baik, tegas dan penuh pertimbangan.
Saat ini Mpu Watukura sedang membaca surat mengenai munculnya bibit pemberontakan akibat ketidakpuasan para petani di Weleri yang menginginkan keadilan setelah salah putri rama mereka, Rara Ningsih, yang dikenal sebagai kembang desa, dirudapaksa oleh seorang putra pejabat. Weleri adalah sebuah Watak yang mendapat hak swatantra dari mendiang Prabu Dyah Sindok. Jika Weleri bergolak, maka Kembang Jenar pasti akan kena imbasnya.
Surat itu sendiri datang dari Rakai Weleri Mpu Supa yang menginginkan bantuan dari Kembang Jenar untuk menumpas bibit bibit pemberontakan itu agar tidak semakin besar.
Hemmmmmmmm....
Terdengar helaan nafas berat dari Mpu Watukura usai membaca nawala yang ia terima. Lelaki paruh baya di hadapan nya, Patih Mpu Kanthong, melihat beban pikiran sang adipati segera menghormat.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Kalau boleh hamba tahu apa gerangan isi nawala dari Weleri itu? ", tanya Patih Mpu Kanthong dengan sopan.
" Rakai Weleri Mpu Supa meminta kita mengirimkan pasukan untuk memberantas pemberontakan Ki Mangun Tapa yang bermarkas dekat dengan perbatasan kita. Aku tak bisa mengabulkannya begitu saja meskipun aku berteman baik dengan Mpu Supa.
Ki Mangun Tapa adalah tokoh besar dunia persilatan. Selain sakti, Ki Mangun Tapa juga punya banyak murid yang menjadi bawahan kita di keprajuritan Kembang Jenar. Inilah yang menjadi beban di hati ku, Paman Patih.
Kalau aku gegabah memutuskan perkara ini, pasti akan berdampak buruk bagi Kembang Jenar", Adipati Mpu Watukura mengeluarkan unek-unek nya.
"Masalah ini memang pelik, Gusti Adipati..
Di satu sisi ada teman baik yang membutuhkan bantuan tetapi di sisi lain jika kita menindak Ki Mangun Tapa pasti akan menciptakan gejolak tersendiri bagi Kembang Jenar. Bagaimana kalau..."
Belum selesai Patih Mpu Kanthong berbicara, seorang prajurit datang dan segera menyembah pada Adipati Mpu Watukura.
"Mohon ampun sudah mengganggu Gusti Adipati", ucap sang prajurit dengan penuh hormat.
"Ada apa kau menghadap tanpa dipanggil? Katakan sejelas-jelasnya", Adipati Mpu Watukura mengangkat tangan kanan nya.
" Rombongan Pangeran Mapanji Wijaya dari Kotaraja Watugaluh datang kemari Gusti Adipati. Mereka ingin bertemu ", lapor sang prajurit segera.
Mendengar apa yang dilaporkan oleh prajurit, Adipati Mpu Watukura dan Patih Mpu Kanthong saling pandang. Usai berhasil mengatasi rasa kagetnya, sang adipati pun segera bersabda.
" Bawa mereka masuk kemari. Cepatlah.. ", titah Adipati Mpu Watukura segera.
Sang prajurit segera menghormat sebelum berbalik arah. Tak lama kemudian dia kembali bersama dengan Pangeran Mapanji Wijaya, Tumenggung Rengga, Juru Mandhasiya dan dua pengawal setia sang pangeran yaitu Warak dan Ludaka.
Adipati Mpu Watukura dan Patih Mpu Kanthong buru buru berdiri dan menyembah pada Pangeran Mapanji Wijaya.
"Sembah bakti kami Gusti Pangeran.. ", ucap Adipati Mpu Watukura dan Patih Mpu Kanthong bersama-sama.
" Jangan banyak adat dengan ku. Bangunlah.. ", ujar Pangeran Mapanji Wijaya segera.
" Terimakasih Gusti Pangeran... ", Adipati Mpu Watukura bangkit dan kembali ke singgasana Kembang Jenar sedangkan Patih Mpu Kanthong segera mencarikan sebuah kursi untuk tempat duduk sang pangeran. Setelah itu ia kembali dan duduk bersila bersama para pengikut setia sang pangeran Medang.
"Mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan Gusti Pangeran..
Ini karena kami sedang membahas sesuatu yang sangat penting bagi Kembang Jenar. Mohon Gusti Pangeran mengampuni kesalahan kami", ucap Adipati Mpu Watukura sembari menghormat.
" Sesuatu yang penting?
Kalau boleh tahu, apa itu Adipati Mpu Watukura? Aku sangat penasaran ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya kemudian.
Adipati Mpu Watukura segera memberikan nawala dari Rakai Weleri Mpu Supa pada Pangeran Mapanji Wijaya sambil menceritakan situasi yang sedang ia hadapi.
" Itulah sebabnya hamba bingung harus bersikap bagaimana, Gusti Pangeran ", pungkas Mpu Watukura yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya mengelus dagunya.
" Kita tidak boleh mendengar satu masalah hanya dari satu sisi saja, Adipati Mpu Watukura..
Untuk memutuskan sebuah perkara rumit seperti ini, kita harus mendengar omongan dari dua pihak yang berselisih agar bisa menjadi pengadil yang seadil-adilnya ", ujar Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Adipati Mpu Watukura maupun Patih Mpu Kanthong terperanjat.
'Kata orang-orang, Pangeran Mapanji Wijaya adalah seorang pangeran pecundang yang hanya tahu berfoya-foya menghambur-hamburkan uang.
Tapi jawabannya baru saja membuka mata ku dan menyadari bahwa desas-desus yang beredar selama ini tentang Pangeran Mapanji Wijaya hanyalah sebuah fitnah keji untuk menjatuhkan nama baik nya. Sesungguhnya ia adalah calon pemimpin sejati...', batin Adipati Mpu Watukura.
Segera Adipati Mpu Watukura menghormat pada Pangeran Mapanji Wijaya sebelum ia berkata,
"Mohon Gusti Pangeran Mapanji Wijaya menjelaskan pada hamba,
Bagaimana caranya ...?? "