NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pasar Gelap

​Keesokan paginya, matahari bersinar terik memanggang Kota Perbatasan Batu Darah. Suara hiruk-pikuk tawar-menawar dan pertengkaran khas pasar mewarnai udara berdebu.

​Lin Tian, yang telah kembali ke penginapan kumuhnya dengan membawa sekantong besar Batu Spiritual, menyempatkan diri mengecek keadaan Lin Xue dan Lin Chen sebelum pergi lagi. Lin Xue masih tidur, hawa dingin yang memancar dari tubuhnya semakin sulit disembunyikan. Lin Chen berjaga dengan pedang terhunus, matanya sembab karena kurang tidur namun memancarkan kewaspadaan yang tajam.

​"Ini," Lin Tian melempar sebuah botol giok kecil ke pangkuan Lin Chen. "Di dalamnya ada sepuluh Pil Inti Dingin. Berikan pada Xue-er setiap kali kulitnya memucat. Itu akan menekan Tubuh Roh Es-nya selama sebulan penuh."

​"Kak Tian... ini pil tingkat menengah. Dari mana Kakak mendapatkannya?" tanya Lin Chen takjub, mengetahui betapa mahalnya pil penekan atribut khusus di kota perbatasan.

​"Anggap saja hasil 'berburu' semalam," jawab Lin Tian datar. Ia tidak menceritakan soal pertarungannya di arena atau kesepakatannya dengan Tuan Hei. Semakin sedikit Lin Chen tahu, semakin aman pikirannya.

​"Tetap di sini, jangan buka pintu. Aku akan pergi ke pasar gelap untuk mencari bahan tambahan," pesan Lin Tian, lalu kembali menghilang di balik pintu reyot.

​Pasar Gelap Kota Batu Darah terletak di labirin gorong-gorong bawah tanah yang diubah suai. Tempat ini diterangi oleh batu pendar murahan dan dijaga oleh para kultivator hitam yang siap membunuh jika ada yang berbuat onar tanpa izin petinggi pasar. Di sini, segala macam barang terlarang diperjualbelikan: dari artefak sekte yang dirampok, budak dengan akar spiritual eksotis, hingga bahan ramuan dari binatang buas yang dilindungi.

​Lin Tian berjalan menyusuri lorong berbau pesing dengan tenang. Jubah kusam dan topeng kayunya membuatnya tidak mencolok, berbaur dengan para pembeli lain yang rata-rata juga menyembunyikan identitas mereka.

​Sasarannya adalah toko bahan alkimia kuno. Ia teringat akan metode penguatan fisik dari tahap Baja Pembelah Urat dan Tulang Pedang Sejati. Karena ia belum mendapatkan Kristal Tinta Tulang Naga, ia perlu menstabilkan lengan kanannya agar bisa bertarung besok malam tanpa risiko tulangnya meledak.

​Ia berhenti di depan sebuah tenda kumuh yang memajang berbagai macam tulang binatang buas, rumput layu, dan toples-toples berisi serangga beracun. Pemilik tenda adalah seorang nenek keriput bermata satu yang sedang mengunyah sirih.

​"Nek, aku mencari Rumput Urat Besi, Serbuk Tulang Beruang Tanah, dan Darah Ular Cincin Tembaga," ucap Lin Tian dengan suara yang disamarkan.

​Nenek itu melirik Lin Tian dengan sisa matanya yang keruh. "Bahan-bahan penguat tubuh fana tingkat rendah? Jarang ada kultivator yang membelinya sekarang, semuanya mencari pil Pengumpul Qi. Untuk tiga bahan itu... delapan puluh Batu Spiritual tingkat rendah."

​Itu harga yang digelembungkan tiga kali lipat. Namun Lin Tian tidak menawar. Ia melempar sekantung batu spiritual ke atas meja. "Siapkan sekarang."

​Nenek itu tertawa serak, cepat-cepat membungkus bahan yang diminta.

​Sambil menunggu, telinga Lin Tian yang tajam menangkap pembicaraan dari dua pria bertudung yang sedang berbelanja senjata di seberang lorong.

​"Kau lihat penjagaan di Gerbang Utara pagi ini? Sepuluh murid lapis perak dari Sekte Pedang Surgawi memeriksa setiap orang yang keluar kota menggunakan Cermin Pelacak Jiwa," bisik pria pertama.

​"Ya, kudengar Tetua mereka yang baru tiba, Tetua Gui Ming, benar-benar murka," balas temannya. "Dia bersumpah tidak akan kembali ke Tanah Suci sebelum membawa kepala Iblis Tanpa Dantian itu. Dan sialnya, Cermin Pelacak itu bisa mendeteksi fluktuasi aura pembunuh di atas batas normal. Iblis mana pun yang mencoba kabur pasti akan ketahuan."

​Lin Tian menyipitkan matanya. Tetua Gui Ming? Dari namanya saja, itu terdengar seperti ahli gelap dari Tanah Suci. Jika pintu keluar benar-benar dijaga ketat oleh Cermin Pelacak Jiwa, ia tidak bisa mengandalkan penyamaran biasa untuk menerobos bersama Lin Xue dan Lin Chen. Kesepakatannya dengan Tuan Hei untuk menggunakan jalur rahasia menjadi sangat krusial.

​Ia mengambil bungkusan bahannya dari nenek tua itu dan segera pergi, menelusuri lorong yang sepi menuju ke permukaan.

​Malam harinya, di atap penginapan Tong Hitam, di bawah cahaya bulan yang redup.

​Lin Tian tidak menggunakan tungku alkimia. seperti pembuat pil biasa, karena ia tidak memiliki Qi untuk menghasilkan api spiritual. Sebagai gantinya, ia menggunakan metode Penempaan Kematian.

​Ia menumbuk Rumput Urat Besi dan Serbuk Tulang Beruang hingga halus menggunakan batu bata. Kemudian, ia mencampurkannya dengan Darah Ular Cincin Tembaga ke dalam sebuah mangkuk tanah liat kecil hingga membentuk pasta kental berwarna hitam kemerahan yang berbau sangat amis.

​Lin Tian membuka balutan perban di lengan kanannya. Di bawah cahaya bulan, kulit perungnya tampak pucat. Beberapa retakan halus masih terlihat membelah pori-porinya, jejak akibat menahan tombak petir Inti Emas dengan Gagang Pemutus Langit.

​"Siksaan baru," gumam Lin Tian tanpa emosi.

​Ia menyendok pasta beracun dan keras itu, lalu mengoleskannya secara merata menutupi seluruh lengan kanannya, menembus retakan-retakan kulitnya.

​ZZZZZT!

​Seketika, asap putih mengepul dari lengannya disertai suara mendesis seperti daging mentah yang dilempar ke atas wajan panas. Pasta itu bereaksi secara instan, racun ular mulai meleburkan otot luar, memaksa campuran serbuk tulang meresap paksa ke dalam sumsumnya!

​Lin Tian menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga berdarah. Matanya memerah, urat-urat di lehernya menegang seperti kawat baja. Proses ini disebut "Mandi Darah Penambal Tulang"—metode putus asa yang biasa dilakukan oleh praktisi seni bela diri kuno yang nyaris punah. Jika gagal, racun itu akan membusukkan lengan hingga harus diamputasi; jika berhasil, tulang yang retak akan disambung dengan kekuatan serbuk tulang spiritual, menghasilkan kepadatan yang jauh lebih mengerikan.

​Ia duduk bersila, mengaktifkan sisa-sisa Inti Teratai Pedang. Ia memandu Niat Pedang yang liar di dalam intinya untuk memotong racun yang mencoba menjalar ke jantungnya, mengurungnya hanya di lengan kanan.

​Dua jam berlalu. Tubuh Lin Tian basah kuyup oleh keringat dingin. Pasta hitam itu perlahan-lengkang mengering dan mengelupas seperti kerak tanah liat.

​Saat kerak terakhir jatuh, Lin Tian membuka matanya. Lengan kanannya tidak membusuk. Sebaliknya, retakan-retakan mengerikan itu telah tertutup sempurna. Kulitnya kini tidak lagi berwarna perunggu pucat, melainkan perak gelap dengan kilau metalik, menyerupai baja tempaan dewa.

​Ia mengepalkan tangannya.

​KRETAK! WUSSH!

​Tekanan udaranya sepuluh persen lebih padat dari sebelumnya. Meskipun ini bukan peningkatan tahap kultivasi, lengannya kini jauh lebih stabil dan tahan terhadap beban ledakan. Setidaknya, jika ia terpaksa menghunus Gagang Pemutus Langit lagi besok malam, tangannya tidak akan hancur pada tebasan pertama.

​"Persiapan selesai," bisik Lin Tian, membungkus kembali lengannya dengan perban baru, menyembunyikan kilau metalik mematikan itu dari pandangan dunia.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!