Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Sore
Cahaya matahari sore yang berwarna jingga keemasan menerobos masuk melalui celah tirai besar di ruang kerja Zefan Ramiro. Debu-debu halus tampak menari-nari dalam sorotan cahaya itu, menciptakan suasana yang tenang namun melankolis. Di luar sana, Jakarta masih sibuk dengan deru knalpot dan klakson, tetapi di dalam ruangan ini, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Zefan tidak duduk di balik meja mahagoninya hari ini. Ia duduk di kursi santai di sudut ruangan, menghadap jendela besar yang menyajikan siluet gedung-gedung tinggi. Di sampingnya, Seraphina sedang sibuk dengan buku sketsa di pangkuannya. Ia tidak sedang melukis Zefan; ia sedang mencoba menangkap bentuk awan yang mulai berarak gelap di ufuk barat.
Denzel kembali menghilang. Kali ini, ia harus mendampingi Leah ke sebuah acara peresmian yayasan pendidikan yang disponsori oleh Chevalier Group. Peran Denzel sebagai bayangan Leah semakin hari semakin menyita waktu, meninggalkan Seraphina dalam ruang tunggu yang kini telah berganti fungsi menjadi ruang curahan hati bagi Zefan.
"Kau tahu, Seraphina," suara Zefan memecah keheningan, terdengar serak dan lelah. "Terkadang aku merasa perusahaan ini adalah monster yang hidup. Ia menuntut makan setiap hari, dan makanannya adalah waktu, kesehatan, dan terkadang... kejujuran kita."
Seraphina menghentikan gerakan pensilnya. Ia menoleh ke arah Zefan. Pria itu telah menanggalkan jasnya, hanya menyisakan kemeja putih dengan kancing kerah yang terbuka. "Kenapa Anda tidak sesekali membiarkan monster itu lapar, Zefan?"
Zefan tersenyum getir. "Karena jika ia lapar, ia akan memakan orang-orang di bawahku. Ribuan karyawan, keluarga mereka, dan tentu saja... Leah. Proyek Kuda Troya ini adalah pertaruhan terakhir. Jika ini gagal, monster itu akan menelan seluruh sejarah keluarga Ramiro tanpa sisa."
Seraphina meletakkan pensilnya. Ia bisa merasakan beratnya beban yang dipikul Zefan. "Denzel selalu bilang Anda adalah orang yang tak terkalahkan. Dia bilang Anda selalu punya rencana cadangan."
"Denzel melihatku sebagai simbol, bukan sebagai manusia," sahut Zefan. Ia menatap Seraphina dengan tatapan yang sangat tulus. "Hanya bersamamu, aku merasa boleh menjadi lemah. Bersamamu, aku tidak perlu berpura-pura bahwa aku tahu jalan keluarnya. Terkadang, berbagi ketakutan dengan seseorang yang tidak berkepentingan dalam bisnis adalah satu-satunya cara agar aku tidak gila."
Seraphina merasakan getaran empati yang dalam. "Saya juga punya ketakutan, Zefan. Tapi ketakutan saya jauh lebih sederhana. Saya takut suatu hari nanti saya akan bangun dan menyadari bahwa saya telah menghabiskan seluruh masa muda saya hanya untuk menunggu seseorang yang bahkan tidak yakin apakah dia benar-benar ada untuk saya."
"Maksudmu Denzel?"
Seraphina mengangguk pelan. "Saya punya mimpi, Zefan. Saya ingin membuka galeri kecil di pinggiran kota yang tenang. Saya ingin melukis tanpa harus memikirkan apakah lukisan itu akan laku atau tidak. Saya ingin hidup dalam kejujuran emosi. Tapi setiap kali saya melihat Denzel, mimpi itu terasa seperti kabut. Dia begitu penuh rahasia, begitu penuh dengan 'tugas', hingga saya merasa tidak ada tempat bagi mimpi saya di dalam dunianya yang sempit."
Zefan terdiam sejenak, meresapi kata-kata Seraphina. "Denzel adalah pria yang terjebak dalam utang budi dan loyalitas yang buta. Dia pikir dengan menjaga jarak, dia melindungimu. Padahal, dia hanya sedang membangun penjara bagimu."
Zefan bangkit dari kursinya, berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, dan menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal. Ia menawarkannya pada Seraphina sebelum kembali duduk. "Jika kau bertanya padaku, Seraphina... mimpi yang kau miliki adalah sesuatu yang berharga. Jangan biarkan siapa pun, termasuk Denzel, memadamkannya. Duniamu yang penuh warna adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup di tengah kantor yang abu-abu ini."
"Terima kasih, Zefan. Itu adalah hal termanis yang pernah saya dengar belakangan ini," ucap Seraphina, matanya sedikit berkaca-kaca.
Obrolan sore itu berlanjut ke hal-hal yang lebih personal. Zefan bercerita tentang masa mudanya sebelum ia dipaksa mengambil alih perusahaan. Ia bercerita tentang kegemarannya pada fotografi yang kini telah ia tinggalkan karena tak punya waktu lagi. Ia bercerita tentang ibunya yang dulu sangat mencintai taman bunga, dan bagaimana ia kini gagal menjaga taman itu tetap hidup di rumah utama.
Seraphina, di sisi lain, berbagi tentang masa kecilnya di desa, tentang ayahnya yang seorang guru, dan tentang bagaimana ia jatuh cinta pada lukisan pertama kali saat melihat pelangi di atas sawah.
Ada pertukaran energi yang sangat murni di antara mereka. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada rayuan gombal. Hanya dua jiwa yang saling menemukan tempat untuk meletakkan beban mereka sejenak. Zefan merasa pundaknya sedikit lebih ringan, sementara Seraphina merasa dirinya diakui sebagai individu yang memiliki mimpi dan kerentanan, bukan sekadar "kekasih asisten".
"Tahukah kau?" ucap Zefan sambil tertawa kecil. "Aku baru menyadari bahwa dalam satu jam bicara denganmu, aku sudah menceritakan lebih banyak hal daripada yang kukatakan pada psikiaterku dalam setahun."
Seraphina ikut tertawa. "Mungkin karena saya tidak menagih biaya per jam, Zefan."
Suasana ceria itu menyelimuti ruangan hingga matahari benar-benar tenggelam di balik cakrawala, menyisakan keremangan yang syahdu. Namun, kehangatan itu mendadak terusik saat pintu ruangan terbuka.
Denzel masuk. Ia tampak lelah, kemejanya basah oleh keringat, dan matanya memancarkan ketegangan yang biasa ia bawa setelah mendampingi Leah. Ia tertegun sejenak melihat Seraphina dan Zefan sedang tertawa bersama di keremangan sore itu, duduk berdekatan tanpa sekat profesional yang kaku.
"Tuan Zefan," sapa Denzel, suaranya kembali ke nada formal yang dingin. "Maaf saya terlambat. Acara yayasan berlangsung lebih lama karena Tuan Chevalier ingin Leah memberikan pidato tambahan."
Zefan bangkit, merapikan kemejanya. "Tidak apa-apa, Denzel. Seraphina menemaniku mengobrol sore ini. Dia memiliki perspektif yang menarik tentang manajemen stres melalui seni."
Denzel melirik ke arah buku sketsa Seraphina, lalu menatap Seraphina dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa bersalah di matanya karena telah membuat Seraphina menunggu begitu lama, namun rasa bersalah itu segera tertutup oleh rasa tidak nyaman melihat kedekatan Seraphina dengan majikannya.
"Ayo, Sera. Aku akan mengantarmu pulang," ajak Denzel.
Seraphina berdiri, menutup buku sketsanya dengan perlahan. Ia menatap Zefan dan memberikan senyuman yang jauh lebih hangat daripada yang ia berikan pada Denzel. "Terima kasih untuk sore ini, Zefan. Cerita tentang fotografi itu... jangan lupakan mimpi itu."
Zefan mengangguk mantap. "Aku tidak akan melupakannya jika kau juga tidak melupakan galerimu."
Di dalam lift, Denzel tetap diam. Baru setelah mereka berada di dalam mobil, ia mulai bicara. "Apa saja yang kau ceritakan padanya, Sera? Tuan Zefan punya banyak masalah di pundaknya, jangan menambahinya dengan keluhan-keluhan kecil."
Seraphina menoleh dengan cepat, matanya memancarkan kemarahan yang tertahan. "Keluhan kecil? Kami bicara tentang hidup, Denzel. Kami bicara tentang mimpi dan ketakutan. Sesuatu yang bahkan tidak pernah berani kau tanyakan padaku."
"Aku sibuk menjagamu agar tetap aman, Sera!" sahut Denzel dengan nada yang sedikit meninggi.
"Aman dari apa? Dari kejujuran?" balas Seraphina tajam. "Zefan memperlakukanku seperti manusia yang punya perasaan. Dia jujur tentang ketakutannya, dan itu membuatku merasa dihargai. Sedangkan kau... kau hanya memberiku instruksi dan janji-janji yang tidak pernah kau tepati."
Denzel mencengkeram kemudi dengan kuat. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia melakukan semua ini demi masa depan mereka, demi melindungi Leah, demi stabilitas keluarga Ramiro. Namun, ia menyadari bahwa di hadapan argumen Seraphina, semua alasannya terasa hambar.
"Tuan Zefan adalah orang yang berbahaya untuk dijadikan tempat curhat, Sera. Dia memiliki kepentingannya sendiri," gumam Denzel defensif.
"Satu-satunya orang yang berbahaya di sini adalah kau, Denzel," ucap Seraphina lirih sambil menatap keluar jendela. "Karena kau membuatku merasa kesepian meski aku sedang berada tepat di sampingmu."
Malam itu, dalam perjalanan pulang yang sunyi, Seraphina menyadari satu hal yang menyakitkan: obrolan sore dengan Zefan telah memberinya lebih banyak kedamaian daripada hubungan dua tahunnya dengan Denzel. Ia mulai melihat Denzel bukan lagi sebagai pahlawan dalam bayangan, melainkan sebagai pria yang kehilangan arah di dalam labirin yang ia buat sendiri.
Sementara itu, di ruang kerjanya yang kini sepi, Zefan Ramiro berdiri menatap pemandangan kota. Ia merasa lebih hidup daripada biasanya. Kerentanan yang ia bagikan dengan Seraphina bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah kekuatan yang memberinya alasan untuk tetap bertahan di tengah badai. Ia mulai menyadari bahwa kehadiran Seraphina bukan lagi sekadar pengisi waktu luang, melainkan cahaya kecil yang mulai meredupkan dominasi kegelapan dalam hidupnya.
Benih-benih perubahan telah ditabur di bawah langit sore Jakarta, dan tak lama lagi, pohon kenyataan akan mulai menumbuhkan buah yang pahit bagi Denzel Shaquille.