NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:108.3k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Permohonan Laporan Dicabut

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun aktivitas di rumah sudah mulai berjalan. Suara langkah kaki dan derit pintu tak mampu mengusir ketegangan yang menggantung di udara.

Kamil berdiri di dekat pintu, satu tangan dimasukkan ke saku celana, wajahnya tampak datar, tapi rahangnya mengeras—menandakan ada sesuatu yang sedang ia tahan. Di hadapannya, Hakim sudah rapi dengan kemeja kerja, sementara Iqbal berdiri sedikit menyamping, memperhatikan dengan tatapan tajam.

"Hari ini jangan lupa kamu ke kantor Abang," ujar Hakim, suaranya tegas tanpa basa-basi. Ia melirik sekilas jam di tangannya. "Pukul sepuluh nanti kita harus sudah di rumah sakit, minta Aldo cabut laporan penganiayaan itu."

Kamil menghela napas pelan, matanya bergeser ke arah lain, seolah enggan menatap langsung.

"Harus sama aku ya?" tanyanya, nada suaranya terdengar setengah hati.

Hakim langsung menoleh cepat, alisnya berkerut.

"Ya iyalah. Kamu yang melakukan penganiayaan itu, gimana sih?" jawabnya, mulai kehilangan kesabaran.

Kamil mendecak pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding.

"Ya maksudku… diwakilkan Abang aja. Aku gak usah ikut," katanya, kali ini dengan nada yang lebih dingin. "Males harus ketemu sama lelaki yang sudah merebut Amanda dariku."

Ucapan itu langsung memancing reaksi. Iqbal yang sejak tadi diam, kini angkat bicara dengan nada tajam. "Dia gak merebut, ingat itu!"

Kamil menoleh cepat, sorot matanya berubah tajam, tapi ia memilih diam. Tangannya mengepal perlahan, menahan emosi yang hampir meluap.

Hakim menghela napas panjang, jelas sudah lelah menghadapi keras kepala adiknya. Ia menatap Kamil dalam-dalam, kali ini tanpa emosi berlebih—justru terdengar lebih dingin.

"Aku sih gak masalah kalau kamu gak mau minta maaf," ucapnya pelan tapi menusuk. "Tapi ya… konsekuensinya kamu masuk penjara."

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.

Tak menunggu jawaban, Hakim langsung berbalik. Langkahnya tegas meninggalkan Kamil yang masih berdiri di tempat, terpaku dengan pikirannya sendiri.

Iqbal ikut menyusul, sempat melirik Kamil sekilas—tatapan yang penuh penilaian, tapi juga sedikit kekhawatiran—sebelum akhirnya ikut pergi.

Pintu tertutup. Dan kini, tinggal Kamil sendiri.

Sunyi. Namun bukan sunyi yang menenangkan—melainkan sunyi yang penuh tekanan.

Kamil menghembuskan napas kasar, lalu mengacak rambutnya frustasi. Bayangan Amanda dan Aldo kembali berputar di kepalanya, bercampur dengan ancaman penjara yang baru saja dilontarkan Hakim.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, Kamil mulai merasa terpojok. Dan kali ini, tidak ada yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.

Pukul sembilan tepat, Kamil sudah berdiri di depan gedung kantor Hakim. Langkahnya mantap, tapi wajahnya masih menyisakan ketegangan. Bayangan dinginnya jeruji besi yang mungkin akan menunggunya… jauh lebih menakutkan daripada sekadar menelan harga diri.

Egonya, untuk kali ini, kalah.

Begitu pintu ruangan terbuka, Hakim langsung mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang dibaca. Tatapannya langsung tertuju pada Kamil yang berdiri di ambang pintu.

"Nah gitu dong… tanggung jawab." ucap Hakim tanpa basa-basi.

Kamil hanya mendengus pelan, lalu melangkah masuk. Tangannya masuk ke saku celana, wajahnya datar, meski jelas ada rasa enggan yang ia tahan.

Hakim berdiri, meraih kunci mobil di meja.

"Kita berangkat sekarang. Jangan sampai telat, sebelum jam besuk kita harus sudah di sana."

Tak ada jawaban. Kamil hanya mengikuti.

Di dalam mobil, suasana begitu hening. Mesin menyala, jalanan mulai ramai, tapi di dalam kabin… hanya ada suara pendingin udara dan sesekali deru kendaraan dari luar. Hakim fokus menyetir, rahangnya sesekali mengeras, sementara Kamil menatap keluar jendela, pikirannya berputar tak karuan.

Tak ada percakapan.

Tak ada yang ingin membuka luka lebih lebar.

Rumah sakit itu berdiri megah dengan aroma khas antiseptik yang langsung menyergap begitu mereka masuk. Langkah kaki mereka menggema di lorong yang bersih dan dingin.

Belum sempat bertanya ke resepsionis, dua sosok sudah berdiri menunggu di depan ruang perawatan.

Tante Leni dan suaminya.

Tatapan mereka langsung tertuju pada Kamil. Udara seketika berubah tegang.

Kamil berhenti sejenak. Nafasnya tertahan. Untuk sesaat, ia tampak ragu.

Namun Hakim menyikut lengannya pelan, seolah memberi isyarat—lakukan sekarang.

Kamil menelan ludah, lalu melangkah maju.

"Saya… minta maaf, Tante," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar datar. Bukan karena tidak serius… tapi lebih karena terpaksa.

Tante Leni menatapnya tajam. Wajahnya jelas menunjukkan kemarahan yang belum padam.

"Maaf?" ulangnya pelan, tapi penuh tekanan. "Kamu hampir mencelakai anak saya, Kamil."

Suaminya berdiri di samping, diam, tapi sorot matanya sama kerasnya.

Kamil menunduk sedikit, tapi tidak benar-benar menunjukkan penyesalan yang dalam. Tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Hakim maju selangkah, mencoba mengambil alih situasi.

"Kami paham kemarahan Tante," ucapnya tenang, terukur. "Dan kami tidak membenarkan apa yang Kamil lakukan. Tapi kami datang ke sini dengan itikad baik."

Tante Leni menyilangkan tangan di dada.

"Laporan itu tidak akan saya cabut. Biar dia belajar tanggung jawab."

Kamil langsung mengangkat wajahnya, tapi sebelum ia bicara, Hakim lebih dulu melanjutkan.

"Kalau laporan tetap dilanjutkan… proses hukum akan berjalan," katanya pelan, tapi penuh makna. "Dan itu bukan hanya berdampak ke Kamil. Akan ada konsekuensi lain yang mungkin tidak menguntungkan untuk semua pihak."

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Tante Leni terdiam. Suaminya melirik sekilas ke arahnya, seolah mulai mempertimbangkan.

"Konsekuensi seperti apa?" tanya suaminya akhirnya.

Hakim menatap mereka bergantian.

"Masalah ini bisa melebar. Nama baik, urusan keluarga, bahkan hal-hal yang mungkin tidak ingin kita bawa ke ranah publik… bisa ikut terseret. Ingat Tan, saat itu Aldo menginap di apartemen wanita yang belum sah jadi isternya."

Hening.

Tante Leni menghela napas panjang. Wajahnya masih keras, tapi kini ada keraguan di sana. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata, "Kalau Aldo setuju… saya akan pertimbangkan."

Hakim mengangguk pelan.

"Kami menghargai itu, Tante."

Di dalam ruang perawatan, Aldo terbaring dengan wajah pucat. Beberapa luka masih terlihat jelas, perban melilit di bagian tertentu. Namun matanya… tetap tajam.

Dingin. Pintu terbuka. Aldo langsung menoleh. Tatapannya bertemu dengan Kamil. Tak ada emosi berlebih. Tak ada amarah meledak. Justru… terlalu tenang. Dan itu jauh lebih menekan.

Kamil berdiri kaku di dekat pintu. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tampak benar-benar kehilangan kata-kata.

Hakim maju lebih dulu, menyapa dengan sopan, lalu menjelaskan maksud kedatangan mereka. Aldo mendengarkan tanpa menyela.

Ketika selesai, ia hanya melirik sekilas ke arah orang tuanya. "Aku ikut keputusan Mama sama Papa," ucapnya singkat.

Tak ada drama. Tak ada tuntutan. Seolah ia benar-benar melepaskan semuanya ke tangan orang tuanya.

Namun sebelum memalingkan wajah, ia sempat menatap Kamil sekali lagi.

Dingin.

Dan penuh arti.

Seolah berkata—ini belum selesai.

Kamil menahan napasnya. Dadanya terasa sesak.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari… masalah ini tidak akan berhenti hanya dengan kata maaf.

1
Rini Hasmira
keren thor
sunaryati jarum
Ananda benar-benar benar tidak punya malu,jika Andra masih mau menerima Ananda berarti dia nggak punya harga diri , hanya sebagai ban serep
sunaryati jarum
Nah gitu Nak Dokter jadi emak terus lanjutin kisah ini,jawabanmu langsung menohok,jika masih punya urat malu segera menyingkir percaya dirimu terjun bebas
sunaryati jarum
Jika sampai Andra jatuh karena godaan Ananda emak berhenti mengikuti kisah Raya
Ma Em
Andra kalau kamu mau balikan sama Ananda berarti kamu bodoh Andra mau saja dipake cadangan , setelah Ananda dibuang sama cinta pertamanya mau kembali pada Andra enak di Ananda bodoh di Andra , kalau emang Andra blm bisa melupakan Ananda jgn dekati Raya karena kasihan Raya nanti akan sakit hati lagi untuk yg kedua kalinya .
falea sezi
masak sama jalang aja. gamon😒
Lee Mba Young
Raya cm pelarian, Dan Andra masih blm move on.
krn Cinta nya Andra sdh hbis pd Ananda Dan sisa nya kl dia sm Raya itu cm melanjutkan hidup atau skedar pelarian 🤣.
Nana Geulise
kakak adik(ananda n amanda) ga ada malunya.urat malunya dah putus.🫢🫢🫢...kok bisa ya kakak adik kelakuannya sama🤔...owh...kan cuma ada di dunia halu😁..mungkin ada x nya🤔.semanggat Author💪
Djuaningsih: lg seru banget brenti
total 1 replies
sunaryati jarum
Agar nanti jika ada ulet bulu nekat kamu jadi tamengnya Ray agar tak bisa menyerang dokter Andra.Sepertinya mantan tidak punya urat malu mau datang..Awas jika Dokter Andra memberikan kesempatan emak berhenti mengikuti kisahmu Ray.Emak tetap berharap kalian berjodoh.Amanah sebagai direktur Nisraya berhasil.
sunaryati jarum
Waah meetingnya diselingi dengan lamaran terselubung ya Dok,semoga memang kalian berjodoh
Lee Mba Young
kl Andra mau balik an ya bodoh lah masak masih mau ma bekas orang lain.
kcuali janda baik baik ok ae, ini dulu masih gadis nyampak an masak sekarang dah bekas pake 4th mau balik an di terima iuhhh jijik banget lah.
falea sezi
klo. tergoda ma ananda🤣 berarti Andra goblok🤣 ada berlian kayak raya malah milih kerikil bekas
Arieee
Andra jangan mau sama sodara nya Mak lampir ya🤧
Ma Em
Andra jgn sampai tergoda lagi sama Ananda ingat Andra dulu sdh dicampa kan sama Ananda cuekin saja Ananda dan pura2 Andra tdk kenal Ananda .
Lee Mba Young: 🤣 kl mau balik an ya bodoh masa dulu jls di campak kan trus sekarang dah bekas pake mau balik an di terima iya ogah lah kl Dr Andra Pinter. kcuali blm move on walau bekas ya masih mau 😄
total 1 replies
Mahmudah Mahmudah178
lanjut thro
Ester Natalia
suka ceritanya
Ester Natalia
ditunggu up nya
Isabela Devi
syukurlah raya bisa pegang butiknya srndiri💪
Ma Em
Alhamdulillah Raya sekarang sdh naik jabatan dari direktur utama , semoga amanah Raya menjalaninya dan makin sukses butik nya .
Ma Em
Semoga Dr Andra segera jadian dgn Rayyan , Thor jgn sampai Ananda yg akan dijadikan model oleh Raya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!