NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetap Tinggal

Malam itu belum benar-benar tenang meski mereka sudah meninggalkan markas Retno jauh di belakang. Jalanan kota yang mulai lengang terasa kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Di dalam mobil, suasana sunyi memenuhi udara. Tidak ada yang benar-benar bicara, seolah masing-masing masih sibuk mencerna apa yang baru saja mereka lalui.

Mobil Zayn melaju lebih dulu di depan.

Aurora masih tertidur di kursi belakang dengan napas pelan dan wajah pucat akibat efek obat bius yang terlalu banyak masuk ke tubuhnya.

Zayn duduk diam beberapa detik sebelum akhirnya berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari Aurora.

“Evan” ucap Zayn.

“Ya, Bos?”

“Lo nyetir.”

Evan sempat melirik lewat kaca depan, sedikit bingung, tapi tetap langsung mengangguk, “Baik.”

Mobil berhenti sebentar di pinggir jalan yang sepi. Zayn turun dari kursi depan lalu masuk ke kursi belakang tempat Aurora berada. Sementara Evan berpindah mengambil alih kemudi.

Rakha yang mengendarai mobil di belakang hanya memperhatikan dari jauh tanpa komentar.

Setelah mobil kembali berjalan, Zayn duduk di samping Aurora. Tatapannya langsung jatuh pada wajah gadis itu.

Aurora terlihat jauh lebih tenang saat tertidur. Berbeda dengan biasanya yang selalu membalas ucapan Zayn atau mengomel pelan saat kesal.

Zayn menghela napas tipis.

Pelan-pelan ia mengangkat kepala Aurora lalu memindahkannya ke pahanya dengan hati-hati, menjadikan pahanya sebagai bantal agar Aurora bisa tidur lebih nyaman selama perjalanan.

Tangan Zayn bergerak pelan merapikan rambut Aurora yang sedikit berantakan.

“Nyusahin…” gumamnya lirih.

Tapi nada suaranya sama sekali tidak terdengar kesal.

Mobil terus melaju membelah malam.

Beberapa menit kemudian, Aurora mulai bergerak pelan.

Alisnya berkerut kecil. Napasnya berubah sedikit berat sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan.

Pandangan Aurora masih buram. Ia mengerjap beberapa kali sambil mencoba memahami keadaan sekitarnya.

Aurora langsung tersentak kecil saat sadar kepalanya berada di atas sesuatu yang hangat.

Dan saat menoleh sedikit ia melihat Zayn.

Aurora langsung mencoba bangun.

Namun baru saja tubuhnya tegak duduk, rasa pusing luar biasa langsung menyerang kepalanya.

“Ugh…” Aurora memegang pelipisnya pelan.

Pandangan di depannya kembali berputar.

Zayn langsung menahan bahu Aurora sebelum gadis itu jatuh ke samping, “Jangan berdiri dulu.”

Aurora mengernyit pelan, “Kepala aku…”

“Efek obat bius” balas Zayn.

Aurora mencoba membuka matanya lebih lebar, tapi rasa pusing itu masih terasa berat.

Ia samar-samar mengingat gudang kosong, Retno, lalu suara tembakan.

Aurora langsung menoleh cepat, “Pak Retno…”

“Udah selesai” jawab Zayn singkat.

Aurora masih terlihat bingung. Napasnya belum sepenuhnya stabil.

Zayn menatap wajah pucat Aurora beberapa detik sebelum akhirnya menarik pelan tubuh gadis itu agar kembali berbaring, “Tidur lagi.”

Aurora mencoba menolak pelan, “Aku nggak apa-apa…”

“Flora.” ucap Zayn. Nada suaranya rendah, tapi tegas.

Aurora terdiam. Ia merasa tubuhnya memang masih lemas.

Akhirnya Aurora kembali merebahkan kepalanya di paha Zayn, meski kali ini wajahnya sedikit memerah karena malu.

Zayn memperbaiki posisi kepala Aurora agar lebih nyaman.

Aurora menatap ke arah jendela mobil beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku ngerepotin ya…”

Zayn langsung menjawab tanpa berpikir panjang, “Iya.”

Aurora langsung menoleh kesal meski masih lemas.

Tapi sebelum ia sempat protes, Zayn melanjutkan dengan nada lebih pelan, “Tapi aku nggak masalah.”

Aurora terdiam. Jantungnya berdetak aneh mendengar kalimat itu.

Suasana kembali hening.

Hanya suara mesin mobil yang terdengar memenuhi perjalanan malam itu.

Sementara di mobil belakang, Rakha menyetir dengan satu tangan sambil sesekali menatap mobil Zayn di depannya.

Wajahnya masih penuh luka. Sudut bibirnya lebam. Tangannya juga masih sedikit berdarah akibat pertarungan tadi.

Namun dibanding rasa sakit fisik, pikirannya jauh lebih kacau.

Sepuluh tahun kebencian. Dan semuanya ternyata salah.

Rakha mengusap wajahnya kasar sambil menghela napas panjang.

“Brengsek…” gumamnya pelan.

Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil Zayn memasuki area rumah mewah miliknya.

Gerbang besar terbuka otomatis.

Mobil masuk perlahan hingga berhenti tepat di halaman depan rumah.

Evan turun lebih dulu.

Rakha juga baru memarkir mobilnya beberapa meter di belakang.

Begitu pintu mobil belakang terbuka, Zayn langsung mengangkat tubuh Aurora dengan hati-hati.

Aurora sempat membuka mata sedikit, “Kita di mana…?”

“Rumahku” jawab Zayn singkat.

Aurora tidak sadar dengan jawaban Zayn.

Beberapa detik kemudian aurora akhirnya sadar dengan jawaban Zayn, “Hah?!”

Tapi rasa pusing kembali menyerang sebelum ia sempat protes lebih banyak.

Zayn menahan tubuh Aurora lebih erat agar tidak jatuh, “Diam dulu kalau nggak mau jatuh.”

Aurora akhirnya menyerah sambil memejamkan mata pelan.

Mereka masuk ke dalam rumah besar itu dengan langkah cepat.

Rakha berjalan di belakang sambil memperhatikan keadaan sekitar rumah Zayn.

“Rumah lo masih semewah dulu” komentar Rakha pelan.

Zayn tidak menjawab.

Begitu masuk, beberapa pelayan langsung terlihat panik melihat kondisi mereka yang penuh luka.

“Panggil Dokter Hans. Sekarang” perintah Zayn dingin.

Salah satu pelayan langsung mengangguk cepat dan pergi.

Aurora akhirnya dibawa masuk ke salah satu kamar tamu besar di lantai dua.

Zayn merebahkan Aurora perlahan di atas ranjang.

Aurora langsung memejamkan mata lagi karena tubuhnya masih terasa berat.

Tak lama kemudian, dokter pribadi keluarga Zayn datang dengan koper medis di tangannya.

Pria paruh baya itu sempat terdiam melihat jumlah orang yang terluka malam itu.

Tatapannya bergantian antara Zayn, Rakha, Evan, dan Aurora.

“Kalian habis perang?” gumamnya Hans pelan.

Rakha tertawa kecil meski bibirnya sakit, “Kurang lebih.”

Dokter Hans menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai memeriksa Aurora lebih dulu.

Zayn berdiri tidak jauh dari ranjang sambil memperhatikan setiap gerakan dokter itu.

“Dia terlalu banyak menghirup obat bius” ucap Dokter Hans.

Zayn langsung menegang sedikit.

“Tapi untungnya belum sampai merusak organ tubuhnya. Dia cuma perlu istirahat total beberapa hari” lanjut Hans.

Sebagian beban di dada Zayn perlahan menghilang.

Dokter Hans kemudian mulai membersihkan luka kecil di tangan Aurora akibat ikatan tadi.

Aurora meringis pelan meski matanya masih tertutup.

Refleks, Zayn langsung menggenggam tangan Aurora agar gadis itu tidak terlalu kesakitan.

Dan tanpa disadari Rakha melihat semuanya. Tatapannya bergeser pelan antara Zayn dan Aurora. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Lo beneran suka ya sama dia…” gumam Rakha pelan.

Zayn langsung menoleh tajam, “Diem.”

Rakha malah tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.

Dan anehnya, suasana terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.

Namun di sisi lain rumah itu, Lynda berdiri sendirian di lorong lantai bawah sambil membersihkan darah kecil di tangannya.

Tatapannya perlahan naik ke arah lantai dua. Ke arah kamar Aurora berada.

Wajah cantiknya tetap tenang. Tapi sorot matanya perlahan berubah gelap, “Menyusahkan…” gumamnya pelan.

Lalu ia berjalan pergi tanpa suara.

Dan tanpa disadari siapa pun malam itu. Benih masalah baru perlahan mulai tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!