Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasien gawat darurat : 03
Intan Rasyid langsung menyambar hijab instan warna khaki, lalu keluar dari dalam kamar rumah dinas yang mana ditempati oleh dirinya dan dua orang perawat wanita belum menikah.
Gerakan bidan desa itu cepat, baginya menolong orang sakit harga mati, mau apapun kesibukan, suasana hatinya, akan dikesampingkan dahulu.
Ayunan kaki Intan tergesa-gesa keluar dari dalam rumah berjarak lima belas meter dari klinik kesehatan.
Ketika tiba di teras puskesmas, napasnya terengah-engah, saat masuk ke bagian dalam, wajahnya langsung memerah melihat senyum mirip Kuda meringis.
“Kali ini, apa keluhanmu, Anggara Pangestu?!” bentaknya kesal.
Yang dihardik memasang ekspresi memelas, dia mengacungkan jari telunjuknya. Berbicara dengan nada dilembut-lembutkan. “Tanganku kejepit pintu, bu bidan.”
Amarah Intan sedikit mereda, dia merasa bersalah karena salah terka dan langsung naik pitam. Didekatinya sang pria, ditelitinya jari telunjuk yang kukunya memerah ada penggumpalan darah pada bagian tengah.
"Ini kukunya harus dicabut pakai tang, kalau tidak ... bisa infeksi, berakhir jarimu diamputasi,” ucapnya ringan, efeknya membuat wajah nelangsa itu berganti horor.
"Macam mana bisa akibat setitik darah, jariku jadi korban?” Diliriknya sisi wajah samping si wanita. ‘Kalau kutarik satu helai bulu matanya, dia marah tak, ya?’
"Jangan berpikiran aneh-aneh!” Intan memicingkan mata, mencoba mengintimidasi Anggara yang melihatnya bak makanan lezat.
“Ya, ketahuan. Sepertinya kita sehati, bisa komunikasi bahasa kalbu. Terus terkoneksi lewat tatapan mata, ya tak segenap jiwaku?” Mata kanannya mengedip.
Intan menepis jari telunjuk masih teracung, lalu mendengus, melengos.
“Auh … Kau datang dan pergi sesuka hatimu. Oh, kejamnya dikau, teganya dikau pada _”
“Sebelum kepalaku keluar tanduk Setan, cepat kemari!” Intan duduk di bangku berjejer terdapat dua buah meja, mengambil kotak p3k di dalam laci.
Anggara langsung berlari bak anak kecil mau diberi permen, duduk sambil menumpukan kaki, siku kanan menyanggah pipi. Tak sungkan-sungkan dipandanginya wajah memerah bukan karena salah tingkah, melainkan menahan amarah. Setiap lirikan maut dibalas senyum lebar.
“Jangan keras-keras, ahh _
“DIAM!” Intan menekan jari telunjuk Anggara, perasaannya kesal bukan main. “Daripada kau drama tiap malam terluka demi bisa datang kemari, kenapa tak kau pinta aku menjahit bibirmu yang asal ucap itu?”
"Janganlah permata hati Abang, nanti tak lagi bisa diri ini merayu, terlebih takutnya bila mencium – rasanya jadi berbeda. Mari kita bayangkan _”
"Tak mau!” Intan memukul jari telunjuk pria tidak punya rasa malu. “Sana pulang! Jangan lupa minum obat antipsikotik.”
Kedua tangan Anggara menyanggah dagu. “Obat apa itu? Dimana belinya?”
Intan bersandar pada kepala bangku, memandang licik netra hitam legam. “Fungsinya menyeimbangkan zat kimia otak, meredakan halusinasi, pikiran tidak wajar, dan perilaku agresif.”
“Dari keterangannya, kok mirip obat orang gila?” Anggara garuk-garuk kepala.
“Memang.” Intan mengangguk singkat. “Kau ini dah mirip orang tak waras, sebetulnya sudah cocok berobat ke psikiater.”
"Iya kah? Berarti ada kemajuan lah.” Ia sumringah. “Kapan hari kau bilang, tak tahu apa penyakitku, sampai bingung sendiri. Sekarang sudah bisa mendiagnosis. Wah wah … calon ibu anak-anak kita semakin hari bertambah hebat.”
Saking geramnya, Intan berdiri dan menarik rambut keriting masih lembab. “Lama-lama aku yang gila menghadapimu!”
"Hahahaha … cocok lah kita, Dek. Sama-sama gila, pas sekali. Pasangan serasi.” Dia malah menikmati jambakan tidak terlalu kuat.
Intan melepaskan genggamannya, lalu berteriak sampai pasien dirawat pada kamar paling ujung terkejut. “SAWAH!!”
Sarwanto masuk, wajahnya menahan malu luar biasa, gesture nya antisipasi, dan sorot mata waspada.
“Kau urus tuan mu ini! Kerangkeng dia biar tak berkeliaran malam hari!” Dadanya naik-turun. Menghadapi Anggara Pangestu memang se-melelahkan itu.
'Masalahnya, saya hanya bawahannya, bu bidan. Sedangkan orang tuanya saja sudah angkat tangan,’ Sarwanto tidak mampu berkata langsung, berjalan mendekati bos nya.
“Juragan muda_”
“Arwah. Kau pulang sana! Ambil tikar, bantal, kasur lantai, selimut, bawa kemari. Malam ini kita menginap disini. Setelah mendengar jeritan manja Intan permataku, mata ini jadi ngantuk. Padahal tadi sulit sekali terpejam nya.” Sisi wajahnya menempel di atas meja, kedua tangan terentang, dia mengetuk-ngetuk permukaan datar.
"Astaghfirullah. Lama-lama aku bisa masuk surga lewat jalur istighfar.” Intan memejamkan mata.
Anggara langsung menegakkan badan. “Bagus lah tu. Kau harus pertahankan aku, sebab diriku tiket ke surgamu.”
Intan kehabisan tenaga, melengos begitu saja sambil menggerutu dan melirik tajam asisten Anggara Pangestu.
Sarwanto berdiri tepat di samping bos nya, berkata dengan nada membujuk. “Juragan muda, ini sudah malam. Besok lagi mainnya. Masih banyak waktu buat ganggu bu bidan.”
Irda, sang perawat yang tadi berteriak memanggil Intan Rasyid, tertawa kencang tidak lagi sanggup mengerem mulut. Dia cepat-cepat keluar dari sana.
Malas-malasan Anggara beranjak. “Bunda aku nak kawin.”
Sarwanto cuma bisa membatin, sangat sabar mengikuti langkah persis orang mabuk.
Anggara tak langsung pulang, melainkan duduk di batas teras, mengayun-ayunkan kedua kaki seraya menatap bangunan rumah minimalis. “Arwah, katamu di perkebunan kita sering dimasuki ninja sawit, kan? Sesekali kau intai mereka, terus foto diam-diam. Aku mau meniru pakaian, cara jalan, agar bisa juga mengendap-endap masuk kamar kecintaanku itu.”
Sang asisten ikut lesehan di teras, bukan ingin menanggapi obrolan aneh tuan nya, melainkan meratapi nasib malangnya.
***
Akhir pekan pun tiba, jam kerja Intan Rasyid selesai pada pukul satu siang. Dia mengajukan cuti tiga hari setelah tiga bulan tidak ada pulang ke kampungnya.
Ibu dan ayahnya terus saja meneror lewat chat, panggilan telepon maupun video. Belum lagi adik dan para sepupu serta paman, bibi.
Helaan napas terdengar kasar, wajahnya muram. Bukan tak senang bertemu para orang tersayang. Namun, masih enggan pulang. Ada sesuatu yang dihindarinya, membuatnya memilih keluar dari kampung kelahiran.
Sebuah mobil hitam mewah Toyota Land Cruiser keluaran dua tahun lalu memasuki halaman puskesmas. Intan mengangkat tangan memberi kode kepada si pengemudi jangan keluar ataupun buka jendela.
Bukan hal aneh, memang dia tidak suka kehidupan pribadinya di korek, dijadikan bahan gosip, meskipun tetap saja dia bintang di antara para bidan serta perawat.
Memiliki wajah cantik, lekuk tubuh indah walaupun tertutup sempurna oleh busana muslimah satu size lebih longgar, dan berhijab, tak lantas kecantikannya ikut tersembunyi.
Intan mendapatkan julukan kembang desa, memiliki daya tarik tersendiri. Membuat para kaum adam sering mencuri-curi pandang kala mengantarkan saudara mereka berobat.
“Cie … yang dijemput calon suami,” goda Irda, rekan sejawatnya Intan. "Sesekali kenalkan ke kami lah, bu bidan."
Intan menyeletuk, menatap jenaka temannya. “Tak mau lah, takut kali aku kena tikung. Selain tampan, calon suamiku tu beruang.”
Irda mencebik lalu terpingkal-pingkal, dia membalas lambaian tangan sang bidan yang sudah berjalan mendekati mobil.
Diseberang jalan, seseorang menggunakan helm full face, naik motor trail, mengamati mobil hitam.
Intan membuka pintu mobil, langsung saja di sindir halus oleh sebuah suara rendah.
“Aku sudah mirip selingkuhan, tak pernah diperbolehkan keluar setiap menjemputmu pulang. Sebenarnya kau sayang tak denganku?”
.
.
Bersambung.
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣
legaaaaa meskipun belum tuntas kecewaku,,
setidaknya keluarga besar sudah otw ke hunian ayah tua