NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Perdebatan kecil

Sinar matahari menembus sela-sela gorden di kamar utama. Di atas ranjang utama, dua makhluk berbeda gender terlihat masih sibuk dengan dunia mimpi mereka berdua. Suara kicauan dan cahaya dari luar seakan-akan tidak menganggu tidur mereka berdua.

Gaharu dan Laura, terlihat sangat nyaman tertidur dengan posisi yang masih sama, saling memeluk. Namun sekarang berbanding terbalik. Jika malam tadi Gaharu yang memaksa Laura dan menarik Laura pada kungkungan nya. Pagi ini, terlihat Laura yang memeluk Gaharu erat.

Tangan yang memeluk bagian atas Gaharu, dan kakinya terlihat menindih kaki Gaharu, melilitnya dengan erat layaknya sebuah guling.

Gaharu mengerjakan matanya saat merasakan beban di tubuhnya. Pria itu menghela napas pendek, membiarkan dadanya naik turun dengan teratur agar tidak mengejutkan gadis yang masih terlelap nyaman di pelukannya. Sudut bibirnya berkedut samar, membentuk senyuman tipis yang hampir tidak terlihat ketika ia menyadari betapa ironisnya situasi ini. Semalam, gadis ini bertingkah seolah-olah ia adalah monster yang harus dihindari, namun pagi ini, Laura justru memperlakukannya seperti guling kesayangan.

Gaharu mencoba menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan kaki Laura yang membelit kakinya. Namun, kaki kecil istrinya itu justru semakin mengencang, juga samar-samar ia mendengar gumaman halus dari bibir Laura yang mengerucut kecil.

Gaharu menurunkan pandangannya, menatap wajah polos Laura yang tampak begitu tenang saat tidur. Tanpa sadar, tangannya bergerak naik, menggunakan ujung telunjuknya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi kening dan pipi gadis itu. Kulitnya terasa halus dan hangat.

“Katanya ingin membuat batasan,” bisik Gaharu, suaranya terdengar sangat serak khas orang yang baru bangun tidur, bergema rendah di keheningan kamar. “Tapi sekarang kamu sendiri yang melanggarnya, Laura.”

Mendengar suara berat yang bergetar di dekat telinganya, Laura melenguh pelan. Ia mengesekkan hidungnya ke dada bidang Gaharu, mencari posisi yang lebih nyaman tanpa membuka mata. Aroma maskulin yang semalam sempat membuatnya panik, kini justru terasa seperti candu.

Gaharu terkekeh sangat tipis, sebuah suara langka yang hampir tidak pernah terdengar dari bibir seorang Gaharu yang dingin. Ia menepuk-nepuk bahu Laura dengan pelan, mencoba membangunkan sang istri dari tidur nyenyaknya.

“Apa kamu sangat nyaman memelukku? Matahari sudah naik ke atas,” ucap Gaharu, nadanya datar namun ada sedikit nada usil yang terselip di sana.

Mendengar pertanyaan usil yang dibisikkan tepat di atas kepalanya, kesadaran Laura yang masih mengambang di alam mimpi mendadak ditarik paksa ke realita. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali, berusaha menghalau rasa kantuk dan silau dari cahaya matahari yang menerobos masuk.

Hal pertama yang indra penciumannya tangkap adalah aroma maskulin yang begitu pekat. Dan hal pertama yang matanya lihat setelah matanya terbuka sempurna adalah hamparan kain kaus abu-abu yang membungkus dada bidang seseorang.

Dada itu bergerak naik turun dengan teratur, tepat di depan hidungnya.

Laura mengerutkan kening, otaknya yang masih loading mencoba memproses situasi. Ia merasakan tangannya melingkar erat di bagian atas tubuh Gaharu, dan yang lebih parahnya lagi, kakinya dengan sangat tidak tahu diri telah mengunci kaki pria itu, melilitnya erat seolah takut kehilangan.

Tunggu..

Deg!

Kesadaran penuh menghantam Laura bagai disengat listrik. Matanya membelalak sempurna.

“Arkhhhh!” teriak Laura tertahan.

Dengan gerakan secepat kilat, ia menarik tangan dan kakinya menjauh, mencoba berguling mundur hingga kembali ke ujung ranjang, persis seperti posisinya semalam. Wajahnya yang semula putih bersih instan berubah menjadi merah padam, bahkan lebih merah dari kepiting rebus semalam.

“K-kenapa... kenapa aku bisa tidur seperti itu?” Laura tergagap, suaranya naik satu oktaf. Tangannya menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk Gaharu dengan panik. “Su-suami.. Kamu! Kamu pasti sengaja menarikku lagi saat aku ketiduran, 'kan? Sengaja agar aku.. agar aku terlihat seperti...”

“Seperti apa?” potong Gaharu tenang.

Pria itu menarik tubuhnya dengan susah payah agar bersandar pada kepala ranjang. Matanya menatap tenang pada Laura yang sedang di landa kepanikan.

“Ingatanmu sepertinya pendek sekali, Laura. Semalam aku memang menarikmu ke tengah kasur karena kamu hampir jatuh,” ucap Gaharu, suaranya yang serak khas bangun tidur terdengar begitu sialan seksi di telinga Laura. “Tapi posisi mengunci kaki, memelukku sangat erat, dan mendusel di dadaku tadi pagi... itu murni perbuatanmu sendiri.”

“T-tidak mungkin! Aku tidak pernah tidur se-agresif itu!” bantah Laura keras, meskipun di dalam hatinya ia mulai ketakutan karena ia tahu persis kebiasaan buruknya yang tidak bisa tidur tanpa memeluk guling. Dan semalam, Gaharu telah membuang gulingnya ke lantai.

'Sial! Ini semua karena gulingku dibuang!' rutuk Laura dalam hati, menyalahkan benda empuk yang kini tergeletak tak berdaya di lantai kamar sebagai kambing hitam.

Gaharu melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapan mengintimidasi yang khas itu kembali hadir, membuat Laura kembali merasa tidak nyaman.

“Jika kamu tidak percaya, aku bisa berikan bukti berupa video kamu yang sangat nyaman berada di pelukanku,” ucap Gaharu santai, namun sukses membuat Laura ingin menenggelamkan wajahnya ke bawah bantal saat itu juga.

'Apa pria itu sudah gila? Untuk apa merekam video saat aku tertidur! Benar-benar mesum!'

Kenyataannya, Gaharu tidak merekam video menggunakan ponsel, tetapi menggunakan CCTV yang memang berada di kamar ini yang otomatis tersambung pada ponselnya. Ia hanya ingin menakut-nakuti Laura saja. Melihat wajah panik dan merahnya, membuat Gaharu terhibur.

“Jadi, siapa sekarang yang tidak konsisten dengan kata 'batasan', hmm?” pancing Gaharu lagi, nadanya terdengar sangat menikmati kemenangan mutlak ini.

Laura menggigit bibir bawahnya erat-erat, meremas ujung selimut tebal untuk meluapkan kekesalannya. Kamar yang pendingin ruangannya masih menyala itu mendadak terasa begitu gerah dan menyesakkan baginya.

“I-itu refleks tubuh! Respons bawah sadar karena gulingku dibuang!” bela Laura dengan suara yang mencicit di akhir kalimat, mencoba mencari pembelaan yang terdengar logis. “Lagipula, kalau kamu tahu aku memelukmu... kenapa tidak membangunkanku atau menyingkirkan kakiku dari tadi? Kamu sengaja, 'kan?”

Gaharu tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya kembali terangkat amat tipis, memperhatikan bagaimana Laura mati-matian membalikkan kesalahan padanya demi menyelamatkan harga diri yang sudah runtuh.

Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Laura yang masih bergetar panik.

“Kenapa tidak aku singkirkan?” Gaharu mengulang pertanyaan itu dengan nada rendah, sengaja memberi jeda yang membuat jantung Laura berdegup dua kali lebih cepat. “Mungkin karena... kurasa sesekali memanfaatkan 'kehangatan' dari istriku sendiri bukan sebuah pelanggaran batasan yang serius, bukan?”

Laura tersedak ludahnya sendiri. 'Memanfaatkan? Kurang ajar sekali.'

“K-kamu..” Laura menunjuk Gaharu dengan jari telunjuknya yang bergetar. "Kamu benar-benar licik ya, Suami! Memanfaatkan situasi dalam kesempitan!"

“Aku tidak memanfaatkan situasi, Laura. Aku hanya menerima,” sahut Gaharu dengan ekspresi terlampau tenang, seolah-olah tindakannya membiarkan Laura menjadikannya guling adalah tindakan paling mulia di dunia.

Gaharu mengalihkan pandangannya. Ia meraih ponselnya, kembali ingin menakut-nakuti Laura. “Dan soal video..” Gaharu sengaja menggantung kalimatnya, melirik sekilas ke arah sudut atas ruangan tempat kamera pengawas tersembunyi berada.

Belum sempat Gaharu melanjutkan ucapannya, Laura sudah memotong dengan cepat.

“Hapus! Pokoknya hapus!” tuntut Laura panik, mengabaikan fakta bahwa wajahnya sudah sewarna dengan kepiting rebus yang matang sempurna. Ia merangkak sedikit mendekat, menepis rasa takutnya demi memohon perlindungan privasinya yang terancam. “Suami, kamu tidak boleh mesum begitu! Itu melanggar hak privasi tahu!”

Melihat Laura yang mulai berani mendekatinya dengan wajah panik yang menggemaskan, Gaharu tidak bisa menahan dengusan gelinya. Pria itu menggoyang-goyangkan benda persegi itu dengan mata yang fokus menatap Laura.

“Tergantung,” sahut Gaharu santai. “Tergantung bagaimana sikapmu malam nanti. Kalau kamu masih berniat tidur di kasur kecil itu...”

“Iya! Iya, aku tidur di sini!” potong Laura cepat, nyaris berteriak karena telanjur frustrasi. Persetan dengan benteng pertahanan, yang penting reputasinya di depan pria datar ini tidak hancur lebur jika video itu sampai disimpan selamanya. “Aku tidak akan tidur di kasur kecil itu! Puas!”

“Bagus. Pegang ucapanmu, Laura,” ucap Gaharu tegas, seolah baru saja memenangkan sebuah negosiasi bisnis bernilai miliaran.

***

Rabu, 20 Mei 2026

Published : Rabu, 20 Mei 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!