bagaimana mungkin aku lupa dengan masa itu, bagaimana mungkin aku lupa dengan kenangan kisah cinta kita, yang kita jalin bertahun tahun lamanya, dan tidak pernah ku sangka kisah kita berakhir dengan pengkhianatan yg sadis, kau balas cinta dan pengorbanan ku dengan luka yg begitu hebat, hingga luka itu merubah ku menjadi bukan diriku, hari hari ku di penuhi rasa dendam, hingga muncul niat dalam pikiran ku untuk membunuh mu, namun takdir berkata lain.
aku nyaris kehilangan akal sehat, dan hampir gila dengan alur cerita hidup ku, hingga aku kehilangan arah tujuan hidup ku, sampai pada suatu hari tuhan menghadirkan se orang wanita yg menyadarkan ku, dan menyelamatkan hidup ku, dia merubah hidup ku menjadi berarti, dan bangkit meraih mimpi ku, hingga tuhan mempersatukan ku dengan dia, dan tuhan menganugrahkan kebahagiaan yg luar biasa tak pernah ku rasakan dalam hidup ku bersama dia sebelumnya.
dan kau lah jawaban doa dalam hati ku. HANUM RUSYDAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perkelahian
*Waktu terus berjalan...*
Keesokan harinya, pulang sekolah, saat aku di parkiran, baru saja mau naik vespa untuk pergi pulang, tiba tiba Dony datang menghampiriku.
“Sat, gue nebeng Sat,” katanya.
“Lah, tumben? Motor loe ke mana emang?” tanyaku heran.
“Motor gue rusak, lagi di bengkel,” jawabnya lesu.
“Ya udah, ayo naik,” tawarku. Dony pun naik ke motorku, aku berboncengan denganya, dan pergi berangkat pulang.
Belum jauh melaju keluar dari gerbang sekolah, kami melihat kerumunan teman-teman sekolah kami. Entah mereka sedang apa, mereka terlihat ramai.
“Lagi pada ngapain mereka, Don?” aku penasaran.
“Nggak tau. Samperin yuk ah, Penasaran gue,” jawab Dony.
“Yuk,” aku mengangguk. Kami pun melajukan vespa mendekati kerumunan itu. Aku dan Dony turun dari motor dan berjalan ikut nimbrung ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku dan Dony menerobos kerumunan. Di tengahnya, siswa yang terkenal sok jagoan di sekolah kami sedang berorasi dengan nada tinggi. Aku nggak paham apa masalahnya, karena nggak tahu awal mulanya.
“shutt,, ada apaan sih ini rame-rame?” tanyaku ke salah satu teman yang ikut nimbrung.
“Biasa lah, anak sekolahan tetangga bikin ulah lagi, Ngerasa paling hebat,” jawabnya ketus.
“Kita nggak bisa biarin harga diri kita diinjek-injek! Kita bukan pengecut, kita bukan banci! Hari ini kita buktiin ke mereka siapa yang paling hebat! Kita jangan diem aja, kita harus kasih mereka pelajaran!” teriak si sok jagoan itu berapi-api. Teman-teman yang lain ikut tersulut. Sementara aku dan Dony cuma saling pandang.
“Pelajaran? Emang di sekolahan mereka nggak ada pelajarannya ya?” celetuk Dony polos.
“Ya bukan gitu maksudnya Don!” aku menyikut lengannya.
Si sok jagoan itu lalu mengomando semua temannya untuk bersiap. Katanya mau tawuran di tempat yang sudah dijanjikan sama anak sekolah tetangga.
“Kita ikut nggak, Don?” tanyaku ragu.
“Ah, ngapain ikut, Nggak jelas. Udah yuk ah kita cabut pulang,” Dony .
“Ya udah deh,” aku.
Kami pun berbalik, berjalan menuju vespa-ku. Baru mau naik, tiba-tiba teriakan lantang menghentikan langkah kami.
“WOYY! MAU PADA KE MANA LOE? MAU PADA PULANG? TAKUT LOE PADA? DASAR PENGECUT! BANCI LOE! BESOK LOE SEKOLAH PAKE ROK AJA, PECUNDANG!” Si sok jagoan itu menunjuk kami. Seketika teman-teman yang lain menertawakan aku dan Dony.
Aku langsung naik emosi. Aku nggak terima dikatain begitu. Tanpa banyak kata, aku melangkah maju menghampirinya.
“Maksud loe apa, hah? Ngomong gitu?” ucapku, menatap tepat di matanya.
“Gue nggak takut. Gue bukan pecundang!” kataku tegas. Dia malah mendorong dadaku.
“Apa loe, hah? Loe berani sama gue, hah?” tantangnya.
“Bangsat... gue nggak takut sama loe! Ayo kalau mau berantem, ayo!” balasku emosi. Dony langsung menahan kami, memisahkan.
“Kalau loe emang berani, kalau emang loe bukan pecundang, loe ikut gue! Buktiin kalau loe bukan pecundang!” tantangnya lagi.
“OK, GUE IKUT!” jawabku dengan geram.
Dan akhirnya, aku dan Dony ikut rombongan mereka ke lokasi tawuran yang sudah dijanjikan. Sesampainya di sana, di sebuah jalanan sepi, si sok jagoan berjalan paling depan dengan gagah. Aku dan Dony mengapitnya. Kami bertiga di barisan terdepan.
Musuh belum datang. Aku berdiri tegap, menahan degup jantung yang makin kencang, menanti kedatangan musuh.
Tak lama, mereka datang. Jumlahnya jauh lebih banyak dari kami. Wajah mereka sangar-sangar. Tapi aku coba tegar. Temanku bilang, sesuai perjanjian, nggak ada yang boleh bawa senjata tajam. Beberapa dari Kami cuma bawa balok kayu saja.
Mereka berhenti beberapa meter di hadapan kami. Ketua mereka tinggi, hitam, kusam, dengan wajah sangar yang bikin nyali ciut.
Kami saling tatap. Si sok jagoan maju selangkah ke depan, lalu berteriak, “Eh, Malika! Kedelai kacang hitam! Inget loe perjanjian kita! Kalau ada di antara kita yang curang atau bawa senjata tajam, itu dinyatakan kalah! Inget itu!”
Tapi bukannya tegang, si Malika malah ngakak.
“Anjing, malah ketawa lagi loe, Item! Ngeledek nih orang! OK, KITA SERANG SEKARANG! MAJUUUUUU!” teriak temanku, memberi komando.
Tapi... hening. Nggak ada satu pun yang bergerak atau menyahutnya.
Aku, Dony, dan si sok jagoan refleks menoleh ke belakang. Kosong. Nggak ada siapa-siapa, Pasukan kami yang tadi di belakang... kabur semua Entah ke mana. Kami bertiga saling tatap, bengong.
Musuh di depan tertawa terbahak-bahak melihat kami.
“Sialan! Jangan takut! Meskipun kita cuma bertiga, kita lawan mereka! Kita buktiin siapa kita!” geram si sok jagoan sambil menggenggam erat balok kayunya.
“Emang kita siapa?” tanya Dony polos. Aku langsung nepuk jidat.
“Kita adalah pria punya selera!” jawab si sok jagoan mantap.
“Kebanyakan ngomong, Nih kita jadi nyerang nggak nih?” potongku nggak sabar.
“JADI!” ucapknya dengan geram.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, dia lari sendirian ke arah musuh sambil teriak berkata kasar. Aku dan Dony melongo. Pas udah deket, dia malah hanya melempar balok kayunya, terus putar balik dan kabur kocar-kacir menyelamatkan diri. Baloknya cuma jatuh di depan kaki Malika.
Aku dan Dony cuma bisa bengong ngeliat tingkah konyolnya.
Kini tinggal aku dan Dony.
Malika menyeringai, lalu memberi aba-aba dengan tangannya. Seketika pasukannya lari menyerbu kami berdua.
“Nih kita gimana Sat...?” suara Dony bergetar ketakutan.
“Pake nanya lagi! LARI BEGOOO!” teriakku dan langsung lari. Kami langsung lari sekencang-kencangnya.
Aku di depan, Dony di belakang. Kami lari pontang-panting menyelamatkan diri, dony kalah cepat berlari olehku, hingga ia tertinggal di belakang
Tiba-tiba, _bruk!_ kaki Dony tersandung dan jatuh. Aku menoleh ke belakang melihatnya terjatuh, Jarak musuh makin dekat. “Don, bangun! Lari, Don!” teriakku panik. Dony merintih kesakitan, ia mencoba bangkit. “Sat, tungguin gue!” teriaknya.
Dia berhasil berdiri, tapi larinya pincang. Pelan. Terlalu pelan. Detik berikutnya, gerombolan itu berhasil menangkapnya. Dony langsung dikeroyok, dipukuli tanpa ampun.
Melihat sahabatku dihajar di keroyok di depan mata, darahku mendidih. Nggak peduli jumlah mereka puluhan, aku nggak bisa diam. Aku putar balik, lari ke arah Dony.
“Lepasin dia, ANJING!” teriakku sambil menghajar siapa saja yang ada di depanku. Satu, dua orang jatuh. Tapi mereka terlalu banyak. Pukulan datang dari segala arah.
_BUGH!_
Dunia berputar. Balok kayu menghantam kepalaku keras sekali. Basah, Darah segar mengalir deras dari pelipisku, memburamkan pandanganku. Lututku lemas.
Aku jatuh terkapar di aspal. Suara teriakan, pukulan, dan tawaan mereka perlahan menghilang. Gelap.
Hal terakhir yang kurasakan adalah aspal yang hangat di pipiku, dan nama Dony yang nggak sempat ku ucapkan.
Lalu... semua gelap.
Sementara itu, Dony menatapku yang terkapar tak sadarkan diri. Darah membasahi aspal jalanan. Dia memanggil namaku dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, _DOR DOR_ Suara tembakan ke udara memecah keributan. Polisi datang. Gerombolan yang mengeroyok kami langsung bubar, lari tunggang-langgang menyelamatkan diri.
terimkasih.