Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Raja melenguh kesal saat melihat telpon yang sudah di matikan oleh Della, ia sama sekali tidak berniat untuk datang ke pertemuan tim basket mereka sore ini, alangkah bagusnya ia duduk menonton televisi di hari libur seperti ini.
"Ngeselin banget," uajar nya yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Terlihat Clara yang sedang duduk di ruang keluarga, menonton televisi sambil menikmati cemilan.
Raja melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, mengambil tempat duduk tepat di samping Clara, ia tau Clara sedang marah karena dirinya tidak mengijinkan Clara ikut dengan sang papa, kini seharusnya Raja hanya memikirkan bagaimana caranya mengembalikan mood Clara agar mau bicara lagi dengan nya.
"Gue mau keluar sore ini, Lo mau ikut gak?" Sambil ikut mencomot cemilan, ia mulai memecahkan keheningan.
Clara berhenti mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya kemudian melirik ke arah Raja.
"Keluar? Kemana?" Terlihat Clara yang menjawab dengan sedikit antusias.
"Kalau mau ikut ya ikut aja, gak perlu tau tempatnya di mana, nanti juga Lo bakalan tau sendiri, daripada sendiri di rumah gue khawatir Lo bakal kemana-mana tampa pengawasan gue,"
"Yaudah sih, iya ikut," patuh Clara.
Meskipun rasanya cukup malas pergi keluar bersama Raja yang menyebalkan, namun tingal sendiri di rumah bukan lah hal yang menyenangkan bagi Clara.
Singkat cerita, beberapa jam pun berlalu, kini jarum pendek di jam sudah tepat di angkat empat, yang artinya sudah pukul empat sore.
Raja segera mandi dan meminta Clara untuk bersiap-siap, satu jam kemudian keduanya sudah berada di dalam mobil meninggalkan rumah.
"Mau kemana sih?" ujar Clara sambil melihat sekeliling jalan raya.
"Udah di bilangin jangan banyak tanya, masih untung gue ajak," balas Raja sambil fokus mengemudi mobil.
Clara yang mendengar itu sontak mendelik dengan kesal karena harus menyimpan rasa penasaran tidak tau si kakak akan membawanya ke mana.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di sebuah cafe, cafe tersebut adalah cafe milik Linus, yang di bangun kedua orang tua nya atas permintaan Linus.
Saat Linus sedang ada kepentingan,maka cafe tersebut tidak menerima tamu lain selain orang-orang yang di undang sendiri oleh Linus.
Raja memarkirkan mobil nya di parkiran cafe, ia turun dari mobil, namun terasa ada yang jangal, setelah beberapa langkah ia baru menyadari kalau Clara tidak ikut turun dengan nya.
Raja berbalik dan membuka pintu mobil tempat Clara duduk, gadis itu masih saja menatap layar ponselnya dan bermain game.
"Astaga, turun! Lo gak mau masuk ke dalam?" Raja memegang lengan sang adik memaksanya untuk segera keluar dari mobil.
"Gak mau? Kenapa harus cafe ini? Kan masih banyak cafe lain kak, aku gak mau," ujar Clara bersikeras tak ingin keluar dari mobil.
Raja teridam, dia bingung mengapa Clara mengatakan itu, padahal ini pertama kalinya Raja membawa Clara ke cafe tersebut, namun Clara terlihat sudah mengenal jauh cafe ini.
"Kenapa sama cafe nya? Lo pernah ke sini? Atau Lo emang ada rahasia yang gue gak tau?" Raja mengerutkan keningnya menatap Clara dari jarak dekat.
Sangat dekat, membuat Clara yang mendongak bisa merasakan nafas Raja, tatapan keduanya beradu dengan tangan Raja yang masih memegang pergelangan tangan Clara.
"kak Raja!" tiba-tiba seseorang berteriak dan menghampiri Raja.
Segera Raja melepas tangan Clara dan berbalik. Terlihat Della yang kini berdiri di hadapannya.
"Ada Clara juga?" Della kaget melihat Clara yang masih duduk di dalam mobil Raja dengan tatapan dingin nya.
"Lo masuk duluan, gue masih ada urusan," Raja meminta Della untuk masuk ke dalam cafe kembali karena dirinya masih harus mengurus Clara.
Ya, Linus yang sudah tidak tahan karena menunggu Raja begitu lama, meminta Della untuk memeriksa ke luar cafe, dan ternyata benar Raja sudah tiba namun belum masuk ke dalam.
"Lih kenapa kak? Linus udah dari tadi nungguin kak Raja, semua udah berkumpul di dalam, ayo masuk sekarang," Della tidak ingin mendengar ucapan Raja, dia bahkan tidak mempedulikan Clara.
Clara pun turut dan membanting kiat pintu mobil Raja, membuat Della sedikit tersentak kaget.
"Clara, kenapa Lo kasar banget sih? Itu mobil mahal tau, kak Raja kok Clara bisa sama kakak ke sini?" ungkapan Della sudah tidak bisa menahan diri atas kecemburuan nya lagi.
"Mobil mahal? Bokap gue bisa beli lima untuk Raja kalau dia mau, dan soal gue berangkat bareng Raja bukan urusan Lo! Raja cepat masuk!" Clara yang galak segera menarik tangan Raja dan mereka berjalan mendahului Della masuk ke dalam cafe.
"Kenapa hubungan mereka makin dekat gini? Gue juga belum dapat informasi apa-apa soal Clara, tu anak ngeselin banget, galak dan sombong nya nembus ke langit ketujuh!" umpat Della sambil berlari kecil masuk ke dalam cafe
Sementara itu di dalam ruang VIP cafe tersebut, sudah ada Linus dan teman-teman mereka yang lainnya.
Raja membuka pintu ruang VIP tersebut dan masuk bersama Clara.
Linus yang melihat Clara sontak terlihat kaget dan berdiri dari duduknya." Raja Lo ngapain ngajak dia ke sini?"
Di saat itu Della juga ikut masuk ke dalam.
"Emang kenapa? Gak boleh? Della sendiri juga ada di sini," Raja duduk berhadapan dengan Linus, ia juga tidak membiarkan Clara duduk di tempat lain kecuali sebelah nya.
"Ja, Lo kok bisa sedekat ini sama Clara? Kalian ada hubungan ya? Mana Clara cantik lagi, gak biasanya Lo senempel ini sama cewek," goda salah satu teman mereka yang lain.
"Diam, sekarang semuanya duduk, jangan ada yang bicara kecuali perintah dari gue, biar gue yang ngomong sekarang, Clara sama Della Lo berdua duduk di Sofa yang ada di pojok sana, kita mau diskusi," ujar Linus yang hatinya kini berkecamuk tidak bisa tenang saat melihat Clara ada di sana.
Semakin di perhatikan wajah manis Clara dengan pipi nya yang cabby ia semakin mirip dengan Cery.
"Ayo Clara, kita duduk di sana," ujar Della merasa ada kesempatan bagus untuk berbicara baik-baik bersama Clara.
Clara hanya diam dan kemudian mengikuti Della untuk berpindah tempat duduk, Linus dan Tim nya pun mulai berdiskusi panjang tentang pertandingan basket senin nanti.
Sementara itu Clara hanya memainkan ponselnya saja, dia benar-benar muak berada di tempat itu, bahkan hari sudah semakin malam dan gelap Linus Raja dan yang lainnya masih saja mengobrol dingin, meskipun Raja tidak terlalu fokus bicara dengan Linus dan hanya menangapi teman-teman lain, obrolan itu memakan waktu beberapa jam.
"Lo gak bosen dari tadi main handphone terus?" Della meletakkan sebotol minuman dingin di meja depan Clara dan satu lagi ada di tangan nya.
"Lo sendiri ngapain keluar masuk terus? Bawa minuman lah, cemilan lah, Lo kerbau ya? Gak bisa berhenti makan," Clara tersenyum miring melihat tingkah Della.
"Enak aja, gue kayak gini karena tadi gak sempat makan pas di ajak Linus ke sini," ungkap Della lagi sambil menikmati cemilan nya.
Meskipun mereka terlihat sama sekali tidak sependapat atau saling berkata kasar, namun keduanya sangat cocok jika menjadi sahabat.
Suasana sejenak hening, Clara kembali fokus ke ponsel nya, sementara Della memikirkan topik apa yang harus ia buka sekarang.
"Clara, maaf gue mau tanya sama Lo, kenapa Lo kok bisa sedekat itu sama Raja?" Della menatap Clara dengan tatapan penuh penasaran.
Clara yang mendengar itu menoleh menatap Della, ia tersenyum tipis, entah apa yang ada di pikiran Clara saat ini, namun tatapan nya berhasil membuat Della semakin curiga.
"Lo gak perlu terlalu ikut campur gue sama Raja, ya Lo bisa lihat sendiri apa hubungannya,"
Setelah mengatakan hal itu, Clara berdiri dan kemudian menghampiri Raja. Ia memegang pundak Raja." Kak Raja, balik yuk!"
Mereka yang tengah meminum minuman masing-masing menatap ke arah Clara yang berdiri di samping Raja.
"Lo gak lihat kita lagi minum?" ujar Linus kesal.
"Gue gak ngomong sama Lo, udah selesai diskusi kan? Minum bisa nanti-nanti," Clara melipat tangannya ke bawah dada sambil menatap sinis Linus.
"Yaudah ayok!" Raja berdiri dan mengengam tangan Clara." Gue cabut!" Raja melangkah keluar dari tempat itu.
Namun sebelum tangan nya menyentuh gagang pintu, Linus berdiri dari duduknya.
"Tunggu!" Linus berjalan mendekati Clara dan Raja.
Raja berbalik menatap Linus yang kini ada di belakang nya.
"Gawat Linus kepancing emosi," bisik teman-teman nya.
Sementara Della tidak tau harus berbuat apa, dia hanya bisa diam dan menatap tangan Raja yang mengengam erat tangan Clara.
"Ada apa lagi?" jawab Raja risih.
"Raja, kemarin gara-gara Cery Lo mutusin hubungan persahabatan kita, sementara gue juga udah ngaku kalau gue salah, sampai sekarang Lo masih gak bisa maafin gue?" Linus mulai membuka obrolan serius dengan Raja.
itu di denegar oleh semua teman-temannya yang ada di dalam ruang VIP tersebut.
"Terus?" jawab Raja singkat dan cuek.
"Terus? Terus sekarang karena dia mirip Cery Lo jadi sepeduli itu sama dia? Lo juga gak maafin gue, yaudah lupain soal maaf, tapi Lo harus sadar Ja! Sadar dia bukan Cery, dia cuma perempuan kasar yang galak dia juga gak punya hati nurani, dia ngehancurin hadiah yang Cery kasih ke gue! Seharusnya kalau Lo suka dan sayang sama Cery Lo juga bisa ngehargin dia! Gak cuma gara-gara Clara mirip Cery Lo jadi lupa kalau Cery sebaik dan selembut apa! Gak kayak dia!"
Bukh ...
Sebuah pukulan keras dari Raja kembali mendarat di pipi Linus, entah berapa kali dalam sebulan ini Raja melayangkan pukulan keras ke wajah sahabat nya itu.
"Cukup! Lo gak usah bicara lagi seolah Lo paling sayang sama Cery, banyak hal yang Lo gak tau! Ingat sampai kapan pun gue gak bakal biarin Lo deketin dan nyakitin Clara! Sama kayak Lo nyakitin Cery, gue gak mau Lo bikin kesalahan yang kedua kalinya!" setelah mengatakan itu kepada Linus, Raja bergegas membawa Clara keluar dari cafe tersebut.
Linus yang jatuh terduduk memegang sudut bibirnya, darah segar keluar dari sudut bibir Linus, namun teman-teman yang melihat nya hanya bisa diam dan kemudian membantu Linus untuk bangkit.
"Udah gue bilang cukup cari masalah sama Raja, Lo gak bakal bisa bikin dia jadi seperti dulu lagi," bujuk Della sambil mengelap darah yang ada di sudut bibir Linus dengan tisue.
"Iya, menurut gue Della benar, soalnya sejak kematian Cery, Raja udah bukan Raja yang dulu lagi, kita juga gak tau harus gimana, di mata Raja cuma ada kebencian sekarang mungkin karena dia lihat Clara mirip Cery jadi dia sampai kayak gini jagain nya," sambung salah satu dari teman Linus.
Linus tak habis fikir, ia duduk bersandar di dinding ruangan tersebut sambil memegang bibirnya, tatapan nya kosong hidupnya sekarang benar-benar tidak tau harus bagaimana di ungkapkan.
"Cery, kenapa Lo harus pergi? Gue gak kuat kayak gini, Raja benar-benar benci sama gue," batin Linus merintih.
Sementara itu di sisi lain.
Raja dan Clara baru saja tiba di rumah, sedari tadi keduanya hanya saling diam dan tidak satupun mengeluarkan perkataan sampai turun dari mobil.
"Kenapa kakak bantuin aku sampai mukulin Linus?" tanya Clara melepaskan genggaman Raja dan menatap sang kakak dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Emangnya kenapa? Gue benci dia," jawab Raja.
"Tapi gak usah main tangan dong, gimna kalau dia lapor polisi? Orang tuanya licik kak," Clara memegang pundak Raja.
"Lo gak takut sama polisi, tapi Lo takut dia kenapa-kenapa," lirih Raja.
Clara seketika terdiam dan menatap bingung Raja, ia tidak mengerti apa yang sedang di ucapkan Raja saat ini.
"Kenapa? Lo udah gak bisa nyembunyiin rasa khawatir dan rasa peduli Lo sama dia lagi? Lo udah capek pura-pura nya?" ujar Raja sambil tersenyum miring.
"Maksudnya?" Clara seketika menjadi takut dengan tatapan Raja.
"Lo pikir gue gak tau Lo itu Cery?" Raja menyingkap rambut Clara dan terlihat sebuah tanda yang selalu di sembunyikan Clara di balik rambut lurus panjang yang selalu ia urai.
Deg ...
Clara menatap Raja dengan mata berkaca-kaca, kaki nya gemetar, wajah nya seketika pucat, detak jantung nya memompa tak beraturan.
"Gue tau semuanya, gue tau kalau Lo itu Cery, bukan Clara," lirih Raja.
Tes ... Tes ..
Perlahan bulir bening jatuh dari mata indah Clara, ia menundukkan kepalanya dengan bibir bergetar.
Raja segera menarik Clara ke dalam pelukan nya, ia Benar-benar sudah tidak tahan untuk mengatakan kalau dirinya tau semua rahasia Clara.
"Gue minta maaf, malam itu gue gak bisa bantuin Lo, gue salah sampai Lo harus jadi kayak gini Cery gue bener-bener minta maaf," lirih Raja sambil mengeratkan pelukannya.
Isakan kecil mulai terdengar dari bibir Clara, ia membalas pelukan Raja sambil menyembunyikan wajahnya ke dada bidang itu.
"Lo gak perlu pura-pura lagi di depan gue, jadi dirilo yang sebenarnya gue bisa bantu Lo buat ngelewatin masalah ini, gue mau Lo balas dendam atas apa yang mereka lakuin ke Lo,"
Raja kini membawa Clara ke kamar, ia berniat untuk membicarakan dan bertanya seluruh kejadian yang telah dilewatkan Clara malam itu.
Bersambung ....