NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius / Tamat
Popularitas:59.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30 Raja Bisnis Dan Pangeran Cabai Rawit

"Oh iya, aku lupa. Besok ada acara Father and Son Day di sekolah," ucap Sean santai sambil terus mengunyah potongan steak buatan Dante.

Suasana meja makan yang tadinya riuh dengan perdebatan soal tumpukan kardus mendadak senyap. Venus meletakkan garpunya, menatap putranya dengan tatapan khawatir yang dalam. Ia tahu persis betapa traumatis nya hari-hari seperti itu bagi Sean selama enam tahun terakhir.

"Kau mau Mama datang memakai setelan jas lagi?" tanya Venus lembut. Tahun lalu, Venus nekat memakai tuxedo dan menyembunyikan rambutnya di balik topi hanya agar Sean tidak merasa sendirian di antara barisan para ayah.

"Tidak perlu, Ma. Aku sudah bilang pada wali kelas kalau ayahku tidak ada dan tidak bisa hadir. Aku akan ikut lomba robotiknya sendirian saja," jawab Sean, nada suaranya sedatar papan tulis, namun ada getaran kecil yang tak luput dari pendengaran Dante.

Dante yang sedang menyesap anggur merahnya hampir tersedak. Ia meletakkan gelas kristalnya dengan denting yang cukup keras.

"Apa maksudmu tidak ada? Papa ada di sini, Sean. Tepat di depan wajahmu."

Sean mendongak, menatap Dante dengan pandangan meremehkan. "Paman ingin datang? Dengan mobil Rolls-Royce itu? Lalu saat orang bertanya siapa kau, kau akan menjawab apa? Aku suaminya Bianca Rodriguez tapi sedang mampir ke sini untuk melihat anak haramku?"

"Sean!" tegur Venus, wajahnya memucat. "Jaga bicaramu."

"Itu fakta, Ma. Aku tidak mau ada drama di sekolah. Biarkan aku ikut lomba itu dengan tenang tanpa gangguan pria kaya yang haus perhatian ini," pungkas Sean. Ia bangkit, membawa piring kotornya ke tempat cucian, lalu melenggang pergi menuju kamar tanpa menoleh lagi.

Dante terdiam membeku. Tangannya mengepal di atas meja. Rasa sakit karena penolakan itu jauh lebih perih daripada kegagalan transaksi bisnis bernilai triliunan. Ia menoleh pada Venus yang hanya bisa menghela napas pasrah.

"Jangan dengarkan dia, Dante. Dia hanya ingin melindungiku dan mungkin melindungi dirinya sendiri dari kekecewaan," bisik Venus.

Dante tidak menjawab. Matanya berkilat penuh tekad.

"Jika aku tidak bisa masuk lewat pintu depan, aku akan masuk lewat pintu belakang," batinnya.

*****

Keesokan harinya, aula sekolah Amsterdam International sudah dipenuhi oleh riuh rendah suara anak laki-laki dan ayah mereka. Sean berdiri di pojok stan robotika, sibuk menyolder kabel pada robot laba-labanya. Ia nampak tenang, meski sesekali matanya melirik ke arah pintu masuk, seolah-olah ada bagian kecil dari dirinya yang masih berharap.

Tiba-tiba, pengumuman dari pengeras suara menggema.

"Perhatian untuk seluruh peserta lomba robotika. Karena adanya sponsor tunggal yang baru saja masuk pagi ini, hadiah utama ditingkatkan menjadi beasiswa penuh ke MIT dan perangkat laboratorium senilai satu juta dolar!"

Seluruh ruangan gempar.

Sean mengernyit. "Satu juta dolar? Sponsor gila mana yang melakukan ini?" gumamnya.

Tak lama kemudian, pintu aula terbuka lebar. Bukan Dante yang muncul, melainkan enam orang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam yang membawa koper-koper perak besar. Mereka berjalan menuju stan Sean.

"Apa-apaan ini?" tanya Sean saat orang-orang itu mulai membongkar isi koper yang berisi komponen robotika tingkat militer yang bahkan belum rilis di pasaran.

"Kami adalah tim asisten teknis yang dikirim oleh seseorang," jawab salah satu pria dengan kaku. "Tugas kami adalah memastikan robot anda memiliki keunggulan absolut."

Sean memijat pelipisnya.

"Katakan pada paman udang itu untuk menarik pasukannya sekarang juga!"

Sayangnya, kejutan belum berakhir. Di panggung utama, kepala sekolah nampak gemetar saat menyambut seorang tamu kehormatan.

Dante Carson melangkah masuk dengan kacamata hitam, namun ia tidak menghampiri Sean. Ia justru duduk di barisan kursi juri paling depan.

Sean mendatangi meja juri dengan wajah memerah karena marah.

"Apa yang kau lakukan di sini, Paman?" bisiknya tajam saat berhasil mendekat.

Dante menurunkan sedikit kacamatanya, menatap putranya dengan seringai tipis yang menyebalkan.

"Papa tidak datang sebagai ayahmu, Sean. Papa datang sebagai donatur utama sekolah yang ingin memastikan kompetisi ini berjalan adil. Dan sebagai donatur, Papa punya hak untuk menguji robotmu secara langsung."

"Kau curang! Kau menyuap seluruh sistem sekolah ini!" desis Sean.

"Namanya diplomasi ekonomi, Bocah," sahut Dante santai. "Sekarang kembali ke stand mu. Tunjukkan pada semua orang di sini bahwa meskipun kau sendirian, kau punya otak yang sanggup mengalahkan semua ayah dan anak di ruangan ini. Atau kau mau Papa naik ke sana dan memelukmu di depan mikrofon?"

Sean membelalak. "Jangan berani-berani kau lakukan itu!"

"Kalau begitu, menang lah. Jika kau menang, Papa akan menarik semua asisten itu dan pulang dengan tenang," tantang Dante.

Sean berbalik dengan geram, namun ada api kompetisi yang menyala di matanya. Sepanjang lomba, Dante tidak melepaskan pandangannya dari Sean. Ia melihat bagaimana jemari kecil itu bekerja dengan sangat presisi, bagaimana otak cerdas putranya memecahkan masalah logika pemrograman dalam hitungan detik.

Saat sesi presentasi, Sean maju ke depan. Ia tidak menggunakan komponen mewah kiriman Dante, ia menyingkirkan semua koper perak itu dan tetap menggunakan robot laba-laba sederhana buatannya sendiri.

"Robot ini tidak butuh sensor militer untuk berfungsi," ucap Sean dengan lantang di depan mikrofon, matanya menatap tajam ke arah Dante. "Karena robot ini dirancang dengan logika yang kuat, bukan dengan uang yang banyak."

Dante tersenyum bangga di kursi juri. Ia memberikan tepuk tangan paling keras saat Sean berhasil menyelesaikan simulasi rintangan dengan waktu tercepat.

Setelah pengumuman kemenangan yang sudah bisa ditebak, Sean berjalan menghampiri Dante di koridor sekolah yang mulai sepi. Para pengawal Dante menjaga jarak sepuluh meter.

"Puas?" tanya Sean ketus sembari memegang piala emasnya.

Dante berdiri, menatap putranya yang hanya setinggi pinggangnya itu.

"Sangat puas. Kau tahu, kau adalah satu-satunya orang yang berani menghinaku setelah diberi hadiah jutaan dolar."

"Jangan harap aku akan berterima kasih," sahut Sean, namun ia tidak langsung pergi. Ia menunduk sejenak, lalu menggumam pelan, "Tapi, robotku memang terlihat lebih keren saat kau menonton."

Dante tertegun. Ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Sean.

"Kau melakukannya dengan luar biasa, Sean. Tanpa bantuanku pun, kau tetap yang terbaik."

Sean terdiam, lalu dengan gerakan yang sangat cepat dan kaku, ia menepuk bahu Dante dua kali.

"Pulanglah, Paman. Kasihan nyonya ular itu menunggumu di rumah. Dan jangan lupa, komponen barunya harus sampai malam ini."

"Papa akan membelikan mu pabriknya jika kau mau," goda Dante.

"Satu pabrik dan aku akan memanggilmu papa sekali saja, begitu?" tantang Sean dengan senyum pedasnya.

Dante tertawa lebar, suara tawanya menggema di koridor sekolah. Meski ia harus menyuap satu sekolah untuk bisa hadir, melihat binar kemenangan dan pengakuan kecil di mata Sean adalah investasi terbaik yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.

Hari ayah yang ia takutkan akan berakhir tragis, justru menjadi awal dari gencatan senjata antara sang Raja Bisnis dan sang Pangeran Cabai Rawit.

"Sungguh menggemaskan putraku itu," gumam Dante sembari mengejar Sean.

1
Rita Juwita
selalu seru thor.. /Good//Good/
Sri Rahayu
cerita yg bagus, ada serunya ada lucunya...akhir nya happy ending...skrg uda masuk cerita Sean Carson makasih Thorr😘😘😘
vita
suka ceritanya
🇧🇬
ga ada plok2 😭
🇧🇬: al tidak punya paijo 😭
total 2 replies
Itin
satu kata...

amazing 🤩
Sri Rahayu
wkwkwk...kirain uda blh nginep ya Dante...ternyata Venus dan Sean ttg melarang mu menginap 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Mei TResna Rahmatika
wahh happy end😍 gak sabar nunggu cerita leo thor tp plis jangan sama bianca
Dew666
💜💜💜💜
Opi Sofiyanti
leo mo di bikinin kamar jg kyk sean g kak????
kasian lho dia.... 😁😁😁
Senja: Nanti cari ide dl kak hehe
total 1 replies
Carini
bagus
Susi Sayadi
ada bonus chapter x kak😍😍😍
Tiara Bella
happy ending mksh ceritanya Thor menghibur sekali .../Kiss/
Senja: Sama2 kakk🙏
total 1 replies
Nice1808
wahhh tamat kak🤣🤭
Nice1808: 🤣🤣🤣blom baca kak biar bnyk bab nya dulu🤭
total 2 replies
TRI SRI SULANJARI
beneran tamak kak.......leo gimana......./Sob//Sob//Sob/
Senja: Itu dia memutuskan menjomblo kak😅
total 1 replies
tinie
woa tamat
Senja: hehehe iyaa
total 1 replies
Tiara Bella
akhirnya Dante sm venus mw menikah lg ya....
🇧🇬
yeye hepi ending ☃️
Nice1808
licik juga si dante pindah kamar biar bisa buat anak perempuan🤣🤭
tia
lanjut thor
Tiara Bella
apakah msh ada musuh .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!