NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Lantai delapan Rumah Sakit St. Jude yang biasanya steril dan tenang kini berubah menjadi zona perang yang kacau balau.

Bau mesiu menyengat tajam di udara, bercampur dengan debu dari dinding gipsum yang hancur diberondong peluru. Kaelan, Rico, dan pasukan elit Obsidian baru saja keluar dari tangga darurat ketika mereka disambut oleh rentetan tembakan senapan otomatis dari ujung lorong.

Kaelan berguling ke balik pilar beton tebal, melepaskan dua tembakan balasan yang langsung menumbangkan salah satu penembak jitu Arthur. Matanya sedingin es, gerakannya penuh perhitungan mematikan.

"Maju! Lindungi sayap kiri!" teriak Rico, memberi komando sambil menembakkan Glock-nya. Tangan kanan Kaelan itu bergerak taktis, melindungi titik buta bosnya.

Namun, ada yang salah. Jumlah pasukan Arthur di lorong ini terlalu sedikit untuk ukuran pertahanan terakhir seorang Tetua mafia. Lorong ini seharusnya dipenuhi puluhan orang, tapi hanya ada segelintir tentara bayaran yang tampaknya sengaja mengulur waktu.

Sebuah firasat buruk merayap di tengkuk Kaelan.

Tiba-tiba, dari arah ruang VIP di ujung lorong, pintu ganda terbuka. Bukan Arthur yang keluar, melainkan tangan kanannya, seorang pria botak bermata bengis yang memegang pelontar granat asap.

Pria itu menyeringai lebar ke arah pilar tempat Kaelan bersembunyi.

"Selamat datang, Ketua!" teriak pria botak itu, suaranya menggema di lorong yang tiba-tiba senyap. "Bos Arthur menitipkan salam. Beliau sudah berada di udara sejak setengah jam yang lalu."

Kaelan menggemeretakkan giginya. Ia sudah menduganya.

"Tapi jangan khawatir," lanjut pria botak itu dengan tawa sinis yang menggema. "Bos Arthur tidak melupakanmu. Beliau tahu kau membawa seluruh anjing penjagamu kemari. Karena itu... beliau mengirim pasukan pembersih Blackout ke gedungmu."

Darah Kaelan seolah berhenti mengalir. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Ya, Kaelan," pria itu menyeringai semakin lebar, matanya memancarkan kekejaman murni. "Markas utamamu sedang dibantai saat ini juga. Istri premanmu, dan dua wanita manis bersamanya... sedang diurus oleh orang-orang kami."

TIDAK!

Kata-kata itu menghantam Kaelan lebih keras dari peluru artileri.

Anya. Keira. Lucia. Ketiga wanita yang paling berharga bagi dirinya dan Milo ada di sana. Tanpa perlindungannya. Tanpa Rico. Hanya dijaga oleh pengawal reguler yang tidak akan mampu menahan pasukan Blackout—skuad pembunuh bayaran paling brutal di dunia bawah tanah.

DOR!

Sebuah peluru menembus udara, mengarah tepat ke kepala Kaelan yang mendadak membeku dari balik pilar.

"Tuan Kaelan, AWAS!"

Rico melompat menerjang tubuh bosnya.

Jleb! Suara daging terkoyak peluru terdengar mengerikan. Rico terpelanting menghantam dinding marmer, memegangi bahu kirinya yang langsung menyemburkan darah segar.

"Rico!" Kaelan merosot ke lantai, menarik kerah kemeja Rico agar pria itu berlindung di balik pilar. Darah Rico menodai tangan Kaelan. Bau anyir darah itu seketika menembus saraf penciumannya.

Dan saat itulah, pertahanan mental Kaelan hancur lebur.

Bayangan darah ibunya dua puluh tahun lalu... ancaman kematian Anya... dan kini darah Rico, sahabat setianya, mengalir di tangannya. Otak Kaelan tidak sanggup menanggung kelebihan beban stres itu.

"Argh!" Kaelan mengerang keras, menjatuhkan pistolnya. Ia mencengkeram kepalanya yang berdenyut hebat. Pandangannya mulai kabur. Telinganya berdenging keras, menulikan suara tembakan di sekitarnya.

Di dalam kepalanya, suara tangisan anak kecil yang melengking mulai terdengar. Milo meronta-ronta dengan panik, ketakutan melihat darah dan ingin mengambil alih tubuh itu untuk bersembunyi, untuk lari dari kenyataan yang menyakitkan.

Tidak... jangan sekarang, Milo... kumohon... Anya... batin Kaelan menjerit putus asa. Ia bertarung mati-matian mempertahankan kesadarannya, namun serangan panik itu mencekik paru-parunya. Tubuh raksasa sang mafia es itu gemetar hebat, meringkuk tak berdaya di lantai rumah sakit yang dingin.

"B-Bos..." Rico merintih menahan sakit, menekan luka di bahunya. Ia melihat Kaelan yang sedang mengalami serangan panik terburuknya. Rico mengertakkan gigi, menarik kerah jas Kaelan dengan tangannya yang berlumuran darah. "Tuan Kaelan! Sadarlah! Nyonya Anya bukan wanita lemah! Beliau pasti bisa bertahan! Kita harus menghabisi mereka dan pulang!"

Namun Kaelan tidak bisa mendengarnya. Dunianya menggelap, tertelan oleh pusaran trauma dan rasa takut kehilangan yang tak berujung.

Di saat yang sama, berkilometer-kilometer jauhnya dari rumah sakit.

Lampu gantung kristal di ruang tengah penthouse mewah Kaelan mendadak mati. Televisi yang sedang menampilkan acara memasak padam. Kegelapan total menyergap. Hanya lampu darurat berwarna merah di dekat lorong lift yang berkedip redup.

"A-Anya? Kenapa tiba-tiba mati lampu?" Suara Lucia terdengar gemetar dari arah sofa. Gadis imut itu secara refleks memeluk lengan Keira.

Anya, yang sedang memegang sekotak jus apel di dekat dapur, mematung. Insting jalanan yang membuatnya bertahan hidup selama bertahun-tahun di pasar kumuh, kini berteriak memperingatkannya akan bahaya mematikan.

Di luar penthouse, tidak terdengar suara langkah kaki pengawal yang biasanya berpatroli. Hanya keheningan yang salah. Sangat salah.

"Keira," panggil Anya, suaranya sangat rendah, sangat tenang, dan sangat dingin. Ia meletakkan jus apel itu di atas meja pantry tanpa suara. "Bawa Lucia ke kamar tidur utama Kaelan. Sekarang. Masuk ke dalam walk-in closet, kunci dari dalam, dan jangan keluar apa pun yang kalian dengar."

Keira, yang telah hidup lama dalam bayang-bayang klan mafia, langsung memahami situasi. Wajah anggunnya memucat, namun ia tidak membantah. Ia menarik tangan Lucia yang mulai menangis ketakutan.

"Ayo, Lucia. Ikuti aku," bisik Keira tegas, setengah menyeret gadis itu menyusuri lorong gelap menuju kamar Kaelan.

"Kau mau ke mana, Anya?!" bisik Keira sebelum masuk ke dalam kamar, menoleh menatap siluet gadis tomboy itu di ruang tengah.

Anya membungkuk, mengambil sesuatu dari kolong sofa. Saat ia menegakkan tubuhnya, cahaya merah dari lampu darurat memantul pada permukaan logam mengkilap di tangannya. Tongkat bisbol aluminium peninggalan kakeknya.

"Aku kan sudah berjanji pada Suami Kulkasku," Anya menyeringai miring di tengah kegelapan, seringai buas yang akan membuat preman pasar mana pun lari terkencing-kencing. "Aku akan memukul mundur nyamuk-nyamuk yang berani masuk ke rumahku."

Keira mengangguk pelan, mengunci pintu kamar utama dari dalam.

KLIK.

Bunyi pelan dari arah lift pribadi di ujung penthouse membuat telinga Anya berkedut. Pintu lift terbuka paksa. Lima sosok bayangan berpakaian serba hitam, mengenakan kacamata night-vision (pelihat malam) dan memegang senapan serbu berperedam suara, melangkah masuk ke dalam penthouse bagai hantu.

Mereka menyebar dengan formasi taktis. Mereka tidak tahu bahwa target yang mereka cari bukanlah nyonya besar yang akan berteriak ketakutan, melainkan seekor singa betina yang marah karena wilayahnya diganggu.

Anya bersembunyi di balik pilar marmer besar di dekat meja makan. Ia melepas sepatu boots-nya agar langkahnya tidak bersuara, hanya menyisakan kaus kaki hitam. Ia mencengkeram tongkat bisbolnya dengan kedua tangan, mengatur napasnya agar setenang mungkin.

Penyusup pertama melangkah perlahan melewati ruang makan, moncong senapannya menyapu kegelapan. Ia berjalan tepat di samping pilar tempat Anya bersembunyi.

Satu... dua... tiga.

Anya melesat keluar dari bayangan dengan kecepatan kilat.

TRAK!

Ayunan tongkat bisbol aluminium itu menghantam lutut kanan sang penyusup dari arah samping dengan tenaga penuh. Bunyi tulang patah terdengar nyaring. Penyusup itu bahkan belum sempat menjerit ketika Anya memutar tubuhnya dan mendaratkan pukulan kedua...

BAM!

...tepat ke rahang penyusup itu. Pria bertubuh besar itu langsung tumbang ke lantai, tak sadarkan diri, senapannya terlepas dari tangannya.

Empat penyusup lainnya tersentak mendengar suara benturan itu. Mereka langsung mengarahkan laser senapan mereka ke arah ruang makan.

"Kontak! Di ruang makan!" seru salah satu dari mereka.

Rentetan peluru berperedam suara (pft-pft-pft) menembus meja kayu dan vas bunga mahal di ruang makan. Pecahan kaca dan serpihan kayu berhamburan.

Anya berguling ke balik meja kitchen island (pulau dapur) berbahan marmer tebal. Serpihan peluru menghujani marmer di atas kepalanya. Dada gadis tomboy itu naik turun dengan cepat. Adrenalin memompa deras di nadinya, menghapus semua rasa takut.

"Sialan, vas mahal Kaelan pecah. Dia pasti akan mengomel," rutuk Anya pelan, masih sempat-sempatnya memikirkan omelan suaminya.

Anya melirik ke arah pistol senapan serbu yang terjatuh dari penyusup pertama tadi. Jaraknya hanya dua meter dari tempat persembunyiannya. Tapi ia tidak tahu cara memakai senjata api otomatis. Ia adalah petarung jarak dekat. Ia harus menarik mereka mendekat.

Anya meraih sebuah toples kaca berisi biji kopi dari atas rak dapur. Ia melempar toples itu dengan keras ke arah lorong ruang TV yang berlawanan dengan posisinya.

PRANG!

Keempat penyusup itu langsung mengarahkan tembakan ke arah sumber suara. Di detik yang sama, Anya melompat dari balik meja dapur. Ia tidak berlari menjauh, melainkan berlari menerjang langsung ke arah penyusup terdekat yang sedang mengisi ulang pelurunya.

"Makan ini, keparat!" teriak Anya.

Ia melompat, menggunakan lututnya untuk menghantam dada pria itu, lalu dengan beringas menghantamkan pangkal tongkat bisbolnya ke pelipis sang musuh. Pria kedua tumbang.

Tiga penyusup tersisa kini menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan wanita biasa. Mereka membuang sikap meremehkan mereka dan menyebar untuk mengepung Anya.

Anya berdiri di tengah ruang keluarga yang berantakan, bertelanjang kaki, memegang tongkat bisbolnya yang kini penyok dan berlumuran darah. Napasnya memburu. Matanya berkilat buas bagai predator jalanan yang terpojok.

"Hanya sisa tiga nyamuk?" ejek Anya, meludah ke lantai, memberikan senyum tengilnya yang paling mematikan. "Ayo maju. Biar kutunjukkan kenapa tidak ada yang berani menawar harga ikan padaku di pasar."

Malam ini, di atas penthouse mewah yang sepi, sejarah baru diukir. Klan Obsidian tidak hanya ditakuti karena ketangguhan Ketua Klan mereka yang berhati es, tetapi mulai malam ini, seluruh dunia bawah tanah akan tahu... bahwa Nyonya Obsidian adalah wanita yang sama berbahayanya dengan malaikat maut itu sendiri.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!