NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Nelayan di Balik Bayang-bayang

​Lin Tian bergerak bagaikan hantu di antara rimbunnya kanopi pohon purba. Setiap kali kakinya menyentuh dahan, ia menggunakan sedikit Qi abu-abu untuk meredam getaran, memastikan tidak ada daun yang berguguran atau suara ranting yang berderit. Semakin ia mendekat ke pusat fluktuasi energi, udara terasa semakin berat, seolah-olah ia sedang berjalan masuk ke dalam air yang sangat kental.

​Di dunia kultivasi, tekanan yang dihasilkan oleh para ahli tingkat tinggi disebut sebagai Aura Pressure. Bagi kultivator fana atau tingkat rendah, aura ini bisa menyebabkan sesak napas, pecahnya pembuluh darah, atau bahkan kematian instan hanya karena ketakutan yang luar biasa. Namun, Tubuh Pedang Kekacauan milik Lin Tian bergetar pelan, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang primitif. Fisiknya secara alami haus akan tantangan dari energi yang lebih kuat.

​Sekitar lima ratus meter dari episentrum, Lin Tian berhenti di balik batang pohon raksasa yang sudah membatu. Ia melongokkan sedikit pandangannya.

​Pemandangan di depannya adalah kekacauan total. Sebuah lembah kecil yang sebelumnya hijau kini telah berubah menjadi kawah besar yang hangus dan membeku secara bersamaan. Di tengah kawah tersebut, dua eksistensi sedang terkunci dalam pertarungan hidup dan mati.

​Eksistensi pertama adalah seekor siluman raksasa—Beruang Hitam Lapis Baja Bumi. Tingginya mencapai tujuh meter, dengan tubuh yang ditutupi oleh sisik-sisik batu hitam yang kerasnya melebihi baja meteorit. Setiap kali beruang itu menghantamkan cakarnya ke tanah, gelombang kejut seismik terpancar keluar, menghancurkan apa pun dalam radius puluhan meter. Siluman ini berada di puncak Tingkat 3, setara dengan Tahap Inti Emas manusia.

​Lawan beruang itu adalah seorang wanita mengenakan jubah sutra biru langit yang kini sudah robek di beberapa bagian. Wajahnya tertutup cadar tipis, namun matanya yang jernih memancarkan kedinginan yang menusuk tulang. Ia menggenggam sebilah pedang giok yang memancarkan cahaya biru terang. Dari setiap ayunan pedangnya, ribuan duri es raksasa tercipta dari udara tipis, menghujani tubuh sang beruang.

​"Kultivator dari Sekte Salju Abadi?" Lin Tian menyipitkan mata, mengenali teknik pedang es yang sangat spesifik tersebut. Berdasarkan intensitas Qi-nya, wanita itu setidaknya berada di tingkat menengah Tahap Inti Emas.

​Namun, perhatian Lin Tian segera beralih ke tengah-tengah mereka. Di atas sebuah bongkahan batu giok putih di tengah kawah, tumbuh sebuah bunga teratai yang memancarkan cahaya perak lembut. Bunga itu memiliki dua belas kelopak yang tampak transparan bagai kristal, dan di pusatnya terdapat butiran embun yang memancarkan aura kehidupan yang sangat padat.

​Teratai Salju Seribu Tahun.

​Tanaman itu hampir mencapai kematangan sempurna. Inilah alasan mengapa kedua entitas kuat itu bertarung habis-habisan. Bagi si beruang, teratai itu akan membantunya berevolusi ke Tingkat 4 (Tahap Transformasi Jiwa). Bagi wanita itu, teratai tersebut mungkin adalah kunci untuk menerobos kemacetan kultivasinya atau menyelamatkan seseorang.

​"Manusia busuk! Pergi dari wilayahku, atau aku akan meremukkan setiap tulang di tubuhmu!" Beruang itu tiba-tiba menggeram dalam bahasa manusia yang kasar, sebuah pertanda bahwa intelegensinya sudah sangat tinggi.

​"Bunga ini bukan milik siapa pun sampai ia dipetik, Siluman Bodoh," jawab wanita itu dengan suara yang merdu namun sedingin es. "Kau hanya akan menyia-nyiakan khasiatnya dengan memakannya secara mentah. Serahkan padaku, dan aku akan membiarkanmu hidup."

​"Mati!"

​Beruang itu meledak dalam kemarahan. Ia berdiri di atas dua kaki belakangnya, lalu menghantamkan kedua cakar depannya ke tanah dengan kekuatan penuh.

​BUM!

​Tanah di lembah itu terbelah. Retakan raksasa merambat cepat ke arah sang wanita, memuntahkan pilar-pilar batu tajam dari bawah tanah. Sang wanita melompat tinggi ke udara, pedang gioknya berputar menciptakan badai salju yang dahsyat untuk menahan serangan tersebut.

​Ledakan energi yang dihasilkan dari benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu hutan di sekitarnya. Lin Tian harus memaku kakinya ke dahan pohon agar tidak terlempar. Ia merasakan darahnya bergejolak. Secara logis, ini adalah saat yang paling berbahaya bagi "nelayan" sepertinya. Jika ia melakukan gerakan sekecil apa pun sekarang, kedua pihak akan langsung menyadari kehadirannya dan mungkin akan bersatu untuk membunuhnya terlebih dahulu.

​Lin Tian terus menunggu. Ia mematikan aliran Qi-nya sepenuhnya, masuk ke dalam kondisi "Hibernasi Kekacauan" yang diajarkan oleh Mutiara Primordial. Dalam kondisi ini, detak jantungnya berhenti, suhu tubuhnya turun mengikuti suhu lingkungan, dan auranya menghilang total dari persepsi indra spiritual.

​Satu jam berlalu. Pertempuran semakin brutal.

​Zirah batu sang beruang sudah hancur di banyak tempat, mengeluarkan darah tebal berwarna tanah. Sementara itu, wanita berbaju biru itu juga mulai kelelahan. Wajahnya yang tertutup cadar kini tampak pucat, dan napasnya mulai tidak teratur. Energi spiritual di sekitarnya mulai menipis.

​Tepat saat matahari mencapai titik terendahnya di ufuk barat, Teratai Salju Seribu Tahun itu tiba-tiba bergetar. Cahaya perak yang dipancarkannya meledak menjadi aurora yang memenuhi seluruh lembah. Aroma wangi yang sangat kuat merebak, menandakan bahwa bunga itu telah mencapai kematangan sempurna.

​"Sekarang!" teriak kedua pihak secara bersamaan.

​Beruang raksasa itu menerjang maju tanpa mempedulikan luka-lukanya, sementara sang wanita menggigit lidahnya untuk membakar darah esensinya demi mendapatkan ledakan kecepatan instan.

​Namun, di saat konsentrasi mereka tertuju seratus persen pada teratai itu, sebuah bayangan abu-abu meluncur turun dari dahan pohon dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk seorang kultivator tingkat bawah.

​Lin Tian tidak langsung menuju teratai. Itu adalah jebakan maut. Sebaliknya, ia meluncur ke arah kawah yang hangus di dekat kaki sang beruang yang sedang berlari.

​"Siapa?!" Sang wanita adalah yang pertama menyadari kehadiran pihak ketiga, namun momentum gerakannya terlalu besar untuk dihentikan secara mendadak.

​Beruang itu mengaum marah, mencoba menyapu bayangan kecil itu dengan cakarnya. Namun, Lin Tian sudah menghitung setiap inci jaraknya. Menggunakan teknik Langkah Pedang Menembus Bayangan, ia berputar di udara dengan kelenturan yang mustahil, melewati celah di bawah ketiak sang beruang.

​Di saat yang sama, Lin Tian melemparkan dua buah bola hitam kecil yang ia ambil dari mayat pemburu siluman sebelumnya.

​BOOM! BOOM!

​Bola itu bukan bom peledak, melainkan Bom Bubuk Pembuta Indra. Asap hitam pekat yang mengandung serbuk penghambat indra spiritual meledak, menutupi radius sepuluh meter di sekitar teratai.

​Dalam kegelapan asap itu, indra spiritual sang wanita dan si beruang menjadi buta sesaat. Mereka hanya bisa mengandalkan insting.

​"Berani-beraninya!" Sang wanita menebaskan pedang esnya secara membabi buta ke arah posisi teratai, sementara beruang itu menghantamkan tinjunya ke tempat yang sama.

​Namun, Lin Tian sudah tidak ada di sana.

​Beberapa detik sebelum bom asap meledak, ia telah mencapai Teratai Salju Seribu Tahun. Menggunakan belati berukir rune yang diselimuti Qi Primordial, ia memotong tangkai teratai itu dengan satu irisan bersih—sebuah teknik memetik yang memastikan esensi tanaman tidak bocor ke tanah.

​Begitu teratai itu masuk ke dalam cincin penyimpanan yang ia curi dari salah satu mayat di hutan sebelumnya, Lin Tian tidak melarikan diri ke arah luar hutan. Itu adalah arah yang paling mudah ditebak.

​Sebaliknya, ia justru menerjang ke arah... bawah.

​Ia tahu bahwa beruang itu telah menggali lorong-lorong bawah tanah di bawah lembah ini sebagai sarangnya. Dengan kekuatan fisik Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian menabrakkan tubuhnya ke salah satu retakan tanah yang tercipta akibat serangan beruang tadi, lalu menyelam masuk ke dalam kegelapan bumi.

​"AUMANNNN!"

​Suara raungan kemarahan sang beruang mengguncang seluruh hutan saat asap mulai menipis dan ia menyadari hartanya telah lenyap. Sang wanita berbaju biru berdiri terpaku di tengah kawah, matanya yang dingin kini dipenuhi dengan kemarahan yang membara dan ketidakpercayaan.

​Seorang kultivator tingkat rendah... di bawah hidung dua ahli Inti Emas... telah mencuri Teratai Salju Seribu Tahun.

​"Cari dia! Aku akan mengulitinya hidup-hidup!" teriak sang wanita, suaranya melengking menembus langit malam.

​Namun, di kedalaman lorong bawah tanah yang gelap dan sempit, Lin Tian terus merangkak dengan cepat. Napasnya stabil, matanya tetap jernih. Ia tahu bahwa perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Seluruh Hutan Siluman Kematian sekarang akan menjadi medan perangnya.

​"Risikonya sembilan puluh persen," gumam Lin Tian dalam kegelapan, sebuah senyuman dingin tersungging di bibirnya. "Tapi sepuluh persen keberhasilan sudah cukup untuk mengubah takdir."

​Ia memegang cincin penyimpanannya. Dengan Teratai Salju ini, fondasi ayahnya bukan hanya akan sembuh, tapi mungkin akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dan baginya, ini adalah bahan bakar yang cukup untuk melompat langsung ke Tahap Pengumpulan Qi Tingkat 5 atau bahkan lebih tinggi.

1
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍
Fajar Fathur rizky
klan huangpu dan leluhurnya akan musnah hahahaha
Daryus Effendi
terlalu banyak penjelasan jadi nya membosankan
T28J
semangat kak 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!