Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Cemara
Sudah lima hari Junia tinggal di apartemen Adara. Sejujurnya dia merasa nyaman, apalagi saat ia tak perlu bersusah payah memikirkan kebutuhan sehari-hari. Semua fasilitas di apartemen ini sudah lengkap.
Dengan semua uang yang Junia punya, seharusnya tidak masalah kan jika dia menumpang hidup?
Tapi jujur saja, Junia merasa bosan jika harus bergelung terus di dalam apartemen. Meskipun Adara sering mengajaknya keluar, tapi rasanya berbeda. Mungkin karena ia sudah terbiasa hidup di dunia malam hingga saat ia mencoba hidup di lingkungan yang normal, ia merasa jenuh.
Langit pagi tampak mendung, warna birunya benar-benar disingkirkan oleh si abu-abu. Adara tampak terburu-buru menata jilbabnya. Padahal tadi dia mengatakan hari ini ingin tidur seharian.
Junia keluar dari kamar dengan rambut masih basah tergulung handuk kecil. Ia menatap Adara heran. Kenapa mendadak Adara terburu-buru seperti ini.
“Mau ke mana, Dar? Mendung gini mau main?” tanya Junia.
“Temenin aku ke Bogor, yuk! Aku takut ngantuk pas nyetir kalau nggak ada temen ngobrol,” ucap Adara sambil mencari kunci mobil.
“Ngapain?” Junia balik bertanya.
“Oma sakit. Tadi Mama nelpon nyuruh aku dateng,” jelas Adara.
“Oma kamu sakit apa?”
“Oma sakit gagal ginjal dan jantung. Jadi aku selalu khawatir setiap Mama ngabarin kalau Oma sakit,” jawab Adara.
Junia mengucek matanya. “Ayo aku temenin. Kamu juga keliatan nggak tenang, bahaya kalau pergi sendirian,” ucap Junia. “Biar aku yang nyetir!” Junia meraih kunci mobil yang dipegang Adara.
“Kamu bisa nyetir?”
Junia mengangguk pelan. “Dulu Ayah sempet ngajarin aku nyetir.”
Adara mengangguk pelan lalu menatap Junia yang menuju kamarnya.
Perjalanan ke Bogor melewati jalur hijau yang rimbun dan udara lembap yang berbeda dari Jakarta. Sepanjang jalan, Adara beberapa kali mengirim pesan suara ke ayah dan ibunya, menanyakan kondisi neneknya.
Rumah yang mereka tuju berada di sebuah kompleks berpagar tinggi dengan penjaga. Junia menghela napas kasar. Padahal ia berharap setidaknya keluarga pihak Ayah Adara miskin, atau Adara menjadi tulang punggung di keluarga ayahnya.
Tapi yang kini Adara lihat berbanding terbalik. Rumah yang lebih mewah dari rumah Eyang Adara yang Jakarta itu sudah membuktikan bahwa nenek Adara juga bukan orang biasa.
“Sial! Kenapa dia beruntung sekali!” batin Junia sambil mengeratkan genggamannya pada setir mobil.
Junia melangkah masuk ke dalam rumah, mengikuti Adara. Lagi, para maid menyambut mereka dengan hormat.
“Kamu anak konglomerat, Dar?” celetuk Junia, menyuarakan isi hatinya.
Adara terkekeh mendengar pertanyaan Junia. “Bukan. Keluargaku cuma pebisnis biasa,” jelasnya.
“Pebisnis biasa katanya?” Junia tertawa di dalam hati. “Sombong sekali!”
Adara masuk ke dalam kamar neneknya. Di sana ia bisa melihat neneknya yang sedang berbaring di atas kasur. Wajahnya tampak pucat tapi langsung berubah ceria saat melihat kedatangan Adara.
“Aduh… cucu kesayangan Oma dateng juga…” ucapnya sambil menggamit tangan Adara.
“Oma kenapa nggak ke rumah sakit?” tanya Adara khawatir.
“Kata Dokter Kimmy, Oma cuma butuh banyak istirahat. Dokter Kimmy udah ngurus Oma dengan baik, kok,” jawab wanita tua itu.
“Oma bikin khawatir aja karena tiba-tiba nyuruh Dara pulang,” ucap Adara sambil mencium punggung tangan neneknya itu.
“Oma cuma kangen sama kamu…” Wanita itu tersenyum tipis. “Kamu dateng sama siapa? Ayumi?”
“Oh bukan, Oma. Ini Junia, teman baru Dara.” Ia menarik tubuh Junia ke hadapan sang nenek, meminta gadis itu untuk menyapa neneknya.
“Aku Junia, Oma.” Junia mencium punggung tangan wanita itu.
Oma Helena mengangguk hangat, lalu menepuk tangan Junia. “Temenan yang baik sama Adara, ya, Nak. Dia orangnya sangat tulus sama teman-temannya.”
Junia mengangguk pelan. “Iya, Oma.”
“Teman kamu yang Oma cuma ingat Ayumi doang. Padahal kamu udah sering ngenalin temen-temen ke sini,” ucap sang nenek.
“Soalnya Ayumi yang paling sering Dara bawa ke sini, Oma,” jawab Adara. “Tapi emangnya Oma nggak inget sama Elsa dan Kinan? Tiap balik ke Bogor kan Dara sering main sama mereka.”
“Oh yang kembar itu, ya? Oma inget kok. Tapi nggak hafal namanya.” Helena terkekeh kecil.
“Omaa, mereka nggak kembar tau. Mukanya emang mirip, tapi nggak mirip-mirip banget.” Adara menggelengkan kepalanya.
“Mirip kok. Kayak kembar loh mereka. Junia kalau ketemu mereka pasti setuju sama Oma!” ucapnya menggebu-gebu.
“Ya sudah, terserah Oma aja, deh.” Adara mengalah. “Opa mana, ya? Kok nggak kelihatan. Masa cucunya dateng nggak disambut.” Adara mengerucutkan bibirnya.
“Mama sama Papa ke mana? Katanya lagi di sini, kan?” tanya Adara lagi. “Ih! Mereka nggak nyambut sama sekali!”
Oma Helena tertawa mendengar ucapan cucunya itu. “Tuh mereka dateng!” Helena mengangkat bahunya, menunjuk ke suaminya yang baru memasuki kamar.
“Siapa ini yang dateng, hm?” Pria bertubuh gempal itu melebarkan kedua tangannya. Meminta sang cucu untuk masuk ke dalam pelukannya.
“Opa!” Adara tersenyum sumringah lalu memeluk erat tubuh kakeknya itu.
“Dara kangen…” rengeknya manja.
“Duh emang ya cucu kesayangan Opa!” Daniel mengusap lembut puncak kepala Adara.
“PAPA!” Adara beralih ke pelukan sang Ayah.
“Liat noh Daniel! Dia lebih sayang sama gue, buktinya dia meluk gue duluan!” ujar Surya Dinata bangga.
“Dasar tua!” jawab Daniel kesal. “Makanya punya anak cewek juga dong, biar nggak meluk-meluk anak gue lagi!” jawab Daniel.
Helena tertawa melihat pertengkaran suami dan putranya itu. Mereka memang selalu memperebutkan Adara seperti itu.
“Lo nggak bakal lahir kalau nggak ada gue ya, bro!” ujar Surya Dinata tak mau kalah.
“Ih berantem mulu! Dara pilih Mama sama Oma aja!” kesal Adara.
“Iya-iya nggak berantem lagi…” jawab Daniel dan Surya Dinata hampir serentak.
“Gimana fitting bajunya kemaren, Sayang?” tanya Marisa. “Lancar nggak?”
“Alhamdulillah lancar aja, Ma. Gaunnya udah mulai diproses. Tapi Adara cuma pesen satu gaun aja, sisanya mau sewa aja, ah. Boros banget kalau harus beli semua,” ucap Adara.
“Sayang… Opa nggak masalah kalau kamu boros, kok. Kamu kira siapa yang akan menghabiskan uang Opa kalau bukan kamu?” tanya Surya Dinata.
Adara terbahak mendengar ucapan kakeknya itu. “Sombong banget ya orang kaya satu ini!” ujarnya lalu mencubit perut gembul kakeknya itu.
“Udah, Nak. Jangan mikirin soal budget. Uang kamu ditabung, aja. Persiapan pernikahan biar pakai uang Papa,” ucap Daniel.
“Uang Opa aja, Nak. Uang papamu juga cuma secuil!” sahut Surya tak mau kalah.
Adara hanya menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran kecil itu. Mereka berdua selalu saja menyombongkan kekayaannya di depan Adara.
“Kalau Eyang Haris ada di sini, pasti mereka ribut bertiga,” ucap Marisa.
Adara mengangguk pelan. “Terus ujungnya nyuruh Adara milih siapa pemenangnya. Dan kata andalan Opa…”
Adara dan Marisa saling bertatapan.
“Yang paling kaya yang menang!” ucap mereka serentak lalu terbahak.
Junia menghela napas kasar. “Memuakkan! Keluarga Adara benar-benar memuakkan!” batinnya.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.