Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Meriana
"Jadi selama ini Elgard membohongiku? Dia menyembunyikan hubungannya dengan Bianca yang kembali dekat?" Meriana mengepalkan tangannya dengan kuat.
Dia jelas sangat marah dan juga malu saat ini. Tadi di depan orang-orang, Elgard justru meninggalkannya dan pergi bersama mantan tunangannya.
Tapi rasa malu lebih mendominasi, bagaimana mungkin Elgard justru pergi begitu saja dengan Bianca, padahal sebelumnya dia dan yang lainnya telah menghina Bianca habis-habisan.
Meriana tak punya muka lagi, kejadian tadi seolah menunjukkan kalau Elgard lebih memilih Bianca dari pada dirinya.
"Aku tidak tau sedekat apa hubungan mereka, tapi sebelum aku, dia lebih dulu bertemu dengan Bianca. Tapi ku peringatkan padamu, apa pun masalahmu dengan Elgard, jangan sampai kau menyentuh dan menyakiti Bianca!"
"Kenapa? Kau juga termakan bujuk rayuannya?!"
"Aku memang sudah menyatakan perasaanku pada Bianca dan selama ini Bianca tidak pernah mendekati Elgard sama sekali. Dia bahkan cenderung menghindar tapi kekasihmu itu yang terlihat belum move on!"
"Jangan asal bicara!" Geram Meriana.
"Kau tadi sudah melihatnya sendiri!" Kevin tersenyum miring.
"Ingat, jangan sampai kau sentuh Bianca. Jaga saja kekasihmu itu, dan aku akan berusaha menjauhkan Bianca darinya!"
Kevin pergi setelah memberikan ancamannya pada Meriana. Dia tau kalau kemarahan Meriana pasti akan menjadikan Bianca sebagai sasaran.
Sebenarnya dia pun marah karena Elgard seenaknya membawa Bianca pergi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Dia memberikan kesempatan bagi Elgard satu kali ini saja membawa Bianca pergi. Setelah ini, dia tidak akan tinggal diam.
Dari sikap Elgard tadi, Kevin yakin kalau sebenarnya Elgard mulai ada rasa pada Bianca. Entah rasa itu datang terlambat, atau memang sudah dari dulu namun sempat meredup. Tapi yang jelas, Kevin tidak akan tinggal diam. Kali ini Bianca harus menjadi miliknya.
Setelah Elgard pulang, setelah menuruti Elgard dengan semua dramanya, Bianca kembali duduk di meja kecil yang memiliki sejuta harapan untuknya. Di meja itu, Bianca meracik parfum dengan berbagai impian di dalamnya. Dia tidak menyangka saja kalau Elgard justru mendorongnya untuk mengejar impiannya.
Bianca membuka laci yang ada dibawah meja kecil itu, mengambil satu botol kecil yang ia beri nama Deep Blue Rose.
Memang banyak yang memakai aroma dasar blue rose, tapi Bianca yakin kalau miliknya berbeda dari yang lain. Bianca juga sempat membeli beberapa sampel parfum mahal dengan material yang sama. Meski hanya membeli beberapa mili karena harganya yang mahal, namun itu hanya sebagai pembanding saja untuknya. Tapi memang benar, semuanya berbeda dari miliknya.
Bahkan Bianca sudah mendesain botol dengan sentuhan blue rose yang cantik dan elegan untuk parfumnya sendiri. Namun semua itu terhalang oleh uang dan status. Dia tak punya apa-apa dan dia hanyalah anak seorang koruptor yang diremehkan.
Tapi kini, Bianca seolah mendapatkan peluang baru. Meski dia harus mendapatkan itu semua dari Elgard.
Bicara tentang Elgard, mendadak semangatnya meredup. Dia meneng botol parfum itu dengan erat ditangannya.
"Kalau aku mengambil kesempatan ini, pasti aku akan terus berhubungan dengannya. Tapi kalau tidak, aku akan kehilangan kesempatan emas ini!"
Namun Bianca kembali teringat tentang Elgard yang berjanji untuk tidak mengganggunya lagi setelah dia berhasil mengubah hidupnya.
"Hanya sebenar Bee! Lewati ini dengan sekejap mata, anggap saja dia hanyalah orang yang membantumu, bukan masa lalumu!" Gunam Bianca.
🌻🌻🌻
Bianca berangkat ke kantor Kevin seperti biasa. Tapi wajahnya terlihat lebih cerah dari pada biasanya. Dia yang selalu menundukkan kepalanya dengan wajah sendu dan tidak ada kepercayaan diri, kini tampak lebih suntingan. senyum kecil juga beberapa kali terlihat dari bibirnya.
Rencananya nanti setelah pulang kerja, dia akan bertemu dengan Roy Moremans dengan janji yang sudah Elgard atur untuknya.
Ini adalah kesempatan emas sekali seumur hidup Bianca, jadi dia tidak akan melepaskannya. Makanya dia terlihat begitu bahagia saat ini, bahkan semalaman dia tidak bisa tidur.
"Selamat pagi Tuan!" Sambut Bianca pada Kevin yang baru saja tiba.
Kevin mengernyitkan keningnya karena melihat senyum di wajah Bianca.
"Kau tampak berbeda hari ini Bianca? apa terjadi sesuatu padamu?"
"Tidak ada memangnya ada apa?" Bianca menyentuh pipinya.
"Tidak papa. Oh ya, tadi malam kau dan Elgard pergi kemana?" Kevin penasaran karena semalam Bianca tidak bisa dihubungi.
"Dia hanya mengantarku ke rumah, itu saja!" Bianca rasa, tidak menceritakan tentang kesepakatan yang ia buat dengan Elgard, dan juga tentang Elgard yang selalu datang meminta ia untuk memasak, adalah hal yang tepat saat ini.
"Syukurlah kalau begitu!" Kevin merasa lega karena tidak terjadi apa-apa pada Bianca.
Bianca hanya mengangguk kemudian mengikuti Kevin ke dalam untuk membacakan agenda hari ini.
Kevin merasa senang lihat perkembangan Bianca. Dia merasa tidak sia-sia menjadikan Bianca menjadi sekretarisnya karena Bianca benar-benar cekatan dan mudah menyesuaikan diri. Mungkin karena Bianca sudah pernah melakukan pekerjaan yang lebih berat dari itu, sehingga menjadi sekretaris adalah hal yang cukup mudah baginya.
🌻🌻🌻
"Aku tidak percaya kalau kau tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu El!" Amarah Meriana meluap sejak tadi di ruangan Elgard.
"Terserah kalau kau tidak percaya. Aku sudah lelah!"
"Oh, jangan-jangan selama ini kau menghindar dan terus mengulur waktu untuk pertunangan kita, itu karena dia?!"
"Jangan bawa-bawa dia! Aku memang mengulur waktu pertunangan kita karena aku ragu dengan hubungan kita!" Jujur Elgard.
"Apa kau bilang?" Meriana terlihat syok.
"Aku ragu dengan hubungan kita karena lama-lama aku muak dengan sikapmu! Kau terlalu posesif padaku, tapi kau tidak pernah mau mendengarkanku. Kau ingin aku menuruti semua permintaanmu, tapi kau tidak pernah mau melakukan apa yang aku mau!" Elgard menatap mata Meriana yang sejak tadi menatapnya dengan nyalang.
"Kau baru mengatakan muak denganku setelah wanita itu datang lagi ke dalam hidupmu El!" Meriana mendengus dengan kesal. Dia menganggap semua yang Elgard katakan hanyalah kebohongan untuk menutupi hubungannya dengan Bianca.
"Jangan bawa-bawa dia! Lihatlah dirimu sendiri! Contoh kecilnya, kau selalu melakukan pemotretan dengan keadaan hampir telan*ang padahal aku sudah melarangmu!"
"ELLL!!" Sentak Meriana.
"Aku ada operasi sebentar lagi. Aku harus bersiap!" Elgard meninggalkan Meriana di ruangannya sendirian.
"Wanita s*alan!" Meriana mengepalkan tangannya dengan kuat.
🌻🌻🌻
"Bianca, apa nanti malam kau ada waktu?" Tanya Kevin setelah mereka menyelesaikan meetingnya sore ini.
"Emm, maaf Kak. Aku sudah berjanji akan bertemu dengan temanku!"
"Teman?"
"Iya, taman kerja dulu!" Dusta Bianca.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu waktumu malam ini!"
"Terima kasih Kak!" Balas Bianca dengan senyum tipisnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini, Bianca sudah bersiap untuk pulang.
"Mau ku antar?"
"Tidak perlu Kak, nanti temanku akan menunggu di depan!"
"Baiklah kalau begitu, ayo turun bersama!"
Bianca tidak menolak, mungkin nanti dia akan menunggu sampai mobil Kevin pergi dulu baru dia pergi dari kantor.
"Sampai jumpa besok Bianca!"
"Hmm!" Angguk Bianca melambaikan tangannya.
Dia benar-benar menunggu sampai mobil Kevin tidak terlihat lagi, barulah dia berjalan keluar dari area gedung perkantoran milik Kevin.
Kali ini Bianca ingin mencari taksi agar dia sampai lebih cepat ke tempat yang sudah diatur oleh Elgard.
Tapi langkahnya terhenti karena kedatangan seseorang.
"Mau kemana kau j*lang?"
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur