NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengambil Raport (Biru Dan Miranda)

#30

Karmila memarkirkan motornya di pelataran parkir sekolah kedua putranya, hari ini ia datang guna mengambil laporan hasil belajar Biru dan Firza. 

“Mak!” Dari jauh Karmila melihat kedua putranya yang berseragam olahraga berlari menghampirinya. Mereka sedang bermain bola setelah pelajaran olahraga berakhir. 

“Ayo, aku antar, Mak.” Biru segera memeluk lengan Karmila, begitu pula Firza yang juga merebahkan kepalanya di pundak Karmila. 

“Kalian lanjut saja mainnya, Mamak akan menemui wali kelas kalian sendiri.” Karmila meminta Biru dan Firza kembali bermain. 

“Kami akan mengantar Mamak sampai ke kelas.” 

Karmila hanya menggeleng, tak bisa mencegah kedua jagoan mudanya tersebut. 

Setelah tiba di kelas, Biru dan Firza baru benar-benar pergi meninggalkan Karmila bersama antrian para orang tua yang lainnya. 

Setelah hampir satu jam menunggu antrian, Mila pun bisa berhadapan dengan Bu Husna. 

Setelah basa-basi sejenak, Bu Husna menyodorkan hasil belajar kedua putra Karmila. “Alhamdulillah, Selamat, Bu, hasil belajar Biru dan Firza benar-benar memuaskan. Tak ada catatan khusus, karena secara akhlak dan perilaku keseharian mereka berdua sudah sangat baik.” 

“Tapi, ini, ada sedikit ketidaksesuaian dengan Biru—” Bu Husna  mulai membicarakan inti persoalannya. 

“Kalau Firza, secara akademis dan minat balat berdasarkan hasil tes sudah sesuai dengan keinginannya. Tapi Biru, hasil minat bakat dan tes berbeda dengan keinginannya.” 

Deg! 

Karmila sedikit terkejut, “Maksudnya bagaimana, Bu?” 

“Begini, Hasil tes dan nilai akademik Biru, menunjukkan bahwa ia harus masuk ke kelas IPA. Tapi, ketika saya tanya secara langsung ke anaknya, dia menjawab ingin di kelas IPS, sama seperti Firza.” 

Karmila terdiam sejenak, “Alasan Biru apa, Bu?”

“Itu juga yang membuat saya heran, alasannya tak masuk akal. Dia bilang, tak mau berpisah kelas dengan Firza, karena mereka sudah bersama sejak bayi.” 

Bu Husna dan Karmila kompak tertawa geli, memang alasan yang tak masuk akal. 

“Baik, Bu, nanti akan saya tanya pada Biru, mungkin sekarang ia sedang di masa paling emosional, karena sedang ada di puncak masa remaja,” jawab Karmila tanpa mengisahkan apa yang terjadi pada Biru belakangan ini. 

“Iya, Bu. Saya harap demikian, ini hanya kelabilan emosi sesaat. Karena potensial sekali nilainya Biru, saya takut kemampuan alaminya ini akan hilang sia-sia.” 

“Tapi, Bu. Bila Biru tetap bersikeras dengan keinginannya, bagaimana?”

“Ya, mau bagaimana lagi, kita tak bisa berbuat apa-apa, bukan? Tapi harus disampaikan pada Biru, bahwa saat ini, Biru sudah besar, harus bisa bertanggung jawab dengan pilihan yang ia ambil. Tapi, berdasarkan pengamatan kami para guru. Baik Biru, maupun Firza, sudah sangat baik, menunjukkan sikap dan perilaku positif dalam keseharian mereka.” 

Kalimat panjang Bu Husna berakhir dengan senyum lega, karena sudah menyampaikan hasil belajar kedua putra Karmila. 

Karmila pun tersenyum lega mendengar penuturan Bu Husna, baginya dan Ismail, bagus atau jelek nilai akademis Biru dan Firza, semua akan mereka terima dengan lapang dada. 

Tapi bila akhlak mereka bermasalah, itu akan menjadi poin penting yang harus mereka tekankan, agar Biru dan Firza tak kehilangan pondasi agama yang sudah ditanamkan kedua orang tuanya sejak mereka masih kanak-kanak. 

•••

Sementara itu di ibukota, hari ini pun Anjani ke sekolah Miranda untuk mengambil laporan hasil belajar putrinya. 

Wanita itu sengaja berpakaian glamour, agar orang-orang di sekitarnya paham siapa dirinya, desainer terkenal, sekaligus istri dari pengacara kondang Gunawan Wicaksono. 

Anjani turun dari mobil, dan tanpa melepas kacamatanya ia berjalan melewati koridor sekolah, menuju ruangan guru. Wanita itu berpapasan dengan salah seorang wali murid juga, kebetulan ibu dari teman sekelas Miranda. 

“Eh, Bu Anjani. Apa kabar?” sapa wanita itu. 

“Baik,” jawan Anjani santai. “Gimana raport Laura?” 

“Ya begitulah, Bu. Saya tak terlalu memaksakan Laura, senyamannya dia saja, asalkan dia punya arah yang jelas demi meraih cita-cita nya.” 

Anjani tersenyum miring, “Huh, bilang saja nilai Laura jelek.” 

“Tidak, saya tak mengatakan nilai Laura jelek, Bu Anjani jangan mengada-ada, ya?” 

Mamanya Laura segera berlalu pergi, karena terlalu kesal dengan ucapan Anjani. 

Anjani kembali melanjutkan langkahnya, Anjani tak pernah peduli dengan nilai akademis Miranda, karena kapanpun ia mau, ia bisa memanfaatkan uang suaminya. Bukankah itu salah satu kegunaan uang? 

Karena ia sudah pernah merasakannya ketika tak juga berhasil lulus dari sekolah mode, di luar negeri. Maka tak perlu berlama-lama dan berlelah-lelah, Anjani memanfaatkan uang Gunawan demi meraih cita-cita nya. 

Cita-cita yang mendadak, hanya karena dengki dengan mantan istri Gunawan yang sukses menjadi pemilik salah satu brand pakaian ternama, dengan desain revolusioner selepas lulus dari sekolah mode di luar negeri. 

“Selamat datang, Bu Anjani,” sambut wali kelas Miranda. Wanita yang selama ini bermain mata dengan Anjani, demi mendongkrak nilai belajar Miranda di sekolah. 

Beberapa menit kemudian, Anjani sudah keluar dari ruangan wali kelas Miranda. Seperti biasa, tak ada hal serius yang mereka bicarakan, karena semua mulus asal ada fulus. 

Anjani kembali berjalan menuju mobil, namun, ia melihat ada hal menarik di lapangan sekolah. Pandangan mata penuh kekaguman, mengarah pada Miranda, gadis ranum itu memang menjadi bintang idola para pria di SMA tersebut. 

Wajah cantik, tubuh ramping semampai, serta popularitas berkat sokongan uang dari kedua orang tuanya. 

“Terima! Terima! Terima!” 

Sorakan dari para penonton yang berkerumun membentuk lingkaran di sekitar Miranda dan seorang pemuda tampan dengan setangkai mawar di tangannya. 

Rupanya pemuda itu tengah menyatakan cinta, dan yang membuat Anjani terkejut adalah, pemuda itu adalah putra dari salah seorang menteri di negara ini. “Wah, hidupku pasti sangat diberkahi, karena anakku di sukai anak seorang menteri,” gumam Anjani berbangga diri. 

Tapi senyum Anjani memudah karena detik berikutnya ia melihat Miranda menggeleng yakin. “Sorry.” 

Setelah memberikan penolakan, Miranda pun pergi meninggalkan kerumunan, para gadis berbisik, menyayangkan sikap Miranda yang menolak pria setampan Tian. Bahkan latar belakang keluarganya saja sudah membuat siapapun menelan ludah. 

Miranda berhenti sejenak karena melihat keberadaan Anjani di hadapannya, “Eh, Tante,” sapa kawan-kawan Miranda. 

Namun, Miranda acuh saja, bahkan gadis itu hanya melengos pergi menggandeng teman-temannya. 

Sore harinya di rumah, Anjani menghentikan putrinya ketika gadis itu hendak naik ke kamarnya. “Ada apa, sih, Mam?” 

“Kenapa kamu menolak pemuda tadi?” tanya Anjani yang sudah membayangkan betapa -wah- nya kekayaan keluarga Sebastian atau yang akrab dipanggil Tian. 

“Memang harus banget di terima?” 

“Ya, iya lah, mau ngapain terima dia? Orang aku nggak cinta.” 

Anjani tercengang mendengar bantahan putrinya. “Heh, hidup itu nggak butuh cinta, tapi ini.” Anjani menggosok ibu jari dan jari telunjuknya. 

“Hah, itu, kan, Mami. Bukan aku,” balas Miranda sinis. 

“Kamu—”

“Mami dengar, ya!” Belum sempat Anjani menyelesaikan kalimatnya, Miranda sudah menyela dengan ucapan tajam. 

“Mami atau Papi, jangan coba-coba mengatur hidupku. Karena hidupku, adalah milikku, bukan milik Papi, apalagi Mami!” 

Plak! 

Sebuah tamparan mengarah ke wajah Miranda, namun, gadis itu hanya tersenyum sembari memiringkan bibirnya. 

“Aku anggap ini adalah tanda persetujuan dari Mami.” 

Miranda menepis tubuh Anjani, kemudian melanjutkan langkahnya menuju lantai atas, tempat kamarnya berada. 

Luar biasa bergolak amarah Anjani setelah melihat keberanian putrinya. 

Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya, dan begitulah cerminan sikap Anjani di masa lalu, yang selalu membantah ucapan ibunya ketika menyuruh Anjani muda untuk rajin belajar demi masa depannya. 

Kini ia bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya pada saat itu, dan sepertinya itu belum apa-apa. Karena sang waktu akan terus bergerak ke depan, apa yang pernah di tanam di masa lalu, kelak akan dituai di masa depan. 

Othor tersenyum sinis 😏 bersiaplah mbak Anj-aaayy, kemarahan netijen menunggumu. 

...-THE END-...

Dan kita berjumpa di Wanita Mantan Narapidana Vol 2 🤓

Kenapa, nih? Biarlah othor saja yang tahu jawabannya, karena othor nggak mau terkesan lebay bin labil bin annu anni yang lainnya. 

Seperti biasa, othor tak pernah memaksa orang untuk mau membaca karya othor. Jadi buat yang ingin berhenti sampai di sini, othor persilahkan 🫰🥰

Tapi bila masih ingin lanjut, juga othor persilahkan. 🥰😘

Eps perdana sudah tayang, dimulai saat Lembayung Senja keluar dari penjara, silahkan cek di profile othor 😊😊

Terima kasih 🩷🩵

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!