Samanta tidak menyangka,setelah ia bertemu dengan pria bernama Alfin ia meras hidup di antara dua alam, akankah tumbuh perasaan di antara mereka, bisakah hantu dan manusia bisa bersama.
Yuk ikuti kelanjutan ceritanya,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deii Haqil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DUA DUNIA
Bab 24
Tak terasa malam semakin larut. Langit yang tadinya terang seketika berubah menjadi malam, yang dihiasi rembulan.
Saat ini, Sam tengah berjalan menuju pemberhentian bus di dekat stasiun. Dalam langkahnya, ia terus memikirkan Wulan. Ingin ia menemaninya saat ini, juga menjadi teman yang bisa menghiburnya. Tetapi Sam merasa tidak enak jika ia terlalu ikut campur. Dilihat ia dan Wulan baru hari ini saja mereka bertemu. Sam hanya bisa mendo'akan yang terbaik. Semoga Wulan bisa tegar menghadapi apapun cobaan yang ia hadapi saat ini.
Sam akhirnya sadar dari lamunannya, Saat bus yang akan ia tumpangi mendekat ke arahnya dan berhenti di samping halte bus.
Tanpa ragu ia pun masuk lewat pintu arah belakang. Tanpa ia sadari, ia melewati seorang penumpang yang duduk di bangku paling belakang. Penumpang itu hanya diam dan menunduk. Wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya dan ia mengenakan seragam sekolah yang sangat kotor, seperti noda darah bercampur lumpur yang lembap.
Sebelum Sam berjalan untuk menuju kursi tengah bus, ia merasakan bulukuduknya meremang saat pertama masuk kedalam bus. Dirasa ada yang aneh, Sam mencoba menoleh ke belakang tapi, tiba-tiba...
Seseorang langsung menarik tangannya, untuk segera duduk di sebelah orang tersebut. Sam yang tampak terkejut, ia melihat di sebelah tempat duduknya sudah ada Alfin yang menggenggam tangannya.
Alfin menatap wajah Sam sambil berkata. "Jagan lihat kebelakang. Jangan hiraukan dia. Anggap saja kau tidak merasakan apa-apa..Oke" ucap Alfin sambil memegang wajah Sam.
Sam yang merasa heran akhirnya mengangguk, tanpa banyak tanya. Ia percaya, kalau Alfin tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Sam memilih menyandarkan kepalanya di pundak Alfin, sambil memegang tangannya erat. Lama-kelamaan Sam sudah merasa nyaman berada di dekat Alfin.
Waktu 30 menit Sam lalui dengan perasaan tenang di samping Alfin. Tidak ada rasa takut atau pun cemas yang menyelimuti pikirannya.
"Ayo turun." Alfin mengusap lembut pundak Sam. Agar ia bangun dan segera keluar dari dalam bus.
"Sudah sampai, ya?" Karena terlalu nyaman, Sam sampai tidak sadar ia telah tiba di depan halte dekat kost-kostan nya. Bergegas ia turun lewat pintu depan bus, tapi sekilas sosok yang menyerupai pelajar tadi telah hilang entah kemana. Dan Sam pun melanjutkan langkahnya menuju gerbang kost di temani oleh Alfin di sampingnya.
Setelah mereka sampai di depan pintu rumah, Alfin kembali menarik lembut tangan Sam sambil tersenyum menenangkan.
"Istirahatlah, sudah larut. Aku tahu ini hari yang berat untukmu."
"Hemh. Terimakasih. Aku masuk ya"
Setelah mendengar jawaban Sam. Alfin pun menghilang seperti asap yang tersapu angin. Sam yang masih terpaku ditempat, buru-buru mengalihkan perhatiannya. Dan bergegas masuk ke dalam karena takut hantu-hantu yang lain bermunculan.
.
.
.
Waktu terus berganti. Dikeesokan harinya. Saat ini matahari mulai kembali menampakkan dirinya untuk menyinari kehidupan yang tadinya amat gelap.
Saat ini, adalah hari yang menguntungkan bagi sebagian orang. Karena sekarang sedang tanggal merah, dimana mereka bisa bersantai di hari libur tanpa harus bergegas pergi berkerja.
Mereka yang masih berkemul di balik selimut mulai terbangun, sesekali melamun sambil mengumpulkan nyawa dan niat.
Tak terkecuali Sam yang masih terbaring di kasur empuknya itu. Badannya bergerak-gerak dibalik selimut yang memberi rasa hangat. Rasanya seperti tertarik gravitasi sehingga ia sulit untuk keluar dari selimutnya.
Saut-saut terdengar suara nyaring yang berasal dari bunyi alarm di ponsel Sam, yang membuatnya harus memaksakan diri untuk bangun dari tempat ternyamannya itu.
"Bangun. Dasar pemalas, mau ini hari libur juga kau harus tetap bangun pagi."
Suara lembut itu berasal dari sosok Alfin yang tiba-tiba muncul di samping Sam. Entah apa niatnya itu, yang pasti perkataannya tadi membuat rasa kantuk Sam seketika menghilang dan langsung digantikan oleh tatapan tajam.
"Masih pagi udah bawel banget, kayak ibu aku aja.." ucap Sam yang masih melemparkan tatapan sinisnya kepada Alfin.
Sementara yang ditatap seperti itu hanya terdiam dengan ekspresi datar, lalu Alfin mengedikkan kedua bahu.
"Ga peduli. Sekarang kamu mandi sama sarapan sana, aku mau ngajak pergi ke suatu tempat." titah Alfin kepada Sam.
Sam mengernyit heran, ia mulai penarasan tempat apa yang dimaksud oleh Alfin itu.
"Kemana?"
"Lebih baik kau siap-siap dulu sana, baru nanti di kasih tau." saran Alfin masih dengan ekspresi yang sama.
Tidak menunggu Alfin kembali berbicara berkali-kali, Sam langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lalu, dilanjutkan dengan sarapan di ruang makan. Sam hari ini sedang malas memasak banyak, jadi dia hanya memasak telur dadar untuk sarapannya kali ini.
Setelah Sam sudah melakukan semua itu, ia berjalan menuju ruang tengah untuk duduk santai terlebih dahulu di sofa.
Saat Sam baru ingin membawa tubuhnya ke sandaran sofa, tiba-tiba saja Alfin kembali muncul dan ikut duduk di samping Sam.
Kemunculan Alfin yang tiba-tiba itu tentu membuat Sam terkejut walaupun ia sudah terbiasa dengan kemunculan hantu itu.
"Bisa ga sih. Gak usah tiba-tiba muncul kayak begitu?! Kayak hantu aja..."
hardik Sam kepada Alfin. Yang dimana perkataannya itu membuat Alfin sedikit tersinggung.
"Lho. Mau gimana lagi? Emang gue hantu." ucap Alfin santai. Namun, mampu membuat Sam terkejut mendengarnya.
Sam yang tersadar akan omongannya itu kini hanya cecengiran sambil tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya.
"Haha... sorry, lagian aku lupa"
"Kayaknya kamu udah jadi nenek jompo ya?" leder Alfin sambil tersenyum miring.
Sam seketika mengernyit, tak terima dengan ejekan Alfin yang membuatnya menjadi kesal.
"Sembarangan! Wajah aku masih glowing gini dibilang nenek jompo. Ya kalau aku udah tua kamu juga ikutan tua lah!" kilah Sam tak terima dibilang nenek-nenek.
Alfin hanya terdiam menatap Sam dengan ekspresi datarnya, lalu ia tersenyum kecil.
"Kalo lo tua gue ga ikutan tua, gue itu bakal tetap awet muda." kata Alfin dengan santai.
Perkataan Alfin itu juga ada benarnya. Jika Sam sudah tua Alfin tidak akan ikut menjadi tua, karena Alfin itu bukan manusia.
Namun Sam tidak peduli, ia kembali berbicara sambil menatap Alfin dengan sinis.
"Dih? Mentang-mentang udah jadi dedemit, sombong banget lo."
Alfin tidak mempedulikan omongan Sam, ia tetap terdiam menatap Sam tanpa ekspresi.
Setelah beberapa menit hanya terisi kesunyian, lalu Sam kembali berbicara untuk mencairkan sedikit suasana.
"Oh ya, tempat apa yang mau kamu ajak aku tadi?. Katanya mau ngajak ke suatu tempat" tanya Sam sedikit penasaran.
Alfin menaikkan sebelah alisnya, lalu ia melirik ke arah Sam.
"Oh. Gue mau ngajak lo pergi ke perpustakaan kota."
Sam mengernyit heran. Makin penasaran, mengapa Alfin mengajaknya untuk pergi ke perputstakaan kota.
"Kenapa memangnya?"
"Itu tempat favorit yang sering gue kunjungi dulu untuk mengisi waktu luang." jawab Alfin sambil mengingat kembali semasa hidupnya sebelum ia menjadi dedemit.
Sam menghela nafas panjang, lalu ia mengangguk perlahan untuk mengiyakan permintaan Alfin.
*Bersambung..*