NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:134.4k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Langit kota sore itu berwarna keemasan, memantulkan cahaya lembut ke dinding ruang makan. Aroma tumisan bumbu dan wangi nasi hangat memenuhi udara. Di dapur, Citra sedang sibuk mengaduk sayur sop, sementara seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah menyiapkan piring.

“Ma, garamnya segini cukup belum?” tanya Citra sambil mencicipi sedikit kuahnya.

Bu Lilis terkekeh. “Ih, kamu tuh mirip Mama waktu muda. Kalau masak mesti nyicipin dulu, biar enggak dikomplain suami.”

Citra tertawa kecil. “Iya, soalnya Pak Rama suka protes kalau asin dikit.”

Belum sempat Bu Lilis menjawab, suara pintu depan terdengar. “Assalamualaikum!” seru Rama dari ruang tamu.

“Waalaikumsalam!” jawab keduanya bersamaan.

Rama muncul di ambang pintu dapur dengan senyum lebar. “Duh, dua perempuan kesayanganku lagi masak bareng. Dunia ini rasanya aman sekali.”

Citra tertawa. “Aman asal Pak Rama enggak ganggu.”

“Ganggu gimana? Saya cuma mau nyium aromanya aja.” Rama mendekat, pura-pura mengendus kuah sop.

“Eh, tangan kamu jangan ikut nyicip!” tegur Bu Lilis, menepuk tangan anaknya pelan. “Citra, suamimu ini dari kecil doyan nyolong lauk.”

Citra tergelak. “Oh, jadi kebiasaan lama ya, Ma?”

“Makanya jangan dimanja terus,” goda Bu Lilis.

Rama pura-pura merengut. “Mama ini kok malah di pihak Citra.”

“Ya jelaslah! Mama lebih sayang menantu yang rajin masak daripada anak laki-laki yang cuma bisa minta disuapin,” balas Bu Lilis cepat, membuat Citra tak kuasa menahan tawa.

Suasana rumah sore itu begitu hangat. Meja makan sederhana diisi canda, nasi hangat, dan kasih sayang yang tulus. Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tengah sambil menyesap teh.

Bu Lilis menatap Citra penuh sayang. “Cit, Mama tuh senang banget lihat kamu sama Rama. Kamu bener-bener bikin dia berubah. Dulu tuh Rama kaku banget, kerja mulu. Sekarang bisa ketawa tiap hari.”

Citra menunduk malu. “Saya juga senang, Ma. Pak Rama orangnya sabar.”

“Dulu enggak begitu,” seloroh Bu Lilis. Ia menatap putranya tajam tapi dengan nada menggoda. “Waktu masih sama Lani, aduh… Mama sampai pengen gebukin perempuan itu.”

Citra tersentak pelan. Ia menatap Bu Lilis ragu. “Tante Lani...?”

“Iya, Lani mamanya Rava, kamu kenal kan?” jawab Bu Lilis tanpa tedeng aling-aling. “Perempuan licik. Cantik sih, tapi lidahnya bisa ngebunuh orang. Dulu Rama cinta mati sama dia, tapi apa balasannya? Selingkuh di belakang, uang habis, hati hancur.”

Rama yang duduk di kursi sebelah hanya menghela napas. “Ma, sudah lah, itu cuma masa lalu.”

“Tapi kan Citra belum tahu,” potong Bu Lilis. “Lani itu enggak pernah puas. Selalu minta lebih, sampai akhirnya ketahuan punya pria lain. Waktu itu Rama hampir enggak mau cerai, karena terlalu cinta. Tapi setelah ketahuan jelas-jelas, baru sadar juga.”

Citra mendengarkan dengan mata berkaca. “Benarkah Tante Lani begitu? Selama saya kenal, Tante Lani terlihat biasa saja. Saya… enggak nyangka, Ma.”

“Iya, Cit. Dan Mama percaya, anaknya enggak jauh beda. Rava itu kabur pas mau nikah sama kamu, kan? Bikin malu aja. Bikin Mama sama Rama jadi enggak enak sama besan, sama Ayah dan bunda kamu. Nah, Mama yakin, pasti ada darah Lani yang menurun. Cowok kayak gitu enggak akan bisa tanggung jawab. Pasti kabur gara-gara perempuan juga.”

“Ma…” Rama mencoba menengahi. “Gimana pun, Rava juga cucu Mama. Darah daging Rama juga.”

“Tapi kan, selama ini Lani yang didik dia. Mama yakin dia pasti nurun dari mamanya. Kalau nurun dari kamu, pasti udah jadi bener dia, enggak akan kabur-kaburan kayak gini,” sahut Bu Lilis, menyeruput tehnya. “Sudahlah! Mama kok jadi geram sendiri. Yang penting sekarang kamu bahagia sama Citra.”

Citra tersenyum kecil, menatap Mama mertuanya yang cerewet tapi tulus. Dalam hati, ia merasa lega—Bu Lilis ternyata benar-benar menerima dirinya.

*****

Malam turun perlahan. Di kamar yang diterangi lampu temaram, Citra duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut. Rama keluar dari kamar mandi, rambutnya sedikit basah.

“Masih mikirin omongan Mama?” tanya Rama lembut.

Citra menoleh. “Sedikit. Rasanya masih enggak percaya aja kalau dulunya tante Lani begitu.”

Rama duduk di sampingnya. “Sudahlah, enggak perlu ngomongin Lani. Enggak penting juga.”

Citra terdiam. Rama memperhatikan. "Kamu... Masalah Rava... beneran enggak mau tau?"

Citra menggeleng. “Enggak pak.”

Rama menatap istrinya dengan lembut. “Kamu engak penasaran?”

"Penasaran sih, Pak. Tapi..." Citra tersenyum tipis. “Saya udah sembuh, Pak. Ketemu dia pun enggak akan ubah apa-apa. Alasan dia kabur juga udah enggak penting. Saya udah bahagia sekarang.”

Rama menatapnya lama, lalu tersenyum. “Kalau begitu, saya tenang.” Ia membelai rambut Citra pelan, menunduk dan mengecup keningnya. “Kamu milik saya, Citra.”

Citra tersenyum, membalas dengan pelukan. “Dan Bapak, milik saya juga.”

Dalam keheningan malam, mereka saling berciuman lembut, seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan tenang setelah badai panjang.

****

Keesokan harinya, Citra dan Rama memutuskan pergi jalan-jalan ke swalayan besar di pusat kota. “Kita belanja bulanan sekalian, ya,” kata Citra ceria.

“Siap, Bos!” jawab Rama sambil mendorong troli dengan gaya sok serius. “Ibu rumah tangga ini harus dikawal.”

Citra tertawa. “Halah, Bapak mah kebanyakan gaya. Ini, bantu angkat minyak goreng dua liter!”

“Lho, Bapak ini bukan kuli!”

“Kalau gitu, enggak usah minta dimasakin malam ini.”

Rama langsung mengangkat minyak itu sambil pura-pura kaku. “Siap, Komandan Dapur!”

Citra terkekeh geli. Hari itu terasa ringan dan menyenangkan. Mereka memilih buah, bercanda di lorong makanan ringan, bahkan sempat rebutan camilan favorit.

Namun tiba-tiba, Rama menepuk bahunya. “Sayang, aku ke toilet dulu ya. Jangan pergi jauh-jauh.”

“Cepet, ya. Jangan lama, nanti aku tinggal,” jawab Citra sambil melirik iseng. “Atau Bapak mau BAB dulu? Mukanya udah panik tuh.”

Rama memasang wajah panik pura-pura. “Ih, jangan teriak gitu dong di tempat umum.”

Citra menahan tawa. “Hehe, makanya cepetan.”

Rama pun berlalu dengan langkah tergesa. Citra kembali mendorong troli, menikmati musik lembut yang diputar di swalayan itu. Ia berhenti di lorong minuman, memilih jus buah yang sedang promo.

Tapi ketika ia berbalik, troli seseorang hampir menabraknya.

“Oh, maaf—” ucap Citra refleks, lalu terdiam.

Pria di depannya menatap dengan mata melebar. Wajah yang dulu begitu ia kenal, kini tampak lebih tirus, sedikit lelah… tapi sorot matanya masih sama.

“Citra…” suara itu lirih, nyaris seperti bisikan.

Citra terpaku. Jus di tangannya hampir jatuh. Dunia seolah berhenti berputar.

Rava berdiri di depannya.

Di antara deretan rak swalayan dan cahaya lampu yang terang, masa lalu yang ingin ia lupakan kini berdiri hanya sejengkal darinya.

1
Susi Akbarini
untung fahri masih cinta..
kalo dah ditinggal pegi..

gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
EkaYulianti
sebelum resepsi
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!