DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KESOMBONGAN YANG DIPATAHKAN
****
Dua hari setelah gala dinner, ponsel David berbunyi, satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Begitu dibuka, isinya cuma sebaris koordinat lokasi, dan satu kalimat pendek yang terasa dingin walau ditulis tanpa nada ancaman langsung.
"Kalau ingin tahu siapa musuhmu yang sebenarnya, datang sendiri. Harus seperti laki-laki, bukan main ancam. Saya tidak suka diancam. Bersiaplah bermain-main denganku."
David membaca pesan itu berkali-kali, alisnya berkerut. Dia tahu betul ini dari Dimas, tapi instingnya, insting yang sudah terbentuk dari bertahun-tahun membaca jebakan di arena tarung, mengatakan ini bukan undangan biasa.
"Ini jebakan," dia bergumam, lalu menutup ponselnya, memutuskan untuk tidak terpancing sama sekali. "Kalau dia mau gue datang sendirian ke tempat asing, ya jelas gue gak bakal sebego itu."
Dia tidak tahu, keputusan untuk tidak terpancing itu justru memicu sesuatu yang jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan.
***
Di gedung kosong miliknya, Dimas menatap layar ponsel yang menunjukkan pesannya belum dibalas, lalu meletakkan ponsel itu ke meja dengan tenang, seperti orang yang sudah menduga reaksi ini sejak awal.
"Macan ini gak gampang dipancing," dia bergumam, menyeruput kopinya yang sudah dingin, "kalau harimau tidak keluar kandang, lukai orang yang paling dia lindungi."
Dia memanggil salah satu anak buahnya yang sudah menunggu di pojok ruangan, sosok bertubuh tegap dengan tato kecil di leher, bekas anggota pasukan khusus yang dipecat karena kasus kekerasan berlebihan beberapa tahun lalu.
"Cari tahu siapa orang terdekat David yang paling sering bergerak sendirian. Bukan David-nya langsung. Cari yang lebih lemah posisinya."
"Siap, Bos."
Tidak butuh waktu lama, informasi itu didapat. Malam itu, Rambo sedang dalam perjalanan mengantar Camelia pulang dari kantor pusat, setelah rapat malam membahas rencana ekspansi proyek yang baru. Mobil yang mereka tumpangi melaju di jalan tol yang mulai sepi, lampu jalan berkedip teratur, dan Rambo, yang biasanya selalu siaga, malam itu sedikit lengah karena lelah seharian mengawasi keamanan proyek.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, tiga buah SUV hitam memotong jalur, memaksa mobil mereka berhenti mendadak di tepi jalan yang gelap, jauh dari lampu penerangan jalan tol.
"Apa ini?" Camelia bertanya panik, suaranya bergetar.
Rambo, walau jantungnya berdebar, mencoba tetap tenang, "Nona tetap di dalam mobil. Saya cek dulu."
Begitu dia keluar dari mobil, belum sempat dia benar-benar berdiri tegak, sesuatu yang berat menghantam belakang kepalanya. Dia tidak melihat siapa yang memukul, tidak mendengar langkah mendekat, hanya merasakan dunia berputar mendadak, dan tubuhnya jatuh ke aspal dengan suara keras.
"DUGH!"
"AAAKH!" dia mengerang, mencoba bangkit, tapi belum sempat berdiri, sebatang besi menghantam kakinya, tepat di tulang kering.
"KRAK!"
Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, kakinya seketika terasa seperti tidak bisa lagi menopang berat badan sendiri. Dia berusaha berdiri lagi, badannya yang besar dan terlatih bertahun-tahun jadi preman jalanan masih menyimpan refleks untuk melawan, tapi kali ini lawan-lawannya bukan preman biasa.
Lima orang mengepung dari segala arah, gerakan mereka rapi, terkoordinasi, tidak seperti kebanyakan preman yang menyerang asal-asalan karena emosi. Setiap pukulan diarahkan tepat ke titik vital, setiap tendangan menghantam sendi-sendi yang membuat tubuh sebesar Rambo sekalipun tidak berdaya.
"Lo, lo siapa?!" Rambo berteriak, suaranya pecah antara amarah dan nyeri yang menjalar di sekujur tubuh.
Tidak ada jawaban. Mereka tidak banyak bicara, hanya bergerak, memukul, menendang, dengan presisi dingin yang menunjukkan latihan militer yang jauh berbeda dari kekerasan jalanan biasa.
Rambo mencoba bangkit lagi, mengumpulkan sisa kekuatan, menyerang balik salah satu dari mereka dengan pukulan keras yang biasanya cukup untuk merobohkan lawan sekelas Black Dragon dulu.
"DUGH!"
Pukulannya kena, tapi orang itu hanya terhuyung sedikit, lalu kembali menyerang dengan tenang, seolah pukulan Rambo barusan tidak ada artinya sama sekali.
"Anjir... ini... ini beda," Rambo bergumam dalam hati, napasnya tersengal, "ini bukan preman biasa. Ini... ini level lain."
Dua orang lain langsung menangkap kedua lengannya, menahan sambil seorang lagi melayangkan pukulan beruntun ke wajah, ke perut, ke rusuk, tanpa ampun.
"BRAK!" "BRAK!" "BRAK!"
Setiap hantaman membuat tubuh besar itu terguncang, darah mulai mengalir dari sudut bibirnya, satu matanya membengkak hingga hampir tertutup sepenuhnya.
"AAAAKH!"
Camelia, yang menyaksikan semuanya dari dalam mobil dengan tubuh gemetar ketakutan, mencoba membuka pintu untuk membantu, tapi salah satu anak buah Dimas langsung menahan pintu itu dari luar.
"Diem aja di dalem," suara berat itu berkata dingin, "kita gak ada urusan sama lo."
"LEPASIN RAMBO!" Camelia berteriak, air matanya sudah jatuh deras, tapi suaranya tenggelam dalam suara pukulan yang terus berlanjut di luar.
Rambo mencoba bangkit sekali lagi, tubuhnya yang sudah penuh luka memaksa berdiri dengan kaki yang sudah tidak bisa lagi menopang dengan benar, tapi begitu dia hampir tegak, satu tendangan keras menghantam dadanya, membuatnya terjungkal kembali ke aspal.
"BRUK!"
"Tetap... gue harus... lindungin Nona Camelia," Rambo bergumam parau, mencoba merangkak, tapi tubuhnya sudah tidak mampu lagi menanggung perintah otaknya sendiri.
Dimas, yang sejak awal hanya mengamati dari dalam mobilnya sendiri yang terparkir agak jauh, akhirnya turun, berjalan pelan mendekat, sepatu kulitnya berdecak di aspal yang sudah berlumuran darah.
Salah satu anak buahnya berbisik, "Bos, yang perempuan mau diculik juga?"
Dimas menggeleng tegas, "Tidak. Lepaskan dia. Tujuan kita bukan menculik. Tujuan kita mengirim pesan."
Anak buahnya yang menahan pintu mobil langsung melepas, mundur perlahan, membiarkan Camelia keluar dengan tubuh gemetar, berlari ke arah Rambo yang masih tersungkur, mencoba memeluk tubuh besar itu yang sudah penuh luka dan darah.
Dimas berjongkok di depan Rambo, menatapnya dengan mata dingin yang tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun, hanya kepuasan yang tenang.
"Sampaikan ke David," dia berkata pelan, suaranya datar, "hari ini aku hanya mematahkan kesombongan pengawalnya. Besok, giliran dia."
Dia berdiri, membenarkan jas yang sedikit kusut, lalu berjalan kembali ke mobilnya tanpa menoleh lagi, diikuti anak buahnya yang masuk satu per satu ke dalam SUV hitam yang kemudian melaju pergi, meninggalkan jalan yang sunyi kecuali isakan Camelia dan rintihan Rambo yang masih berusaha mengatakan sesuatu di antara napasnya yang tersengal.
"Nona... saya... harus... antar Nona pulang dulu... baru..."
"Rambo, udah, udah, jangan maksa bicara," Camelia berkata sambil menangis, mencoba mengeluarkan ponselnya untuk menelepon ambulans.
Tapi Rambo, dengan tenaga yang entah dari mana, memaksa bangkit, bersandar di mobil, "Saya... harus temui Tuan David. Sekarang."
"Rambo, kamu harus ke rumah sakit dulu!"
"Tidak," Rambo menggeleng pelan, suaranya semakin lemah tapi tekadnya tidak goyah, "Tuan David harus tau ini sekarang juga. Tolong, Nona, antar saya."
***
Sampai di rumah, David yang sedang duduk santai di ruang tengah sambil membaca laporan kerja, mendengar suara mobil berhenti mendadak di halaman, diikuti suara langkah berat yang terdengar tidak beraturan.
Begitu pintu terbuka, dan David melihat sosok yang masuk, dadanya seketika membeku.
Rambo, badan besar yang biasanya tegap penuh percaya diri, sekarang berjalan terseok, satu kakinya diseret karena tidak bisa lagi menopang dengan benar, wajahnya bengkak di banyak tempat, satu matanya hampir tidak bisa terbuka, darah masih mengalir dari sudut bibir yang pecah, dan satu tangannya menggantung lemas dengan posisi yang jelas tidak normal, tulang yang patah.
"Tuan..." Rambo berusaha bicara, suaranya parau dan terputus-putus, "saya... gagal jaga Nona Camelia... tapi Nona aman..."
David berdiri mendadak, tubuhnya bergerak cepat menghampiri, menahan tubuh Rambo yang hampir jatuh.
"Rambo... siapa yang ngelakuin ini?!"
"Dimas... bilang... ini cuma... mematahkan kesombongan... pengawal..." Rambo berusaha menyelesaikan kalimatnya, "besok... giliran Tuan..."
David menatap wajah penuh luka itu lama, tangannya gemetar menahan sosok besar yang biasanya begitu kuat, sekarang terasa begitu rapuh dalam pelukannya.
Sesuatu di dalam dada David retak seketika. Bukan ketakutan, bukan amarah biasa yang dia rasakan saat menghadapi Reza atau saudara-saudara tirinya. Ini berbeda. Ini lebih dalam, lebih mentah, kemarahan yang lahir dari melihat orang yang setia padanya, yang sudah berkali-kali mempertaruhkan nyawa untuknya, disiksa habis-habisan hanya untuk mengirim pesan kosong.
"Tot, panggil ambulans, SEKARANG!" David berteriak, suaranya pecah antara panik dan amarah yang membara.
Anto, yang baru tiba beberapa menit kemudian setelah ditelepon Camelia, langsung berlari masuk, matanya melebar melihat kondisi Rambo, segera mengeluarkan ponsel menelepon layanan darurat.
Camelia, yang masih gemetar dan menangis, berusaha menjelaskan kejadian itu sambil isakannya terus terputus, "David, mereka... mereka bukan preman biasa, mereka kuat banget, terlatih, Rambo udah berusaha sekuat tenaga, tapi mereka..."
David tidak menjawab, hanya menatap wajah Rambo yang sekarang sudah hampir kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang menumpuk, tangannya mengepal erat, giginya bergemeretak menahan emosi yang sudah tidak bisa lagi dia kendalikan.
"Tenang dulu, Vid," Anto mencoba menenangkan setelah selesai menelepon ambulans, "kita urus Rambo dulu, baru kita pikirin langkah selanjutnya."
Camelia juga mendekat, mencoba meletakkan tangan di pundak David, "David, kita perlu strategi, jangan asal nyerang balik."
David menatap mereka berdua sebentar, dadanya naik turun cepat, lalu suaranya keluar, pelan, tapi penuh ketegasan yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya dari David.
"Mulai malam ini... gue sendiri yang akan hadepin Dimas."
Tidak ada yang membalas kalimat itu. Anto dan Camelia saling pandang, tahu betul bahwa kali ini, David tidak sedang bicara dengan amarah sesaat yang akan mereda esok hari. Ini adalah keputusan yang sudah mengakar dalam, lahir dari luka yang jauh lebih dalam dari sekadar harga diri yang terluka.
***
Jauh dari rumah itu, di gedung kosongnya, Dimas duduk santai menikmati anggur merah, ketika ponselnya berbunyi, nama Reza muncul di layar.
"Sudah selesai?" suara Reza terdengar tidak sabar, "Rambo udah mati?"
Dimas tersenyum tipis, menyesap anggurnya perlahan sebelum menjawab.
"Mati itu terlalu mudah," dia berkata dengan nada yang santai, hampir geli, "saya ingin David datang sendiri kepada saya."
Dia menutup telepon itu, menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu Jakarta yang berkedip jauh di bawah sana, senyumnya semakin lebar, seperti seorang pemburu yang baru saja melihat mangsanya mulai bergerak tepat sesuai jebakan yang dia rancang.
*(bersambung)*