Miranda Amalia, seorang gadis miskin berumur 16 tahun, dilamar oleh keluarga Pratama yang kaya raya untuk dinikahkan dengan anak tunggal mereka, Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun. Ternyata Miranda dijadikan menantu agar bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat sebuah kecelakaan.
Hingga suatu hari, seorang dokter berhasil menyembuhkan Kevin dari kelumpuhan. Dan untuk membalas budi pada dokter itu, Keluarga Pratama menjodohkan Kevin dengan anak sang dokter yang bernama Celine Richardo. Karena itu, mereka menceraikan Miranda dari Kevin dan mengusirnya.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba Kevin menemukan Miranda bekerja menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang baru dibelinya. Merasa bersalah pada gadis itu, ia pun mendekatinya. Namun, yang dirasakan ternyata lebih dari sekedar rasa bersalah, tetapi juga rasa cinta, yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya saat masih menjadi suaminya.
Maukah Miranda menerima Kevin yang terus mengejarnya, sedangkan Kevin telah beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA HATI
Marina terbelalak menatap Sandy, sedangkan Sandy juga terkejut ketika melihat Marina, yang berwajah mirip dengan Miranda. Tapi Marina berambut lurus smooth dan dicat kecoklatan, sedangkan Miranda tetap alami dengan rambut hitamnya yang sedikit bergelombang.
“Jadi, ini yang bernama Sandy?” Marina mengingat cerita Miranda tentang Sandy, supervisernya yang selalu mendekatinya dan akhirnya menjadi kekasihnya.
Sandy mengangguk sambil tersenyum dengan sopan, “Iya, saya Sandy.”
“Kenalkan, aku Marina, kakaknya Miranda,” Marina mengulurkan tangannya dengan ramah.
Sandy menyambut uluran tangan itu dengan hangat. Miranda lalu mendekati mereka.
“Kak Marina ini ibunya Silvia, Sandy,” Miranda menjelaskan.
Marina mempersilahkan Sandy masuk ke dalam kost, tapi Sandy menolak. Ia terbiasa mengobrol dengan Miranda di teras. Marina pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya.
“Bagaimana kabarmu, Sandy?” tanya Miranda. Sudah lama Sandy tidak muncul sejak terakhir kali menjenguknya di rumah sakit, bahkan ia tidak memberinya kabar sama sekali walaupun hanya melalui pesan.
“Seharusnya aku yang menanyakan kabarmu terlebih dahulu, Miranda. Kamu sudah sehat?” tanya Sandy.
“Iya, aku sudah sehat, Sandy,” jawab Miranda.
“Syukurlah,” ucap Sandy. Lalu ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “aku sudah keluar dari pabrik itu.”
Miranda terkejut dan merasa bersalah, “kenapa, Sandy? Apa Kevin memecatmu?”
Sandy tersenyum sinis, “dia memang mengancam akan memecatku kalau aku terus mendekatimu. Tapi sebelum itu terjadi, aku resign duluan.”
“Maafkan aku, Sandy. Gara-gara terlibat denganku, kamu jadi kehilangan pekerjaanmu. Lalu sekarang bagaimana denganmu?” Miranda sangat prihatin dan mengkhawatirkan Sandy.
“Jangan khawatir, aku sudah diterima menjadi manajer di tempat lain,” sahut Sandy sambil tersenyum.
Pemuda itu memeng sengaja tidak mengabari Miranda sebelum ia memperoleh pekerjaan lagi. Dan setelah ia diterima kerja di perusahaan lain, barulah ia mengunjungi Miranda lagi, agar pertemuan mereka berada pada suasana yang bahagia.
“Syukurlah,” ucap Miranda lega. “Selamat, ya? Sekarang posisimu malah naik jadi manajer....”
“Tapi perusahaan yang baru memang tidak sebesar perusahaan Pak Kevin, Miranda,” sahut Sandy. “Perusahaan yang ini masih tergolong baru, makanya aku bisa berada pada level manajer.”
“Tidak apa-apa, Sandy. Yang penting tetap bekerja,” hibur Miranda.
Miranda lalu menceritakan bahwa ia dan kakaknya akan merintis usaha warung nasi sesegera mungkin. Sandy merasa lega mengetahui bahwa Miranda tidak akan kembali bekerja di perusahaan milik Kevin lagi.
“Lalu, bagaimana dengan Pak Kevin? Ia masih sering kesini?” tanya Sandy.
Miranda mengangguk. “Tapi aku tidak menemuinya. Dia malah menemui Kak Marina.”
Miranda melongok ke dalam rumah, mencari keberadaan kakaknya. Setelah memastikan Marina tidak ada, Miranda melanjutkan kalimatnya dengan setengah berbisik, “Kak Marina menyambut Kevin dengan baik. Padahal aku sudah memperingatkannya agar tidak dekat dengan Kevin, agar Kevin bisa kembali pada keluarganya.”
Sandy menatap Miranda dengan tatapan sedih. Ia merasa kehadiran Marina mengancam posisinya untuk mendekati Miranda, karena Marina mendukung Kevin.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada Kevin?” tanyanya.
“Sementara ini aku akan terus menghindarinya, Sandy,” jawab Miranda.
“Sampai kapan kamu bisa bertahan?” tanya Sandy. “Miranda, kalau kita merencanakan sebuah pernikahan, mungkin dia akan mundur.”
Pernikahan lagi. Sandy selalu saja menyebut soal pernikahan, padahal Miranda belum pernah memikirkannya.
“Selama kamu tetap sendiri, pria itu tidak akan menyerah mendekatimu, Miranda,” ujar Sandy. Diraihnya tangan Miranda dengan kedua tangannya, lalu ia berkata lagi, “Kamu bisa menggunakan aku, Miranda. Janjiku padamu masih tetap sama. Kita akan menikah, dan aku tidak akan menekanmu dalam pernikahan kita. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku.”
Miranda tertegun. Air matanya meluruh, ia menatap Sandy dengan sedih. “Aku tidak mau menyakitimu dan keluargamu, Sandy.”
“Kenapa, Miranda?Apa karena kamu tidak mencintaiku dan masih mencintai Pak Kevin?” tanya Sandy, berusaha meredam gejolak di hatinya.
Miranda menggelengkan kepalanya. “Kalian.... tidak ada dalam rencana masa depanku. Maafkan aku, Sandy.”
Sandy terhenyak. Kata-kata Miranda sangat menyakiti hatinya. Ia merasa sangat kecewa mendengarnya.
“Aku tidak mau hamil lagi. Bukan sekedar tidak mau, tapi mungkin aku juga tidak bisa hamil lagi. Kata dokter, operasi itu memang berhasil, tapi tidak bisa sepenuhnya menjamin untuk pulih seperti sedia kala. Dan kehilangan janin adalah hal yang sangat menyakitkan buatku, aku tidak mau terjadi lagi dalam hidupku,” Jelas Miranda dengan jujur.
Dengan alasan itu, rasa kecewa di hati Sandy mereda, berganti dengan sebuah empati. “Kurasa, memang belum saatnya kita membicarakan hal ini, Miranda. Kamu belum siap karena kejadian itu masih baru dan pasti membuatmu masih trauma.”
“Selain itu, aku juga trauma dengan pernikahan yang akan menciptakan hubungan dengan mertua,” tambah Miranda.
Sandy langsung teringat pada ibunya. Ibunya juga terlihat ragu terhadap Miranda yang mempunyai latar belakang kehidupan yang rumit.
“Sandy, Kevin telah memenjarakan ibu kandungnya sendiri,” ujar Miranda.
Sandy kembali tertegun, ternyata Kevin begitu mencintai Miranda hingga tega memenjarakan ibu kandungnya sendiri. Tapi memang ibu kandungnya terlalu kejam karena tega menculik dan menggugurkan kandungan Miranda dengan cara yang tidak manusiawi pula.
“Pernikahan hanya akan merusak hubungan seorang anak laki-laki dengan ibunya ketika harus memilih antara membela istri atau ibunya. Jadi, aku tidak ingin itu terjadi lagi dalam hidupku,” lanjut Miranda.
“Bagaimanapun, ibuku tidak akan sekejam ibu Pak Kevin,” tegas Sandy.
Terbayang lagi wajah ibunya yang biasanya selalu lembut dan bijaksana. Mungkin hanya butuh waktu untuk meyakinkan ibunya agar mau menerima Miranda dengan status jandanya.
“Aku tidak berpikiran ibumu juga akan bersikap buruk padaku, Sandy. Maaf kalau kamu jadi salah paham,” ucap Miranda dengan penuh penyesalan. “Aku yakin, ibumu pasti baik dan sabar seperti kamu. Tapi memang hatiku sendiri yang masih belum siap untuk menjalin sebuah hubungan.”
Setelah penjelasan Miranda yang panjang lebar itu, akhirnya Sandy pamit pulang dengan membawa kekecewaan dalam hatinya. Tidak ada gunanya membujuk Miranda di saat wanita itu baru saja mengalami kejadian tragis dalam hidupnya.
Sesampainya di rumah, Sandy yang sedang galau justru dikejutkan dengan kehadiran sorang wanita cantik di ruang tamunya. Wanita itu adalah Lucy, yang datang ke rumah Sandy ditemani oleh Salsa, sepupunya itu. Tampak ibunya juga menemui Lucy, wajahnya tampak berseri-seri.
“Nah, akhirnya yang ditunggu dari tadi sudah datang,” ucap Dina sambil berdiri dan menyambut uluran tangan Sandy yang kemudian mencium punggung tangannya.
Lucy melihat tingkah laku Sandy yang sangat hormat pada orang tua dengan penuh kekaguman. Ia juga langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada Sandy.
“Sandy, lama kita tidak bertemu,” ucapnya sambil memamerkan senyum terbaiknya.
Sandy menyambut uluran tangan gadis itu lalu segera melepaskannya. Sedangkan Salsa hanya diam dan mengamati raut wajah Sandy.
“Apa kabar, Lucy?” tanya Sandy, terpaksa basa basi.
“Aku baik-baik saja. Tapi pabrik sangat hambar tanpa kehadiranmu,” sahut Lucy, yang disambut dengan tawa renyah Dina dan Salsa.
Sandy hanya tersenyum tipis, lalu pamit masuk ke dalam kamarnya. Dina mencegahnya dan menyuruhnya tetap untuk duduk bersama mereka.
“Lucy kemari untuk mencarimu, kok kamu malah mau pergi?” ujar Dina memarahi putranya.
Sandy terpaksa menuruti kemauan ibunya itu. Mereka mengobrol tentang pekerjaan baru Sandy, yang bahkan Sandy sendiri malas untuk menceritakannya. Ia hanya menjelaskan dengan singkat untuk sekedar menjawab pertanyaan Lucy, sedangkan Dina yang lebih antusias untuk menceritakannya.
Setelah Lucy pulang, Sandy langsung terkapar di atas ranjangnya. Energinya terasa terkuras habis dengan adanya masalah dengan Miranda, ditambah lagi kehadiran Lucy ke rumahnya. Dina menghampirinya dengan cemas.
“Sandy, kenapa kamu tampak sedih?” tanya Dina dengan hati-hati sambil memijat punggung Sandy perlahan.
Naluri seorang ibu sangat peka dan dapat langsung merasakan sekecil apapun perubahan suasana hati putranya. Bahkan, ia turut merasakan aura kesedihan putranya itu.
Sandy tidak menjawab. Ia menahan gejolak di dalam hatinya, yang sedikit demi sedikit mulai mereda akibat pijatan penuh kasih sayang yang diberikan oleh ibunya.
“Lucy kelihatannya begitu perhatian padamu,” ujar Dina. “Dia juga sangat cantik dan ceria. Ibu senang melihatnya.”
Sandy tidak berkomentar, tapi ia sudah bisa menebak bahwa ibunya pasti akan menyinggung soal Lucy. Salsa pasti telah meracuni ibunya dengan menceritakan kebaikan-kebaikan Lucy untuk mencuri hati ibunya.
“Kalau hubunganmu dengan Miranda selalu bermasalah, mengapa tidak mencoba membuka hatimu pada Lucy? Dia masih gadis dan sangat mencintaimu. Lucy begitu sempurna,” bujuk Dina. “Ibu sedih tiap kali melihat hidupmu yang kacau semenjak bersama Miranda.”
Mendengar itu, Sandy langsung membalikkan badan dan bangkit dari tidurnya. Wajahnya memerah karena marah.
“Aku tidak mencintai Lucy! Aku hanya mencintai Miranda, bu!” tegas Sandy. “Miranda memang rumit, tapi hatinya jauh lebih murni daripada Lucy yang jahat itu!”
“Kenapa kamu mengatakan Lucy jahat?” tanya Dina heran.
“Karena Lucy selalu menindas Miranda. Dialah yang selalu mengusik dan menebar fitnah tentang Miranda. Dan Salsa keponakan ibu yang tersayang itu juga tidak kalah licik dengan Lucy!” jelas Sandy dengan nada tinggi.
Dina menghela nafas panjang. Ia tak ingin melihat Sandy semakin tersulut, sehingga ia berusaha menahan diri. Dalam hati, ia sudah membulatkan tekatnya untuk menjadi tempat curhat yang terbaik buat putranya agar putranya tidak sampai tersesat di luar sana.
“Baiklah, nak.” Dina menepuk bahu Sandy dengan penuh kasih. “Semua terserah padamu. Apa yang bisa ibu lakukan untukmu? Ibu sedih melihatmu akhir-akhir ini tampak gelisah. Hati ibu ikut sakit.”
“Aku ingin ibu merestuiku dengan Miranda. Karena dengan begitu, pasti jalan kebahagiaanku bersama Miranda akan terbuka lebar,” pinta Sandy.
“Apakah hubunganmu dengan Miranda sangat rumit?” tanya Dina.
“Aku akan menceritakan semua tentang Miranda, tapi setelah ibu berjanji akan tetap merestui aku dengannya.” Sandy memberikan penawaran dan Dina mengangguk setuju.
“Miranda baru saja diculik dan diaborsi paksa oleh mantan mertuanya,” ujar Sandy.
“Aborsi?” Dina melotot tak percaya, “apakah kamu sudah...”,
“Bukan aku, Bu. Tapi Pak Kevin telah memperkos* Miranda dan menyebabkan Miranda hamil,” jawab Sandy.
“Lalu kamu mau menikahi wanita hamil itu?” Dina memegangi keningnya, ia merasa darah tingginya kambuh sekarang.
“Ibu, percayalah padaku. Miranda hanya korban di sini. Dan aku sangat mencintainya, aku rela berkorban apa saja untuknya,” jelas Sandy.
Dina merasakan dunianya berputar. Sandy segera menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya.
“Bu, maafkan Sandy,” ujarnya dengan penuh kekhawatiran. “Ibu tidak usah memikirkan hal ini lagi, ya? Sebenarnya, hubungan Sandy dengan Miranda sudah berakhir.”
“Lalu kenapa kamu meminta restu pada ibu tadi?” tanya ibunya bingung.
“Kalau ibu merestui, aku akan memulai lagi hubunganku dengannya dan menjamin akan menikahinya, Bu.”
Dina hanya diam. Ia belum bisa memutuskan apakah akan memberikan restu pada putranya itu atau tidak. Sandy juga tidak bisa memaksanya lagi. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
***BERSAMBUNG***
biar sadar si celine.
lagian celine kenapa juga sih masih bertahan sama cowok bingung.
toh dia gak kekurangan apa2. cantik, kaya, pinter.
rasanya pingin masuk layar buat jambak rambut kevin 😭
jedotin ke dashboard aja mir palanya, biar eling.
Dia udah ga minta dihormati.
Kalaupun pernikahan dipertahankan apa jadinya
dia gak akan lepas dari sanksi sosial kalo hubungan mereka sembunyi2.
mau jadiin dijadiin sinpenan gitu ya?
biar gimanapun, kevin punya istri sah yg gak tau menau hubungan lampau miranda sama kevin.
kesian celine, ntar pasti dia jadi jahat.