Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Xander dan Lesa sudah kembali dari luar negeri, mereka membawa banyak sekali oleh-oleh untuk Karina dan juga untuk anak-anak panti nanti.
Kalau Jemian, Joshua dan Jevan sudah besar. Mereka bertiga juga selalu menolak saat ditanya mau oleh-oleh apa, sebab mereka sudah terbiasa ke luar negeri sendiri dan membeli apa yang mereka inginkan.
“Jevan mana?” Tanya Lesa yang tidak melihat sosok putranya yang nakal itu.
Joshua yang baru pulang dari rumah sakit saja ikut berkumpul di ruang tengah, begitupun dengan Jemian yang kakinya masih belum sembuh.
“Di kamarnya,” Karina yang menjawab.
Xander dan Lesa memang datang hampir tengah malam, jadi kemungkinan besar Jevan sudah tidur… sebab tadi di kantor sangatlah sibuk dan Jevan tidak memiliki waktu untuk beristirahat, walau hanya untuk makan siang saja.
“Karina, bisa minta tolong panggilkan Kak Jevan untuk turun?” Tanya Xander kepada putri angkatnya.
“Iya,” jawab Karina yang langsung berdiri dari duduknya.
Xander ingin membicarakan hal yang penting kepada putranya itu, jadi Jevan harus ikut berkumpul di ruang tengah.
Di dalam lift, Karina sedikit gugup… karena harus membangunkan Jevan yang sudah tidur. Apalagi tadi pria itu terlihat tidak bersahabat, bahkan tidak membalas senyumannya.
“Apa aku melakukan kesalahan?” Bingung Karina yang benar-benar tidak mengerti dengan sikap Jevan.
Ting!
Pintu lift terbuka dan gadis itu bergegas keluar, langkahnya menuju ke arah kamar Jevan yang berada di paling pojok.
Dengan ragu, Karina mengetuk pintu kamar pria itu. Ketukan pertama dan kedua tidak ada jawaban, sehingga gadis itu memanggil nama Jevan sedikit keras.
“Masuk saja!” Sahut pria itu dari dalam.
Jevan langsung terbangun, saat mendengar suara gadisnya. Bahkan pria itu sudah merubah posisinya menjadi duduk, meskipun matanya masih sangat mengantuk.
“Maaf aku ganggu tidur Kak Jevan, tapi Papa menyuruh Kakak untuk turun dan menemuinya,” kata Karina yang membuat Jevan berdecak pelan.
“Ke sini dulu!” Pria itu menggerakkan jari telunjuknya, meminta Karina untuk mendekat.
Gadis itu melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Jevan yang sedang duduk di tepian ranjang.
Hug!
Tiba-tiba saja, Jevan memeluknya dan membuat Karina sedikit terkejut… tetapi gadis itu tetap membalas pelukan Jevan.
“Maaf sudah membuatmu bingung dengan sikapku. Nanti aku akan mengintrospeksi diri, agar tidak membuatmu khawatir,” ujar pria itu yang mengerti tatapan takut gadisnya.
“Apa aku sudah membuat kesalahan?” Tanya Karina yang dibalas gelengan oleh pria itu.
“Bukan, tapi aku yang terlalu lelah dan tidak bisa merubah kebiasaanku yang selalu terbawa emosi kalau terlalu lelah. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, aku yang salah,” jelas Jevan yang membuat gadis itu tersenyum lega.
Tangan Karina terangkat dan menyentuh kepala belakang pria itu, ia mengusap pelan kepala Jevan dan membuat pria itu kembali mengantuk.
“Papa nungguin Kak Jevan,” ucap Karina yang membuat pria itu tersadar.
“Baiklah,” Jevan melepaskan pelukannya dan beranjak turun dari tempat tidurnya.
Satu tangannya menarik lembut tangan mungil Karina, mengajak gadis itu untuk keluar dan turun ke bawah.
Karina menahan senyumannya, karena melihat perbedaan tangan mereka yang sangat jauh. Tangannya tenggelam di dalam tangan besar Jevan yang terasa begitu hangat.
“Pasti Papa sama Mama akan memberiku ceramah tengah malam,” gumam Jevan sambil menumpukan pipinya di puncak kepala Karina yang berdiri di sebelahnya.
Gadis itu tidak mengatakan apa-apa, karena menikmati kedekatan seperti ini.
Ting!
Lift sudah sampai di lantai satu, Jevan segera menarik kepalanya dan melepaskan tangan gadisnya. Pria itu keluar lebih dulu, meninggalkan Karina yang masih menenangkan suara degupan jantungnya.
“Ada apa, Pa? Jevan sedang tidur?” Tanya Jevan dengan tatapan mengantuknya.
Xander tidak langsung mengatakan tujuannya memanggil sang putra, pria itu masih menunggu Karina yang hampir sampai di ruang tengah.
“Hapus foto Karina di sosial mediamu! Lalu kamu harus memberikan klarifikasi tentang Karina, katakan kalau gadis di foto itu adalah saudara jauhmu!” Titah Xander dengan nada tegasnya.
Namun Jevan yang memang dikenal sebagai anak yang nakal dan kadang menentang perintah kedua orang tuanya, tentu saja langsung menggelengkan kepalanya.
“Biarkan saja, biar tidak ada yang ingin mendekatiku. Aku sangat malas menanggapi wanita yang haus kasih sayang, biarkan mereka menjauh dengan sendiri,” jelas Jevan sambil memeluk bantal sofa.
Luka di perutnya sudah mengering, karena ia rajin meminum obat dan memakai obat oles untuk mempercepat proses pengeringan luka. Sehingga Jevan sudah bisa beraktivitas dengan normal sejak tadi pagi.
“Jangan melibatkan Karina dalam duniamu, Jevan! Penyerangan yang kamu dapatkan, itu sebuah peringatan untukmu. Jadi, jangan pernah menjerumuskan Karina ke dalam bahaya!”
Untuk pertama kalinya, Karina melihat Xander begitu marah. Dan ternyata sang papa terlihat sangat menyeramkan kalau sendang marah.
“Papa tenang saja, aku bisa melindungi Karina!” Balas Jevan yang kini membalas tatapan tajam papanya.
Xander tertawa sinis, mendengar kalimat konyol yang dikatakan oleh putra ketiganya itu.
“Melindungi Karina? Melindungi diri sendiri tidak bisa, bagaimana bisa kamu melindungi Karina?” Tanya pria paruh baya.
Jevan menahan geramannya, apa yang dikatakan papanya memang tidak salah salah. Namun Jevan tidak akan pernah membiarkan gadisnya dalam bahaya, cukup sekali dirinya tidak waspada… kali ini Jevan tidak akan membiarkan para penggemarnya menyentuh Karina.
“Yang terjadi sebelumnya, akan aku dijadikan sebuah pelajaran untuk lebih waspada dengan sekitar. Dan Papa bisa mempercayakan Karina kepadaku, karena aku sudah dewasa dan bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi,” ujar Jevan dengan tatapan seriusnya.
Xander dan Lesa sangat terkejut, karena baru kali ini Jevan terlihat sangat serius.
“Jevan, kamu hanya manusia biasa dan bisa kapan saja…”
“Mama tidak percaya sama Jevan?” Tanya Jevan yang memotong ucapan mamanya.
Lesa menghela napas dengan berat. “Papa percaya, tapi menghindari bahaya itu lebih baik daripada masuk ke dalam bahaya!”
“Aku akan melindungi Karina dengan nyawaku sendiri, apa kalian masih belum mempercayaiku?” Jevan menatap mata kedua orang tuanya.
Xander dan Lesa saling bertatapan, mereka berdua seakan berbicara lewat tatapan mata.
“Baiklah, Papa percaya kamu bisa melindungi Karina. Tapi cepat atau lambat, semua orang akan tahu kalau di foto itu adalah Karina… adik angkatmu,” Xander yang menjawab,
Jevan tersenyum tipis sambil menatap ke arah Karina yang sejak tadi tidak melepaskan tatapan khawatir kepadanya.
“Kalian semua di sini akan menjadi saksinya, kalau aku akan selalu melindungi Karina,” kata Jevan yang membuat kedua orang tuanya sedikit merasa aneh, begitupun dengan kedua kakak kembarnya.
Sedangkan Karina tengah menundukkan kepalanya, entah mengapa perkataan Jevan terdengar begitu manis dan membuat perutnya merasa geli.
Bersambung!
semangat thor 💪💪