NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Ruang Awal dan Rahasia Tersembunyi

Archive Zerol

Bab 22 — Ruang Awal dan Rahasia Tersembunyi

Kereta melaju perlahan di dalam lorong kristal yang panjang itu. Dinding-dinding bening di kiri dan kanan memancarkan cahaya lembut yang berubah-ubah warnanya, berdenyut mengikuti irama detak jantung yang semakin terdengar keras dan jelas. Udara di sini begitu murni dan padat dengan energi, hingga setiap tarikan napas terasa memuaskan, menyehatkan, sekaligus menambah kekuatan di setiap serat tubuh mereka.

Ren, Anya, dan Kai sama-sama diam, terpesona oleh keindahan sekaligus keagungan tempat ini. Di sini, jauh di dalam perut bumi, mereka merasa seolah berada di dalam pembuluh darah raksasa makhluk hidup, tempat di mana esensi kehidupan dunia mengalir deras tanpa henti.

"Lihatlah dinding-dinding ini..." bisik Kai, matanya meneliti setiap pola yang terukir alami pada permukaan kristal itu, kacamatanya hampir melorot jatuh karena kagum. "Ini bukan buatan tangan makhluk hidup. Struktur kristal ini tumbuh sendiri dari pemadatan energi murni selama jutaan tahun. Setiap goresan, setiap lapisan... itu adalah catatan sejarah pembentukan dunia. Kita sedang berjalan di dalam naskah sejarah tertua yang pernah ada."

Ren meletakkan tangannya ke dinding kristal yang dingin namun memancarkan kehangatan halus. Saat kulitnya menyentuh permukaan itu, ribuan bayangan gambar melintas sekejap di benaknya: pembentukan benua, lahirnya lautan, tumbuhnya kehidupan, hingga masa-masa sebelum peradaban manusia ada. Ia menarik tangannya perlahan, terkesima sekaligus sadar akan betapa kecilnya keberadaan manusia dibandingkan usia dunia ini.

"Tempat ini... suci," ucap Ren pelan, suaranya berbisik takut mengganggu keheningan abadi di sini. "Tidak heran Penjaga Tanah menjaganya begitu ketat. Ini bukan sekadar sumber kekuatan. Ini adalah hati dan jiwa dari dunia tempat kita berpijak."

Semakin jauh mereka melaju, lorong itu semakin melebar, hingga akhirnya jalan setapak itu berakhir di sebuah gerbang besar berbentuk lingkaran sempurna, terbuat dari kristal yang jauh lebih bening dan lebih bersinar daripada yang lain. Di tengah gerbang itu, melayang sebuah bola cahaya kecil yang berputar perlahan, memancarkan seluruh warna spektrum cahaya yang ada.

Kereta berhenti tepat di depan gerbang itu. Tidak ada kunci, tidak ada engsel, tidak ada cara untuk mendorong atau menariknya. Gerbang itu tertutup rapat, seolah menyatu dengan ruang dan waktu.

"Ini dia... gerbang terakhir menuju Jantung Dunia," kata Kai, memeriksa catatan di bukunya sekali lagi dengan wajah serius. "Menurut legenda, gerbang ini hanya akan terbuka jika dihadapi oleh mereka yang membawa keseimbangan sempurna dari seluruh elemen dasar. Ren, kau punya inti keseimbangan dan api. Anya, kau menguasai es dan air. Tapi masih ada elemen lain... tanah, angin, cahaya, dan kegelapan."

Ren melangkah turun dari kereta, berjalan mendekati bola cahaya yang berputar itu. Ia menatap lekat-lekat pergerakan bola itu, merasakan aliran energi yang ada di dalamnya.

"Kita tidak perlu menguasai semuanya, Kai," ucap Ren pelan, matanya berbinar mengerti. "Lihatlah ini. Gerbang ini tidak menuntut kekuatan. Ia menuntut kesatuan. Semua elemen itu ada di sini, di dalam tempat ini. Ia hanya butuh seseorang yang bisa menyatukannya kembali, seperti seharusnya."

Ren menoleh ke belakang, menatap kedua sahabatnya.

"Anya, Kai... datanglah ke sini. Dekatkan tangan kalian ke bola ini. Biarkan energi kita bertemu dan menyatu."

Tanpa ragu sedikit pun, Anya dan Kai melangkah maju, berdiri di samping Ren. Masing-masing mengulurkan tangan kanan mereka, mendekatkannya ke bola cahaya yang berputar itu, namun tidak menyentuhnya.

"Sekarang, lepaskan saja. Biarkan kekuatan kita mengalir keluar dengan bebas, tanpa paksaan, tanpa tujuan lain selain menyatu," perintah Ren lembut.

Cahaya ungu dari Ren, cahaya biru dari Anya, dan cahaya hijau keemasan dari Kai keluar perlahan dari telapak tangan mereka, beralun halus seperti asap tipis, lalu bertemu di tengah dan masuk ke dalam bola cahaya itu.

Seketika itu juga, bola itu berhenti berputar. Warnanya berubah menjadi putih bersih yang menyilaukan, lalu memancarkan gelombang kejut energi halus yang membuat seluruh ruangan bergema. Gerbang kristal besar itu perlahan membelah diri menjadi dua bagian, bergeser ke samping dengan suara lembut seperti nyanyian nada rendah, membuka jalan menuju ruangan yang paling indah dan paling menakjubkan yang pernah dilihat mata manusia.

Mereka bertiga ternganga diam, terpaku di tempat, tak mampu bergerak atau berkata-kata.

Di hadapan mereka terbentang ruangan raksasa berbentuk bulat sempurna, luasnya tak terukur oleh pandangan. Di tengah ruangan itu, melayang di udara tanpa penyangga apa pun, ada sebuah bola energi raksasa yang berdenyut hebat, berwarna-warni namun utuh, memancarkan cahaya yang hidup dan hangat. Itulah Jantung Dunia. Sumber segala kehidupan, asal mula segala kekuatan, akar dari segala yang ada.

Cahaya dari bola itu menyebar ke seluruh ruangan lewat ribuan aliran sinar terang yang berjalan di dinding, lantai, dan langit-langit, membentuk pola jaringan rumit persis seperti pembuluh darah di tubuh makhluk hidup. Dan di sana, di sekeliling Jantung itu, melayang enam buah singgasana kecil yang terbuat dari murni energi padat. Lima di antaranya kosong. Satu singgasana di sisi paling depan... sudah ada yang duduk.

Sosok itu duduk diam, tenang, dan agung. Tubuhnya diselimuti jubah yang terbuat dari daun-daunan abadi dan akar-akar halus yang bergerak perlahan seolah bernapas. Wajahnya tampak muda namun matanya menyimpan ribuan tahun pengetahuan dan kebijaksanaan. Rambutnya panjang dan berwarna hijau kecokelatan, sama seperti warna tanah dan pepohonan.

Inilah sosok yang mengikuti mereka sejak Hutan Senyap.

Sosok itu perlahan berdiri, turun melayang ke lantai dengan gerakan ringan dan anggun, lalu berjalan mendekati mereka dengan senyum lembut namun penuh beban.

"Selamat datang... para Pengembara Keseimbangan," ucap sosok itu. Suaranya tidak lagi berdesir seperti daun kering, melainkan jernih, dalam, dan merdu, seolah gabungan suara angin, air, dan tanah sekaligus. "Aku sudah menunggu kedatangan kalian sejak kalian menenangkan jiwa-jiwa di hutan, sejak kalian melewati ujian para Penjaga."

Ren menegakkan tubuhnya, mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat terpesona. Ia menatap sosok itu dengan hati-hati, merasakan energi yang sangat akrab namun jauh lebih tua dan lebih kuat dari apa pun yang pernah ia temui.

"Siapa kau?" tanya Ren tegas. "Kau punya kekuatan elemen tanah dan alam... kau tahu banyak hal tentang kami, dan kau tahu jalan ke sini. Apakah kau salah satu Pengamat? Atau..."

Sosok itu menggeleng pelan, lalu tersenyum sedih. Ia mengangkat tangannya, dan di udara terbentuklah bayangan sosok dirinya bersama enam orang lain, berdiri mengelilingi Jantung Dunia ribuan tahun yang lalu.

"Aku bukan Pengamat, Ren. Aku lebih tua dari mereka. Namaku adalah Teral. Aku adalah salah satu dari Tujuh Penjaga Asal."

Kalimat itu membuat napas Kai tertahan di tenggorokan. Ia teringat catatan tertua di perpustakaan para Pengamat, tulisan yang hampir tak terbaca, yang hanya berisi nama gelar itu saja.

"Tujuh Penjaga Asal..." bisik Kai tak percaya. "Kalian adalah makhluk pertama yang diberkahi kekuatan langsung dari Jantung Dunia saat dunia baru saja stabil. Kalian yang mengajarkan manusia cara menggunakan energi, kalian yang membimbing peradaban pertama... tapi legenda bilang kalian semua lenyap saat perang besar terjadi ribuan tahun lalu."

Teral mengangguk berat, pandangannya beralih ke Jantung Dunia yang berdenyut kencang di belakangnya.

"Kami memang hampir musnah. Saat manusia tergoda kekuasaan, saat mereka memaksakan elemen untuk bertarung satu sama lain, saat mereka mencoba mengambil alih Jantung ini untuk diri sendiri... perang besar meletus. Lima saudaraku tewas berusaha menghentikan kehancuran itu. Satu lagi, saudaraku yang menguasai elemen kegelapan... dia berkhianat. Dia berpihak pada mereka yang ingin menguasai dunia, karena dia percaya kekuatan mutlak adalah satu-satunya cara menjaga ketertiban."

Wajah Teral berubah muram. Ia menatap Ren, Anya, dan Kai dengan pandangan yang dalam dan penuh arti.

"Dia yang bertanggung jawab atas segala gangguan yang kalian rasakan. Dia yang membuat gunung meletus tanpa sebab, danau mendidih, dan elemen-elemen menjadi liar dan tak terkendali. Dia tidak mati dalam perang itu. Dia bersembunyi, mengumpulkan sisa kekuatannya, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali dan mengambil alih Jantung Dunia ini sepenuhnya."

Ren terkejut. Selama ini mereka mengira gangguan itu hanyalah efek samping dari hilangnya segel Aran. Ternyata ada dalang di balik semuanya, dan dalang itu adalah makhluk tertua, terkuat, dan paling berbahaya yang ada.

"Dan sekarang..." lanjut Teral, suaranya menjadi tegas dan serius. "Dia sudah bangun. Dia sudah bergerak. Dan dia jauh lebih kuat dari dulu, karena dia telah menyerap banyak energi kacau yang tersebar di dunia selama ribuan tahun ini. Kalian bertiga... kalian adalah harapan terakhir. Sisa warisan Aran, penerus keseimbangan, pemegang elemen murni yang tidak terkotori oleh ambisi. Kalian satu-satunya yang bisa menghentikannya sebelum dia menghancurkan segalanya dan menciptakan dunia baru menurut keinginannya sendiri."

Anya melangkah maju sedikit, matanya menatap tajam ke arah Teral.

"Tapi kenapa kau tidak menghentikannya sendiri? Kau adalah Penjaga Asal, kau punya kekuatan alam yang besar. Kenapa kau membiarkan dia mengamuk selama ribuan tahun?"

Teral menundukkan wajahnya, rasa sedih terpancar jelas dari sorot matanya.

"Aku terikat, Anya. Sebagai Penjaga, aku tidak boleh meninggalkan ruangan ini. Aku harus tetap berada di sini untuk menjaga agar Jantung Dunia tidak rusak atau pecah karena kekacauan yang dia ciptakan. Aku hanya bisa mengamati, hanya bisa mengirimkan bisikan, hanya bisa memandu... tapi aku tidak bisa bergerak keluar. Itu sebabnya aku sangat bersyukur kalian datang. Kalian adalah tanganku, kakiku, dan suaraku di dunia luar sekarang."

Ia menunjuk ke arah singgasana-singgasana kosong yang melayang di sekeliling Jantung itu.

"Kalian bertiga telah membuktikan diri kalian layak. Kalian telah menenangkan masa lalu, melewati ujian hati, dan membuka gerbang terakhir. Sekarang... ambillah tempat kalian. Jadilah Penjaga baru, lengkapi jumlah tujuh yang telah hilang selama ribuan tahun. Terimalah sisa kekuatan murni elemen tanah, angin, cahaya, dan kegelapan yang tersimpan di sini... agar kalian cukup kuat untuk menghadapi pengkhianat itu."

Ren, Anya, dan Kai saling pandang. Di mata masing-masing, terlihat campuran rasa takut, takjub, namun juga tekad yang membara. Perjalanan mereka yang dimulai dari kota kecil Elarion kini sampai di titik tertinggi sejarah. Beban yang dipikul mereka kini bukan lagi sekadar menyelamatkan satu kota atau satu wilayah, tapi menyelamatkan seluruh dunia dan keseimbangan alam semesta.

Ren mengangguk mantap. Ia melangkah maju melewati Teral, berjalan mendekati Jantung Dunia yang berdenyut hebat itu. Cahaya warna-warni itu memancar menyambutnya, memeluk tubuhnya dengan hangat.

"Kami terima," ucap Ren lantang dan jelas, suaranya bergema memenuhi ruangan luas itu. "Kami terima warisan ini, kami terima tanggung jawab ini. Kami akan melengkapi keseimbangan, kami akan menghentikan pengkhianat itu, dan kami akan menjaga dunia ini agar tidak pernah lagi jatuh ke dalam kegelapan dan kehancuran."

Anya dan Kai mengangguk setuju, berdiri di samping Ren, siap menerima kekuatan baru yang akan mengalir ke dalam diri mereka, siap menjadi pelindung sejati yang sesungguhnya.

Namun, di saat yang sama, udara di ruangan itu tiba-tiba berubah dingin dan gelap. Cahaya Jantung Dunia yang tadinya terang benderang berkedip redup, seolah ada bayangan besar yang menutupinya dari luar. Dari lorong tempat mereka datang tadi, terdengar suara langkah kaki berat dan lambat, disertai tawa rendah yang mengerikan, penuh kesombongan dan kebencian purba.

"Sudah terlambat untuk janji-janji manis..." suara itu bergema, dingin, tajam, dan menggetarkan hati.

Dari balik bayangan lorong itu, muncullah sosok tinggi besar, berbalut jubah hitam pekat yang menyerap cahaya di sekelilingnya. Wajahnya tertutup topeng berukir pola rumit, tapi matanya menyala merah darah, sama seperti warna api yang pernah dimiliki Jenderal Ignis, namun jauh lebih pekat dan lebih mengerikan. Di tangannya, ia membawa sebilah tongkat panjang yang ujungnya berkilau gelap, berdenyut dengan energi yang kacau, liar, dan penuh kehancuran.

Teral tersentak mundur, matanya membelalak kaget dan ngeri.

"Dia... dia sudah sampai di sini... lebih cepat dari perkiraanku..."

Sosok itu melangkah masuk ke ruangan suci itu, setiap langkahnya membuat tanah bergetar dan retakan hitam menjalar di lantai kristal. Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap mereka bertiga, menatap Teral, dan akhirnya menatap Jantung Dunia yang berdenyut cemas di tengah ruangan.

"Akhirnya kita bertemu lagi, saudaraku Teral," ucap sosok itu dingin dan penuh ejekan. "Dan ini dia... anak-anak kecil yang kau andalkan untuk menghentikanku. Begitu menyedihkan. Kau benar-benar percaya anak-anak manusia ini, yang baru belajar berjalan di atas kekuatan, bisa mengalahkan aku? Aku yang telah hidup ribuan tahun dalam kegelapan, menyerap segala rasa sakit, amarah, dan kehancuran dunia ini?"

Ia menunjuk tongkatnya tepat ke arah Ren.

"Aku adalah Morgrath, Penguasa Elemen Kegelapan. Dan hari ini... sejarah akan berulang. Tapi kali ini, aku tidak akan gagal. Aku akan mengambil Jantung Dunia ini, aku akan menelan seluruh kekuatannya, dan aku akan menciptakan dunia baru di mana hanya kekuatan mutlak yang berkuasa. Dan kalian... hanyalah debu yang akan tersapu bersih dari panggung sejarah."

Ren mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, meski rasa ngeri merayap di tulang belakangnya menghadapi kekuatan yang begitu dahsyat dan kuno. Ia mengepal tangannya erat, merasakan energi keseimbangan di dalam dirinya bergetar siap bertempur. Di sampingnya, Anya telah mengerahkan lapisan es terkuatnya, dan Kai telah bersiap dengan segala perhitungan dan strategi di kepalanya.

Perang terakhir telah tiba. Di ruangan paling suci di dunia, di depan sumber segala kehidupan, pertempuran penentuan nasib seluruh umat manusia dan keberadaan dunia akan terjadi. Antara cahaya dan kegelapan, antara keseimbangan dan kekuasaan, antara harapan dan keputusasaan.

Ren menatap tajam ke arah Morgrath, suaranya lantang berani meski jumlah mereka kalah besar dan kekuatan musuh jauh lebih hebat.

"Dunia tidak butuh penguasa, Morgrath. Dunia butuh penjaga. Dan kami... kami tidak akan membiarkan kau menyentuhnya sedikit pun. Apa pun yang terjadi di sini hari ini... kami akan berjuang sampai tetes darah terakhir kami. Demi kebebasan

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!