Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Udara yang berbeda, kejadian yang sama
Di dalam ruangan basement yang remang-remang, Liora menunggu dengan jantung yang berdebar kencang, sementara Aris masih berusaha mencari celah untuk keluar. Di luar sana, suara langkah sepatu bot para penjaga terdengar bersahut-sahutan. Mereka sedang bergerak menyisir setiap sudut bunker untuk memburu Aris dan Liora.
Aris berjalan mendekati pintu besi basement, lalu mengintip melalui celah kecil untuk memastikan situasi di koridor.
Merasa keadaan cukup aman, ia mulai mengendap-endap keluar dan menelusuri lorong beton yang dingin. Aris sama sekali tidak tahu ke mana arah pintu keluar utama, ia hanya mengandalkan instingnya.
Saat berbelok di sebuah tikungan, Aris menemukan sebuah ruangan kecil yang tampaknya adalah pos jaga kosong. Ia masuk dengan hati-hati. Di salah satu dinding, matanya menangkap sebuah peta denah lokasi bawah tanah yang dilindungi oleh bingkai kaca cukup tebal. Aris mendekat, mencoba membaca jalur di peta itu, namun ia mendadak bingung karena tidak tahu posisi mereka saat ini berada di sektor mana.
Aris merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel agar bisa memotret denah tersebut. Sial, ponselnya sudah tidak ada, pasti sudah disita oleh Axel dan anak buahnya sejak awal. Karena dikejar waktu dan takut ada penjaga yang melintas, Aris melihat sekeliling dan menemukan sebuah obeng besar tergeletak di meja jaga. Dengan sekuat tenaga, ia menghantamkan gagang obeng itu ke kaca bingkai denah.
Prak! Kaca itu tidak langsung hancur, namun retakan mulai muncul. Aris menghantamnya lagi beberapa kali hingga kaca tersebut pecah berantakan. Ia langsung mencabut kertas denah itu, melipatnya dengan cepat, lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
Aris kembali keluar pos jaga dengan waspada. Setelah memastikan koridor sepi, ia berlari mengendap-endap kembali menuju ruang basement tempat Liora menunggu.
Namun, tepat di ujung lorong sebelum pintu basement dia di ketahui penjaga.
"Jangan bergerak!" bentak sebuah suara dari arah belakang.
Aris langsung diam terpaku. Ia mengangkat tangan dan berbalik badan perlahan. Seorang penjaga berbadan tegap sudah menodongkan senapan otomatis tepat ke arahnya.
"Ke mana teman perempuanmu?" tanya penjaga itu dengan nada mengancam.
"Saya tidak tahu," jawab Aris, mencoba tetap tenang. Ia melirik senapan tersebut, lalu menatap mata si penjaga. "Dengar, di sini sudah mulai kacau. Kau tahu sendiri apa yang terjadi pada penjaga-penjaga lain sebelumnya di bawah sini, kan?"
Penjaga itu tampak kesal dan membentak, "Diam kau!"
Saat penjaga itu melangkah maju untuk meringkusnya, Aris memanfaatkan momentum. Tanpa aba-aba, ia langsung menerjang tubuh penjaga itu dengan keras. Mereka berdua jatuh berdebam ke lantai beton dan saling bergumul, memperebutkan senapan yang ada di tangan penjaga.
Pergumulan sengit tidak terelakkan. Aris yang tidak memiliki dasar kemampuan bertarung sama sekali jelas kalah kuat. Ia mulai tersudut saat penjaga itu berhasil menindih tubuhnya. Dengan tangan yang sama-sama mencengkeram badan senjata, moncong senapan itu perlahan-lahan mulai terdorong mengarah tepat ke leher Aris. Aris menahan napas, mengerahkan sisa seluruh tenaganya untuk menahan besi panas itu agar tidak mengunci lehernya.
Duk!
Tiba-tiba, tubuh penjaga itu langsung lemas dan jatuh pingsan di atas dada Aris. Aris terengah-engah, segera merampas senapan itu dan mendorong tubuh pingsan tersebut ke samping. Di belakangnya, Liora berdiri sambil memegang tabung pemadam api berukuran sedang dengan kedua tangan yang gemetar. Ternyata Liora diam-diam mengikuti Aris karena khawatir dan berhasil memukul kepala penjaga itu dari belakang.
Aris mengembuskan napas lega. Liora segera menarik tangan Aris agar berdiri. "makasih, Liora," ujar Aris tulus.
"Nanti saja bilangnya, kita kembali ke basement sekarang!" jawab Liora panik. Mereka berdua langsung berlari kembali ke dalam ruang instalasi pipa.
Begitu pintu basement ditutup, Aris segera merogoh saku celananya dan membuka lipatan denah yang tadi ia ambil. Ia memperlihatkannya kepada Liora di bawah temaram lampu. Dengan latar belakangnya, Liora dengan cepat membaca peta itu dan menemukan posisi mereka.
"Pintu keluar utama ada di sektor seberang, Aris. Jauh sekali dari ruangan ini," kata Liora lemas.
Aris tidak mau menyerah. Ia melipat kembali denah itu dan mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi pipa-pipa raksasa. "Pasti ada ventilasi udara di sini. Ruangan sebesar ini tidak mungkin memiliki tekanan udara yang stabil tanpa ada sirkulasi dari luar."
Mendengar itu, Liora ikut mencari. Matanya menyusuri dinding atas sampai akhirnya berhenti di pojok langit-langit. "Aris, lihat di atas sana. Ada kipas besar, mungkin itu jalurnya."
Aris langsung berlari ke arah sudut tersebut. Ia memanjat deretan pipa besi dengan hati-hati hingga berhasil mencapai mulut ventilasi udara di atas. Ventilasi itu ditutup oleh teralis besi yang kokoh. Aris mencoba menariknya dengan sekuat tenaga, namun teralis itu terpasang sangat kuat dan sulit dilepas.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari balik pintu basement. Penjaga lain mulai memeriksa area tersebut.
"Liora, tiarap!" bisik Aris setengah berteriak dari atas pipa.
Liora dengan cepat menjatuhkan diri dan merangkak berlindung di bawah kolong pipa besar. Penjaga itu membuka pintu, mengedarkan pandangan ke dalam ruangan basement yang gelap selama beberapa saat. Untungnya, karena kondisi yang remang-remang, ia tidak melihat Aris yang menempel di langit-langit pipa atau Liora yang bersembunyi di bawah. Penjaga itu kemudian kembali menutup pintu dan pergi.
Setelah dirasa aman, Aris kembali mencoba membuka teralis ventilasi, namun tetap tidak bergerak sedikit pun.
Liora yang mengintip dari bawah menyadari sesuatu. "Aris, itu dikunci pakai baut besar! Harus diputar, kita butuh kunci!" Liora melihat ke arah dinding di dekat pintu masuk. "Lihat di bawah, ada kotak peralatan merah menempel di samping kotak P3K. Coba cek di sana!"
Aris segera turun dengan cepat dari atas pipa. Waktu mereka sangat berharga sebelum penjaga tadi kembali membawa pasukan. Ia berlari ke kotak peralatan, membukanya dengan terburu-buru, dan entah karena kebetulan atau keberuntungan yang tersisa, ia menemukan sebuah kunci pas yang ukurannya pas dengan baut di atas.
Aris kembali memanjat pipa dengan gesit. Ia memutar baut-baut besar pada teralis ventilasi satu per satu hingga akhirnya penutup besi itu terbuka. Jalur di dalam ventilasi ternyata cukup luas, berbentuk lorong datar yang berujung pada sudut L ke arah atas, dengan lubang keluaran yang mengarah langsung ke permukaan.
"Liora, kamu masuk duluan. Cek apakah ada jalan tembus ke atas," ujar Aris sambil membantu Liora naik ke dalam lubang.
Awalnya Liora tampak ragu dan takut, namun setelah diyakinkan oleh Aris, ia memberanikan diri masuk ke dalam saluran seng tersebut. Liora merangkak perlahan di dalam pipa ventilasi yang gelap, sementara Aris tetap waspada melihat ke arah pintu basement di bawah.
Setelah merangkak beberapa meter hingga mencapai sudut L, Liora mendongak. Ia melihat lubang ventilasi luar yang ditutup teralis besi yang melekuk ke samping tepat berada di atas kepalanya, memancarkan sedikit cahaya lampu jalanan kota. Liora mencoba berdiri di dalam saluran yang sempit itu.
"Aris! Di sini ada jalan keluar langsung ke jalanan!" seru Liora pelan dari dalam saluran. "Tapi posisinya terlalu tinggi, aku sulit menjangkau teralis atasnya!"
"Tunggu saya, saya masuk!" Tanpa pikir panjang, Aris ikut memanjat masuk ke dalam lubang ventilasi dan merangkak menyusul Liora.
Begitu sampai di ujung sudut, Aris melihat posisi Liora. "Liora, kamu injak bahu saya saja. Saya akan bantu dorong dari bawah." Aris membungkukkan badannya, membiarkan Liora menaiki pundaknya, lalu perlahan-lahan Aris mulai meluruskan punggungnya untuk mengangkat tubuh Liora.
Liora berhasil meraih ujung teralis besi yang menghadap ke jalanan. Ia mengerahkan sekuat tenaga untuk mendorong penutup tersebut dari dalam, namun penutup itu terasa sangat berat. Tubuh Aris di bawah sudah mulai goyah menahan beban.
"Tahan sebentar lagi, Aris! Ada baut yang sudah lepas, sedikit lagi!" seru Liora panik.
Tepat pada saat mereka sedang berusaha keras, suara rentetan tembakan senapan otomatis mendadak menggema dengan sangat keras dari arah dalam bunker di bawah mereka. Suaranya terdengar begitu dekat.
Liora langsung terdiam, gerakannya terhenti. "Suara apa itu?"
Aris yang mulai kehabisan tenaga berteriak, "Jangan dipikirkan! Buka saja cepat!"
Brak! Dag! Dag! Suara hantaman keras pada lembaran seng sirkulasi terdengar, disusul suara geraman pelan yang mengerikan dari bawah lubang tempat mereka masuk tadi. Makhluk-makhluk aneh dari Red Room dan Sektor B2 ternyata berhasil menjebol pintu-pintu pengunci manual. Beberapa dari mereka kini sedang mondar-mandir di dalam ruang basement, dan salah satu makhluk dengan kondisi tubuh hancur berjalan tepat menuju ke bawah lubang ventilasi tempat Aris dan Liora berada.
"Sialan, ada makhluk itu di belakang kita! Cepat, Liora!" teriak Aris panik, merasakan ada pergerakan yang hendak memanjat lubang tersebut.
Liora semakin panik. Ia terus memaksa mendorong teralis besi di atasnya dengan sekuat tenaga sambil berteriak histeris, "Tolong! Siapa saja di atas, tolong!"
Keberuntungan tampaknya belum habis. Tepat pada saat itu, ada bayangan seseorang yang sedang berjalan terburu-buru melintasi ventilasi tersebut. Mendengar teriakan dari dalam tanah, langkah kaki orang itu langsung berhenti.
"Pak! Tolong buka! Kami terjebak di bawah!" jerit Liora dari balik teralis.
Melihat ada orang yang membutuhkan bantuan, pria di permukaan itu langsung berjongkok. Ia mencengkeram pembatas besi yang menempel di tembok jalanan tersebut, lalu menariknya dengan hentakan kuat hingga teralis itu lepas dari dudukannya. Pria itu segera mengulurkan kedua tangannya ke dalam lubang, mencengkeram lengan Liora, dan menarik tubuh perempuan itu keluar dengan kuat hingga Liora berhasil mencapai permukaan aspal.
Begitu menginjak jalanan kota, Liora langsung berbalik dan berteriak ke dalam lubang, "Aris! Ayo naik! Cepat!"
Di dalam saluran yang remang-remang, Aris harus berhadapan langsung dengan makhluk yang baru saja berhasil merangkak naik ke sudut saluran ventilasi. Aris membalikkan badannya dengan cepat, memanjat dinding seng sekuat tenaga dengan sisa energinya. Dari atas, ia melihat wajah panik Liora dan tangan pria asing yang terulur lebar mencoba menggapainya.
Aris melompat, menyambut uluran tangan kokoh di atasnya. Dengan satu tarikan kuat dari pria tersebut dan dorongan kaki Aris pada dinding saluran, Aris akhirnya berhasil ditarik keluar dari dalam lubang ventilasi, lolos dari cengkeraman makhluk di bawahnya. Begitu tubuhnya menyentuh aspal jalanan, Aris dengan sigap langsung mengambil kembali penutup besi ventilasi yang lepas tadi dan memasangnya kembali dengan rapat, menutup rapat kegelapan bawah tanah di bawah kaki mereka.
...----------------...
Liora langsung terduduk lemas di atas aspal jalanan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan kelegaannya yang luar biasa setelah berhasil lolos dari maut. Di sampingnya, Aris langsung telentang di atas kerasnya jalanan kota, menatap langit malam sambil mengatur napasnya yang memburu. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil keluar dan bisa menghirup udara malam yang terasa begitu segar bagi mereka, terlepas dari bau asap kota.
Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Seseorang pria berteriak memanggil dari kegelapan. "Pak Rasyid, ayo masuk ke sini! Kita harus mencari tempat aman!"
Ternyata, sosok pria yang tadi membuka teralis ventilasi dan menarik tangan Aris serta Liora adalah Detektif Rasyid. Rasyid segera menghampiri mereka berdua dengan wajah tegang. "Ayo bangun, cepat! Kita harus ke tempat yang aman sekarang juga," ajak Rasyid tegas.
Liora yang baru saja merasa bisa bernapas bebas mengeluh pelan karena harus dipaksa bergerak lagi. "Ada apa lagi sih sebenarnya?" tanyanya lelah sambil menarik lengan Aris untuk ikut berdiri.
Mereka berdua akhirnya mengikuti langkah cepat Rasyid dan rekannya. Mereka menerobos kegelapan jalanan kota hingga akhirnya masuk ke sebuah toko kelontong kecil yang sudah ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya dalam keadaan berantakan.
Begitu mereka berempat sudah berada di dalam toko, rekan Rasyid langsung mengintip ke luar jendela untuk memastikan situasi jalanan aman, lalu mengunci rapat pintu kaca toko tersebut dari dalam.
Liora dan Aris bersandar pada rak-rak toko, mencoba menenangkan jantung mereka. "Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih sudah menolong kami keluar dari sana," ucap Liora tulus, yang diangguki oleh Aris.
Rekan Rasyid menoleh dan memperhatikan penampilan mereka yang lusuh. "Sebentar, siapa kalian berdua ini sebenarnya?" tanyanya penasaran.
"Saya Liora, dan ini teman saya, Aris," jawab Liora pelan.
Mendengar nama itu disebut, Rasyid langsung menatap mereka dengan mata berbinar. Rasanya seperti menemukan mata air di tengah gurun pasir. "Kalian... kalian benar-benar Aris dan Liora?" tanya Rasyid meyakinkan.
Aris mengernyitkan dahi. "Iya, benar Pak. Kenapa ya?"
"Kalian berdua relawan yang waktu itu dilaporkan hilang?" tanya Rasyid lagi, memastikan dugaannya.
Liora dan Aris saling berpandangan dengan heran. "Iya, Pak. Tapi...?" tanya Liora heran.
"Cerita panjangnya nanti saja," potong Rasyid cepat. Ia langsung menoleh ke arah rekannya. "Hubungi radio pusat sekarang. Laporkan kalau kita berhasil menemukan dua korban selamat yang selama ini dicari." Rekannya segera mengangguk dan mengeluarkan alat komunikasi mereka.
Liora yang masih trauma tidak sabar untuk langsung bercerita. "Pak, di bawah tanah sana ada makhluk-makhluk aneh. Kami disekap dan terjebak di dalam fasilitas bunker gila itu. Kami bahkan sampai kehilangan jejak waktu dan tidak tahu sudah berapa lama terkurung di dalam sana," ujar Liora dengan nada panik.
Rasyid menatap mereka dengan tatapan iba. "Kalian ingat kapan terakhir kali kalian turun ke lorong bawah tanah itu?"
Aris dan Liora kompak menggelengkan kepala. Mereka benar-benar tidak tahu.
"Kalian sudah dinyatakan hilang dan terjebak di bawah sana selama hampir dua minggu, sejak hari pertama kejadian tanah amblas itu," jelas Rasyid datar.
Aris dan Liora tersentak kaget. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau mereka sudah melewatkan waktu selama empat belas hari di dalam kegelapan bunker milik Axel.
Rasyid kemudian berjalan ke jendela toko, melihat keluar. "Apa yang kalian lihat di bawah tanah sana... mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang akan kalian lihat di kota ini besok pagi. Malam ini, kita istirahat dulu di sini. Cari makanan di rak kalau kalian lapar. Tapi ingat, air bersih sekarang sangat susah didapat, jadi jangan sembarangan meminum air yang kalian temukan di jalan."
Aris dan Liora nampak semakin bingung dengan situasi sekitar. Terlebih lagi, dari kejauhan samar-samar terdengar desingan peluru dan dentuman kecil yang membuat mereka reflek berdiri tegak kembali. Aris melihat ke sekeliling toko yang kosong, lalu menatap Rasyid dengan ragu.
"Tunggu dulu, Pak. Kita bersembunyi di sini dan mengambil makanan dari toko orang lain? Anda menyuruh kami mencuri? Sebenarnya kalian ini siapa?" tanya Aris curiga.
Mendengar pertanyaan Aris, Rasyid dan rekannya justru saling berpandangan dengan santai. Rekan Rasyid berjalan ke salah satu rak, mengambil sebungkus cemilan cokelat, lalu merobek bungkusnya dan mulai memakannya dengan tenang.
"Kami detektif kepolisian," jawab Rasyid dengan nada santai namun tegas. "Saat ini kami yang bertanggung jawab atas wilayah sektor ini. Jadi, tidak usah khawatir. Isi perut kalian malam ini, istirahatlah, dan siapkan tenaga kalian untuk menghadapi apa yang terjadi besok. Silakan makan dengan tenang."
...****************...