"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Kera Merah
Suasana di tol Banten makin chaos. V.E.N.O.M baru aja mau ngeluarin unit berat mereka, tapi tiba-tiba dari arah pepohonan di pinggir jalan, terdengar suara tawa melengking yang nembus suara bising mesin.
UAKKK! UAKKK!
Dari balik dahan pohon jati, puluhan bayangan melesat terbang. Mereka nggak pake baju taktis, tapi pake jubah putih-merah yang berkibar beringas ditiup angin kencang. Wajah mereka tertutup topeng kera yang ekspresinya nyengir nakal, bikin suasana yang tadinya tegang jadi terasa mistis dan liar.
"Ada yang manggil pasukan Kera?"
Satu orang mendarat tepat di kap mobil SUV gue. Jubah putih-merahnya berkibar, nutupin kaca depan bentar sebelum dia jongkok dengan lincah. Dia pake topeng kera yang paling sangar, dengan aksen emas di bagian dahi. Ini adalah Klan Kera Merah, unit gerilya paling nggak bisa ditebak yang selama ini cuma dianggap dongeng oleh para mafia Jakarta.
"Woi, Leo! Mobil lu masih mulus aja? Sini gue bantu kasih sedikit dekorasi!" si pemimpin Kera itu teriak sambil nendang anggota V.E.N.O.M yang mau deketin mobil.
"Sialan lu, Monyet! Jauh-jauh dari mobil gue, entar lecet!" balas Leo dari dalem, meski sebenernya dia keliatan lega bantuan dateng.
Pasukan Kera Merah ini bener-bener gila. Mereka nggak pake senjata api. Mereka pake tongkat pendek yang dialiri listrik dan pisau lempar yang akurasinya nggak masuk akal. Mereka bergerak lincah di antara mobil-mobil yang melaju, salto di udara, dan nempelin bom magnet ke zirah-zirah hitam V.E.N.O.M.
"Hana, mereka temen lu juga?" tanya gue sambil nahan getaran mobil.
Hana cuma mendengus, tangannya masih siaga megang sabit. "Bukan temen. Cuma rekan bisnis yang kebetulan punya hutang budi sama Kian. Mereka nggak akan berhenti sampe lawan mereka bener-bener gila."
V.E.N.O.M yang tadinya mau ngepung kita, sekarang malah kerepotan. Mereka yang gerakannya kaku dan taktis, kewalahan lawan Klan Kera yang gerakannya acak dan akrobatis. Setiap kali V.E.N.O.M mau nembak, pasukan Kera udah ilang di kolong mobil atau gelantungan di tiang lampu tol.
"Yo, Tuan Naga!" si pemimpin Kera nengok ke arah gue, matanya dari balik topeng berkilat jenaka. "Langit udah diurus Falcons, bawah biar kita yang acak-acak. Lu fokus aja ke depan, ada hadiah spesial nunggu lu di gerbang tol!"
Gue nyengir. Gue ngerasain energi naga gue mulai stabil karena bantuan dari segala arah ini. Falcons di langit, Kera Merah di darat, dan Serigala Putih di belakang gue.
"Oke, kalau kalian mau main-main, gue nggak akan ketinggalan," kata gue.
Gue dorong pintu mobil sampai copot, berdiri di running board sambil ngelepas gelombang api perak keunguan. "Habisin semuanya! Jangan sisain satu baut pun dari V.E.N.O.M!"
Malam itu, tol Banten bener-bener jadi rimba baja. Pertemuan antara teknologi dingin V.E.N.O.M dan liarnya Klan Kera Merah bikin aspal jalanan jadi saksi bisu kalau Jakarta punya sisi gelap yang jauh lebih mengerikan dari yang orang sangka.
Pasukan V.E.N.O.M mulai terdesak. Formasi kaku mereka hancur total berantakan gara-gara gerakan acak Klan Kera Merah. Jubah putih-merah para kera itu melesat ke sana kemari, nempel di pundak unit zirah hitam, lalu menusukkan belati pendek tepat di celah persendian robotik mereka.
"Unit Swarm! Aktifkan mode penghancuran mandiri!" teriak komandan V.E.N.O.M dari balik visornya yang retak.
Ratusan drone kecil mulai mendenging, berubah warna jadi merah dan meluncur kayak peluru bunuh diri ke arah kerumunan. Tapi, para Kera Merah nggak bodoh. Mereka mengeluarkan jaring-jaring kawat tipis yang dialiri frekuensi tinggi, menangkap drone-drone itu di udara sebelum sempat meledak.
"Jangan kasih kendor, bocah-bocah!" si pemimpin Kera bersiul nyaring.
Dia melompat dari kap mobil gue, berputar tiga kali di udara, dan menghantamkan tongkat listriknya ke kepala unit elit V.E.N.O.M sampai helmnya pecah. Di saat yang sama, Hana melesat di bawah jubah-jubah merah itu. Sabitnya menyambar kaki-kaki baja yang tersisa.
Gue nggak mau cuma jadi penonton. Gue turun dari mobil, melangkah di tengah aspal yang penuh dengan rongsokan robot. Gue bisa ngerasain tatapan dari balik topeng-topeng kera itu—tatapan penuh hormat sekaligus penasaran sama kekuatan Naga Utara yang mereka denger dari cerita-cerita lama.
"Leo, buka jalannya!" teriak gue.
"Siap, Bosque! Flashbang raksasa meluncur!"
Leo melemparkan kaleng perak dari jendela mobil. BOOM! Cahaya putih menyilaukan membutakan sensor inframerah V.E.N.O.M selama beberapa detik. Di saat itulah, gue melepaskan raungan naga yang sebenernya.
Gue hentakkan kedua tangan gue ke aspal. Energi perak keunguan menjalar di bawah tanah, meledakkan sisa-sisa kontainer V.E.N.O.M dari bawah. Udara jadi panas banget, sampai jubah-jubah para Kera Merah berkibar hebat kena angin panas dari kekuatan gue.
"Gila... itu beneran Naga," gumam salah satu anggota Kera Merah sambil nahan topengnya biar nggak lepas.
Pasukan V.E.N.O.M yang tersisa mulai mundur. Mereka sadar, teknologi tercanggih mereka pun nggak cukup buat ngelawan gabungan antara taktik gerilya liar Klan Kera dan kekuatan murni Naga Utara.
"Kita hampir sampai di gerbang tol!" teriak Hana sambil menunjuk ke arah depan.
Tapi di sana, sebuah bayangan besar sudah menunggu. Bukan robot, bukan manusia biasa. Seseorang yang berdiri dengan tenang di tengah kobaran api, memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan aura dingin yang sangat kontras dengan panasnya api gue.
Si pemimpin Kera mendarat di samping gue, nafasnya terengah tapi tangannya masih kokoh megang tongkat. "Tuan Naga, itu dia 'hadiah' yang gue bilang. Komandan tertinggi unit V.E.N.O.M jalur darat. Dia bukan mesin, dia... sesuatu yang lebih buruk."
Gue natep sosok itu. Pertarungan besar di jalan tol ini baru saja mencapai puncaknya.