Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Penghianatan
Perjalanan mereka kini memasuki babak yang paling berat. Setelah meninggalkan kuda-kuda mereka di perkampungan terakhir di kaki gunung, rombongan terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Medan Pegunungan Utara yang curam dan tertutup salju abadi tidak memungkinkan bagi hewan ternak untuk melintas. Dibutuhkan waktu dua hari penuh pendakian tanpa henti untuk bisa mencapai titik tertinggi yang mereka tuju yaitu puncak Abadi.
Target mereka hanya satu, yaitu Bunga Embun Darah.
Luvya masih mengingat dengan jelas deskripsi bunga itu dari kitab kuno yang pernah ia pelajari secara sembunyi-sembunyi di Kuil dulu. Bunga itu adalah keajaiban yang mengerikan sekaligus indah; kelopaknya berwarna merah pekat seperti darah segar yang baru menetes, dengan ukuran yang sangat besar, hampir sebesar serigala dewasa. Ia tidak tumbuh di sembarang tempat, melainkan hanya di puncak gunung ini, dan hanya menampakkan kecantikannya sekali dalam setiap lima puluh tahun.
Langkah kaki Luvya terasa semakin berat. Udara di ketinggian ini begitu tipis, dan dinginnya terasa seperti ribuan jarum es yang mencoba menembus pori-pori kulitnya. Bibirnya mulai membiru, dan napasnya meninggalkan kepulan uap yang tebal. Namun, setiap kali ia merasa nyaris ambruk, sebuah aliran hangat menyapu punggungnya.
Profesor Hedelon berkali-kali merapalkan sihir pelindung termal pada Luvya. Tanpa bantuan itu, Luvya yakin ia sudah membeku menjadi patung es sejak beberapa jam yang lalu. Ia melirik ke arah empat orang di depannya. Profesor Ozon, Profesor Hedelon, Tuan Mark, dan Nona Bianca berjalan dengan stamina yang luar biasa. Kekuatan sihir yang mereka miliki seolah menjadi bahan bakar yang tak ada habisnya, membuat mereka tetap tegak meski badai salju tipis mulai menerpa.
Nona Bianca memperlambat langkahnya, menoleh ke arah Luvya yang wajahnya sudah sepucat kertas. "Luvya, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat sangat kuyu," tanya Bianca dengan nada yang terdengar peduli, meski matanya tetap tajam mengawasi jalan.
Luvya hanya mampu mengangguk lemah. Ia tidak punya energi lagi bahkan untuk sekadar bicara.
"Tahan sedikit lagi, Luvya," bisik Profesor Hedelon sambil kembali memberikan sisa energinya melalui sihir kehangatan. "Kita hampir sampai."
Sentuhan sihir itu memberikan dorongan tenaga terakhir bagi Luvya. Mereka mendaki beberapa meter terakhir dengan susah payah, merayap di antara bebatuan es yang licin, hingga akhirnya dunia seolah terbuka di depan mata mereka.
Mereka telah sampai di puncak.
Tepat saat itu, sang surya mulai menyembul dari ufuk timur, membelah kegelapan malam dengan cahaya keemasan yang megah. Dan di sana, di tengah dataran puncak yang luas dan sunyi, Bunga Embun Darah mulai bereaksi terhadap sinar matahari pertama.
Kelopak-kelopaknya yang raksasa perlahan membuka, mekar dengan anggun di atas hamparan salju yang putih bersih. Warna merahnya begitu kontras dan menyala, seolah-olah puncak gunung itu sedang mengeluarkan darah yang berkilauan. Pemandangan itu sangat indah, begitu luar biasa hingga Luvya sempat lupa bahwa ia sedang berdiri di ambang maut.
Luvya terpana. Ia tidak pernah menyangka bahwa bunga yang ia baca di buku-buku usang itu akan jauh lebih indah dan terasa hidup saat dilihat secara langsung. Namun, di balik keindahan yang menghipnotis itu, ia tidak menyadari bahwa Profesor Ozon sedang menatap punggungnya dengan tatapan yang sama sekali tidak sehangat cahaya matahari pagi.
Luvya mengulurkan tangannya yang gemetar karena dingin. Begitu jemarinya menyentuh tangkai bunga yang kokoh itu dan memetiknya, sebuah sensasi hangat menjalar sesaat. Para profesor tampak sangat antusias, dan Luvya merasakan kebanggaan luar biasa karena berhasil menyelesaikan tugasnya.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan satu detik.
Tiba-tiba, gunung itu bergetar hebat seolah-olah jantung bumi sedang mengamuk. Sebelum Luvya bisa bertanya apa yang terjadi, sebuah ledakan energi sihir murni menghantam dadanya. Tubuh kecil Luvya terpental hebat ke arah bibir jurang yang curam.
"LUVYA!" teriak Hedelon histeris. Ia hendak berlari menyongsong Luvya, namun sebuah dinding sihir transparan yang sangat kuat menahannya. Profesor Ozon berdiri di sana dengan wajah dingin, tongkat sihirnya masih berpendar.
"Apa yang kau lakukan, Ozon?! Dia asisten kita!" teriak Hedelon murka. Bianca dan Mark pun terdiam dalam kebingungan yang mencekam.
"Sadar, Hedelon! Gadis yang kau puji-puji itu adalah seorang pembunuh!" suara Ozon menggelegar, mengalahkan suara badai yang mulai naik.
Ozon mulai membeberkan segalanya. Ia menjelaskan bahwa Luvya bukanlah sekadar mahasiswa biasa, melainkan buronan yang kabur dari Kuil Penitensi. "Dia telah membunuh Bapak Kuil Penitensi dengan keji. Informasi ini dikirimkan langsung oleh petinggi Kuil Matahari agar kita waspada. Dia adalah iblis yang menyamar!"
Seketika, sihir hangat yang menyelimuti tubuh Luvya memudar. Dingin yang mematikan mulai menyerang kulitnya, menusuk hingga ke saraf.
Luvya mencoba duduk, namun Ozon belum selesai. "Dan kau tahu siapa dia sebenarnya? Dia adalah putri dari mendiang Duke Vounwad yang terkutuk itu. Darah pemberontak dan pembunuh mengalir di nadinya."
Mendengar nama Vounwad, raut wajah Profesor Hedelon berubah drastis. Rasa panik di matanya digantikan oleh kekecewaan yang mendalam. Ia menatap Luvya dengan tatapan yang sangat asing, campuran antara terkejut dan rasa dikhianati. Luvya selama ini diam, tidak pernah menjelaskan siapa identitas aslinya, dan diamnya Luvya kini menjadi senjata mematikan bagi Ozon.
Luvya membuka mulutnya, ingin berteriak bahwa itu tidak benar, bahwa ia punya alasan, namun lidahnya kaku karena suhu yang drop drastis. Air matanya menetes, namun langsung membeku menjadi kristal es di pipinya.
"Jangan pedulikan dia, Hedelon! Dia telah mengkhianati kepercayaanmu sejak awal!" Ozon berseru, lalu ia menghentakkan tongkatnya ke tanah.
Dari balik hamparan salju, muncullah monster salju raksasa dengan mata merah menyala. Ozon sengaja memanggil monster itu untuk memastikan Luvya tidak bisa mengejar. Ia tahu Luvya cerdas, seorang anak yang bisa memecahkan sihir tingkat 3 di usia semuda itu adalah ancaman jika dibiarkan hidup.
Tanpa menoleh lagi, keempat orang itu berbalik. Mereka melangkah pergi meninggalkan Luvya sendirian di puncak yang runtuh.
“Apa... kenapa? Kenapa harus sekarang?” batin Luvya menjerit pedih. “Dikhianati lagi? Setelah aku mencoba hidup sebagai orang baru, dunia tetap membuangku?”
Monster itu melangkah maju, bayangannya menutupi tubuh Luvya yang sudah membiru. Dalam upaya terakhir untuk menghindar, kaki Luvya tergelincir di atas es yang retak.
Tubuh Luvya melayang di udara, jatuh bebas melewati tebing-tebing es yang tajam. Namun, keajaiban yang ganjil terjadi. Saat tubuhnya menghantam daratan salju di bawah jurang, tidak ada suara tulang patah, tidak ada luka menganga, dan tidak ada setetes darah pun yang merembes keluar.
Luvya terkapar menyamping di atas hamparan putih yang dingin. Tubuhnya tidak terasa sakit, namun beban kelelahan yang luar biasa tiba-tiba menghimpitnya, seolah seluruh energinya telah dikuras habis oleh gunung itu. Ia hanya bisa terbaring kaku, menatap lurus ke arah cakrawala salju dengan napas yang satu-satu.
Di tengah kesunyian yang mematikan itu, rasa sakit hati mulai menjalar, jauh lebih perih daripada dinginnya es utara. Air matanya terus mengalir tanpa suara.
Kenapa?
Dikhianati saat ia baru saja mulai merasakan hangatnya sebuah rumah adalah luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Wajah kecewa Profesor Hedelon terus terbayang di benaknya, menghancurkan sisa-sisa harapan yang ia bangun sebagai Lily. Dunia seolah terus-menerus mengingatkannya bahwa di mana pun ia berada, ia akan selalu menjadi sosok yang dibuang.
Tiba-tiba, di tengah pandangannya yang mulai meredup, Luvya melihat sesuatu yang kontras di kejauhan. Sebuah titik warna merah kecil yang bergerak membelah badai salju.
Warna itu bergerak semakin dekat, semakin jelas. Ternyata, itu adalah seorang wanita. Ia mengenakan jubah merah menyala yang mewah, dengan pakaian yang terlihat sangat cantik seolah ia tidak sedang berada di tengah gunung yang membeku. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tongkat merah yang memancarkan aura magis yang amat kuat.
Luvya tidak bisa bergerak, ia hanya bisa memperhatikan wanita itu berjalan mendekat dengan langkah yang sangat anggun. Salju di bawah kaki wanita itu seolah mencair sebelum ia sempat menginjaknya.
Wanita itu berhenti tepat di depan Luvya, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya yang cantik dan misterius berada tepat di depan pandangan Luvya yang lelah. Sebuah senyum tipis, penuh rahasia namun terasa sangat akrab, terukir di bibirnya.
"Kita bertemu lagi, Luvya," ucap wanita itu dengan suara yang terdengar seperti melodi kuno. "Tentu saja dengan cerita yang menarik lagi."
Luvya ingin bertanya siapa dia, atau bagaimana mereka pernah bertemu, namun kelopak matanya yang berat akhirnya tertutup rapat. Kesadarannya pun hilang sepenuhnya dalam dekapan aura merah yang hangat, meninggalkan puncak gunung yang kini hanya menyisakan jejak pengkhianatan yang dingin.