Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Ares
“Nyonya tidak mau ditanya terus soal makanan, Tuan. Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?”
Ares terdiam sejenak, alasannya meminta Bi Mia agar selalu bertanya makanan apa yang ingin Lyra makan karena takut wanita itu tidak selera dengan makanan yang sudah disiapkan.
“Katanya Nyonya tidak pilih-pilih soal makanan, saya disuruh masak apa saja yang ada.”
“Kalau gitu nanti aku catatkan menu untuk sehari-hari tapi kalau Lily ingin sesuatu yang lain, buatkan saja apa yang dia inginkan.”
Bi Mia mengangguk lega. Dulu ia hanya bertugas bersih-bersih karena Ares sangat jarang berada di rumah, pria itu juga lebih sering makan di luar. Tapi semenjak Ares membawa Lyra pulang, pria itu menentukan banyak aturan, termasuk memerintahkan Bi Mia menunggu sang Nyonya di depan pintu.
Bagi Ares, Lyra adalah ratu yang harus mendapatkan pelayanan terbaik.
Setelah membuatkan catatan menu harian untuk Bi Mia, Ares segera ke ruang kerjanya, ia tersenyum samar ketika melihat majalah yang baru saja diantarkan oleh Vano.
“Ternyata ada perkembangan.” Ketika membandingkan karya Lyra dua tahun lalu dan saat ini, Ares menemukan banyak perbedaan yang mengagumkan.
Dua tahun lalu, Lyra bekerja di bawah tekanan, ia dituntut sempurna dalam waktu tertentu sehingga karyanya terasa tak bernyawa meski indah. Sedangkan saat ini wanita itu mengikuti kata hatinya tanpa takut tidak sesuai dengan ekspektasi siapa pun. Lyra juga bebas menentukan kapan karyanya harus selesai.
Karya Lyra dua tahun lalu memang memanjakan mata tapi karya-karya terbarunya terasa lebih menyentuh jiwa.
********
“Kesempurnaan itu me membosankan.” Suara Ares rendah tapi menggema, memenuhi setiap sudut ruangan. “Kami tidak hanya menjual wajah, kami menjual pengaruh dan narasi. Jika masih ragu, kalian bukan hanya kehilangan satu musim tapi kehilangan satu dekade. Mau bertaruh?”
Sorot mata Ares yang tajam menyapu lima investor di depannya yang tampak tegang, berbanding terbalik dengan Ares yang tenang meski proyek besar yang sudah ia rencanakan dari dua tahun lalu sedang bermasalah.
Sementara para investor itu terdiam, mereka tahu Ares tidak sedang menjual harapan melainkan sedang mendikte masa depan. Mereka juga tahu, bertaruh melawan Ares saat ini akan menjadi kesalahan finansial yang cukup besar.
Rumor beredar bahwa Ares adalah pria licik yang ambisius, ia hanya anak angkat keluarga Jatmika yang menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan putra sah keluarga itu-Ryan Jatmika, lalu merebut perusahaan Jatmika.
Beberapa tahun lalu orang-orang memandangnya sebelah mata, bahkan menganggapnya anjing yang akan menggigit tuannya di masa depan. Tapi Ares tidak peduli dengan penilaian orang lain, ia mendirikan perusahaannya sendiri, Lily Crown. Alih-alih dihargai karena tak berusaha berebut perusahaan keluarga, ia justru semakin dicibir, dianggap sok hebat, hanya akan buang-buang waktu dan tenaga.
Tapi dari waktu ke waktu Ares berhasil membuktikan diri bahwa ia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan keluarga angkatnya, bahkan keluarga Jatmika tidak memberinya sepeser pun saat ia membangun perusahaan tersebut.
Sekarang, siapa pun sulit menyangkal kehebatan Ares sebagai seorang pebisnis. Pria itu masih muda, berpikiran terbuka, cara pandangnya luas dan jauh ke depan, yang paling penting adalah Ares tidak takut melakukan kesalahan apa pun karena ia percaya satu kesalahan sama dengan satu langkah maju menuju kesuksesan.
Hanya dalam beberapa saat, satu persatu para investor itu setuju untuk berinvestasi, membuat Lian dan Vano yang sejak tadi mendampingi Ares langsung bernapas lega karena masalah investasi proyek terbaru mereka itu sudah berlangsung sejak tiga bulan yang lalu.
“Vano, siapkan kontraknya.”
“Baik, Tuan Ares.”
Setelah rapat dengan para investor selesai, Ares langsung menatap Lian dengan tajam. “Jangan salahkan aku, Res. Aku bukannya nggak mampu menangani para orang tua itu, kamu tahu sendiri kehebatanku dalam bernegosiasi tapi ayahmu ikut banyak ikut campur di proyek ini.”
“Tua bangka itu memang merepotkan,” geramnya dan Lian langsung mengangguk setuju. “Terus kenapa tiba-tiba rapatnya di hotel? Lain kali suruh para orang tua itu itu ke kantor supaya mereka melihat kekuasaanku di sana.”
“Hayyaaa.” Lian mengeluh. “Di kantor ada mata-mata ayahmu, rapat kali ini rahasia, bahkan cicak di rumahku pun nggak tahu.”
Ares hanya mendengkus kesal hingga ia teringat sesuatu. “Cepat pergi dari sini, sebentar lagi istriku sampai.”
“Bentar, numpang wc.”
Ares hendak protes tapi sahabatnya itu sudah mengacir ke toilet.
“Lily sudah bertemu dengan Zaline?” tanyanya pada Vano.
“Nyonya sudah di hotel ini, Tuan,” kata Vano seraya memeriksa tabletnya yang menunjukkan Lokasi Lyra. “200 meter dari posisi kita.”
Mendengar itu Ares langsung keluar dari kamarnya, ia menunggu kehadiran Lyra di depan pintu. “Kalau nanti Nyonya bertanya kenapa kita di sini, katakan saja kebetulan,” titah Ares yang membuat Vano meringis.
“Kebetulan apanya? Saat Tuan Lian mengatur Lokasi rapat, Tuan ‘kan langsung mengatur Lokasi pertemuan Nyonya dengan Zaline, bahkan sengaja menempatkan Zaline di kamar sebelah.” Vano menggerutu dalam hati, bahkan ia mendelik pada tuan yang sedang tak menatapnya itu.
“Paham, Van?”
“Paham, Tuan,” sahut Vano malas. “Paham kalau Tuan harus banyak bersandiwara seakan semuanya kebetulan padahal sudah diatur. Dulu menyuruh Zaline memakai Nyonya sebagai perancang gaun pengantinnya, sekarang membayarkan kamar Zaline hanya untuk bertemu Nyonya, padahal ‘kan di rumah sudah bertemu terus.”
“Sekarang kamu bereskan meja di dalam, bersihkan semuanya dan jangan lupa suruh Lian segera pergi.”
“Baik, Tuan.”
Setelah Vano pergi, Lyra dan Sena datang yang membuat Ares senang, tetapi istrinya itu langsung memalingkan wajah seakan dirinya adalah orang asing.
“Itu yang kuminta, orang asing di luar.” Ares mengingatkan diri sendiri dengan kecewa, ia hendak pergi tapi kehadiran calon suami Zaline mengurungkan niatnya.
Ares selalu bisa menahan diri untuk menjaga jarak dari Lyra tapi tidak saat melihat wanita itu tersenyum pada pria lain yang mengundangnya masuk ke dalam kamar hotel. Ares cemburu meski tahu Lyra tidak sendiri, bahkan pria itu bersama calon istrinya.
“Jangan salahkan aku, salahkan saja cintaku yang terlalu besar.”
“Ke kamar sebelah, Lily.”
Entah setan apa yang merasukinya tapi saat ini Ares merasa sangat ingin mendekap Lyra lalu mencium bibirnya yang tersenyum pada pria lain.
Ares ingin menghukum wanita itu yang berani tebar pesona.
“Aku ingin mengajukan syarat berikutnya.”
Saat ini, kelemahan Lyra hanya satu, yaitu rasa bersalah karena menyeretnya dalam pernikahan dan Ares ingin memanfaatkan kelemahan istrinya itu sebaik mungkin.
“Na, kamu masuk duluan, ya,” bisik Lyra pada Sena. “Aku sebentar aja kok.”
“Santai, Lyra,” kata calon suami Zaline. “Selesaikan dulu urusanmu, biar aku dan Zaline bicara dengan Sena.”
“Terima kasih,” ucap Lyra dengan penuh rasa bersalah. Zaline adalah klien yang sangat penting untuknya, ia tidak ingin membuat kesalahan sekecil apa pun di pertemuan pertama mereka. Tapi Ares yang bersikeras ingin berbicara dengannya juga tak bisa Lyra abaikan, pria itu cukup menakutkan saat menghendaki sesuatu.
Tatapannya seperti ingin menelan orang hidup-hidup.
“Apa?” ketus Lyra saat sudah berada di kamar Ares.
“Kamu yang memintaku menentukan syarat.”
“Hanya tiga!” Lyra mengacungkan tiga jari. “Aku hanya menerima tiga syarat dan dua syarat sudah kamu ajukan, jadi tersisa satu lagi.”
Ares memang korban tapi Lyra tidak akan membiarkan pria itu bertindak semena-mena terhadapnya, apalagi ia juga korban dalam pernikahan itu.
Ares langsung terdiam, tidak menyangka Lyra akan langsung membatasi syarat yang akan ia ajukan padahal masih ada banyak hal yang inginkan didapatkan dari wanita itu.
“Pikirkan pelan-pelan, Ares. Se karang aku harus meeting.”
Melihat sang suami hanya mematung, Lyra hendak pergi tapi tiba-tiba Ares berkata, “Penuhi kebutuhan biologisku, di mana pun dan kapan pun aku mau.”
“GILA!”
“THE F*CK.”
“KAMU_ KALIAN ….” Lyra terbelalak, mulutnya menganga lebar, bukan hanya karena apa yang Ares katakan tapi juga karena tiba-tiba ada dua pria yang muncul di kamar itu dan keduanya sama-sama berteriak secara bersamaan.
Vano si sekretaris yang pernah beberapa kali bertemu dengannya dan juga pria asing yang belum pernah Lyra lihat.
Yang membuat Lyra semakin menganga adalah penampilan dua pria itu.
Vano muncul dengan kemeja basah dan kancing terbuka sedangkan pria yang satunya muncul sambil membenarkan celana.
Sebagai wanita dewasa dan pernah menonton beberapa film romansa, Lyra tidak bisa mencegah pikiran liarnya sendiri.
Ares yang melihat penampilan sahabat dan sekretaris pribadinya itu juga mengerut bingung, bertanya-tanya apa yang terjadi.
“Ares?” Lyra memicingkan mata pada suaminya. “Gila, cewek iya, cowok iya … dua lagi. Ka-kamu ….” Lyra yang kehabisan kata-kata hanya bisa mengacungkan dua jempol sambil geleng-geleng.
Sementara Ares yang baru mengerti apa yang dipikirkan istrinya itu langsung menggeleng, menolak tuduhan tak terucap itu.
“Lanjutkan, aku nggak ikutan," ringis Lyra. "Oh ya, aku jamin rahasiamu aman."
“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Lily!” teriak Ares
Lyra menutup telinga sambil berlari terbirit-birit keluar dari kamar Ares, takut ia juga dimangsa oleh pria itu.
Ares yang melihat sang istri lari ketakutan hanya bisa menggeram tertahan sambil melemparkan tatapan mematikan pada dua manusia di hadapannya yang saat ini hanya bisa meringis.
“Kalian ….” Dada Ares naik turun, napasnya memburu, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak. “Mau ke kuburan atau ke rumah sakit?”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira