Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Pak Arven, saya datang sebagai perwakilan dari pihak Nona Kanisha." Nama itu langsung membuat Arven menegang. Jemarinya perlahan mengencang sementara pengacara itu melanjutkan perkataannya. "Saya ditugaskan untuk menyerahkan dokumen ini kepada Anda."
Map itu didorong perlahan ke atas meja dan membuat Arven menatapnya. Entah kenapa tiba-tiba ia sudah tahu apa isi dokumen itu dan benar saja dugaannya, ternyata isi dokumen yang ada dalam map itu adalah surat perceraian.
"Ini adalah surat pernyataan perceraian."
Keheningan langsung memenuhi ruangan. Arven tidak bergerak, ia idak menyentuh map itu apalagi membalik halamannya. Yang ia lakukan hanya menatapnya seolah benda itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Pengacara itu melanjutkan perkataannya dengan tenang.
"Dokumen tersebut sudah ditandatangani oleh Nona Kanisha."
Kalimat itu membuat dada Arven terasa sesak. Sudah ditandatangani? Itu artinya Kanisha benar-benar tidak ragu untuk bercerai dengannya.
"Setelah Anda menandatanganinya," lanjut pengacara itu, "dokumen ini akan segera diproses ke pengadilan."
Arven masih terdiam. Tangannya perlahan bergerak mengambil isi dokumen tersebut, membukanya dan membacanya sampai di halaman terakhir. Ia melihat tanda tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan itu terlihat begitu sederhana namun entah kenapa rasanya jauh lebih menyakitkan daripada semua laporan kerugian yang ia baca selama beberapa hari terakhir. Arven menatap tanda tangan itu cukup lama sampai akhirnya pengacara tersebut kembali berbicara.
"Pak Arven."
Namun Arven memotongnya.
"Tidak!!!"
Pengacara itu terdiam sementara Arven menutup map tersebut lalu mengangkat kepalanya. Tatapannya terlihat jauh lebih kacau dari sebelumnya.
"Aku tidak akan menandatanganinya."
Ruangan itu seketika hening sekaligus membuat pengacara itu tampak sedikit terkejut.
"Mohon maaf?"
"Aku bilang kalau aku tidak akan menandatanganinya." jawab Arven dengan suaranya yang lebih tegas dan jelas.
Pengacara itu menarik napas perlahan dan berusaha tetap bersikap profesional.
"Pak Arven."
"Saya tidak mau bercerai."
Kalimat itu keluar begitu saja tanpa sempat ia tahan, bahkan dirinya sendiri sedikit terkejut setelah mengucapkannya. Namun semakin kalimat itu keluar semakin ia sadar bahwa dirinya memang tidak siap untuk kehilangan semuanya sekaligus. Perusahaannya sudah hampir bangkrut, nama baiknya sudah hancur, semua investor yang dimilikinya sudah pergi dan sekarang Kanisha juga ingin pergi? Tidak, Ia tidak siap menghadapi itu.
"Aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu."
Pengacara itu duduk dengan tegak sembari berusaha tetap tenang.
"Pak Arven, saya harap Anda bisa bekerja sama dengan baik."
"Tidak."
"Proses ini hanya akan menjadi lebih panjang jika Anda menolak untuk menandatanganinya."
"Aku tidak peduli."
"Pak—"
"Aku bilang tidak." Suara Arven meninggi sementara matanya memerah. "Aku tidak mau bercerai."
Pengacara itu terdiam beberapa saat lalu menghela napas pelan sementara Arven menggenggam erat map perceraian itu seolah dengan menolak menandatanganinya, ia masih bisa mempertahankan sesuatu yang perlahan sudah terlepas dari tangannya. Padahal jauh di dalam dirinya ada satu kenyataan yang sebenarnya sudah ia ketahui, bahwa mungkin yang terlambat bukan surat perceraian itu melainkan kesadarannya sendiri.
Pengacara itu menghela napas pelan. Ia sudah menangani banyak kasus perceraian selama bertahun-tahun. Pertengkaran, penolakan, tangisan, bahkan ancaman pernah ia hadapi. Namun yang ada di depannya sekarang terasa sedikit berbeda. Arven tidak terlihat seperti seseorang yang sedang memperjuangkan cinta, Ia terlihat seperti seseorang yang baru sadar apa yang sudah hilang dari hidupnya.
"Pak Arven," panggil pengacara itu dengan hati-hati namun Arven tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada dokumen yang berada di tangannya. Jemarinya mencengkeram bagian tepi dokumen itu begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Saya mengerti situasi ini tidak mudah bagi anda, tapi saya mohon pengertiannya."
"Tidak." Arven langsung memotong. "Kau tidak mengerti apa yang aku alami."
Pengacara itu tampak diam untuk beberapa saat.
"Saya memang tidak mengalami apa yang Anda alami, Pak. Tapi saya memahami posisi hukum dan posisi klien saya."
Arven tertawa hambar.
"Posisi hukum?"
"Ya." Pengacara itu duduk lebih tegak. "Nona Kanisha sudah memberikan seluruh keterangan yang diperlukan kepada saya." Arven langsung mengangkat kepalanya, tatapannya terlihat tajam namun pengacara itu tetap melanjutkan perkataannya. "Kami mengetahui adanya hubungan Anda dengan perempuan lain selama masa pernikahan."
Rahang Arven mengeras. "Kami juga menerima bukti penggunaan fasilitas keuangan milik klien kami untuk kepentingan pihak ketiga."
Suasana ruang tamu perlahan berubah semakin berat. Setiap kalimat yang keluar dari mulut pengacara itu terasa seperti palu yang memukul satu per satu kesalahan Arven dan yang paling menyakitkan, semua itu memang benar. Tidak ada yang bisa ia bantah.
"Tapi itu bukan alasan untuk—"
"Pak Arven." Pengacara itu kembali memotong perkataan Arven dengan tenang. "Saya belum selesai bicara."
Arven langsung terdiam lalu pengacara itu membuka salah satu halaman dokumen yang ada di depannya.
"Lalu mengenai talak."
Untuk pertama kalinya ekspresi Arven berubah. Matanya berkedip pelan seolah ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan pergi.
"Menurut keterangan yang kami terima dari klien kami, Anda pernah menjatuhkan talak kepada beliau."
Arven langsung menegang.
"Itu.. Saya cuma mengatakannya satu kali." sahut Arven namun pengacara itu tahu kalau Arven saat ini sedang berbohong.
"Benarkah? Tapi berdasarkan keterangan yang diberikan klien kami, talak tersebut telah anda ucapkan hingga tiga kali."
Keheningan memenuhi ruangan bahkan suara pendingin ruangan terasa jauh lebih jelas. Arven tidak berbicara karena ia ingat. Ia mengingat semuanya. Pertengkarannya dengan Kanisha, Amarahnya, kata-katanya yang keluar tanpa dipikirkan dan Kanisha yang hanya diam saat itu.
"Tapi aku tidak benar-benar serius saat mengucapkannya."
Kalimat itu keluar dengan pelan dan nyaris seperti pembelaan untuk dirinya sendiri. Pengacara itu menghela napas dengan berat karena tak percaya kalau Arven masih bisa bisanya membela dirinya sendiri.
"Pak Arven." Suara pengacara itu kembali terdengar namun justru karena itulah kalimat yang diucapkan oleh pengacara itu terasa jauh lebih menyakitkan. "Tidak semua luka tercipta karena kesengajaan." Arven membeku. "Terkadang seseorang tetap terluka meskipun kita tidak berniat melukainya. Klien saya sudah mengambil keputusan dan anda harus menghargai keputusannya."
"Dia masih bisa berubah pikiran."
"Tidak."
"Aku bisa bicara dengannya."
"Pak Arven."
"Aku bisa minta maaf."
Pengacara itu menatap Arven cukup lama lalu berkata pelan.
"Menurut Anda, berapa kali Nona Kanisha sudah memberi kesempatan?"
Pertanyaan itu membuat Arven terdiam. Benar, berapa kali? Berapa kali Kanisha memilih diam? Berapa kali Kanisha memaafkan? Berapa kali Kanisha pura-pura tidak tahu? Berapa kali Kanisha menunggu? Dan berapa kali dirinya justru memilih melanjutkan perselingkuhannya dengan Selena? Arven menelan ludahnya dengan berat namun egonya masih terlalu besar untuk mengakuinya.
"Aku cuma melakukan satu kesalahan."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Arven dan membuat pengacara itu terlihat terkejut.
"Satu kesalahan?"
"Iya." Arven melangkah maju sementara matanya mulai memerah. "Aku cuma melakukan satu kesalahan, yaitu berselingkuh."
"Pak Arven—"
"Orang lain juga pernah melakukan kesalahan." Suaranya semakin tinggi. "Aku masih bisa memperbaikinya."
"Tapi—"
"Aku masih bisa berubah!" Arven memukul meja dengan telapak tangannya.
BRAK.
Suara pukulan itu menggema di ruang tamu.
"Aku masih bisa memperbaiki semuanya!"
Pengacara itu menatapnya lama lalu menghela napas.
"Pak Arven."
"Apa?"
"Terkadang masalahnya bukan soal apakah seseorang bisa berubah atau tidak." Arven terdiam. "Apakah orang yang terluka masih ingin menunggu perubahan itu."
d jmin bkln jth cnta kl udh ktmu lngsng,scra kanisha cntk plus hebat bgt.....