NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:19.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baikan nih?

Ciuman yang semula dipenuhi tuntutan amarah dan kerinduan itu perlahan-lahan melambat, bertransformasi menjadi sebuah pagutan yang lembut dan penuh perasaan. Badai mengusap sisa darah di sudut bibirnya sendiri dengan ibu jari, lalu beralih mengusap bibir Kilau yang memerah basah akibat ulah mereka berdua. Napas keduanya masih terengah-engah, saling berkejaran di udara ruang kerja yang terasa kian hangat.

Kilau menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas di dada bidang Badai. "Sakit, ya?" bisiknya lirih, ada nada penyesalan yang samar di balik suaranya yang serak.

Badai terkekeh rendah, suara getaran di dadanya merambat langsung ke indra pendengaran Kilau. Dia mengangkat dagu gadis itu dengan jari telunjuknya, memaksa sepasang mata indah itu untuk kembali menatapnya. "Kalau hukumannya semanis ini, setiap hari lo gigit sampai berdarah-darah pun gue nggak akan protes, Ki."

"Ih, Dai! Jangan mulai deh!" Kilau mencubit pinggang Badai pelan, membuat pria itu meringis pura-pura kesakitan. "Lagian lo tuh ngeselin tau nggak?! Tetiba ngilang, tau-tau datang udah jadi CEO di perusahaan gue. Pakai bawa bodyguard sekampung lagi. Sengaja mau pamer?"

Badai menatap Kilau dengan binar mata yang melunak, kehilangan seluruh keangkuhan sosok pemimpin yang tadi dia tunjukkan di aula utama. Kedua tangannya merangkup pipi Kilau, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap kulit halus di sana.

"Dengar gue, Ki," ucap Badai, suaranya mendalam dan penuh penekanan yang tulus. "Mau gue jadi mekanik yang badannya bau oli, atau jadi CEO yang pakai jas mahal di gedung ini atau entah jadi pimpinan Ananta Corp nanti... itu cuma status di luar. Di depan lo, gue akan selalu jadi Dai yang sama. Dai yang akan terus menyayangi lo dalam keadaan apa pun, kapan pun, dan seumur hidup yang gue punya. Nggak akan ada yang berubah dari perasaan itu."

Jantung Kilau berdegup kencang mendengarnya. Kata-kata Badai yang lugas namun sarat akan komitmen itu selalu sukses meruntuhkan benteng pertahanan yang sudah dia bangun dengan susah payah. Kilau hanya bisa mengangguk pelan, menenggelamkan dirinya kembali dalam pelukan hangat pria itu, membiarkan rasa aman menyelimuti hatinya yang sempat bimbang.

"Kita cuma pacar pura-pura Dai.." Kilau mengingatkan status mereka.

"Nggak ada yang pura-pura dari apa yang gue rasa ke lo, Ki. Mau gue kawinin sekarang juga hayu aja gue mah."

Satu cubitan maha dahsyat langsung membuat Dai mengaduh kesakitan.

Satu jam berlalu, setelah Badai menyelesaikan beberapa urusan administrasi kilat dengan jajaran direksi. Tentu saja didampingi oleh Kilau yang berusaha mati-matian bersikap profesional di depan staf lain, Dai tiba-tiba menarik pergelangan tangan Kilau menuju lift privat.

"Kita mau ke mana lagi, Pak CEO?" sindir Kilau saat pintu lift berdinding kaca itu bergerak turun menuju basemen.

"Ikut aja. Hari ini gue mau potong gaji lo karena udah berani gigit atasan," seloroh Badai dengan wajah lempengnya yang khas.

"Heh! Mana ada aturan kayak gitu, Dai!"

Ketika pintu lift terbuka di area parkir khusus eksekutif, mata Kilau membelalak. Di sana, di antara barisan mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah, terparkir sebuah motor sport hitam yang sangat dia kenali. Si Iteung. Kontras sekali melihat motor sport gahar itu berada di parkiran VIP, lengkap dengan helm full-face premium yang sudah tergantung di spionnya. Di samping motor, beberapa bodyguard bertubuh besar berdiri tegap, menjaga motor tersebut layaknya aset negara yang paling berharga.

"Dai, lo serius? Lo mau naik motor pakai baju kayak gini?" Kilau menunjuk setelan jas charcoal grey berharga fantastis yang masih melekat sempurna di tubuh atletis Dai.

Dai tak menjawab. Dengan gerakan santai, dia melepas kancing jasnya, membuka dua kancing teratas kemeja hitamnya, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku, memamerkan urat-urat tangan yang tegas dan maskulin. Jas mahalnya dia lemparkan begitu saja pada salah satu pengawal yang sigap menangkapnya.

"Kenapa? Takut bedak lo luntur kena angin sore?" goda Badai sambil mengambil helm dan memakaikannya ke kepala Kilau, mengancingkan talinya dengan amat telaten. "Pegangannya yang erat nanti, ya. Si Iteung kalau udah ketemu pawangnya suka agak liar."

"Hah? Agak liar gimana maksudnya?" Kilau belum mengerti, namun tampak berusaha menyembunyikan senyumnya di balik kaca helm yang gelap. Dia segera naik ke jok belakang si Iteung, merapatkan tubuhnya, dan tanpa ragu melingkarkan kedua lengannya di pinggang kokoh Badai.

Mesin si Iteung bergemuruh dahsyat, suaranya menggema membelah sunyinya basemen MahaTech. Motor sport hitam itu melesat membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh para pekerja yang pulang kantor. Dari balik kaca jendela mobil-mobil mewah, orang-orang menatap takjub pada sepasang pengendara motor sport itu. Seorang pria berkemeja formal dengan aura karismatik yang luar biasa, membonceng seorang gadis cantik dengan kecepatan yang stabil namun memukau.

Transfomasi rute membawa mereka keluar dari hiruk-pikuk kemacetan kota. Kilau mengira Badai akan mengajaknya ke restoran mewah atau kafe estetis, namun motor sport itu justru berbelok memasuki area luar kota, menuju sebuah sirkuit balap pribadi yang tampak sepi namun terawat dengan sangat baik.

Badai menghentikan motornya di tepi lintasan aspal yang mulus dan lebar. Setelah membantu Kilau melepas helmnya, Badai menatap gadis itu dengan senyum miring yang menantang.

"Ki, lo pernah lihat gue bongkar mesin, lo juga udah lihat gue mimpin rapat tadi. Sekarang, gue mau kasih lihat lo sesuatu yang beda dari diri gue..." ujar Badai. Dia mengambil helm full-face miliknya sendiri, memakainya, dan kembali menaiki si Iteung. "Tunggu di tribun sini, ya.." Dai mengacak pelan rambut Kilau.

Kilau berjalan menuju tribun penonton yang berada tepat di pinggir lintasan lurus utama. Dari atas sana, dia bisa melihat siluet Badai dan si Iteung yang menyatu sempurna.

Begitu lampu hijau di tepi lintasan menyala, raungan mesin si Iteung memekakkan telinga. Motor itu melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Kilau menahan napas saat melihat cara Badai mengendalikan motor sport tersebut. Di setiap tikungan tajam, Badai menurunkan tubuhnya begitu rendah, melakukan teknik knee down dengan presisi yang luar biasa, hingga lututnya hampir menyentuh aspal. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut. Kecepatan, keseimbangan, dan kendali mutlak ada di tangan Badai.

Di atas lintasan balap itu, Badai terlihat begitu bersinar. Keahlian berkendaranya bukan sekadar hobi, melainkan sebuah seni yang dia kuasai sampai ke tingkat tinggi. Setiap kali Badai melewati garis lurus dengan kecepatan penuh, angin berhembus kencang menerpa wajah Kilau, membawa serta rasa kagum yang kian membubung tinggi di dalam dadanya.

Kilau memegangi dadanya yang bergemuruh. "Sial," ucapnya tanpa sadar. Lelaki itu benar-benar tahu cara membuatnya tidak bisa berpaling.

Di bengkel dia memikat dengan kesederhanaannya, di kantor dia mengintimidasi dengan kekuasaannya, dan di sirkuit ini... dia benar-benar menaklukkan seluruh hati Kilau tanpa sisa. Kilau sadar, dia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria yang sama.

Setelah melakukan beberapa lap yang memukau, Badai melambatkan motornya dan mengarahkannya tepat ke tempat Kilau berdiri. Dia melepas helmnya, memperlihatkan rambutnya yang sedikit basah oleh keringat, menempel di dahinya secara acak namun justru menambah kesan seksi yang mematikan. Lalu masih di atas motor, Dai memberikan simbol hati dengan menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya.

"Gimana?" tanya Badai sambil menopang motornya dengan satu kaki. "Lo suka?"

Kilau berjalan turun dari tribun, mendekati Badai dengan langkah pelan. Dia berpura-pura berpikir sejenak sambil melipat tangan di dada. "Hmm, lumayan sih. Tapi masih banyakan gaya dibanding kecepatannya."

Badai tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang jarang dia tunjukkan pada orang lain. Dia menarik tangan Kilau, membuat gadis itu kembali mendekat ke arahnya. "Oh, meragukan kemampuan atasan rasa pacar nih? Mau nyoba sekali lagi tapi bareng kamu di belakang?"

"Nggak mau! Tadi aja lo beloknya miring banget kayak mau rebahan di aspal!" seru Kilau ngeri sekaligus gemas.

Badai tersenyum lembut, ditariknya tubuh Kilau hingga berdiri di antara kedua paha tegapnya yang masih menunggangi motor. Ditatapnya manik mata Kilau yang kini berbinar penuh rasa kagum yang tak bisa disembunyikan lagi.

"Ki," panggil Badai rendah, jemarinya menyelipkan anak rambut Kilau ke belakang telinga. "Perusahaan teknologi itu, jabatan CEO, atau sirkuit balap ini... semuanya bisa dibeli pakai uang. Tapi tahu nggak, apa satu-satunya hal yang nggak bisa dibeli tapi paling berharga yang gue punya sekarang?"

"Apa?" tanya Kilau polos, terpancing oleh tatapan dalam Badai.

Badai meraih tangan kanan Kilau, membawa telapak tangan gadis itu dan menempelkannya tepat di dada kirinya, di mana jantungnya berdegup dengan ritme yang konstan namun kuat.

"Izin dari lo buat gue terus sayang sama lo. Itu nggak ada harganya, Ki. Nggak bisa gue beli dengan apapun. Jadi, tolong jangan pernah dicabut ya izinnya," ujar Dai dengan nada suara yang begitu lembut, namun matanya memancarkan keseriusan yang mutlak.

Wajah Kilau seketika merona merah, lebih merah dari warna senja yang mulai turun menghiasi langit sirkuit sore itu. Dia memukul dada Badai pelan, berusaha menyembunyikan rasa baper yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. "Dasar CEO gombal! Belajar dari mana sih kata-kata kayak begitu?"

"Belajar mandiri, khusus buat diaplikasikan ke lo aja," jawab Badai sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat jantung Kilau kembali berdisko tanpa henti. Di bawah langit sore yang perlahan meredup, di atas aspal sirkuit yang masih hangat, keduanya saling melempar senyum, mengunci sebuah janji tak tertulis bahwa jarak dan status tak akan pernah bisa mengubah esensi dari rasa yang mereka punya.

1
Dewi kunti
haaaiiiii ky judul film🤭🤭🤭🤭
Bulan-⁶
paham pak djiwa????!!!!!
Bulan-⁶
gak usah nantangin kamu dai bisa2 kelabakan sendiri nantinya
Bulan-⁶
kopi dangdut🤣🤣🤣
Dewi kunti
hai hai hai main kokop aj, bodyguard Kon nunggoni wong kokopan
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
udah cukup oe..
tar takut ada yg bangkit pulak🤣🤣🤣
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
heleh, entut
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
haduh ampun deh..
tengah malem gini malah jantungku ikut berdisko😌
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
setdah..
mata suciku ternoda..
oh no.. oh no.. oh no no no
Bulan-⁶
gimana nasib pak djiwa ya🤭
Badai pasti berKilau
Meleleh adek bang 😍
Badai pasti berKilau
Wehhh modus ni Badai 😌🤣
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
gek rabine Dai🤭 wedine kilau keburu sadar susukmu selak luntur🤣🤣🤣🤣
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
sikattt Dai sikat wessss gawak na KUA sono
Badai pasti berKilau
Ntar kalo buaye tuh jawab, koe pinsan Kil 🤣🤣
Badai pasti berKilau
Masok juga parfum Dunhill 🤣
Bulan-⁶
salahkan djiwa yang punya mulut terlalu lemes dan kesombongan serta keangkuhan setinggi langit
Bulan-⁶
jangan mati dulu pak djiwa terlalu enak kalau langsung mati
Bulan-⁶
pak Hiro, jangan kaku2 lah jadi orang biar anakmu gak terus2an benci sama anda
desember
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!