Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - Obat
Rumah Sakit Azalea
Di ruang rawat, Dipta duduk tempat di samping brankar Nala. Melihat Nala yang dipasang selang oksigen, sungguh menyayat hati Dipta. Melihat adiknya yang demam tinggi, sungguh tak tega. Memegang tangan adiknya yang tak terpasang infus, mengelusnya pelan dan menyalurkan semangat untuk adiknya.
Maya yang baru saja datang, melihat keadaan Nala sekaligus suaminya sebelum jaga malam.
“Bagaimana keadaan Nala sekarang?”
“Masih sama. Panasnya belum juga turun.” lirih Dipta
Maya ikut prihatin dan khawatir. Mengelus punggung yang biasanya tegap itu perlahan. Menguatkan sebisanya, itulah yang saat ini dibutuhkan Dipta. Kemudian mengecek suhu tubuh Nala. Terasa masih panas. Mengganti plester kompres demam milik Nala.
“Mas, mas tenang aja. Nala pasti segera sembuh. Mana mungkin dia tega membuat kakak kesayangannya ini terus-terusan khawatir dengannya.”
“May, apa yang harus aku lakukan. Jika ada ayah, ayah pasti langsung marah-marah padaku karena tak bisa menjaga Nala dengan baik.”
“Susttt! Nggak boleh ngomong gitu. Kamu udah jaga Nala dengan sangat baik. Nala sekarang hanya mendapat ujian dari Allah. Kamu tenang, oke?”
Dipta hanya diam tak merespon. Menatap sang adik yang masih tertidur. Maya menghela nafas, melihat suaminya masih larut dalam rasa sedih dan khawatirnya.
“Mas, aku jaga malam dulu ya. Kalau aku senggang, aku kembali kesini buat ngecek kondisi Nala.”
“Hm, pergilah. Jangan lupa mengucapkan basmalah sebelum memulai kegiatan.”
“Iya, mas. Tenang saja. Aku pergi dulu, ya!” Maya berpamitan dan mencium tangan suaminya sebagai tanda bakti. Kemudian keluar dari ruang rawat Nala, kembali ke ruang kerjanya.
Dipta melihat ke arah istrinya yang baru saja keluar dari ruangan. Setelah itu, pandangannya kembali ke arah Nala. Mengelus kepala adiknya dengan sayang. “Cepat sembuh ya adik kesayangannya abang dan tante kesayangannya Bayu serta sahabat terbaik kakak ipar.” ujarnya
...****************...
Bunga tidur Nala
Sebuah taman bunga yang indah. Melihat ayunan di dekat pohon besar, Nala merasa kegirangan. Berlarian di taman, bermain dengan kupu-kupu yang beterbangan. Taman ini adalah taman dambaan Nala. Begitu tenang, suasana damai yang selalu ia impikan.
“Nala!”
Mendengar seseorang memanggilnya. Nala menolehkan kepalanya, mencari asal sumber suara.
Tak jauh dari tempatnya, terlihat tiga sosok yang terasa familiar untuknya. Samar-samar Nala melihat wajah sosok itu.
“Nala!” panggilnya lagi
Suara itu mengingatkannya pada seseorang.
Wajah itu. Wajah yang ia rindukan. Kakek dan neneknya yang telah berpulang. Bahkan ada ayahnya.
“Kakek, nenek, ayah,” lirih Nala
Tanpa sadar air mata Nala menetes. Tubuh tegap ayah dan kakeknya yang seolah menjadi pelindung yang sangat kokoh. Wajah ayu neneknya yang tak termakan oleh usia, bahkan neneknya masih berdiri dengan anggun. Pakaian putih ketiganya tampak bersih.
Nala berlari mendekat ke arah ketiganya. Memeluk sang ayah erat. Merasakan kembali elusan penuh sayang dari kakek dan neneknya serta pelukan ayahnya sungguh ia sangat rindu. Hatinya yang awalnya kosong kembali penuh.
“Ayah, Nala rindu ayah!” lirih Nala
“Ayah juga rindu Nala. Putri bungsu ayah sudah besar sekarang. Bahkan sudah menjadi seorang psikiater ternama. Bahkan sudah mampu membuat kafe yang terkenal!” puji Arutala
Nala menatap ayahnya. Arutala Mahardika Setiabudi. Nama belakang miliknya dan kakak adalah nama milik sang ayah. Sesuai tradisi dalam keluarga, nama belakang putra atau putri mereka berasal dari nama depan ayah mereka. Wajah tampan ayahnya tak pernah luntur. Sosok heronya yang begitu gagah.
“Nala tak rindu kakek dan nenek kah?”
Nala beralih ke wajah neneknya yang sangat cantik. Nyimas Ayu Puji Mentari.
“Tentu saja rindu. Nala rindu dengan kakek dan nenek juga!”
Nala begitu senang. Meskipun ini hanyalah mimpi, Nala sudah sangat bersyukur.
“Ayo duduk di bawah pohon sana. Ayah ingin mendengar cerita Nala. Lalu ayah juga ingin tau soal Dipta, istrinya dan cucu ayah.” Ujarnya sambil menuntun Nala agar mengikuti dirinya.
“Ah, cicitku pasti sudah besar kan?”
“Dia juga pasti sangat tampan. Dipta, cucu kita pasti menurunkan ketampanannya itu.”
“Bayu, dia memang tampan. Dia juga sangat lincah kek. Nala sangat lelah jika mengejarnya,”
Duduk di rerumputan. Semilir angin menerpa wajah Nala.
“Lalu, bagaimana dengan Nala sendiri?”
“Nala? Ehm, Nala bahagia. Menjadi seorang psikiater yang Nala impikan. Berhasil membangun kafe sesuai impian kami berempat.”
Nala menceritakan segalanya. Mulai dari diterimanya dirinya di UCL dan memasuki kuliah di Inggris. Temannya selama berkuliah hingga pengalamannya bekerja di The London Clinic, salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Inggris. Semuanya ia ceritakan, termasuk waktu dirinya berlibur ke berbagai negara. Menikmati keindahan alam yang ia temukan. Bercerita perjalanan cinta kakaknya hingga mereka menikah. Pengalamannya yang harus memenuhi ngidam sang kakak yang membuatnya harus pulang karena kakaknya itu ingin fish and chips dari inggris. Sungguh ngidam yang merepotkan bukan?
“Wah, cucu nenek sudah berkeliling dunia ya?”
“Tentu, nek. Saat ada waktu semasa kuliah, aku jalan-jalan di Eropa. Menikmati waktu, nek!”
Semuanya tersenyum. Mereka ikut senang mendengar cerita Nala.
“Nak, ayah minta maaf ya!”
Nala mengerutkan keningnya saat mendengar permintaan maaf dari ayahnya. Merasa tak ada masalah bersama ayahnya, Nala bingung ayahnya meminta maaf soal apa?.
“Nak, kami, kakek, nenek dan ayahmu ini ingin meminta maaf tak bisa menemanimu tumbuh. Ayah tak bisa menjadi walimu saat kau menikah nantinya. Ayah, tak bisa menjadi ayah yang bisa kau banggakan. Ayah—“
“Ayah, ayah itu ayah yang baik buat Nala dan Bang Dipta. Lihat, Bang Dipta mampu menjadi polisi yang baik karena ada sosok ayah dan kakek sebagai contohnya. Nala mampu berdiri tegak karena kalian mampu menanamkan kepercayaan diri pada Nala. Nala mampu tumbuh cantik seperti ini karena peran kalian.” potong Nala. Nala tak tahan dengan ucapan dari ayahnya. Baginya, ayahnya itu adalah yang terbaik versi dirinya dan kakaknya. Tak ada yang mampu menggantikannya. Air matanya kembali menetes, tak lagi mampu menahan menampung.
Puji, memeluk cucunya. Mereka sangat bangga melihat Nala tumbuh menjadi perempuan yang tangguh dan baik hati dan pengertian.
“Oh iya, nanti kamu mampir ke rumah kakek dan nenek ya. Cucu kakek ini sudah lama tak berkunjung!” canda kakek
Nala mengelap air matanya. Ia tersenyum dan mengangguk mengerti. Memang dirinya sudah lama tak berkunjung ke rumah ayahnya, kakek dan neneknya.
“Ingat, jangan lupa mampir. Oh iya, Nala buka laci di kamar nenek ya. Ada hadiah buat Nala.”
“Hadiah?” Nala menatap ke arah neneknya meminta penjelasan.
“Yap, hadiah.”
Tak lama tubuh ketiganya memudar. Seolah terbias oleh cahaya.
“Sudah waktunya, ya.” lirih Arutala.
“Nak, selalu bahagia ya. Jangan sakit lagi seperti sekarang.”
“Ayah, Nala ingin ikut ayah!” Nala merengek mencoba meraih kembali tangan ayahnya yang mulai pudar.
“Nala belum bisa ikut ayah. Belum waktunya, nak!”
“Nenek, Nala ikut ya,” Nala kembali merengek ke arah neneknya. Namun, jawabannya tetap sama. Hanya gelengan kepala yang ia dapat.
“Kakek!”
“Tidak, cu. Belum saatnya.”
Nala kembali menangis. Dirinya tak ingin kembali terpisah dengan mereka. Semakin lama, tubuh mereka semakin menghilang.
“Nak, hidup bahagia selalu. Titip salam untuk Dipta, ya.”
“Oh iya, jangan lupa juga janjimu ya nak. Bawa juga laki-laki yang dulu ingin kau kenalkan pada kami!”
Nala tersentak. “Laki-laki?”
“Nek, apa maksud—“
Aaaaaaa!
Nala berteriak. Sebelum mengutarakan pertanyaannya, Nala merasakan tubuhnya seakan ditarik. Tubuhnya seakan ditarik oleh angin, entah dibawa kemana.