NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Dibuang Seperti Sampah.

Proyek itu sudah tiga minggu.

Gedung ruko tiga lantai di pinggir jalan raya, bos proyeknya orang kota yang jarang turun langsung, dan mandornya Pak Ridwan, laki-laki lima puluhan dengan kumis tebal dan suara yang selalu satu tingkat lebih keras dari perlu. Aku sudah kenal tipe seperti ini. Sudah terlalu sering berurusan dengan mandor yang merasa jabatannya memberinya hak untuk berbicara ke kuli seperti berbicara ke benda.

Tapi selama masih ada upah, aku kerja.

Pagi itu seperti biasa. Aku datang jam tujuh kurang, ambil alat, mulai angkat material dari truk yang baru datang. Besi, semen, pasir. Punggungku sudah hafal beban masing-masing, sudah hafal cara angkat yang paling efisien supaya tenaga tidak habis sebelum siang.

Pak Irwansyah datang sekitar jam delapan.

Kuli baru. Baru dua minggu di proyek ini. Orangnya pendiam, tidak banyak ngobrol, tapi matanya selalu bergerak. Aku tidak terlalu memerhatikannya karena bukan urusanku. Di proyek besar seperti ini orang datang dan pergi setiap minggu.

Yang aku tidak tahu adalah dia dan Pak Ridwan punya sesuatu yang sudah direncanakan jauh sebelum hari itu.

Jam sepuluh pagi, Pak Ridwan memanggil semua kuli berkumpul.

Suaranya dari jauh sudah terdengar marah, tapi aku pikir itu soal jadwal atau kualitas campuran semen atau hal-hal teknis yang sering jadi bahan marah-marah di proyek. Aku taruh sekop, lap tangan ke celana, ikut berkumpul.

Pak Ridwan berdiri dengan wajah yang aku tidak suka dari detik pertama. Bukan marah biasa. Tapi marah yang sudah menyiapkan targetnya sebelum mulut dibuka.

"Mana Satria?"

Aku angkat tangan. "Saya, Pak."

Dia menatapku dengan tatapan yang langsung membuatku tahu ini bukan soal jadwal atau semen.

"Kamu kemarin ambil besi tulangan dari gudang. Lima batang. Mana?"

Aku tidak langsung menjawab karena kalimat itu tidak masuk akal.

"Pak, saya tidak..."

"Pak Irwansyah lihat kamu." Pak Ridwan memotong keras. "Malam kemarin, jam delapan. Kamu masuk gudang sendirian. Ambil besi. Ditaruh di mana?"

Semua orang memandangku.

Dua puluh pasang mata. Beberapa yang kenal aku, yang sudah seminggu lebih kerja bareng, dan aku bisa lihat di muka mereka masing-masing mereka sedang menunggu. Menunggu aku membela diri atau mengaku atau melakukan sesuatu yang akan menentukan ke mana arah menit-menit berikutnya.

"Saya tidak ambil apa-apa, Pak. Kemarin malam saya sudah pulang sebelum Maghrib. Bisa tanya ke—"

"Pak Irwansyah saksinya. Kamu mau bilang dia bohong?"

Aku menatap Pak Irwansyah.

Dia berdiri di sebelah kiri Pak Ridwan dengan ekspresi yang terlalu datar untuk orang yang baru saja menuduh seseorang mencuri. Terlalu datar dan terlalu tenang. Ekspresi orang yang sudah tahu ending cerita ini dari tadi.

Di dadaku ada sesuatu yang mulai panas. Bukan panik. Tapi semacam kepastian yang sangat tidak menyenangkan bahwa apapun yang aku katakan sekarang tidak akan mengubah apa yang sudah diputuskan sebelum aku dipanggil ke sini.

"Pak Ridwan, saya minta buktinya dulu. Kalau ada rekaman, ada saksi lain, ada—"

"Kamu ngajarin saya sekarang?"

Suaranya naik satu oktaf. Dan dari sana semuanya bergerak terlalu cepat.

Aku tidak ingat siapa yang mulai. Mungkin Pak Irwansyah. Mungkin salah satu kuli yang lain yang entah kenapa memilih ikut arus tanpa tahu apa-apa. Yang aku ingat adalah tangan pertama yang mendorong bahuku dari belakang, keras, sampai aku hampir tersungkur ke depan, dan waktu aku berbalik ada tinju yang sudah di jalan.

Mengenai pelipisku.

Aku jatuh ke aspal.

Aspal proyek yang kasar dan panas di siang hari itu menyambut wajahku dengan tidak ramah. Kurasakan kulitku terseret sedikit, terasa panas langsung, dan sebelum aku sempat bangkit ada yang menendang rusukku dari samping.

Satu kali.

Dua kali.

Aku gulung badan, instingtif, melindungi kepala dengan tangan, tapi tendangan terus datang dari berbagai arah dan aku tidak tahu berapa orang, tidak sempat hitung, cuma bisa merasakan sakit berpindah-pindah tempat, di rusuk, di punggung, di betis, di bahu.

Ada yang teriak sesuatu. Nama-nama. Kata-kata yang tidak perlu aku tuliskan karena sudah jelas maksudnya, kata-kata yang dirancang bukan untuk menyakiti badan tapi untuk menyakiti sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang kalau sudah kena susah sembuhnya.

Aku menggigit gigi.

Jangan teriak. Jangan minta ampun ke orang-orang ini. Jangan.

Tendangan ke punggungku yang berikutnya membuat nafasku habis sebentar, dan aku membuka mulut mencari udara seperti ikan yang diangkat dari air.

Dan kemudian berhenti.

Bukan berhenti pelan-pelan. Tapi berhenti tiba-tiba. Seperti ada tembok yang tiba-tiba muncul di depan semua orang itu.

Aku mendengar suara langkah kaki berat. Satu orang. Berdiri.

"Cukup."

Satu kata. Tapi cara kata itu keluar, berat dan dingin dan tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali, membuat semua suara di sekitar mendadak menipis.

Aku mengangkat kepala dengan susah payah.

Pak Wawan.

Kuli tua, mungkin lima puluh tahun lebih, badannya masih besar meskipun sudah tidak semuda dulu, dengan bekas luka di alis kanan yang aku tidak pernah tahu ceritanya. Dia berdiri tepat di depanku, membelakangi aku, menghadap orang-orang yang baru saja mengeroyokku, dengan posisi yang sangat jelas maknanya: kalian mau lanjut, lewati aku dulu.

Tidak ada yang maju.

Pak Ridwan masih berdiri di sana dengan muka merah tapi tidak bergerak.

Pak Irwansyah menatap ke bawah.

Pak Wawan tidak bicara lagi. Hanya berdiri di sana beberapa saat, cukup lama untuk memastikan tidak ada yang berubah pikiran, lalu dia berbalik dan jongkok di depanku.

"Bisa berdiri?"

Aku mencoba. Berhasil, meskipun lutut kananku protes keras dan pandanganku berputar sebentar waktu kepala terangkat.

"Ayo."

Dia memapahku keluar dari kerumunan.

Pak Ridwan memanggil dari belakang, "Satria. Kamu dipecat. Gak usah balik."

Aku tidak menoleh.

Di warung es teh dua ratus meter dari proyek, aku duduk di bangku plastik biru dengan es teh yang Pak Wawan pesan tanpa tanya aku mau apa. Mukaku sudah aku lap pakai handuk kecil yang dikasih ibu warung, tapi masih panas di pipi kiri dan di pelipis, dan kalau aku hirup napas terlalu dalam ada yang sakit di sisi kananku, mungkin memar, mungkin lebih dari itu, aku tidak tahu.

Pak Wawan duduk di depanku. Memesan kopi, minum pelan, menatap jalan di luar.

Lama tidak bicara.

Aku tidak bertanya kenapa dia membela aku. Masih tidak bisa sepenuhnya memproses apa yang baru saja terjadi dan kenapa seorang laki-laki yang baru aku kenal beberapa minggu mau berdiri di depan massa seperti itu.

"Namamu Abdul Rahman?" dia tanya tiba-tiba.

Aku kaget. "Bukan, Pak. Satria. Satria Abdul Rahman."

Dia mengangguk pelan. Matanya masih ke jalan. "Abdul Rahman nama Bapakmu."

Bukan pertanyaan.

Aku terdiam.

"Kamu mirip banget sama dia waktu muda." Pak Wawan minum kopinya. "Muka, cara bawa badan, cara diem waktu lagi marah juga sama."

"Bapak... kenal Bapak saya?"

Dia akhirnya menatapku.

"Dua puluh tahun lalu," dia bilang pelan, "gue baru masuk kerja di proyek yang sama dengan Bapakmu. Masih muda, masih bodoh, dan gue ketiban masalah yang mirip sama kamu hari ini. Dituduh, dipukuli, mau dibuang." Dia berhenti sebentar. "Bapakmu yang berdiri di depan gue waktu itu. Badannya jadi tameng gue. Dia kena tonjok dua kali dan dia tidak mundur."

Tenggorokanku terasa penuh.

"Jadi ini cuma gue bayar utang, Nak." Suaranya tidak berubah, tetap datar, tetap tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang berat. "Bedanya Bapakmu dulu melakukan itu untuk orang yang memang salah. Gue melakukannya untuk orang yang difitnah."

Aku tidak bisa bicara.

Ada terlalu banyak hal di dadaku sekarang. Ada rasa sakit di rusuk dan pelipis. Ada amarah yang masih belum tahu ke mana harus pergi. Ada nama Bapak yang tiba-tiba muncul di tengah hari yang sudah cukup berat ini, muncul dari mulut orang yang bahkan belum aku kenal sebulan, muncul dengan cara yang membuat Bapak tiba-tiba terasa sangat dekat dan sangat jauh di saat yang bersamaan.

Pak Wawan merogoh saku. Mengeluarkan lipatan uang.

"Ini." Dia taruh di meja. Seratus ribu. "Buat hari ini."

"Pak, saya tidak—"

"Ambil." Tegas tapi tidak kasar. "Ini bukan sedekah. Ini hak kamu yang harusnya dapat dari proyek itu. Anggap saja ini titipan dari Bapakmu yang belum sempat dibayarkan."

Aku menatap uang itu.

Lama.

Lalu aku ambil. Bukan karena tidak punya pilihan. Tapi karena menolaknya rasanya seperti menolak sesuatu yang sudah dari dua puluh tahun lalu sedang dalam perjalanan ke tanganku.

Pak Wawan mengantar aku sampai depan gang kampung dengan motornya yang tua. Tidak banyak bicara di perjalanan. Aku tidak juga. Cukup duduk di belakang, memegang pegangan dengan satu tangan karena bahu kiriku masih sakit, dan menatap jalan yang berlalu.

Di depan gang dia berhenti.

"Jadi laki-laki yang baik," dia bilang tanpa memandangku, matanya ke depan. "Bapakmu pesan itu ke gue dua puluh tahun lalu. Gue rasa dia bilang hal yang sama ke kamu juga."

Motor itu pergi sebelum aku sempat menjawab.

Aku berdiri sendirian di mulut gang dengan seratus ribu di saku dan muka lebam dan kata-kata yang sama untuk kedua kalinya dalam hidupku jatuh ke telingaku dari orang yang berbeda.

Jadi laki-laki yang baik.

Aku masuk gang.

Ibu ada di teras waktu aku sampai. Beliau lihat mukaku dari jarak lima meter dan berdiri dari kursi rotannya langsung, langkah cepatnya ke arahku lebih cepat dari yang biasa aku lihat beliau bergerak belakangan ini.

"Ya Allah, Tri..."

Tangannya menyentuh pipiku yang lebam dengan sangat hati-hati, seperti takut kalau ditekan sedikit saja akan lebih sakit. Matanya memeriksa dari dekat, dari pelipis ke pipi ke bibir yang agak robek di sudutnya.

Aku tidak bilang apa-apa.

Tidak perlu. Wajahku sudah bercerita sendiri.

Ibu menuntunku masuk, mendudukkan aku di kursi dapur, pergi ambil kain basah yang dingin dan ditempelkan ke pipiku tanpa suara. Tangannya di pipiku, menahan kain itu, dan aku bisa merasakan jari-jarinya sedikit gemetar.

Beliau tidak menangis di depanku.

Tapi bibirnya bergerak pelan, sangat pelan, dan aku tidak bisa dengar kata-katanya. Bukan bicara ke aku. Bicara ke tempat yang lebih tinggi dari langit-langit dapur yang rendah itu, dari tempat yang tidak bisa aku lihat tapi beliau percaya selalu mendengar.

Ya Allah. Ujian apalagi yang akan dihadapi anak hamba. Hamba tidak tega melihatnya. Berilah dia kesabaran yang luas.

Aku tidak dengar kata-katanya. Tapi aku tahu isi doanya. Karena itulah yang selalu dilakukan Ibu setiap kali ada yang tidak bisa beliau perbaiki dengan tangannya sendiri.

Beliau serahkan ke Yang Lebih Bisa.

Malam itu aku bentangkan sajadah Bapak lagi di lantai kamar.

Kali ini tidak harus berpikir panjang. Tidak harus dipaksa. Kakiku sendiri yang membawaku ke sana, tanganku sendiri yang menggelarnya, dan waktu aku berdiri di atasnya ada sesuatu yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Tenang.

Bukan tenang karena masalahnya sudah selesai. Bukan tenang karena sakitnya sudah hilang atau pemecatannya tidak nyata atau seratus ribu di meja itu cukup untuk minggu depan.

Tapi tenang dari dalam. Tenang yang datang bukan dari kondisi di luar tapi dari sesuatu yang mulai bergerak di dalam, seperti air yang tadinya keruh dan pelan-pelan mengendap, belum jernih, tapi sudah bisa sedikit dilihat dasarnya.

Sujud terasa berbeda dari kemarin.

Lebih lama aku di sana. Lebih sunyi. Lebih seperti benar-benar berbicara bukan sekadar melakukan gerakan.

Benar kata Ibu.

Sajadah itu tempat berteduh.

Dan itulah yang Bapak lakukan setiap kali ada masalah.

Bukan lari ke tempat lain. Bukan mencari pelarian yang meninggalkan rasa malu pagi harinya. Bukan.

Ke sini. Ke tempat ini. Ke keheningan yang tidak pernah menghakimi dan tidak pernah menolak siapapun yang datang dengan tangan kosong dan hati yang remuk.

Aku selesai shalat.

Duduk sebentar di atas sajadah Bapak dalam gelap.

Besok masih harus cari kerja lagi. Masih ada kebutuhan Ibu. Masih ada Agung yang perlu uang jajan. Masih ada semua hal yang tidak ikut berhenti meskipun hidupku hari ini terasa seperti baru saja dilempar ke aspal dan ditendangi.

Tapi malam ini cukup dulu ini.

Malam ini cukup dengan ini.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!