Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21 Aku Mencintaimu!
...Bab. 21...
...AKU MENCINTAIMU...
Dengan nafas terengah-engah, Keith akhirnya sampai di toko bunga Edelweis. Namun ia merasa heran toko sedang tutup. Ia memeriksa jam tangannya, baru pukul 1 lewat.
'Ke mana Edeline', pikirnya. Ia celingak-celinguk menatap kesana-kemari. Tak sengaja ia melihat Ronan yang baru keluar dari toko bakery di depan. Keith langsung menghampirinya.
"Kakak Keith ... Kamu ke mana saja?" tanya Ronan. Keith berhenti di depannya sambil mengatur nafas.
"Kenapa toko bunga tutup? Apa Edeline pergi lagi?" tanya Keith.
"Kakak Edeline ... Dia baru saja dibawa ke rumah sakit," jawab Ronan pelan.
"Apa? Kenapa? Edeline kenapa?" tanya Keith dengan cemas.
"Kakak tiba-tiba pingsan," jawab Ronan sambil menceritakan kejadiannya.
Setelah mendapat info dari Ronan, Keith langsung menyusul ke rumah sakit bersama Ronan yang juga ingin ke sana.
Di rumah sakit sudah ada Celine dan mamanya. Celine berada di ruang tunggu sambil menelepon sedangkan mamanya ada di ruangan dokter. Tak lama kemudian Edeline yang masih belum sadarkan diri dipindahkan ke ruang pasien oleh dokter dan perawat. Celine dan mamanya mengikuti. Mama Edeline agak lega mendengar hasil pemeriksaan dari dokter.
Keith dan Ronan akhirnya tiba. Keith yang sangat cemas langsung bertanya pada Celine yang kebetulan berada di depan kamar adiknya.
"Kakak, bagaimana kondisi Edeline sekarang? Apa yang terjadi padanya?" tanya Keith dengan cemas.
Mama Edeline keluar dari kamar pasien begitu mendengar suara ribut di depan.
"Tidak apa-apa, Keith. Kata dokter Edeline hanya kecapekan dan kurang tidur. Setelah banyak istirahat dia akan kembali pulih," jelas mama Edeline.
"Bolehkah aku melihatnya di dalam, Nyonya Willen?" tanya Keith setengah memohon.
"Iya, masuklah!" jawab mama Edeline.
Keith masuk ke dalam kamar pasien tempat Edeline berada. Edeline nampak tidur dengan nyenyak sekali. Perasaan Keith sedikit lebih tenang. Ia duduk di samping ranjang pasien di mana Edeline terbaring. Menatapnya dengan diam namun penuh arti. Ronan, mama Edeline, dan Celine masuk ke dalam untuk melihat kondisi Edeline sebentar.
"Dia pasti sedang tidur nyenyak. Sebaiknya kita keluar. Biarkan dia istirahat dulu," ajak mama Edeline pada semuanya untuk keluar dari kamar pasien.
"Nyonya Willen, bolehkan aku tetap di sini menunggu Edeline?" tanya Keith meminta ijin.
"Tentu boleh," jawab mama Edeline.
"Tapi kamu juga jangan lupa istirahat, ya! Ah, Keith ... kebetulan kalau kamu di sini, aku dan Celine akan pulang sebentar mengambil barang-barang Edeline. Nanti sore aku kembali lagi. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Ini ponsel Edeline. Sementara kamu bisa menggunakannya," pesan mama Edeline sembari memberikan ponsel. Ia tahu pria itu tidak menggunakan ponsel.
"Baik. Terima kasih, Nyonya Willen," sahut Keith.
Ronan juga pamit pulang. Tinggal Keith sendiri di kamar pasien menjaga Edeline yang sedang tidur.
Mama Edeline sudah datang kembali membawa pakaian ganti untuk Edeline. Celine baru akan datang malam harinya. Keith masih duduk di samping tempat tidur Edeline. Ia baru keluar saat perawat datang memeriksa dan mengganti pakaian Edeline. Perawat itu pergi setelah selesai. Mama Edeline juga keluar dari kamar untuk duduk bersama Keith di luar.
"Dia masih belum bangun sejak tadi. Apa dia baik-baik saja?" tanya Keith lagi. Ia masih cemas.
"Tidak apa-apa, Keith. Kata dokter, Edeline hanya sedang tidur. Entah apa yang dia pikirkan sampai bisa seperti ini," kata mama Edeline beranggapan.
"Aku juga tidak tahu apa yang menjadi beban pikirannya. Memang toko agak ramai belakangan ini. Tapi ku rasa itu bukan penyebabnya. Kemarin siang dia pergi meninggalkan toko tanpa mengatakan ke mana ia pergi," ungkap Keith.
"Iya. Dia pulang larut malam. Celine bilang dia ke rumahnya sore itu sampai malam. Aku tidak khawatir jika benar demikian," jelas mama Edeline.
"Aku berharap semoga Edeline baik-baik saja dan segera bangun dari tidurnya. Agar aku yakin dia benar-benar tidak apa-apa," harap Keith dengan sangat.
"Dia pasti akan baik-baik saja, Keith. Jangan terlalu cemas. Sebaiknya kamu juga pulang istirahat. Biar aku di sini yang menjaganya. Celine juga akan datang nanti malam," usul mama Edeline.
"Tidak bisa, aku masih belum tenang. Nyonya Willen tidak keberatan kan, aku tetap di sini?" tanya Keith.
"Tidak. Aku hanya tidak ingin kamu sampai lupa dengan kesehatanmu. Sepertinya kamu sangat khawatir pada Edeline?" jawab mama Edeline sambil tersenyum.
"Aku hanya ...." Keith nampak bingung bagaimana menjelaskannya.
"Tidak apa-apa. Aku memahami kekhawatiranmu. Aku tidak akan menyusahkanmu. Aku percaya kamu pria yang baik," timpal mama Edeline dengan pengertian.
"Terima kasih, Nyonya Willen! Aku pasti akan menjaga kepercayaan Anda!" janji Keith.
...🌻🌻🌻...
Aku sedang bermimpi panjang. Saat aku merasakan kehangatan menjalar dari tanganku. Seseorang menggenggam tanganku. Siapa yang menggenggam tanganku? Aku mulai tersadar. Perlahan aku membuka mata. Sekeliling ruangan yang terlihat asing. Aku ada di mana? Dan ... siapa yang tidur di sampingku ini? Dia menggenggam tanganku. Aku perhatikan wajah yang tertidur pulas itu. Dia ... Keith. Kenapa Keith ada di sini? Dan kenapa aku bisa berada di sini? Terlihat selang infus yang menempel di tanganku.
Aku menggerakkan tanganku, Keith spontan terbangun oleh gerakanku. Ia mengangkat kepalanya. Menatapku dengan penuh rasa syukur.
"Edeline ... Kamu sudah sadar?" katanya pelan.
"Aku di mana? Aku tidak ingat," tanyaku. Pandanganku masih agak kabur dengan ruangan yang bercahaya agak redup.
"Kamu ada di rumah sakit. Kamu pingsan karena kelelahan. Kamu membuatku takut, Edeline," jawab Keith. Ia menggenggam tanganku lebih erat.
Aku tertawa kecil.
"Pingsan karena kelelahan? Jadi, aku sudah tidur berapa lama? Jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Kamu sudah tidur lebih dari 12 jam. Sekarang baru pukul 4 lewat, subuh," jawab Keith dengan mata mengerjap-ngerjap. Wajahnya lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Ooo," gumamku. "Apa hanya kamu sendiri di sini?" tanyaku sambil menatap ke sekeliling yang sepi.
"Mama dan kakakmu pulang hampir tengah malam tadi. Aku memaksa mereka pulang ke rumah saja. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk mereka tidur. Lagi pula ada aku di sini yang menjagamu," jawab Keith sembari mengusap kepalaku.
"Jadi, kamu mencemaskanku?" Aku masih menggodanya.
Keith tak menjawab. Sekarang aku melihat dengan jelas matanya berkaca-kaca. Aku mengusap pipinya. Dia lalu meraih tanganku.
"Kenapa matamu memerah?" tanyaku berbisik. Aku agak kaget. Dia tidak pernah terlihat begitu sedih.
"Aku sangat cemas padamu. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku sudah kehilangan seseorang yang belum sempat ku panggil ibu. Aku tak ingin lagi kehilangan seseorang yang belum sempat aku sampaikan perasaanku padanya. Edeline ...."
Aku menghentikan ucapannya dengan jariku. Aku menatapnya cukup lama.
"Aku mencintaimu!" bisikku dengan pelan.
Keith kembali menggenggam tanganku, mengecupnya dengan lembut. Dia tersenyum sambil mengangguk.
"Aku mencintaimu! Sejak dulu, sebelum kamu menyadarinya, sebelum kamu menjadi bosku sekarang. Aku sudah mencintaimu!" ucap Keith meski nampak bercanda sebenarnya dia bersungguh-sungguh.
Aku tertawa kecil. "Kamu selalu berlebihan. Kalau begitu akan aku rampas hatimu!" candaku.
"Kamu memang sudah merampasnya. Edeline, mulai sekarang aku akan selalu menjagamu. Kamu tidak boleh kelelahan dan kurang tidur lagi. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, kamu harus mengatakannya padaku, oke!?" pinta Keith sambil mengelus rambutku.
"Akan aku usahakan. Jika beban pikiran itu bukan mengenai dirimu tentunya," jawabku.
"Kenapa begitu?" tanya Keith tak mengerti.
"Masa aku harus curhat tentang kamu dengan kamu sih, Keith?!" jawabku.
Keith menyipitkan mata.
"Aku tidak paham. Pokoknya kamu tidak boleh banyak berpikir. Demi Tuhan, kamu membuatku sangat khawatir, Edeline!" sahut Keith dengan kedua tangannya yang menggengam tanganku dengan erat.
"Aku sudah tidak apa-apa," bisikku menenangkannya.
"Iya. Istirahatlah kembali! Aku akan tetap berada di sini menjagamu," balas Keith. Dia mengecup keningku tanpa sekalipun melepaskan tanganku. Dia menemaniku hingga aku terlelap kembali.
^^^bersambung...^^^
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
basa basi