Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seolah ditelan bumi
Sore itu.
Untuk pertama kalinya Maya dan Ratih bertemu kembali setelah puluhan tahun. Bukan di rumah sakit. Bukan di pemakaman. Bukan dalam kemarahan. Melainkan di sebuah taman kecil yang dulu sering dikunjungi Arya.
Tanpa sengaja keduanya bertemu. Dua perempuan yang selama ini berdiri di sisi berlawanan. Kini sama-sama terlihat hancur.
Maya menatap Ratih. Tidak ada ketakutan, atau terintimidasi saat ini. Seiring waktu berlalu, Maya bisa menyembuhkan dirinya. Dan kini matanya merah karena terlalu banyak menangis. Maya mendekati Ratih, kemudian..
"Sekarang Anda puas?"
Pertanyaan itu tidak mengandung kebencian. Dengan tersenyum sinis, Maya bertanya kepadanya. Meski matanya merah, namun Maya menutupnya dengan senyuman. Hal itu justru lebih menyakitkan. Karena mengandung kelelahan.
Perlahan Ratih menutup matanya. Dia tidak membela diri. Tidak menyangkal. Karena untuk pertama kalinya..., ia tidak memiliki alasan lagi.
"Dia pergi."
Suara Maya pecah. Dia sudah tdak memiliki kekuatan lagi. Kekuatan untuk mendebatkan hal yang tidak perlu.
"Anak saya pergi sebelum saya sempat memeluknya."
Ratih menunduk. Air mata kembali jatuh.
"Aku tahu rasanya Maya.., kita sama-sama kehilangan."
"Cucu saya pergi sebelum saya sempat memperbaiki semuanya."
Mereka duduk dalam diam. Dua perempuan yang pernah saling menyalahkan. Dua perempuan yang sama-sama kehilangan Arya. Dan kini..., mereka sama-sama kehilangan Joyce.
**********************
Jauh di Hanoi, Vietnam.
Joyce berdiri di balkon apartemen kecil yang disediakan organisasi tempatnya bekerja. Lampu kota asing terbentang di hadapannya. Tidak ada yang mengenalnya di sini. Tidak ada keluarga Mahendra. Tidak ada masa lalu. Tidak ada Ardian.
Namun anehnya..., dadanya tetap terasa kosong. Karena terkadang, sejauh apa pun seseorang pergi..., luka yang dibawanya tetap ikut terbang bersamanya.
********************
Satu minggu.
Lalu dua minggu.
Kemudian satu bulan.
Dan tidak ada satu pun kabar tentang Joyce. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardian Mahendra kehilangan kendali atas sesuatu. Bukan pasar. Bukan perusahaan. Bukan investasi. Melainkan satu orang perempuan. Perempuan yang pergi meninggalkan dua kalimat singkat.
Terima kasih.
Jangan mencariku.
Dan justru karena itulah Ardian tidak bisa berhenti mencarinya. Laki-laki itu seakan tidak punya rasa lelah, dia terus berusaha menemukan keberadaan Joyce.
Raka berdiri di depan meja kerja Ardian dengan tiga map tebal di tangannya. Sebagai orang terdekat Ardian, dia tahu apa yang dialami boss nya. Biasanya laporan investigasi selalu menghasilkan sesuatu. Untuk kesekian kalinya, Raka membantu Ardian membaca semua informasi tersebut.
Alamat. Nomor telepon. Kontak darurat. Jejak transaksi. Apa pun. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda.
"Tuan..." ucapnya hati-hati
Ardian bahkan tidak mengangkat kepala.
"Apa hasilnya?"
Raka terdiam sesaat. Dia belum menemukan apapun. Dia sendiri ragu. Namun kemudian menjawab pelan.
"Tidak ada."
Sunyi.
"Tidak mungkin."
Ardian akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya tajam.
"Aku membayar tim investigasi terbaik."
"Aku tahu."
"Aku punya jaringan di tiga negara."
"Aku tahu."
"Lalu bagaimana bisa tidak ada?"
Suara Ardian mulai meninggi. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Raka menggeser beberapa dokumen ke atas meja. Dia sendiri juga bingung, bagaimana tidak bisa menemukan sedikitpun informasi tentang Joyce.
"Kami menemukan jejak keberangkatan ke Hanoi."
"Sampai di sana?"
"Hilang."
"Hilang bagaimana?"
"Seolah dia memang ingin menghilang."
“Persetan.. terus mencari. Atau aku akan pindah ke Hanoi, dan menelusur setiap petak tanah disana.”
Raka kembali diam tidak berkomentar. Dia juga sangat mengenal boss nya, yang sering kali bertindak nekat.
******************
Dan memang benar. Joyce telah mempersiapkan semuanya jauh sebelum keberangkatannya. Nomor telepon baru. Alamat baru. Kontrak kerja melalui organisasi internasional yang memiliki kebijakan privasi sangat ketat.
Bahkan akun media sosialnya tidak pernah diperbarui lagi. Tidak ada foto. Tidak ada unggahan. Tidak ada tanda kehidupan. Tidak ada apa pun. Dia memang ingin menghilang, dan tidak ingin siapapun menemukannya. Kecuali dia sudah siap, maka dia akan kembali pulang ke Jakarta.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi CEO, Ardian merasakan frustrasi yang tidak bisa diselesaikan dengan uang. Tidak bisa diselesaikan dengan koneksi. Dan tidak bisa diselesaikan dengan kekuasaan. Karena Joyce tidak diculik. Tidak hilang. Tidak dalam bahaya. Perempuan itu memilih pergi. Dan memilih untuk tidak ditemukan. Dan hal itu menjadikannya seperti orang gila. Dia sendiri, bahkan Raka tidak mengira, ternyata begitu berartinya seorang Joyce bagi dirinya.
******************
Dua bulan kemudian. Keadaan menjadi semakin buruk. Bukan bagi Joyce. Tetapi bagi Ardian.
"Tuan, Anda harus pulang."
Ardian diam, tidak menanggapi
“Anda harus beristirahat Tuan.”
Raka berdiri di depan ruang kerja yang lampunya masih menyala pukul dua pagi. Dia tidak bosan menemani boss nya itu. Karena dia tahu, jika Ardian butuh teman. Dan seperti saat ini, Ardian masih bekerja. Atau setidaknya berpura-pura bekerja. Laptop terbuka. Dokumen terbuka. Namun pikirannya berada ribuan kilometer dari sana.
"Kapan terakhir Anda tidur lebih dari empat jam?"
Tanya Raka. Tidak ada jawaban.
"Tuan."
Masih diam.
"Kalau Ms Joyce tahu Anda seperti ini, dia pasti akan marah."
Kalimat itu akhirnya membuat Ardian menoleh. Dan untuk pertama kalinya Raka melihat sesuatu yang membuat dadanya ikut sesak. Tatapan Ardian kosong. Kesepian. Murni kesepian.
"Aku bahkan tidak tahu apakah dia baik-baik saja."
Suara Ardian terdengar rendah. Lelah. Sangat lelah.
"Aku tidak tahu dia makan atau tidak."
"Aku tidak tahu dia sakit atau tidak."
"Aku tidak tahu dia menangis atau tidak."
Tatapannya kosong.
"Aku tidak tahu apa pun."
Raka menunduk. Karena ia tahu. Masalah terbesar bukanlah Joyce pergi. Masalah terbesar adalah Ardian tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki apa pun. Tidak ada penutupan. Tidak ada perpisahan. Dan juga tidak ada kesempatan mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
“Tuan.. namun bagaimanapun anda harus tetap optimis.”
“Ms Joyce pasti akan kembali.”
“Ataupun dimanapun Ms Joyce berada, dia akan tetap bisa bertahan.”
Ardian diam. Tidak menjawab, dan hanya menatap kosong.
******************
Tiga bulan setelah kepergian Joyce. Raka mulai menggunakan koneksi yang bahkan tidak pernah dipakai untuk urusan pribadi. Mantan diplomat. Jaringan bisnis di Vietnam. Relasi organisasi internasional. Bahkan beberapa kolega lama yang bekerja di lembaga multinasional. Semua dihubungi. Semua diminta membantu. Namun hasilnya tetap sama.
Nihil.
**************
Suatu malam.
Raka akhirnya datang membawa jawaban yang paling jujur. Dengan hati-hati dia mendekati Ardian.
"Saya menyerah tuan."
Ardian yang sedang berdiri di depan jendela perlahan menoleh.
"Apa?"
"Kami tidak bisa menemukannya."
Sunyi.
"Bukan karena kami tidak mampu." Lanjut Raka.
"Tapi karena Nona Joyce tidak ingin ditemukan."
"Dan ada dukungan yang menguatkan, yang kita tidak tahu dukungan dari siapa." ucap Raka lelah
Kalimat itu terasa seperti pukulan terakhir. Karena jauh di dalam hati... Ardian tahu itu benar.
************
Malam itu, setelah semua orang pulang, Ardian membuka laci meja kerjanya. Di sana terdapat sebuah foto. Foto candid yang diambil Tania beberapa bulan lalu. Joyce sedang tertawa. Tanpa sadar. Tanpa melihat kamera. Tertawa seperti seseorang yang belum mengetahui bahwa hidupnya akan berubah. Tertawa seperti harapan akan cerahnya masa depan.
Ardian menyentuh ujung foto itu perlahan. Matanya tidak terlepas dari wajah ayu Joyce. Wajah yang selalu mengisi relung hati yang paling dalam. Lalu tersenyum pahit. Dia tersadar oleh kenyataan.
"Ternyata..." bisiknya pelan.
"...kehilangan seseorang yang masih hidup jauh lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan."
„Tapi... aku punya keyakinan Joyce.”
„Aku pasti aku akan menemukanmu.”
„Dan saat itu, aku tidak akan membuang waktu.”
„Aku akan langsung melamarmu.”
Dengan keyakinan yang terucap dalam hatinya, ternyata menjadikan Ardian menjadi lebih bersemangat. Meskipun dia merasa letih, letih, dan lagi-lagi merasa letih.