NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nonton Bioskop

Ketika kata sudah tak dapat menjelaskan, maka mata yang akan berbicara.

• • •

Setelah beberapa hari kemudian, akhirnya Lily pun sembuh total dari sakitnya. Sekarang ia sedang menonton bioskop bersama Zevan, kakaknya yang mendadak aneh. Bahkan Lily beberapa kali memutar otaknya untuk memahami maksud dari orang ini. Tidak biasanya ia akan mengajaknya jalan kesuatu tempat.

"Kak?" Panggilnya pelan. Zevan pun menoleh dengan wajah damainya.

"Minta minum. Punyaku abis" Ujarnya sembari menunjukkan minumannya yang telah kosong. Lalu tanpa pikir panjang Zevan pun memberikan minumannya pada Lily.

"Makasii kak Zevan!" Lalu dengan cepat Lily segera meminumnya hingga terdengar suara 'glek glek glek'.

"Berapa hari gak minum?" Bisik Zevan sembari menyenderkan kepalanya pada pundak Lily. Sontak hal itu mengejutkannya hingga ia terbatuk-batuk.

"Uhuk-uhuk!!"

"Eh pelan-pelan minumnya!" Zevan menepuk-nepuk punggungnya santai.

"Ih kak sakit! Jangan ditepuk dong!"

"Pelan-pelan minumnya!"

Lily hanya mendelik kesal. Dia tersedak karena dia yang mengejutkannya.

"Masih haus?" Tanya Zevan ketika menyadari minumannya juga sudah hampir habis.

"Hm..." Lily terdiam. Sebenarnya iya memang masih haus, memakan popcorn membuat tenggorokannya terasa kering.

"Ya sudah. Tunggu disini. Ingat! Jangan keluyuran!" Ucapnya sambil menyentil keningnya gemas. Lily pun melototkan matanya sebal. Enak saja menyentil kening orang.

Zevan pun beranjak dari duduknya dan melenggang pergi. Lily terus-menerus menatapnya. Kenapa rasanya aneh? Apa dirinya harus benar-benar pergi? Mengapa rasanya Lily pun terkadang nyaman bersama Zevan? Lalu ia pun mengedarkankan pandangannya melihat isi bioskop. Hingga matanya teralihkan kembali pada sosok yang berada di kursi bioskop sebrangnya. Seseorang yang Lily kenal. Itu adalah...

"Kak Austin?" Gumamnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia sedang bersama seorang perempuan. Bukankah dulu ia mengaku mencintainya? Ah tunggu dulu, insiden dirumah itu... Austin yang menyadari seseorang sedang menatapnya menoleh kearah sumber tersebut. Buru-buru Lily menundukan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dengan rambut panjangnya yang kebetulan saat itu sedang digerai.

"Austin? Liatin siapa?" Tanya perempuan yang berada disampingnya dengan raut wajah keheranan karena Austin benar-benar terpaku menatap dingin kearah belakang. Perempuan itu ikut menoleh kebelakang dan mengepalkan tangannya kesal. Austin masih terdiam tak langsung menjawab. Ia malah terus menatap Lily dengan sorot mata yang tajam. Lantas ia tiba-tiba bangun dari duduknya dan menghampiri Lily mengabaikan seorang gadis yang sedang bersamanya.

"Austin! Ih kok malah pergi sih?! Gadis sialan itu lagi!" Kesal perempuan itu lalu melahap popcornnya dengan tak berselera. Ia melihat Austin menghampiri gadis yang dibencinya dan membawanya keluar Bioskop.

Diluar bioskop, Lily bingung dengan sikap kasarnya Austin.

"Lepas!" Lily menghempas genggaman tangannya membuat Austin terdiam beberapa saat.

"Lily..."

"Gak papa. Lagian aku gak pernah nganggep kak Austin serius kok"

Deg ...

Mendengar kenyataan itu entah mengapa membuat Austin sakit hati. Bahkan seakan jantungnya ditusuk ribuan jarum saat itu juga yang membuatnya sesak untuk bernafas.

"Kalo kak Austin cuman manfaatin aku juga gak papa kok, aku udah maafin. Kalo aku di posisi kak Austin juga mungkin bakalan ngelakuin hal itu"

Austin masih terdiam. Rasanya ia tak mampu menatap wajah seseorang yang kini telah berhasil mencuri hatinya. Jika saja ayahnya itu tidak pernah berselingkuh, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Apa ayahnya tau kalo si kembar bejat itu adalah anaknya?

"Kenapa diem?" Entah kenapa hatinya terasa kesal saat melihat Austin malah diam saja. Kan dia yang bawa dirinya keluar bioskop sampe dia harus melewatkan beberapa menit filmnya.

"Lily..."

"Gak papa, gak usah dibahas lagi aja deh ya!" Lily pun hendak pergi. Namun tangannya ditahan. Ia pun menoleh kearah Austin yang terus menundukkan kepalanya. Lalu dengan kesal Lily pun mendongkrakan sedikit wajah Austin agat melihatnya.

"E-eh?!" Kaget Lily saat mendapati bahwa ternyata Austin sedang menangis. Antara kesal dan kasihan Lily melihatnya.

"Aduuh kak Austin kok nangis sih?! Ntar kalo ada orang liat terus nyangka aku udah bully kak Austin gimana?! Jangan nangis dong udaah!" Lily mengusap-usap pundaknya. Mendengar itu entah kenapa terdengar lucu bagi Austin.

"Dasar!" Sekali lagi Lily mendapatkan sentilan dikeningnya.

"Iissh kak!" Dengusnya sebal tapi terus mengusap-usap pundaknya.

"Kamu lucu" Ucap Austin membuat Lily terdiam.

"Emang. Tapi kak Austin gak boleh gitu! Kakak kan udah punya pacar. Kak Austin gak boleh muji-muji cewek lain, gak baik!"

"Cewek lain? Kamu masih punyaku Lily" Ujarnya dengan tenang.

"Eeeh aku ya punya diriku sendiri tau!" Sanggahnya sedikit tak suka.

"Oh ternyata disini"

"Ho!" Lily langsung menoleh kebelakang dengan wajah panik. Dibelakang sana terdapat Zevan yang berjalan pelan menghampirinya dengan tatapan penuh intimidasi.

"Eh kak Zevan hehe! Kenalin hehe ini kak Austin" Lily tersenyum lebar sembari mencolek-colek lengan Zevan gugup.

"Aaa dia nanyain kemarin siapa yang gak masuk sekolah itu iya kan, kak!" Lily mengedip-ngedipkan matanya mengkode bahwa Austin harus mengiyakan.

"Lo kan sekolah dirumah" Zevan menatapnya dingin.

"Oh iyaa itu! Isss kak Austin ini kenapa malah nanya sama aku sii hehe maaf ya kak aku gak tau, yuk kak lanjut nonton! Itu filemnya udah mau ending tau!" Lily menyeret Zevan ketempat duduknya kembali.

"Tapikan filemnya baru dimulai 15 menit yang lalu" Gumam Austin lalu tersenyum kecil melihat tingkah Lily yang kini berhasil mencuri perhatiannya dimana pun itu.

"Kok filemnya sad ending sih?!" Tak henti-hentinya Lily merutuki filem yang baru ditontonnya tadi. Hal itu sedikit membuatnya terganggu.

"Aku ubah aja deh alurnya!" Dengan senangnya ia pun mulai memejamkan matanya yang sembab karena banyak menangis tadi.

"Gak boleh!" Sanggah orang yang disampingnya. Tentu saja ia adalah Zevan yang sedang menyetir.

"Ih kak Zevan ganggu aja! Kan aku jadi lupa alurnya!" Kesalnya saat Zevan dengan sengaja mengerem dadakan lalu menggas kembali mobilnya.

"Jangan merusak alur cerita yang sudah ditentukan" Ucapnya yang membuat Lily termenung. Ia menjadi kepikiran sesuatu. Jangan mengubah alur? Apa itu adalah sebuah kejahatan?

"Kalo misalnya aku ngubah alur bakalan dipenjara gak?"

"Bukan dipenjara lagi, dihukum mati" Jawab Zevan ngasal. Lily terkejut dan menutup mulutnya resah.

"Hahaha itu juga kalo ceritanya karya orang lain. Kalo karya lo sendiri buatlah sesuka hati lo" Zevan tersenyum lembut padanya. Lily pun berfikir. Apa yang saat ini adalah ceritanya? Tapi iya kan bener? Ini kan sekarang hidupnya.

Hidupnya adalah karyanya sendiri. Dan tak ada satu pun orang yang melarangnya untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan selagi itu tidak merugikan orang lain, bukan?

"Oh iya kak! Kak Zevan tau gak aku keracunan apa sampe masuk rumah sakit?!"

Mendengar pertanyaan itu Zevan terdiam. Ia sebenarnya tidak ingin membahas kejadian itu.

"Kak! Denger gak?!"

"Udah sampe, turun!" Usirnya dengan ketus membuat Lily mengerjap kesal lagi.

"Punya kakak kok nyebelin nya minta ampun yak!" Sindirnya sembari keluar dari mobil. Ia menatap Zevan dengan tatapan tajam lalu pergi meninggalkannya.

"Gue cuma gak suka membahas hal buruk yang nyaris saja menghilangkan nyawa lo" Katanya lalu ikut masuk kedalam rumah menyusul Lily yang telah pergi lebih dulu.

•••••

"Zefran hentikan. Pukulanmu sudah bukan berarti apa-apa lagi untuknya"

Lerai seorang pria yang berdiri diambang pintu ruangan. Ia menghela nafasnya panjang saat melihat adegan itu lagi.

"Kenapa? Apa karena sudah mati? Hahaha itu tidak membedakan apapun! Aku akan berhenti jika sudah selesai. Atau kalau perlu aku cincang sekarang saja dagingnya ini?" Ia berpose berfikir ala-ala detektif dengan pisau dapur ditangannya.

"Sudahlah. Kalo mau dimasak masak saja. Tak usah kebanyakan gaya" Orang yang diambang pintu ruangan itu pun keluar.

"Berisik! Sudah lama aku tidak makan daging!" Senangnya lalu mulai memotong-motong daging sapi itu dan memasaknya.

Tak lama kemudian, pasakan Zefran pun sudah siap. Ia pun mulai menyantapnya bersama pria tadi, Rey.

"Gadis yang waktu itu, apa kau sudah membereskannya?" Tanya Zefran disela-sela mengunyah makanannya. Rey hanya mengangguk.

"Baiklah. Bagus!" Ucapnya sembari melahap kembali nasinya.

"Kau pandai memasak, tidakah berniat membuka lestoran?"

"Ah itu merepotkan! Aku memasak hanya untuk diriku sendiri. Makanlah"

Rey hanya mengangguk-angguk. Padahal bila saja Zefran membuka lestoran pasti akan cukup ramai dikunjungi banyak orang. Tapi apa boleh buat, keberadaannya saat ini membuatnya harus menahan diri.

"Kau belum melepaskan perempuan itu?" Tanya Rey kepo pada keadaan perempuan yang ia culik tempo hari_Yulia.

"Yaaah dia tidak berguna sama sekali. Dia hanya terus meminta maaf" Kesalnya lalu meneguk air minumnya. Rey yang mengerti pun hanya manggut-manggut saja. Jika Zefran berkata seperti itu hanya ada dua pilihan, melepaskannya atau telah membunuhnya. Tapi Rey berharap Zefran melepaskannya karena bagaimanapun juga perempuan itu tidak berhak mati begitu saja.

"Aaah~ Aku sebenarnya sangat kesal saat orang lain mencoba menyentuh mangsaku. Aku takan membiarkannya terjadi. Dia hanya boleh diburu olehku".

Rey terdiam. Apakah semua orang yang hendak menyentuh gadis kecil itu akan selalu mati? "Apa menurutmu Zevan pun begitu?" Tanya Rey yang membuat Zefran tersenyum licik.

"Tentu saja, tidak. Dia sudah berbeda karena terlalu sering bersama gadis itu. Aku mencoba sedikit membuat gadis itu menderita, agar dia membenci Zevan" Zefran pun beranjak dari tempat duduknya untuk membasuh tangan dan wajahnya diwestafel dapurnya.

"Apa kau tidak merasa hidupmu ini tidak adil? Kau lihat, disana Zevan tinggal dirumah yang besar, bersama ayahmu dan adikmu. Dan tentunya bebas"

"Dia bukan ayahku, dia hanyalah korban dari perselingkuhan ibuku yang brengsek itu" Jawabnya dengan begitu santai sembari mengunyah makanannya.

"Apa kau tau siapa ayah kandungmu?" Tanya Rey tak habis-habisnya.

"Aku tau" Jawabnya pelan lalu menunduk. Sekilas terdapat luka dimatanya, namun sedetik kemudian bibirnya pun terangkat untuk tersenyum lebar.

"Sebenarnya, apa yang sedang kau rencanakan?"

Zefran pun menoleh dan tersenyum lebar padanya.

"Membunuh 'nya' "

Nya? Nya siapa?! Gerutu Rey yang mencoba mencerna ucapannya. Bahkan ia terlihat seperti predator yang sedang haus darah.

BERSAMBUNG

1
Rubi Saruby.
aku paham sekarang . kak ada kata kata yang typo seperti "lestoran"
nanastar: wahh iyaaa terimakasii koreksinyaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!