NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 Hati yang Mulai Goyah

Ahsan menyesali keputusannya untuk sok rapi dalam mengeksekusi sabotase. Hasilnya malah seperti ini. Nandini yang memang tak bisa dibohongi jadi tahu ini adalah tindakan sengaja.

“Itu... tikus?” Ahsan meringis.

“Iyo, tikus pake peci sama sarung. Anak kyai lagi.” Nandini memiringkan bibirnya. Ahsan terkekeh.

“Sepertinya aku khilaf Din. Ngelindur kayaknya aku, jadi ndak sadar maen kabel.” Ahsan menggigit bibirnya. Bingung alasan apa yang harus ia berikan.

“Wis ngawur-ngawur... Aku ndak mau ya Gus, dibohongin kayak gini lagi.” Nandini merengut. Ia mengambil isolasi hitam kemudian membebat kabel yang terluka karena ulah Ahsan.

Ahsan menatap Nandini dalam senyum. Ia yakin Nandini tak benar-benar marah padanya. Sedikit banyak ia mengenal karakter Nandini hampir delapan bulan ini.

“Maaf Dini... Waktu aku liat kamu manasin mobil, kamu bilang kamu ndak bisa hidup tanpa mesin. Setelah nikah sama Gus Taka kan ndak mungkin kamu tetep jadi montir.

Jadi, aku inisiatif jadiin motor aku qurban buat kamu maenin. Kamu seneng kan ngotak-ngatik mesin lagi?” Ahsan mengerlingkan matanya.

Nandini terhenyak. Memang ada kesenangan tersendiri yang tadi ia rasakan saat mengurut kabel, menjelajahi area kelistrikan. Tapi ia juga tak suka dibohongi oleh Ahsan.

“Dhih, memangnya sapi jadi qurban. Terima kasih Gus, buat perhatiannya. Tapi jangan diulang lagi seperti ini. Ndak baik. Megang mobil sama motor Gus Taka, sudah cukup buat aku sekarang.”

Ahsan memiringkan bibir. Ia kesal upayanya hari ini kurang berbuah manis. Tapi ia yakin esok hari atau setelahnya, masih ada jalan lain mendekati Nandini.

Gus muda itu malah semakin penasaran pada Nandini. Ia harus mencari cara yang lebih rapi dan pas. Tunggu saja Nandini.

*

*

"Enak?" Santaka tersenyum geli melihat pipi Nandini yang menggembung ketika mengunyah.

"Ndak enak!" Nandini menjulurkan lidahnya.

Santaka menjawil hidung bangir Nandini kemudian membelai kepala wanita itu. "Masa? Tapi ngunyahnya semangat banget. Lagian ndak boleh bilang ndak enak sama makanan.

Kalau enak, puji. Kalau ndak enak, diam. Tapi saya yakin sih ini enak. Wong tinggal seperempat lagi, ndak enak bagian mananya."

Nandini tergelak mendengar ucapan suaminya. Tentu saja tadi ia berbohong. Lasagna buatan suaminya sangat enak. Heran Nandini, kok bisa tangan itu begitu luwes dalam mengolah rasa.

"Enak, Gus. Enak banget. Aaa..." Nandini mengangakan mulutnya, minta diisi ulang. Santaka melayangkan sendok ke dalam bibir sang istri. Ia elus lembut bibir itu sambil tersenyum.

Nandini tertunduk. Ia merasa wajahnya panas. "Gus, fokus nyuapin saja," rengek Nandini.

"Kenapa? Mulai tegang ya, saya pegang?" Nandini menonjok pelan lengan Santaka, yang membuat lelaki itu terpingkal.

"Ciri-ciri orang salting ini," goda Santaka. Nandini kembali menonjok, keras.

"Aaw, Mbak. KDRT ini. Udah hak saya ditahan, dipukulin lagi." Santaka terkekeh. Ia senang melihat wajah kemerahan Nandini. Semakin menggemaskan.

Nandini terdiam. Walaupun Santaka bercanda, ia khawatir ada pesan satir di balik candaan itu. Sudah satu bulan setengah mereka menikah, ia belum juga menunaikan hak Santaka.

Haruskah Nandini menyerahkannya dalam waktu dekat? Jika ya, maka berarti ia telah menyerahkan diri seutuhnya pada Santaka dan pada kehidupan Ndalem. Mereka adalah satu paket.

Terikat pada Ndalem ini yang lebih berat bagi Nandini. Jika melihat sosok Santaka pribadi, jujur saja, sisi kewanitaan Nandini sudah mulai tergoda.

Lebih dari satu bulan ini, Nandini semakin merasa bersyukur memiliki suami seperti Santaka. Ia pernah meremehkan sosok sang suami, lemah dan kurang greget.

Ternyata suaminya adalah sosok yang kuat dalam menghadapi dirinya. Terbukti hampir dua bulan sekasur dengannya, ia masih terjaga. Itu bukti kekuatan lelaki kan?

Mampu menahan hawa nafsu yang kerap menjadi musuh utama kaum Adam. Padahal atas nama agama, Santaka berhak untuk marah dan memaksa Nandini.

Bukannya Nandini tak tahu kalau Santaka kerap menahan diri. Bukti terbesarnya adalah kejadian yang baru saja terjadi sehari lalu.

Nandini teringat kemarin, kala Santaka pulang cepat. Biasa di kisaran jam setengah enam sore, waktu itu jadi jam setengah lima sore.

Nandini baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. "Mbak Dini, saya bawa ku...e..." Santaka terdiam. Ia terlihat menelan ludah. Napasnya jadi cepat. Pandangannya tak putus pada sang istri. Ini terlalu gila baginya.

Nandini berdiri membeku. Ia tak menyangka Santaka pulang cepat. Ia keluar kamar mandi hanya berbalut handuk. Parahnya, handuknya hanya sepanjang setengah paha.

Pandangan mereka saling terkunci. Santaka langsung berdiri dan mendekati Nandini. Langkahnya begitu perlahan.

Nandini memutus tatapan mereka, ia melihat ke arah tengah tubuh Santaka. Suaminya ternyata telah bereaksi. Wajar, satu bulan lebih tertahan. Nandini panik. Ia berlari ke dalam kamar mandi.

Nandini menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar mandi. Napasnya terengah-engah. Ia bimbang. Haruskah ia menyerahkan dirinya sekarang? Menerima Santaka dan kehidupan pondok sebagai jalan hidupnya. Tak ada jalan memutar.

Mata Nandini terpejam. Dadanya terasa sesak. Ragu, takut, sedih bercampur dalam kalbunya. Campuran rasa yang berjelaga di hatinya selama ini.

Air menetes dari mata besar nan indah itu. Ia tergugu. Tangis pertamanya setelah menikah dengan Santaka. Ia tak mampu menahannya lagi. Benteng emosinya akhirnya jebol.

Segala emosi yang tertahan dari sejak digerebek oleh warga, dipaksa menikah, tekanan dari Sarah dan Abyasa, tugas-tugas dari Lastri dan Sarah—meluap melalui tangisan itu. Nandini merosot hingga terduduk di kamar mandi.

Santaka menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang sama. Hatinya retak mendengar tangisan pilu Nandini. Ternyata istrinya belum menerima pernikahan ini.

Santaka memejamkan mata. Berusaha memahami apa yang dirasakan Nandini. Berupaya mengenyahkan perasaan tertolak oleh istrinya sendiri.

Lelaki itu bangkit dan mengambil baju dari lemari. Ia keluar kamar.

Lebih dari lima belas menit kemudian Nandini keluar. Kamar telah kosong. Ia gegas memakai baju.

Santaka tak kembali hingga lepas Isya. Ia baru kembali mendekati pukul sembilan malam. Nandini pura-pura sudah tidur. Santaka juga tak bertanya apa pun. Untuk pertama kalinya setelah guling diangkat, mereka tidur saling memunggungi.

Esok paginya atau tadi pagi, Santaka bersikap biasa lagi. Membangunkan Nandini tahajud, mengelus kepala Nandini saat berbaring di pangkuannya.

Santaka bahkan tetap membuatkan sarapan saat Nandini memanaskan mobil. Tetap menyuapinya. Dan sekarang, pulang-pulang membawa lasagna hasil olahannya di dapur SS. Menyuapi Nandini kembali. Luar biasa.

Hati Nandini sampai berteriak, ingin bertanya pada dunia. Apakah ia istri yang jahat?

Bukannya Santaka tak merasa nyeri atas kejadian kemarin, ia paham istrinya masih butuh waktu. Ia akan memberikannya jika itu bisa membuatnya bisa memiliki sang istri sepenuhnya. Ia yakin kesabarannya akan berbuah manis.

"Gus, maaf ya... Soal kemarin... Maaf saya masih belum bisa serahin diri ke Gus Taka. Saya masih takut, bukan ke Gus, tapi...." Nandini mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia terisak.

Santaka tersenyum. Ia hapus air mata yang berjatuhan di pipi lembut sang istri. "Takut sama kehidupan istri gus ya?"

Nandini mengangguk lemah. "Saya janji akan siapin hati saya. Tunggu ya, Gus." Tangis Nandini pecah.

Santaka menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Takdir telah memaksa mereka, yang berasal dari dunia yang berbeda jauh, menyatu dalam ikatan suci. Mengubah kehidupan yang telah berjalan. Merombak segala rencana hidup yang diharapkan.

"Iya Mbak... Jangan sedih ya, saya masih bisa sabar kok."

1
Aisyah Virendra
No DINI... NO Takaaa...
jangan pindah dari Ndalem, tapi buktikan bahwa kalian memang patut bersama untuk saling belajar dan saling menguatkan, biarkan waktu yg membuktikan dan mereka yg tak menyukai kalian bersama dapat melihat dan tertunduk dg keberhasilan kalian berdua sebagai pasangan yg SAMAWA.
DUH... Jadi P x L ini 🫢😆🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: Always kakkkk 🤣🤣🤣 insya Allah
total 2 replies
Aisyah Virendra
iiihhh ko emosional sihhh... kenapaa jadi cengengg sihhh dini.... kan kmu belum unboxing jd belum baper karena efek hamil 🥺
Inna Kurnia: enak ya kalo kompak & diprioritasin sama pasangan. pasangan baik juga ttp ada cobaan ❤️❤️🤣🤣
total 3 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄🙄🙄
Ahsan kamu mau dipites anumu kah ?!! kamu napa sih ga berhnti² ganggu dan kepoin istri orang.. emang se enggak laku itukah dirimu smpe² harus tertarik sm wanita yg sudah jelas² bersuami 😏
Inna Kurnia: nah, gitu kan ya biasanya.. godaan syaithon
total 3 replies
Firdaus Hamid
jujur ya,saya tu penasaran apakah begini tatacara hidup di dalam dunia yg berprinsip agama dalam konteks pesantren.....yg saya nilai cukup ribet dalam konteks peraturan yg terkadang terlalu mengekang harus ini dan itu....bukan harus mengecilkan nilai agama ya....tetap jalan harus tapi lihat juga dong dunia sekarang dah Semaju ini....mbok jangan terlalu kaku gitu....
Inna Kurnia: Terima kasih banyak, Kak Firdaus, untuk ulasannya yang jujur🙏


Memang benar, Kak, dunia pesantren (terutama yang salaf) punya 'protokol' yang sangat ketat soal adab dan batasan mahram. Di cerita ini, aku memang sengaja menonjolkan sisi itu sebagai "konflik utama". Gimana jadinya kalau 'Cewek Bengkel' yang bebas harus masuk ke dunia yang penuh aturan seperti itu.


Justru di situ serunya, Kak. Gimana teknologi maju tapi prinsip lama tetap dijaga, dan gimana tokoh-tokohnya (seperti Dini) berjuang menyesuaikan diri di antara keduanya. Semoga Kak Firdaus tetap lanjut baca ya buat lihat gimana Dini berdamai sama kekakuan itu dengan caranya sendiri, atau memberikan warna sendiri di pesantren nantinya 😊
total 1 replies
elief
semangat mbak dini, hempaskan syifa secepatnya thor..🤭
Inna Kurnia: Siap Kak Elief... kita kasih vitamin Taka dulu yak, biar kuat lagi 🤣🤣
stay tuned ya Kak. terima kasih ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
kamu harus kuat Dini... buktikan jika dirimu mampu dan pantas bersanding dengan Santaka, kamu menang banyak krn Taka sudah sah jd suamimu. kamu hanya perlu banyak belajar mendalami ilmu agamamu, ilmu agama itu penting untuk akhirat tapi ilmu dunia juga tak kalh penting krn bekal masa depan dunia dan ilmu agama untuk bekal masa depan akhirat. yg ptg jangn seperti Syifa dan Sarah yg merasa diri paling pintar tapi ntar malah kepintaran sampe nyungsep ke empanggg 🫢
Aisyah Virendra: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Aisyah Virendra
wes IstrinyA CEO gemblung eh karyawannya CEO Juga gemblung kuadrat kali ini 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 semoga aja yg baca tidak ikutan menggemblung 🤣
Inna Kurnia: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
Nandiniiiiii gemblungggg 😆🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 7 replies
Aisyah 2
Uler keket terjebak jawaban kalimatnya sndiri 🤣 mulakneeee jadi manusia ituu yg baik² aja, gausah berharap pada sesuatu yg bukan milikmu. rumput tetangga mgkin terlihat baik saat kau pandang tapi belum tentu baik saat kau memilikinya. smg aja kelak suamimu tak segatal dirimu Ning Syifa krn jodoh itu cerminan diri 🫢
Aisyah 2: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Aisyah 2
minta digaruk pake sikat lantai kali yaaaa 🤣
Aisyah 2: jadi syerem kak 😆🤣
total 4 replies
Aisyah Virendra
bener itu kata si Fiona, harus ngmg secara terbuka sm Santaka, krn Santaka pun sama segalany dia ceritakan ke Nandini🫢
Aisyah 2: oh tydack bisaaaa 😆🤣
total 6 replies
Aisyah Virendra
Duhhh alex lelepin di empang ikan lele aja sih jangan kasih muncul 🙄🙄 Gus yasa sama ning Sarah juga tuh klo bikin kesel mulu lelepin aja ntar ke tambak udang tiger ben dimakan dikit² bibirnya yg songong ituuu 🫢😆🤣🤣🤣
Inna Kurnia: aamiin😂🤭
total 13 replies
Aisyah Virendra
kalah telak kannn Gus Yasa dan Ning Sarah alias duo Polisi Preeettt 😤🤣🤣 makanya jangan sok keminterr merasa diri paling waaahhh soal Ilmu Agama dan Adab padahal diri dan pasangan sndiri juga Minus Adab 🤭
Inna Kurnia: baek kok mereka kaaak 😂😂🤣🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Wes too Diiiiinnnn janga sebut gus Rotiii terosss.. perutnya aja yg ky Roti sobekk, sayang dianggurin 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: stay tuned ya kaak
total 7 replies
Aisyah Virendra
Harusny Gus Yasa pun sadar diri sudah bisa belum sih didik istri sndri yg ky embuh 😤😤😤 sepaket lakian binian pantes sejodoh wong paket rumit ko 🤣🤣
Aisyah Virendra: iyes 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Aisyah Virendra
idihhhh hati² yaaaa Sarah.... galama ntar Gus Yasa naksir sm keberanian Nandini eh malah kmu yg tersingkirrrr 🤣🤣🤣🤣🤣 Ning koo ehemmm tenannn prettt
Inna Kurnia: iya Kak Aisyah ❤️❤️🙏🙏
total 3 replies
Nanik Arifin
udah pada tahu Gus sableng agak Laen, kenapa g di depak aj dr Al Fatih
Inna Kurnia: kakak, sarah beraksi lagi tuh di bab baru 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
coba nah di tabok aja Ahsan itu, muak bgt 😤😤😤😤
Inna Kurnia: sundut rokok kayaknya yaa 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
Inna Kurnia: 🤭🤭🤣🤣 suhuu 🤣🤣
total 7 replies
Nanik Arifin
Sabara ya Gus.... Insyaa sekali lsg jadi, kan g lemah 🤭🤭
Inna Kurnia: joss yaa Kak Nanik 😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!